Alanta

Alanta
Lima_Belas



Terhitung sudah dua hari sejak aura mengetahui kebenaran tentang stev dan juga sudah dua hari aura di buat bingung dan gelisah dengan permintaan stev padanya.


Sudah dua malam ia terus menerus berbicara pada bintang, bertanya siapa pemuda yang dimaksud stev. Sebenarnya ia bisa saja mencari tahu tentang pemuda yang kebetulan adalah kakak stev, tetapi ia tak melakukannya karena stev bilang pemuda itulah yang akan menemuinya. Jadi ia putuskan untuk menunggu saja.


"Hey..." Panggil rei menyadarkan aura dari lamunannya.


"Hn. Ada apa?" Tanya aura.


"Seharusnya kami yang bertanya begitu ra. Kau kenapa? Kami perhatikan sejak tadi kau tak konsen mendengarkan apa yang guru jelaskan, kau tampak asik melamun." Ujar getta kepada aura.


"Ah... Tak ada. Hanya... Entahlah." Ujar aura dengan ambigu. Membuat yang lainnya memandang bingung dirinya.


"Kudengar akan ada murid baru di kelas kita." Ujar ayu mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia rasa aura sedang tak ingin di ganggu.


"Ya. Katanya ada dua orang. Tetapi itu masihlah katanya." Jawab aldi.


"Perempuan atau....


....Laki laki?" Ujar rei dan juga biru bergantian.


"Ku dengar laki laki." Ujar aldi.


"Sial." Batin rei dan juga biru. Kalian berdua kenapa? Apa ada yang salah?


"Hn." Guman aura.


*****


Pagi ini dikelas aura terdengar suara gaduh yang memekakkan telinga siapa saja yang berada disana. Semua sibuk membicarakan murid baru yang akan mulai masuk hari ini.


"Selamat pagi anak anak." Sapa bu guru kepada kami.


"Pagi buk." Jawab semuanya serempak minus aura.


"Baiklah hari ini kita kedatangan murid baru. Jadi ibu harap kalian bisa berteman dengan baik. Paham?" Ucap bu guru.


"Siap paham buk." Jawab seluruhnya serentah minus aura yang tampak tak tertaris sama sekali dan juga rei yang tampaknya akan mulai melalang buana ke dalam mimpi.


"Baiklah. Kalian yang di luar silahkan masuk." Perintah bu guru.


TAP...TAP...TAP


Dengan efek slow motion kedua pemuda itu memasuki ruang kelas. Dan seketika teriakan yang berasal dari kaum perempuan minus aura yang tampaknya masih sibuk memandang keluar jendela, bahkan ia tak menyadari bila sejak tadi ada dua pasang mata yang terus memandang kearahnya dengan pandangan yang berbeda.


"Aresta Fardansyah." Ujar seorang pemuda berambut dark blue dengan mata onyx yang sejak tadi mengarah ke sudut ruang tepat kearah seorang gadis yang sejak tadi sibuk tenggelam dalam lamunannya.


"Kevin Anggara." Kini giliran pemuda dengan rambut pirang serta mata coklat madu yang juga tampaknya tengah memandang objek yang sama dengan ares.


"Baiklah ada yang ingin bertanya?" Ujar bu guru membuat hampir semua siswi berlomba lomba menyorakkan diri untuk bertanya.


"Diam. Ibu rasa kalian bisa bertanya nanti saja ketika waktu istirahat. Baiklah sekarang kevin dan juga ares kalian bisa duduk di bangku kosong yang ada di samping dan juga belakang aura." Jelas bu guru yang tampaknya tak diindahkan keduanya. Mereka tampak sibuk memperhatikan gadis yang menarik hati keduanya. Sadar atau tidak tingkah keduanya membuat rei, biru, aldi dan juga key mengikuti arah pandang keduanya yang ternyata berhenti di....


... Aura.


"Kenapa mereka memandangi aura?" Batin aldi ketika menyadari kemana arah pandang kevin dan juga ares.


"Entah perasaanku saja atau memang akan terjadi sesuatu setelah ini?" Batin key yang kini tengah bergelut dengan pikirannya guna menerka nerka apa yang akan terjadi.


"Jangan bila mereka tertarik dengan aura?" Batin biru was was. Entahla ia sedikit takut ketika menyadari tatap keduanya benar benar dalam untuk aura.


"Sialan." Umpat rei tentu saja hanya di dalam hati. Ia tak mau teman temannya mendengarkan umpatannya barusan, bisa bisa mereka tahu perasaanya terhadap aura. Bisa berabe ceritanya kalau mereka sampai tahu.


"Kevin!! Ares!!"


"Ya." Jawab keduanya.


"Kalian bisa duduk." Ulang bu guru membuat keduanya segera melangkahkan kaki menuju kursi kosong yang ada disamping aura dan juga di belakang aura.


Dengan gesit kevin menduduki kursi di samping aura membuat ares tanpa sadar menggeram rendah dan hal itu di sadari oleh kevin dan juga rei. Kevin yang menyadari hal itu hanya mampu memberikan seringai kemenangan yang seolah mengejek ares.


Akhirnya dengan terpaksa ares duduk di kursi belakang meja aura. Setidaknya ia tetep duduak di dekat aura walaupun ia sebenarnya ingin duduk di sebelah aura.


"Ku rasa stev sudah mengatakannya padamu ne ula." Bisik kevin tepat di samping telinga aura, membuat tubuh aura sedikit menegang karena terkejut.


"Siapa?" Tanya aura tanpa menolehkan kepalanya kearah kevin sebab bila ia menoleh bisa ia pastikan bahwa ia akan mencium seseorang di sampinya itu.


"Kevin Anggara. Kakak dari Stevandi atau kau mengenalnya dengan nama Angkasa." Bisik kevin membuat aura sontak menolehkan kepalanya kearah kevin membuatnya tak sengaja mencium sudut bibir kevin.


Kini aura melihat bahwa disampingnya telah duduk pemuda dengan helai pirang serta mata coklat madu. Hampir menyerupai stev hanya saja kedua mata mereka yang menjadikan keduanya berbeda. Sedangkan kevin ia tampak asik memandangi kedua mata biru safir aura yang benar benar sama dengan milik sang kakak hanya saja yang ini lebih jernih.


"Mata stev." Tanpa sadar kevin menggumankan hal itu. Membuat aura kembali teringat pesan stev padanya.


Keduanya tampak sibuk menyelami dunia masing masing tanpa menyadari bahwa sejak tadi dua pasang mata sehitam jelaga dan juga sepasang manik perunggu menatap dengan pandangan berbeda ke arah keduanya. Yang satu menatap cemburu yang satunya lagi menatap marah dan juga kesal sedangakan manik perunggu menatap dengab pandangan khawatir dan juga heran.


Inilah awal dari kisah mereka. Kisah yang melibatkan pengorbanan, air mata, bahkan perjuangan tiada ujung akan mereka lalui. Semua itu karena satu hal yang disebut 'CINTA'.