Alanta

Alanta
Dua puluh dua



Kediaman Jackson malam ini tampak ramai, kediaman itu tampak di penuhi oleh beberapa orang berjas dan bergaun. Ruang tamu kediaman itu disulap menjadi sebuah ruangan dengan panggung kecil tidak jauh dari tangga penghubung lantai satu dengan lantai dua.


Berbagai macam hidangan serta hiasan tertata rapi di ruang tamu, membuat para tamu berdecak kagum. Terdapat kursi serta meja yang sengaja di siapkan untuk para tamu dalam jumblah yang banyak, mengingat tamu yang di undang tidaklah sedikit.


"Kenapa granpa tega melakukan ini?" tanya Getta sembari memperhatikan semua tamu yang datang.


"Entahlah," bisik Key dengan nada lemah. Sebenarnya ia pun tak percaya akan apa yang tengah terjadi saat ini, ia pikir granpa tak akan melakukan hal ini.


"Kenapa granpa harus memaksa Aura untuk bertunangan dengan Ares?" seru Ayu dengan nada kesal yang begitu kentara di suaranya. Ayolah ia benar-benar kesal saat ini.


"Aku tak tahu apa yang sebenarnya tengah granpa rencanakan, tetapi ku yakin ini tak akan bagus untuk Aura!" celetus Aldi mengalihkan atensi yang lainnya kepada dirinya. Dengan santai ia menggoyangkan gelas berkaki yang sejak tadi ia pegang.


Sedangkan yang lain tampak terdiam, menunggu kelanjutan dari ucapan Aldi barusan.


"Aku atau kau yang akan memeriksa Aura saat ini, Rei?" alih-alih menjelaskan maksud ucapannya tadi, Aldi memilih melontarkan pertanyaan baru kepada Rei yang sejak tadi tampak gelisah.


Semua yang mendengar hal itu sontak menatap penasaran kearah Rei. Mendapat tatapan seperti itu mau tak mau Rei harus memutar kedua matanya, jengah dengan sikap sahabat-sahabatnya yang terlalu penasaran.


"Aku pergi."


Hanya itu yang Rei katakan sebelum beranjak pergi,  meninggalkan yang lainnya di ruang tamu bersama para tamu.


Sedangakan Key serta Aldi hanya dapat merotasikan matanya, melihat tingkah Rei yang selalu begitu ketika menyangkut Aura. Benar-benar bucin Aura.


"Sekarang tinggal mengelabui kak Alex dan Granpa, setidaknya kita dapat memberikan waktu untuk Aura dan juga Rei!" terang Biru di balas anggukan yang lainnya. Ya, yang harus mereka lakukan saat ini adalah mengalihkan perhatian Alex dan juga William, agar keduanya tidak menyadari ketidak hadiran Rei saat ini.


***


Sedangkan di sebuah kamar, terlihat seorang gadis tengah duduk termenung di depan kaca meja rias miliknya. Ia tampak cantik dengan sebuah gaun berwarna putih gading bermodel sabrina yang tampak pas di tubuh rampingnya. Rambut yang ia sanggul tampak menambah pesona yang di pancarkannya, namun sayang semua hal itu tak mampu menutupi tatapan terluka dan juga hancur yang terpancar dari kedua mata bermanik safir itu.


Grepp


"Aku mencintaimu, Ra!" bisik Rei. Ia tampak semakin mengeratkan pelukannya. Ia hirup aroma yang menguar dari tubuh Aura, benar- benar aroma yang memabukkan.


"Sangat sangat mencintaimu," tambah Rei.


Deg


Jantung Aura terasa berhenti untuk sepersekian detik. Ia tak menyangka akan kembali mendengar kalimat itu terucap dari bibir Rei.


"R... Rei!" gagap Aura. Ia putar tubuhnya menghadap ke arah Rei. Pandangan sayu dari dua manik obsidian telah menyambut matanya ketika ia mendongakkan kepalanya.


Rei terus saja memandang Aura dengan intens, mencoba merekam sebanyak mungkin gambar wajah Aura.


Dengan jemari yang menelusuri pipi Aura, Rei mencoba mengumpulkan keberaniannya guna menyampaikan apa yang ingin ia katakan.


"Ikut bersamaku! Kita pergi jauh dari sini," ujar Rei.


Kedua mata Aura tampak membola mendengar keputusan sepihak yang baru saja diambil oleh Rei.


"Kau gila? Lalu membiarkan Ares dan Granpa berulah?" bentak Aura menghempaskan secara paksa jemari Rei. Jujur saja, ia sangat nyaman ketika jemari panjang nan hangat milik Rei menelusuri wajahnya.


"Dan membiarkan dirimu tersiksa, iya?" bentak Rei dengan mata yang menyala.


Sedangkan Aura hanya mampu terdiam tanpa suara, ia tak bisa membantah perkataan Rei barusan. Ia memang tersiksa tapi ia akan lebih tersiksa bila orang yang ia sayangi yang mengalami siksaan itu.


"Jawab, Ra!" bentak Rei. Ia marah akan keterdiaman Aura saat ini.


"Sebaiknya kau keluar, Rei!" ujar Aura menghindari Rei. Ia tampak berlalu ke arah ranjang guna memasang sepati kaca di kakinya.


"Aku tak mau granpa ataupun Alex menemukan kita disini," lanjutnya tanpa menatap ke arah Rei sedikitpun. Aura takut ia akan goyah.


"Baik. Tapi ingat ini, Ra. Aku akan tetap berusaha merebutmu, baik dari Ares maupun Kevin. Itu janjiku!" ucap Rei dengan datar tak lupa tatapan kecewa yang ia layangkan pada Aura. Ia tak akan membiarkan Aura jatuh ke tangan Ares dan juga Kevin. Tak akan pernah.


Tap Tap


Suara derap langkah yang menjauh terdengar hinggap di telinga Aura.


Brukk


"Bunuh aku Tuhan!" lirih Aura tepat ketika tubuhnya jatuh terduduk di samping ranjang, kedua kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Tenaganya seakan ikut hilang tepat setelah derap langkah Rei tak lagi terdengar.


***


Pertukaran cincin antara Aura dan juga Ares baru saja terlaksana, kedua keluarga tampak sangat senang menyaksikannya kecuali dua orang pemuda yang sejak tadi memandang tajam ke arah Ares.


Banyak tamu yang berbisik -bisik mengatakan mereka berduan sangar cocok. Cantik dan tampang,  apa lagi keduanya berasal dari keluarga terpandang.


Kini Ares dan juga Aura tengah berada di tengah-tengah ruangan, keduanya akan membuka pesta dansa setelah pertukaran cincin.


"Kau sangat cantik!" bisik Ares di depan bibir Aura. Keduanya tampak sangat dekat, terlalu intim untuk di sebut dansa.


"Aku membencimu!" desis Aura menjauhkan wajahnya dari wajah Ares. Ia benar-benar membenci Ares. Berbagai macam umpatan telah ia gumankan sejak dengan lancangnya Ares mencium keningnya tepat setelah ia memasangkan cincin laknat yang awalnya bersemayam di jari tengahnya.


Bukannya memasang wajah marah, Ares malah menampilkan senyum yang teramat manis di bibirnya membuat beberapa perempuan yang ada di sana menjerit melihat senyum itu.


"Aku tau dan aku sangat mencintaimu!" bisik Ares.


"Sialan!" umpat Aura begitu merasakan benda kenyal menempel di leher kanannya.


Dengan refleks Aura menggenggam telapak tangan Ares yang berada di genggamannya, ketika sebuah gigitan dan juga hisapan Ares berikan di lehernya. Meninggalkan sebuah tanda kepemilikan dengan warna merah keunguan yang tak akan hilang dalam sehari.


Cup


"Bibir ini tak boleh mengumpat!" bisik Ares dengan nada sensual tak lupa jari jempolnya yang ia gunakan untuk mengusap bibir yang baru saja menjadi tawanan bibirnya.


"Ka...


Ucapan Aura harus terpotong, begitu mendengar pemberitahuan dari MC bahwa sebentar lagi adalah saat dimana mereka harus bertukar pasangan.


Cup


"Sampai bertemu sehabis lagu, Sayang!" ujar Ares memutar Aura, sebelum itu ia lebih dahulu menyempatkan dirinya untuk memberikan kecupan hangat di bibir sang tunangan.


Aura tampak berputar selama beberapa detik sebelum ia jatuh kedalam pelukan seseorang.


Grapp


"Rei?" kaget Aura begitu melihat siapa yang baru saja menangkapnya. Suara tuts piano yang ditekan dengan lagu A Thousands Years, mengalun lembut di telinga membuat semua yang mendengarnya terhanyut ke dalam lagu.


"Aku akan merebutmu, Ra!" ujar Rei menatap penuh damba ke arah Aura. Rei tampak membawa Ayra semakin merapat ke arahnya, mengabaikan para tamu undangan yang menatap intens ke arah keduanya.


"Kau tak akan melakukannya," desis Aura. Rasa-rasanya Aura ingin berharap lagu segera berganti, karna ia tak dapat menjamin semua akan baik-baik saja bila ia dan Rei tak di pisahkan.


Sedangkan Rei yang melihat gelagat Aura, hanya dapat menggeram marah. Apa sebegitu benci Aura padanya, hingga enggan berdekatan dengannya?


"Kenapa? Apa kau tak mau lepas darinya?" bisik Rei dengan geraman di akhir ucapannya. Ia susupkan kepalanya di cekungan leher Aura, melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Ares tadi. Ya, menyesapi aroma yang menguar dari Aura.


"Aku mau tapi...


"Apa?" ujar Rei lebih dulu menyela ucapan Aura. Namun sayang belum sempat Aura menjawab pertanyaan dari Rei musik telah berganti,  mengalunkan melodi Dusk Till Down sebagai pertanda pergantian pasangan.


Kembali Aura berputar di atas lantai dansa menunggu seseorang menerimanya dalam rengkuhan orang itu.


Deg


Ingin rasanya Aura berlari dari sana sekarang juga atau bumi mau berbaik hati menelannya sekarang juga? Sebab ia tak pernah membayangkan kalau ia akan jatuh ke dalam pelukan pria ini, tak pernah.


"Kenapa?" tanya pria itu dengan tatapan sayu yang amat menyedihkan. Wajah pucat serta kantung mata yang sedikit menghitam membuat hati Aura berdenyut perih, rasanya ada belatih tak kasat mata tengah menikam tepat di ulu hatinya. Perih.


"Kevin!" ujar Aura tak kalah lirih. Ia pandangi wajah kekasihnya itu dengan lamat-lamat. Sejauh itukah ia membawa Kevin dalam kehancuran? Sejauh itukah ia membuat pria di hadapannya ini kehilangan pancaran di matanya?


"Aku terluka," bisik Kevin lirih. Ia rengkuh tubuh Aura kedalam pelukan hangatnya, menghentikan gerakan dansa mereka dan membiarkan mereka menjadi pusat perhatian, tak perduli berbagai macam bisikan yang mulai terdengar.


"Sakit. Rasanya aku akan mati!" bisik Kevin dengan punggung yang sedikit bergetar membuat Aura spontan memeluk tubuh itu tak kalah erat.


"Maaf!" bisik Aura. Tidak bukan ini yang ia harapkan, ia tak pernah berharap untuk menyakiti Kevin.


Para tamu undangan yang menyaksikan kedekatan keduanya hanya mampu menahan rasa penasaran mereka, sebab mereka tahu sekali mereka salah bicara, nyawa mereka taruhannya. Sedangakn Ares yang sejak tadi menahan amarahnya, kini tak dapat menahannya lagi. Sudah cukup ia melihat bagaimana dua pria itu menyentuh miliknya dan ia tak akan membiarkan hal itu lebih lama lagi.


"Aku mencintaimu, Ra!" ujar Kevin dengan kedua mata yang memandang penuh cinta kePada Aura, ia benar-benar telah jatuh dalam pesona milik nona muda Alanta.


"Aku juga, Kevin!" balas Aura dengan senyum manis yang tak pernah ia berikan pada siapa pun kecuali anggota TAD dan juga Kevin, bahkan William dan juga Alex yang notaben adalah orang terdekat Aura tak pernah melihat senyum tulus nan lebar itu membuat keduanya terkejut. Apa lagi Ares? Yang bahkan tak pernah mendapat senyum dari Aura, hanya tatapan kebencian dan juga amarah yang selalu ia dapat semenjak makan malam waktu itu.


Kedua tangan Kevin tampak menggenggam jemari tangan Aura, membawa tangan Aura ke hadapannya guna menyematkan sebuah ciuman di sana.


"Ikutlah denganku!" pinta Kevin dengan sorot mata yang mengandung keseriusan yang nyata. Ingin Aura mengatakan 'Ya' namun sayang itu tak semudah kedengarannya.


"Tapi...


Srekk


Belum sempat Aura menyampaikan pendapatnya, sebuah tangan lebih dahulu menarik tangannya membuat ia terpaksa tertarik ke arah pelaku.


Grepp


"Dia milikku, Kevin!" ujar Ares dengan mata yang sarat akan ancaman jangan lupakan rangkulan yang semakin ia eratkan. Seakan-akan Aura akan pergi bila ia mengendurkan sedikit saja rangkulannya.


Kevin yang melihat hal itu sontak saja memandang tajam ke arah Ares, jujur saja ia sangat ingin membunuh Ares sebab pria ini telah merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.


"Dengakan ini, Ares. Aku tak akan pernah melepaskannya. Tak akan pernah!" ujar Kevin dengan mata yang menatap tajam ke arah Ares yang juga di balas dengan tatapan tak kalah tajam oleh Ares. Seakan -akan mereka dapat saling membunuh hanya melalui tatapan mereka saja.


"Camkan itu."


Hanya dua kata itu yang terucap dari bibir Kevin, sebelum pria itu memilih meninggalkan lantai dansa. Kevin tampak mengabaikan berbagai macam bisikan serta tatapan yang para tamu layangkan ke arahnya. Ketika ia melewati anggota TAD, Kevin hanya melontarkan senyum tipis ke arah kelimanya yang tampak memandang khawatir ke arahnya.


"Kevin," guman Aura memandang kepergian Kevin dengan pandangan yang sulit di artikan, ada pancaran kesesihan, kemarahan, kekecewaan, penyesala, dan juga kekhawatiran di manik safir Aura.


Ares menggeram kesal begitu melihat Aura yang tampak memandangi kepegian Kevin. Kenapa? Kenapa, Aura masih saja memandang ke arah Kevin sedangkan jelas-jelas tunangannya tengah berdiri tepat di sampingnya? Kenapa?


"Kau harus di hukum, Sayang!!!" ujar Ares sebelum menarik paksa Aura meninggalkan lantai dansa menuju ke lantai dua kediaman jackson. Ares tampak mengacuhkan segala macam rintihan dan jyga rontahan yang Aura lakukan, fokusnya saat ini adalah kamar Aura.


"Ia harus memiliki Aura seutuhnya. Ya, harus!" batin Ares menyeringai begitu menemukan kamar Aura.