Alanta

Alanta
Dua Puluh Tujuh



   Deburan ombak yang menghantam karang terdengar begitu keras. Semburan jingga menghiasi langit di atas lautan biru itu, tampak terlihat sangat indah. Nammun semua hal itu tak mampu mengusik lamunan seorang pria yang tengah duduk di atas pasir pantai yang mengering.


   Mata onyx itu terlihat pekat dan kosong, menjadi pertanda bahwa pemiliknya tengah dirundung masalah. Sebuah kilas balik melintas di hadapannya.


"Waktuku tak banyak, jadi temukan dirinya dan lakukan kewajiban yang telah kau tanggung sejak malam itu!"


   Masih terngiang apa yang William katakan padanya saat itu.


"Kau dimana, Ra?" guman Ares dengan raut wajah yang terlihat lelah. Tidak hanya bagian kota yang ia cari, kini ia tengah berada di pinggiran kota dengan sebuah pantai guna mencari wanitanya.


"Aku tau perbuatanku salah, tapi bisakah kau kembali padaku?"


   Hanya satu hal yang kini menjadi harapan terbesar Ares, bahwa benih yang ia tanam telah tumbuh subur di rahim Aura. Namun tiba-tiba saja satu prasangka hadir, mengusik ketenangan Ares.


"Kau tidak akan membunuhnya, kan?" guman Ares dengan raut wajah yang terlihat panik. Ia talut bila Aura membunuh janinnya. Ia takut.


"Papa akan menjemput kalian. Bersabarlah sedikit lagi sayang. Papa janji tak akan melepaskan Mamamu lagi. Tak akan pernah, karna ia milik Papa!" seru Ares menatap langit yang perlahan menggelap sebab sang surya telah beranjak keperaduannya.


   Senyum simpul itu terukir di bibir Ares begitu membayangkan dirinya akan segera bertemu dengan Aura dan anaknya. Ya, ia yakin sekali bahwa Aura tengah mengandung anaknya saat ini.


***


   Dikala Ares tengah menemukan secercah harapan akan hubungannya dengan Aura, disaat yang sama Kevin tengah dirundung duka akan dirinya dan Aura. Ia tak bodoh untuk tak tahu bahwa kemungkinan ia dan Aura tak akan bersama itu ada, apalagi setelah malam itu.


   Nyaris sebulan merekaa tak mendapat kabar akan keberadaan Aura, dan selama itu juga Kevin dibuat gila karnanya. Ia bahkan nyaris sekarat sebab tak makan dan kekurangan cairan untung saja Key segera membawanya ke rumah sakit begitu mendapati dirinya tergeletak tak sadarkan diri di ranjang kamarnya.


  Kevin kini tak ubahnya seperti zombi yang berjalan. Semua urusan perusahaan untuk saat ini dipegang oleh pamannya dan untuk masalah sekolah, ia tak membutuhkannya lagi toh dirinya sudah lulus sejak beberapa tahun yang lalu.


"Kalau kau terus saja begini, bagaimana kau dapat menemukan Aura, Kevin!" ujar seseorang dari depan pintu kamar Kevin.


   Dengan pasti orang itu melangkah masuk mendekati Kevin yang tengah duduk melamun di atas ranjang.


"Kau harus mencarinya, sebelum Ares lebih dulu menemukannya!" tambah orang itu. Kini ia telah berdiri di hadapan Kevin.


"Bagaimana caranya, Key?" tanya Kevin kepada sosok di hadapannya yang tak lain adalah Key.


Raut wajah Key yang awalnya terlihat iba berubah menjadi serius,


"Telusuri pinggiran kota, ingat hanya itu satu-satunya pilihan untuk seseorang yang lari!" ujar Key memberi saran.


Memang benar, pinggiran kota menjadi salah satu pilihan ketika seseorang tengah bersembunyi. Sebab itu tempat teraman yang jarang tersentuh orang luar.


"Kau benar," tanggap Kevin dengan secercah cahaya harapan dan lengkungan senyum semangaaat di bibirnya. Tidak, ia tak akan kehilangan Aura. Masih ada kesempatan untuknya mempertahankan hubungan ini.


"Bagus, besok kita mulai mencari. Aku akan membantumu," ujar Key puas akan respon yang Kevin berikan. Setidaknya mereka telah berusaha.


Kevin yakin bila tak ada Key disampingnya maka sudah bisa ia pastikan bahwa ia akan selamanya begitu, terus terdiam tanpa mau mencari.


"Ucapkan itu nanti saja, jika kita sudah bertemu dengan Aura!" ujar Key dengan sedikit tepukan pada bahu Kevin, mencoba memberitahu semua akan baik-baik saja.


"Ku harap kau ada di sana, Ra!" batin Kevin menatap bingkai foto yang berisikan dirinya dan Aura ketika berada di taman bermain, tempat kencn pertama mereka.


"Semoga ini yang terbaik untukmu, Ra!" batin Key dengan mata yang terpejam. Sebuah bayangan seorang gadis tersenyum ke arahnya, terlihat bak kaset rusak yang terus berputar tak beraturan.


***


   Pagi ini baik Ares maupun Kevin dan Key, ketiganya mulai menelusuri pinggiran kota. Dimulai dari pantai bahkan pasarpun mereka telusuri guna mencari sang pemilik hati.


   Kini ketiganya berada pada satu kawasan yang sama, supermarket yang entah bagaimana bisa ada tak jauh dari pasar yang baru saja mereka sambangi. Ketiganya saling berdiri dengan terbatasi tiga rak membuat ketiganya tak tahu akan keberadaan satu sama lain.


   Lelah dengan serangkain metode pencarian yang selalu berakhir gagal, ketiganya memutuskan untuk membeli beberapa makanan dan juga minuman guna menemani perncarian mereka selanjutnya. Semuanya berjalan normal hingga mereka mendengar suara yang amat mereka kenali.


"Kau harus banyak minum susu, Ra!" seru seseorang dari balik rak ya g bisa di pastikan ia seorang pria.


"Tapi itu menjijikkan, Rei!" sahut suara lain yang terdengaar mirip suara wanita.


"Suara ini kan..." batin ketiganya dengan tubuh yang mematung.


"Terserah!" seru wanita di balik rak.


Segera Key, Kevin dan Ares menuju asal suara itu.


"Aura?" seru ketiganya pada rak yang berda di tengah-tengah. Namun sayang bukannya bertemu dengan Aura, ketiganya justru bertemu dengan sepasang muda mudi yang tengah membeli susu untuk ibu hamil.


Ketiganya saling beerpandangan sebelum kembali mengedarkan pandangan mereka ke seluruh supermarket.


"Rei!" teriak Key begitu melihat sosok yang ia kenal tengah berlari menuju sebuah mobil. Melihat hal itu ketiganya langsung mengejar Rei, tetapi sayangnya Rei lebih dulu meninggalkan tempat dengan mobilnya.


"Sial!" umpat Key. Ia yakin bahwa yang ia lihat tadi adalah Rei, di tambah dengan mobil yang di kendarai sosok itu.


"*******!" keadaan Kevin dan Ares tampaknya tak beda jauh, keduanya tampak frustasi dan kesal. Padahal mereka sudah dekat, justru hanya terbatas satu rak tetapi kenapa mereka tak juga bisa bertemu.


Sedangkan di sisi lain, Rei dan juga Aura tampak bernafas dengan lega sebab lolos dari Kevin, Ares daan Key. Untung saja mereka cepat bertindak begitu menyadari kehadiran ketiganya di supermarket, bersyukur mereka berhasil lolos walaupun Key sempat melihat Rei.


"Kalian bsik-baik saja?" tanya Rei dengan mata yang menatap lurus ke jalan di hadapannya. Ia takut terjadi sesuatu pada bayi mereka karna mereka sempat berlari tadi.


"Hmm, kami baiik-baik saja. Hanya sedikit syok," jawab Aura dengan tangan yang mengelus perut ratanya.


Sebuah letupan terasa di dada dan juga perut Aura, ia rasa anaknya ini tahu bahwa ia hampir saja bertemu dengan papanya. Bukan maksud dirinya memisahkan anaknya dari sang ayah, hanya saja ia masih belum terima akan hal brengsek yang Ares lakukan padanya. Namun percayalah ia telah menerima janin di kandungannya, di tambah dengan keberadaan Rei yang menguatkannya. Panggillah ia wanita tak tahu diri, tapi apa mau di kata ia memang membutuhkan Rei di siisinya saat ini, biarlah ia egois dengan memanfaatkan rasa Rei. Ia hanya ingin mengikuti alur yang tuhan rancang untuk hidupnya.