
Berbagai macam cara telah kevin dan juga ares lakukan guna mendekati aura. Seperti saat ini, kevin dengan gigih mengajak aura untuk jalan jalan ke Taman Bermain yang baru saja buka.
"Ula." Entah sudah panggilan yang keberapa kevin ucapkan guna menarik perhatian aura.
"Hn." Dengan wajah datar aura mengalihkan pandangannya dari sekotak jus tomat yang ia beli di kantin ke arah kevin.
"Ayolah. Hanya sebentar. Aku janji." Dengan wajah memelas yang nampak pas di wajah imutnya, kevin kembali membujuk aura untuk mau ikut pergi ke taman bermain bersamanya.
"Tidak." Tolak aura untuk yang ke sekian kalinya.
Secepat aura menjawab secepat itu juga raut wajah kevin berubah, yang awalnya memelas menjadi datar dan dingin.
"Kau sudah janji untuk menemaniku Aura." Ujar kevin dengan nada datar membuat aura kembali mengingat permintaan stev, membuat ia tak bisa mengelak guna menolak ajakan kevin.
"Ck.. Iya iya." Dengan terpaksa aura menyetujui ajakan kevin kepadanya.
Mendengar hal itu, kevin spontan memeluk aura yang berada di sebelahnya.
"Hhhh... Terimakasih sayang." Dengan raut wajah bahagia, kevin mengatakan hal itu. Bahkan tanpa malu ia memanggil aura dengan sebutan sayang.
WTF!!
Sontak saja hal itu membuat hampir seluruh penghuni kantin sekolah membulatkan matanya akibat terkejut. Terutama anggota TAD yang lainnya, sebab mereka berada tepat satu meja dengan aura dan juga kevin.
"Mereka jadian?" Bisik key kepada aldi dengan mata yang menatap tak percaya ke arah kevin dan juga aura, terutama aura sebab tak ada satupun yang bisa memeluk aura dengan sembarang termasuk dirinya, yeah walaupun pengecualian untuk kejadian di kafe waktu itu.
"Ku rasa tidak." Jawab aldi dengan gelengan di kepalanya.
"Tapi mereka dekat?" Bisik getta ikut menambahkan.
Ayu yang mendengar bisikan ketiganya hanya mengerutkan keningnya bingung.
"Ayolah. Rei dan aura juga dekat tapi apa mereka jadian?" Ujar ayu pelan.
"Tidak." Jawab ketiganya serempak. Sialnya mereka menjawab dengan intonasi yang lumayan kencang.
Ayu hendak memprotes jawaban ketiganya.
"Tap...
"Bisakah kalian berhenti membahas hal itu?" Dengan wajah datar serta tatapn yang menatap keempatnya tajam, rei mengucapkan hal itu.
"Ehh?" Kaget keempatnya. Mereka kita rei tak mendengar apa yang tengah mereka bicarakan.
"Menjengkelkan." Gerutu rei sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Biru yang melihat hal itu sontak ikut berdiri bermaksud mencegah rei.
"Kau mau kemana, rei?" Tanya biru kepada rei yang semakin menjauh dari meja mereka.
"Atap." Ujar rei tanpa menghentikan langkahnya.
Sepeninggalan rei tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Semua larut dalam fikiran masing masing.
"Ada apa dengan rei?" Batin aura dan juga biru bingung akan sikap rei sejak hari di mana kevin dan juga ares datang.
"Ada yang salah nih." Batin aldi begitu melihat sikap rei yang selalu sama ketika ares maupun kevin mencoba mendekati aura.
"Tu anak kenapa dah? Datang bulan?" Batin key memandangi pintu tempat punggung rei menghilang.
"Bau bau cemburu nih." Batin getta dan juga ayu yang peka akan situasi yang tengah terjadi di sekitar mereka. Nah... Getta dan ayu saja mengerti kenapa yang lainnya tidak?
"Sainganku bertambah lagi? Tapi tak apa tak akan ada yang bisa mengalahkan seorang Aresta Fardansyah. Tak ada." Batin ares dengan mata yang memandang tajam ke arah kevin yang juga balas menatap tajam ke arah ares.
"You lose." Kurang lebih itu lah yang dapat di tangkap oleh mata ares begitu melihat gerakan bibir kevin yang kini tampak memberikan senyum penuh ejekan kearahnya.
Skip Time
Kini aura dan juga kevin tengah berjalanenuju ke parkiran. Mereka berencana untuk pergi ke taman bermain saat ini juga.
"Mobiku bagaimana?" Tanya aura ketika kevin malah menarik tangannya menuju ke arah mobil pemuda berambut pirang itu.
"Orang suruhanku akan mengambilnya." Ujar kevin sembari membukakan pintu untuk aura.
"Apa kau tak punya pekerjaan lain di perusahaan, kevin?" Tanya aura ketika ia melangkah masuk ke dalam mobil.
Dengan wajah yang ia tundukkan, kevin membisikkan sesuatu kepada aura.
"Tidak. Aku cuti." Bisik kevin membuat aura sedikit merona dan hal itu tak luput dari pandangan kevin.
"Lalu siapa yang mengurus perusahaan?" Ujar aura dengan sedikit gelisah sebab kevin tak kunjung menjauhkan wajahnya dari aura.
"Pamanku." Jawab kevin menikmati wajah aura lebih dekat.
"Tap...
"Kenapa kau jadi sangat cerewet nee ula?" Dengan senyum manis kevin menyela ucapan aura. Membuat pipi aura semakin memerah.
Dengan gelisah aura mencoba memberikan jarak antara dirinya dan juga kevin.
"Ti.. Tidak." Gugup aura.
"Pipimu memerah. Apa kau sakit?" Goda kevin menempelkan tangannya di kening aura.
"Jauhkan tanganmu." Tepis aura pada tangan kevin.
"Ah... Kau malu ya?" Goda kevin dengan seringai di wajahnya.
Mendengar hal itu pipi aura semakin memerah bak tomat kesukaannya.
"Hentikan." Kesal aura menjauhkan wajah kevin dengan cara mendorong wajanya membuat kevin terpaksa mundur beberapa langkah. Dan hal itu tentunya tak di sia siakan oleh aura, sgera ia tutup pintu di sampingnya dan menguncinya dari dalam.
Melihat hal itu kevin malah tertawa. Menurutnya tingkah aura barusan sangatlah menggemasakan di matanya.
"Hhhhhh."
Siswa siswi yang melihat hal itu hanya mampu di buat terpanah dengan wajah tampan kevin yang semakin tampan saat ia tertawa.
"Berhentilah tetawa sialan!!" Teriakkan aura barusan membuat kevin terpaksa berhenti tertawa atau kalau tidak aura bisa saja membatalkan rencana mereka.
"Oke sayang." Balas Kevin dengan cara yang sama. Ya sama sama berteriak.
"Ada apa dengan rei?" Tanya biru yang mendapati rei yang berdecak sembari menatap tajam ke arah aura dan juga kevin yang kini telah pergi menggunakan mobil Lamborghini merah milik kevin.
"Rei." Panggil biru ketika ia tak mendapat sahutan dari rei.
"Hn." Guman rei.
"Kau mau pulang?" Kembali biru bertanya kepada rei, mencoba mengalihkan perhatian rei.
"Hn." Guman rei sebelum masuk ke dalam mobil Ferarrinya.
Aldi yang melihat rei pergi menggunakan mobilnya dengan kecepatan penuh membuat ia mengernyitkan dahinya bingung.
"Rei kenapa?" Tanya aldi kepada biru.
"Entahlah." Sahut biru juga bingung dengan sikap rei.
Sejak tadi mereka tidak sadar bila ada seseorang yang tengah memperhatiakn mereka sejak awal.
"Sialan kau kevin." Umpat pemuda itu menatap gerbang penuh dengan kebencian. Lah apa salah gerbang?
"Lihat saja setelah ini kau tak akan ku biarkan dekat dengan aura karena ia milikku. Selamanya milikku." Dengan mata yang berkilat tajam pemuda itu memasang seringai nan lebar di bibirnya.
***
Taman bermain ini sangat ramai untuk ukuran taman yang baru di buka, bahkan aura dan kevin harus mengantri cukup lama hanya untuk membeli tiket masuk. Awalnya kevin hendak menggunakan kekuasaannya namun aura melarang katanya tidak akan seru bila menggunakan kekuasaan. Ia hanya ingin menikmatinya seperti yang lain.
"Jadi. Kau ingin mencoba yang mana?" Tanya kevin begitu mereka telah memasuki kawasan taman bermain.
"Kora kora itu mungkin tak terlalu buruk." Jawab aura menunjukk ke arah sebuah wahana kapal yang di gantung dengan dua buah tiang penyangga di kanan kirinya.
"Baiklah ayo." Ujar kevin menggandeng tangan aura. Ia bilang agar tidak terpisah. Ck.. Bukankah kau sedang modul ehh kevin?
Cukup lama mereka menikmati ayunan dari kora kora. Membuat isi perut keduanya terasa terguncang.
"Kau mau apa lagi?" Tanya kevin setelah mereka berada vukup jauh dari wahana kora kora.
Aura tampakengedarkan pandangannya mengamati berbagai wahana yang ada. Sampai matanya menatap ke arah sebuah boneka panda besar yang ada di stan wahana boling.
"Ambilkan aku boneka itu." Ujar aura menunjuk ke arah boneka panda yang ia inginkan.
Kevin yang mendengar hal itu sontak mengikuti arah tunjuk aura.
"Baiklah tunggu di sini." Ujar kevin sebelum berlalu menuju stan boling.
"Memangnya dia bisa?" Tanya aura memandang kepergian kevin.
Belum sampai lima menit kevin pergi meninggalkannya pemuda itu telah kembali dengan boneka panda besar di kedua tangannya.
"Ini." Ujar kevin menyerahkan boneka itu kepada aura.
"Bagaimana...
"Kau meremehkanku?" Potong kevin mengerti apa yang akan aura katakan.
"Hn." Guman aura menerima boneka panda itu dan memeluknya erat. Kevin yang melihat hal itu tentu saja senang, sebab aura menerima boneka yang ia dapatkan dengan gembira.
"Ayo main lagi." Ajak kevin menarik aura menuju wahana lainnya.
Berbagai macam wahana mereka naiki dari yang ekstrim samapai yang antimeinstriem.
"Cukup aku lelah." Ujar aura begitu mereka telah turun dari bianglala.
"Mau makan?" Ujar kevin menawarkannya kepad aura.
"Hmm."
"Ayo." Ajak kevin lagi lagi mengandeng tangan aura. Kali ini dengan alasan ia takut aura jatuh pingsan.
***
Kini keduanya telah berada di depan kediaman Jackson. Setelah puas bermain mereka memilih untuk mampir di sebuah kafe yang ada di sana. Lalu pulang.
"Terimakasih untuk hari ini." Ujar kevin menatap ke arah aura yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Seharusnya aku yang berterimakasih. Aku senang." Ujar aura dengan senyum manis di bibirnya. Membuat kevin seketika terpanah akan kecantikan yang dimiliki aura. Sederhana namun memikat.
"Syukurlah kalau kau senang." Ujar kevin penuh kelegaan. Awalnya ia takut aura tak akan senang tapi tebakannya meleset.
"Baiklah aku masuk dulu." Ujar aura membuka pintu mobil kevin dengan boneka panda di pelukannya.
"Ya." Sahut kevin ketika aura menutup kembali pintu mobil Lamborghini milik kevin.
"Kenapa ia kembali?" Batin aura bingung ketika melihat kevin juga ikut membuka pintu mobil lalu berjalanenghampirinya.
"Ap..
Cup
Belum sempat aura bertanya apa ada yang tertinggal bibirnya sudah lebih dulu di bungkam dengan bibir milik kevin. First kissnya.
"Selamat malam. Mimpi indah sayang." Bisik Kevin tepat di atas bibir aura.
Brumm
Suara deru mobil milik kevinlah yang menyadarkan aura dari keterkejutannya.
"Aiss... Dasar." Guman aura dengan wajah merah padam. Sialan kevin baru saja mengambil ciuman pertamanya.
Dengan wajah yang masih memerah serta senyum yang tak luntur dari bibirnya aura memilih masuk ke dalam rumahnya.
"Sialan." Umpat seorang pemuda yang sejak tadi mengikuti keduanya.
"Keparat. Berani sekali ia menyentuh milikku." Umpatnya kembali begitu melihat kevin dengan lancangnya mencium bibir aura.
"Sialan. Bahkan aku tak pernah mencium aura." Umpat pemuda lain dengan mobil Ferarri.
"Tak akan ku biarkan siapapun memilikimu, ra. Kau hanya milikku. Milik kevin Anggara." Batin kevin dengan kedua mata yang berkilat menampilkan mata coklat gelap yang penuh ambisi.
"Tuhan jaga selalu aura. Jangan biarkan cinta membutakan mereka bertiga." Batin pemuda berambut biru dengan mobil BMW yang tak jauh dari mobil Ferarri dan juga mobil Bugati yang sejak tadi mengikuti kemanapun perginya aura dan juga kevin.