Alanta

Alanta
Dua puluh lima



     Dua minggu sejak Aura pergi meninggalkan kediaman Jackson, tak satupun kabar bagus terdengar dari seluruh anak buah yang di kerahkan oleh William, Robert, Ares dan juga Biru. Selama itu juga semuanya di buat kalang kabut dan juga kacau balaw.


     Awalnya William mengira kalau Rei lah yang menyembunyikan Aura, namun perkiraannya meleset sebab Rei pun tak tahu akan berita hilangnya Aura. Bahkan ketika William dan yang lainnya pergi menemui Rei di apartemennya. Saat itu ia tampak sangat kacau. Benar-benar kacau.


Flasback on


Drap Drap Drap


     Terdengar suara bising yang berasal dari benturan antara sepatu dan juga lantai kramik sebuah gedung apartemen. Di sana, terlihat beberapa orang pria dan juga dua orang perempuan. Mereka tampaknya dari kalangan yang berada, terlihat dari pakaian yang mereka kenakan.


Tingg


     Dentingan lift pertanda bahwa mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju, membuat mereka segera melangkah keluar dari lift ketika pintu terbuka. Lorong yang mereka lewati tampak lengang, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di sana.


Ting Tong


     Salah satu dari rombongan itu tampak memencet bel yang terletak di samping nomor urut apartemen, tepat di samping pintu berpassword itu.


     Cukup lama mereka semua menunggu di depan pintu, bak orang bodoh. Hingga salah satu dari mereka memilih menekan beberapa angka sebagai passwoard dari apartemen itu.


Ceklekk


     Pintu akhirnya terbuka lebar. Gelap, merupakan hal pertama yang menyambut indra penglihatan mereka. Semuanya masihlah terdiam membatu di depan pintu tanpa ada yang berniat untuk melangkah lebih dahulu.


Tap


     Satu langkah di ambil oleh pria yang membuka pintu apartemen barusan. Ia tolehkan kepalanya ke belakang, menatap ke arah yang lain dengan pandangan bingung.


"Kalian lamban!" ejek pria itu dengan senyum penuh ejekan di bibirnya.


     Mengabaikan decakan protes dari yang lain, pria itu memilih melangkah memasuki ruang nan gelap itu lebih dalam. Penerangan yang dimatikan dan juga hari yang telah malam, membuat pria itu tampak kesulitan berjalan.


"Cepatlah!" ujar pria itu, menarik mereka kembali pada dunia nyata.


"Berisik, Key!" ujar Biru menatap sinis ke arah Key.


     Dengan segera Biru dan juga Key melangkah lebih dulu dari yang lain. Keduanya tampak tengah meraba-raba sisi dinding dekat pintu, sebab mereka ingat letak sakla tak jauh dari pintu masuk.


Takk


     Bunyi suara barusan menjadi pertanda bahwa salah satu dari keduanya telah menemukan saklar lampu itu. Dan benar saja, tak lama kemudian seluruh lampu di apartemen itu hidup.


Deg


     Hampir semua mata di sana terbelalak kaget dengan pandangan yang memandang ngeri ke arah depan. Bagaimana tidak ngeri, bila melihat kekacauan yang terjadi di ruang tengah apartemen Rei.


     Banyak pecahan beling yang berserakan di lantai, lalu sofa yang sudah berpindah dari tempat awal, figuran-figuran yang pecah dan berserakan lalu terdapat serakan tanah yang berasal dari pot bunga mawar yang memang sengaja Aura tanam di apartemen Rei dan yang terakhir adalah beberapa bercak darah di dinding dan sekitar meja kaca yang retak. Satu kata yang dapat menggambarkan keadaan ruang tamu Rei, yaitu kacau.


"Rei!!!"


     Teriakan barusan membuat semua yang awalnya terdiam kaku, tersentak kaget dan juga panik. Refleks saja mereka berlari menuju sumber teriakan barusan.


Brakk


     Pintu kamar Rei terbuka secara kasar oleh Key. Kembali mereka menelusuri kamar Rei guna mencari di mana Ayu saat ini berada, sebab mereka tahu suara itu milik Ayu.


Deg


     Pemandangan di hadapan mereka saat ini menjadi pemicu berhentinya jantung mereka. Di sana, di dalam bathub yang terisi penuh dengan air berwarna merahdarah, tubuh pucat Rei berada. Bibir yang membiru serta tubuh yang mulai memucat kehilangan darah, akibat luka yang ada di telapak tangan Rei.


"Re... Rei bangun!"


     Getta tampak langsung menghampiri Ayu yang tengah berusaha menyadarkan Rei dengan cara menepuk pelan pipi pucat pria itu. Perlakuan keduanya tak ayal membuat Biru, Aldi dan juga Key terdiam kaku, syaraf otak mereka serasa membeku.


"Apa yang terjadi?" seru William dari balik bahu Biru dan yang lainnya. Sontak Biru dan yang lainnya menoleh ke arah William.


     Kedua mata William tampak membola, terkejut akan keadaan Rei yang tampak mengenaskan dengan tubuh yang pucat. Sudah berapa lama pria itu terendam di bathub?


"Cepat bawa Rei ke kasurnya!" ujar William memerintahkan mereka. Tanpa banyak bicara mereka segera menuruti perintah William.


"Getta dan Ayu ambil air hangat dan juga handuk, sekarang!!" perintah William, lagi. Dan hal itu langsunglah di turuti oleh keduanya.


     Setelah memastikan Rei telah terbaring di ranjangnya, William langsung memerintahkan Alex untuk menjemput dokter yang biasa merawat keluarga Alanta dan Jackson ketika sakit.


***


     Lima belas menit mereka menunggu kedatangan Alex dan juga Dokter Sunade, namun yang di tunggu tak kunjung datang. Getta dan juga Ayu tampak semakin cemas dengan keadaan Rei yang semakin pucat.


Brakk


     Lagi-lagi pintu kamar Rei terbuka secara tak pintusiawi, membuat Biru dan juga Key yang berada di balkon kamar segera masuk menuju ke arah sumber suara, begitu pula dengan Aldi yang baru saja selesai membersihkan kamar mandi Rei.


Tap Tap Tap


     Seorang wanita paruh baya dengan jas putih khas dokter tampak terlihat tergesa-gesa mengeluarkan peralatan yang ia bawa guna memeriksa keadaan Rei. Melihat darah yang masihlah mengalir daei telapak tangan Rei, membuat jiwa dokternya panik bukan main. Ia sedikit cemas akan keselamatan pria yang tengah terbaring itu, apalagi ditambah dengan wajahnya yang memucat. Ini berbahaya.


"Berapa lama ia begini?" tanya Dokter Sunade dengan kedua tangan yang dengan telaten mengobati luka di tangan Rei.


"Kami tak tahu, ketika kami sampai kami menemukannya tak sadarkan diri di dalam bathub dengan tubuh yang terendam air bernoda darah," jawab Getta mewakili yang lainnya.


     Sontak saja jawaban dari Getta membuat Dokter Sunade tersentak kaget. Menurut analisanya, pria ini telah berada cukup lama berada dalam bathub melihat dari suhu tubuh dan juga kepucatan di kulitnya.


"Matikan ac dan hidupkan pemanas ruangan. Ia butuh suhu yang hangat untuk membantu meningkatkan suhunya, lampis selimutnya juga. Ini akan berbahaya bila suhu tubuhnya tak kunjung naik."


     Dengan serentak semua mengerjakan apa yang di katakan oleh Sunade. Aldi segera mencari remot ac guna mematikan alat pendingin udara itu, sedangkan Key segera menghidupkan pemanas ruangan yang berada di pojok kamar tak jauh dari pintu pembatas antara balkon dan kamar.


"Ini, Dok!" seru Getta dan juga Biru dengan kedua tangan yang memegang selembar selimut tebal untuk Biru.


"Taruh di sana!" perintah Sunade menunjuk bagian bawah ranjang sebelum ia kembali sibuk memasang jarum infus di punggung tangan sebelah kiri Rei, sebab ia tak mungkin memasang infus di tangan kanan Rei yang terluka.


     William dan juga Alex yang sejak tadi terdiam menatap serius ke arah Rei, akhirnya memilih meninggalkan kamar itu guna membereskan kekacauan yang ada di ruang tamu.


"Granpa akan membereskan kekacauan yang ada di luar. Kalian jaga Rei!" pesan William sebelum menutup pintu kamar Rei.


"Selesai."


"Bagaimana keadaan Rei, Dok?" tanya Ayu dengan raut wajah yang khawatir. Hatinya tengah harap-harap cemas menunggu jawaban dari Sunade. Berharap berita baik yang akan mereka terima.


     Sebuah sentum simpul Sunade berikan pada Ayu dan yang lainnya. Ia dapat melihat kekhawatiran dan juga ketakutan di mata teman-teman pria itu, yang baru ia ketahui bernama Rei.


"Syukurlah kalian menemukannya lebih cepat, sebab aku tak dapat menjamin bahwa ia akan baik baik saja bila kalian terlambat. Rei hanya butuh istirahat yang cukup dan juga tolong jangan buat ia tertekan, sebab dari yang saya lihat ia tampak sangat kacau dan juga tertekan. Apa ia tengah di landa masalah?"


Deg


     Nyut, rasanya seperti ada yang mencubit ulu hati mereka begitu mendengar penjelasan Dokter Sunade barusan. Mereka jelas tahu apa yang menjadi penyebab Rei mengalami hal ini. Apa lagi kalau bukan Aura. Sudah pasti hanya itu yang menjadi masalah terbesar Rei, hingga pria itu melakukan hal gila seperti menenggelamkan dirinya sendiri di bathub. Kenapa tidak sekalian ia tenggelamkaan dirinyya kedalam danau yang membeku? Bukankah itu tak akan menyusahkannya? 


     Melihat perubahan mimik wajah kelimanya, Sunade dapat menyimpulkan bahwa pria itu memang tengah di landa masalah, tetapi apa?


"Kalian bisa menebus resep obat yang telah saya tulis ini dan jika cairan infus ini trlah habis, tetapi Rei belum sadar. Maka segera bawa ia ke rumah sakit. Paham?" ujar Sunade sebagai bentuk pengalihan. Ia tak tega melihat raut wajah frustasi kelimanya saat ini.


"Ya."


"Baiklah, saya permisi!" pamit Sunade begitu ia selesai membereskan peralatan yang tadi ia gunakan.


"Biar saya antar!" ujar Getta menawarkan dirinya untuk mengantar Sunade sampai depan pintu sebagai tanda trimakasih dan juga hormat.


"Baiklah," jawab Sunade dengan senyum penuh kelembutan di bibirnya, membuat Getta sedikit merindukan senyum sang ibu.


"Ah, kenapa aku mengingatnya?" batin Getta bingung. Ia gelangkan kepalanya guna menghilangkan pemikiran yang sempat hinggap di kepalanya.


"Ada apa?" tanya Sunade begitu melihat tingkah Getta yang menurutnya tampak aneh.


"Ehh... tidak ada," gagap Getta membuat Alex yang tak sengaja melihatnya menggernyitkan dahinya bingung.


***


     Pagi ini apartemen Rei tampak sedikit lebih ramai. Suara bising yang berasal dari arah dapur, membuat William yang baru saja datang dengan Alex memilih melangkah ke sana guna melihat apa yang tengah terjadi.


Klontang


"Key!!" pekik Getta begitu melihat Key dengan cerobohnya menjatuhkan teko air yang baru saja ia isi, membuat lantai dapur basah akibat air yang tumpah.


"Keluar dari dapur se-ka-ra-ng!!" ujar Ayu dengan penekanan pada kata sekarang yang sengaja ia eja.


"Tidak."


"Biru! Bawa Key pergi sebelum ia mengacaukan dapur milik Rei dan membuatnya marah. Kau tahu bagaimana marahnya Rei nanti, begitu mengetahui dapurnya hancur akibat ulang Key, bukan?" terang Getta dengan kedutan di pelipisnya. Ia sudah cukup kesal dengan tingkah Aldi yang sulit bangun dan sekarang Key malah menambah kekesalannya? Ayolah, ini masih terlalu pagi untuk membuat keributan.


"Key!" panggil Biru dengan mata yang menatap tajam ke arah Key, sedangkan yang di tatap hanya mampu memasang wajah pias.


"Oke, aku keluar!!" ujar Key dengan raut wajah yang terlihat amat sangat panik. Ayolah, lebih baik ia mendengar ceramah dari Getta dari pada berhadapan dengan Biru.


"Bagus."


     Akhirnya keadaan dapur dapat kembali kondusif, setelah Key memilih menyerah dan meninggalkan kawasan dapur yang kini di tahtai oleh Getta dan juga ayu sebagai penguasa sementara.


"Kenapa lagi?" tanya William begitu dirinya dan juga Alex sampai di depan pintu pembatas antara dapur dan ruang lainnya. Sebelah alisnya tampak terangkat begitu menemukan dapur yang terlihat kacau dan berantakan. Apa ada kebocoran? Pikir William dan juga Alex.


"Ah, Kak Alex dan Granpa!" kaget Getta begitu dirinya berbalik dan menemukan William tengah berdiri menatap ke arah mereka.


"Hanya masalah kecil," jawab Ayu yang tampak masih sibuk dengan penggorengan yang ada di hadapannya. Ia harus terus menatap ke sana atau ia akan mendapati apa yang ia masak menjadi gosong.


"Hn."


"Bagaiman keadaan Rei?" tanya Alex begitu mendengar gumanan milik tuannya. Ia rasa, sekarang ia bisa bertanya.


"Sekitar jam tiga subuh tadi ia sudah sadar, kini ia masih tidur."


"Syukurlah," ujar Alex begitu mendengar jawaban dari Getta. Setidaknya mereka bisa bertanya apa yang sebelumnya terjadi pada Rei, setelah keadaanya membaik tentunya. 


     Dengan cekatan Ayu dan juga Getta menyajikan apa yang telah mereka masak di atas meja makan. Berbagai macam hidangan tersaji secara rapi, menggugah selera siapapun yang melihatnya.


"Granpa sudah sarapan?" tanya Ayu setelah mencuci tangannya di watsafel. Ia keringkan media tangannya menggunakan main yang sengaja di gantung di atas watshafel.


"Belum," jawab William.


"Baiklah, kita sarapan bersama saja dan untuk Rei nanti setelah kita sarapan aku akan membangunkannya," jelas Getta sebelum berlalu guna memanggil Biru dan juga Key yang berada di ruang tamu, serta membangunkan Aldi yang masih tertidur nyenyak. Ck, dadar pemalas.


"Ya."


     Akhirnya setelah melewati cobaan yang berat, merrka semua kecuali Rei makan dengan tenang dan khidmat. Hanya suara dentingan antara sendok dan juga piring yang terdengar.


Ceklek


    Pintu kamar terbuka, membuat mereka dapat melihat sosok pria berwajah adonis dengan pahatan yang sempurnya tengah terbaring lemah dengan tiang infus di samping ranjangnya.


"Rei!" panggil Getta menggoyangkan pelan bahu Rei, berharap dapat membuat kelopak mata itu terbuka.


"Enggh," lenguh Rei menandakan usaha yang Getta lakukan tidaklah sia-sia.


     Sebuah senyuman terbit di wajah manis Getta, dengan penuh kelembutan bak seorang ibu yang membangunkan putranya di pagi hari.


"Bangun. Kau harus sarapan!" ujar Getta.


"Hmm," guman Rei mencoba bangkit, walaupun kepalanya masihlah berdenyut sakit.


"Bagaimana rasanya?" tanya Key dengan tiba-tiba, membuat pria itu menjadi pusat perhatian.


"Hah?" respon Rei sedikit kebingungan. Ayolah, apa sakit membuatmu seketika menjadi bodoh, Rei?


"Ck, masih ada yang sakit atau tidak?" senggut Key dengan pipi yang merona, ia tampak membuang wajahnya dari Rei. Kau tengah malu eh, Key?


"Aa, tak ada."


"Ini!" ujar Getta menyela percakapan absur keduanya.


     Di kedua tangannya telah terdapat semangkuk bubur sebagai menu sarapan untuk Rei. Menjijikkan memang tapi mau bagaimana lagi toh ini juga untuk kesembuhan, Rei. Jadi mau tak mau ia harus memakan benda lembek dan juga hambar itu. Iww, menjijikkan. Bolehkah aku muntah sekarang?


"Mau ku suapi atau.... "


"Aku makan sendiri saja!" sela Rei sebelum Getta menyelesaikan tawarannya. Benar-benar tidak sopan.


"Baiklah, ini!" seru Getta menyerahkan mangkok bubur.


     Setelah mangkok itu beralih tangan, Getta memilih membereskan kamar Rei di bantu oleh Ayu dan juga Aldi. Sedangakan sisanya memilih memperhatiakn yang lain dalam diam.


"Ekhem!" dehem William setelah melihat bahwa Rei telah menyelesaikan acara sarapannya.


     Deheman William barusan membuat semua yang ada di sana menatap penasaran dan juga bingung ke arahnya. Mengerti akan arti tatapan yang lain, William segera mengutarakan apa yang ingin ia katakan.


"Jadi, kenapa kau melakukan hal bodoh ini ehh?"


     Bukan William yang baru saja melontarkan pertanyaan bernada ejekan barusan, melainkan Biru. Pria itu tampaknya sudah tak bisa menunggu terlalu lama lagi.


"Kau tau betul jawabannya Biru!" jawab Rei dengan tatapan datar andalannya. Entah sejak kapan pria itu pandai memasang wajah datar. Sejak pesta pertunangan Aura mungkin.


"Aura?" entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Aldi tampak dengan santainya mengatakan hal itu, seolah-olah tak ada beban.


"Hn."


     Sebuah kerutan samar terlihat menempel di kening Alex,


"Apa kau bertemu dengan Aura setelah pesta pertunangan itu?" tanyanya dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Rei.


"Tidak, kenapa?" tanya Rei dengan dahi yang berkerut. Apa ia ketinggalan sesuatu?


     Ayu tampak menatap lekat ke arah wajah Rei, seolah-olah tengah mencari sesuatu seperti kejujuran misalnya,


"Kau yakin?" tanya Ayu kembali memastikan jawaban Rei.


"Ya."


"Aura menghilang," ujar Alex dengan raut wajah yang kelewat datar, namun berbeda dengan nada suaranya yang terdengar sedikit parau dan sumbang. Apa ia akan menangis?


"Kau pasti bercanda, Kak!" seru Rei dengan alis yang terangkat sebelah. Ia tampak menganggap ini hanya prank atau hanya tipuan sialan yang tengah mereka mainkan.


"Tidak."


Kedua netra sehitam jelaga itu tampak membulat terkejut,


"Bagaimana bisa?" tanyanya terkejut.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Rei begitu ia hanya mendapati kebisuan dari semua yang ada di kamarnya. Ia merasa tengah berbicara dengan patung.


"Jawab!!" bentak Rei ketika tak ada satupun yang menyahuti ucapannya. Sekelebat ingatan masuk ke dalam pikirannya. Mencoba menekan emosi yang siap tumpah, Rei memilih meremas kuat selimutnya.


"A... Aura di-dia..."


"Aura kenapa, Ta?" tanya Rei tak sabaran begitu melihat kegagapan yang tiba-tiba melanda Getta. Percayalah sesungguhnya ia tahu betul apa yang akan Getta sampaikan padanya.


"A.. Aura di-diperkosa!" ujar Getta dengan suara yang melirih di akhir ucapannya.


"Apa??" kaget Rei, membuat William, Getta, Ayu dan juga Aldi tersentak kaget. Respon Rei barusan sangat berbeda dengan ekspentasi mereka.


     Sebuah kekehan merdu mengalun dari bibir Rei,


"Jangan asal bicara, Yu!" ujar Rei menatap lekat Ayu, membuat tubuh Ayu sedikit gemetar akibat aura mengintimidasi yang Rei miliki.


"Siapa?" guman Rei pelan, namun masih dapat di dengar oleh William.


"Ares."


Brakk


"Ku bunuh ******** itu!!" ujar Rei setelah membanting kasar tiang infus di samping ranjangnya.


     Nama itu, kenapa harus nama itu lagi yang ia dengar. Kenapa? Bolehkah ia mengeluh akan nama sialan itu? Ingin rasanya ia menculik, lalu menguliti orang yang pertama kali mencetuskan nama itu atau mungkin ia bisa memutilasinya menggunakan gunting taman berkarat atau malah gergaji besi dan meleburkan mayatnya kedalam cairan aspal panas. Ahh, membayangkannya saja sudah membuat Rei bersemangat apalagi kalau melakukannya.


"Re-Rei!!" gagap Getta begitu melihat kobaran api kemarahan di manik jelaga Rei.


"Lepas!" bentak Rei begitu merasakan cekalan erat di kedua tangannya.


"Rei, tenang!" ujar Alex sebagai pelaku pencekalan itu, ia jelas saja tahu apa yang tengah ada di pikiran Rei saat ini. Dan kini ia tengah mencoba menggagalkan hal itu.


"Tenang katamu? Aura diperkosa, Sialan!!" sentak Rei mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh Alex. Ia emosi dan ia tak bisa mengendalikannya. Ia butuh pelampiasan sekarang.


"Tenanglah. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menemukan Aura, sebab itu yang lebih penting!" ujar Biru mencoba meredamkan emosi Rei yang telah di ujung tanduk, siap meledak kapan saja bila ada yang membakar sumbunya.


"Arrghht!!" raung Rei frustasi.


"Dengarkan aku Granpa! Jika aku lebih dulu menemukan Aura, tak akan ku biarkan kau maupun yang lain menemukan Aura lagi. Sebab ia akan ku bawa jauh dan akan ku miliki untuk diriku sendiri, camkan itu baik baik!" ujar Rei, menatap tajam dan juga penuh kebencian ke arah William. Ia benar-benar membenci pria tua itu, sebab karenanya Auranya menderita. Mati pun akan Rei lakukan demi Aura, ya mati. Membunuh habis Ares dan juga William. Rasa-rasanya tidakk buruk.


Flasback off


     Kini semua orang yang mengenal baik seorang Aura Alanta, tengah dirundung kepanikan yang semakin tak bisa di tahakan. Bayangkan saja tiga minggu Aura menghilang dan tak satupun jejaknya mampu terendus oleh orang suruhan Jackson dan yang lainnya.


     Barbagai macam masalah pun tak kunjung berhenti menyambangi mereka. Mulai dari permasalah di tambang emas milik William, Rei yang hilang entah kemana, Biru yang depresi, Ares yang semakin gila dalam mencari Aura bahkan ia tak segan-segan melampiaskan amarahnya kepada semua orang dan yang terakhir adalah keadaan Kevin yang semakin menghawatirkan, sebab sudah seminggu ini pria itu tak mau keluar dari kamarnya membuat Key bahkan maid di kediamannya dirundung kekhawatiran.


     Semua tahu bahwasannya menghilangnya Aura memberi dampak besar bagi kehidupan mmereka, terutama William, Ares, Kevin dan juga Rei. Berbagai upaya telah mereka lakukan demi secuil informasi tentang Aura, bahkan mereka telah menyewa seorang hacker sekaligus detektif handal dengan harga mahal.


     Namun, adakah yang pernah berfikir bahwa semua ini terasa amat sangat janggal? Tidakkah, mereka meragukan jawaban seseorang? Tidakkah, mereka taahu bahwa seseorang selaalu memantau apa yang coba mereka rencanakan? Tidakkah, mereka sadar usaha merekaa digagalkan oleh orang mereka sendiri? Terlalu banyak kaata tidak untuk kebodohan yang kini menyambangi mereka.


***


     Jauh di sudut kota, tepaatnya di sebuah desa asri dengan pohon hijau di sekitarnya, terdapat sepasang muda mudi yang tengah di liputi keputus asan dan juga kebingungan mendalam. Sebuah kabar yang seharusnya menjadi anugrah, namun kini malah berubah menjadi sebuah masalahh. Sebuah masalah yang dapat membuat keduanya tercekik secara perlahan lalu mati, seandainya mereka salah memutuskan pilihan.


Brakk


     Berulang kali suara gaduh dari benturan antara sebuah barang dan juga lantai maupun dinding, mengalun syahdu memekakkan telinga.


"Hiks... Hiks..."


     Isak taangis seorang gad-wanita turut mengiringi kegaduhaan sebelumnya. Tubuh bergetar menahan segala macam rasa takut yang tiba-tiba hinggap.


"Bagaimana bisa?" tanya seorang pria bermanik hitam dengan nada frustasinya.


   Bagaimana bisa apa yang ia takutkan benar-benar terjadi? Silal, seharusnya ia berikan obat laknat itu sebelumnya.


"Re-Rei?" gagap wanita itu.


     Dengan tubuh yang bergetar menahan tangis, ia melangkah dengan ragu-ragu ke arah pria yang tampak frustasi itu.


"Ma.. Hiks... maaf!" isak wanita itu di balik bahu Rei. Ya, pria itu adalah Rei.


"Ini menyakitkan, Ra!" ujar Rei mengusap kasar wajahnya. Hatinya berdenyut perih, mendengar apa yang dokter baru saja katakan pada mereka. Sebuah kenyataan yang tak mungkin dapat mereka terima saat ini.


"Sakit!" ujar Rei lagi. Ia lepas tahutan tangan Aura yang melingkar di pinggangnya. Berjalan dengan cepat kemanapun asal jangan di sekitar Aura, ia tak saggup. Sungguh.


Melihat penolakan dari Rei, hati Aura terasa sakit. Luruh sudah tubuh rapuhnya ketika melihat punggung Rei yang menjauh darinya,


"Hiks... Hiks... Tuhan!!" raung Aura dengan kedua tangan memeluk perut serta air mata yang semakin deras mengalir.


Srett


Sebuah pecahan kaca bingkai foto kini trlah berada dalam genggaman Aura. Hanya ini satu\-satunya cara agar ia bebas dari beribu masalah yaang datang menghampirinya.



Perlahan\-lahan ia goreskan serpihan kaca itu di telapak tangannya, sebelum menjalar ke pergelangan tangannya tepat di atas nadinya. Sedikit lagi serpihan itu akan menembus kulit Aura, sebelum...


"Aura!!" teriak seseorang sebelum menepis kasar tangan Aura yang menggenggam serpihan kaca.


Trangg


"Apa yang kau lakukan?" bentak oraang itu dengan kedua mata yang menyala penuh ammarah. Sontak saja hal itu membuat Aura terperanjak, tak ia perdulikan telapak tangannya yang berdarah sebab yang harus ia lakukan kini adalah mendapatkan kembali serpihan kaca itu. Ya, harus.


"Mati. Harus mati!" racau Aura mencoba mengambil serpihan kaca yang terlempar tak jauh darinya. Melihat hal itu, orang yang sebelumnya menepis kasar tangan Aura segera meraih tubuh rapuh Aura, sebelum Aura bisa melukai dirinya lagi dengan serpihan kaca.


Raut frustasi dan juga takut jelas terlihat di wajah dan juga manik hitam orang itu,


"Tidak! Jangan lukai dirimu sendiri. Jangan!!" ujar orang itu cepat. Ia peluk erat tubuh Aura yang tampaak bergetar.


"Aku hancur, Rei. Hancur~ Hiks...!" ujar Aura diikuti isaka tangis yang kembali hadir di wajah lelahnya. Ia tak mampu lagi membalas pelukan orang itu, yang tak lain adalah Rei. Tampaknya pria itu segera kembali begitu mendengar raungan putus asa milik Aura.


"Tidak. Aku akan menjagamu. Tak akan ada yang menemukanmu, satupun tak akan ada. Itu janjiku!" ujar Rei melonggarkan pelukannya, lalu kedua tangan yang awalnya merengkuh tubuh Aura kini beralih membingkai wajah sayu Aura. Ia tatap dengan lekat wajah Aura, mata yang bengkak dan memerah, hidung yang memerah, jejak air mata di pipi semua itu membuat hati Rei teriris sakit.


"Rei, maaf!" ujar Aura kembali menjatuhkan kepalanya di dada Rei. Hangat dan nyaman, itu yang ia rasakan.


"Hiks... Hiks... Hiks...!!" kembali isak tangis Aura terdengar. Ia merasa dirinya amat sangat lemah saat ini.


"Aku harus bagaimana?" batin keduanya larut dalam fikiran masing-masing. Larut akan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.