Alanta

Alanta
Tujuh Belas



"Mau langsung pulang, Ra?" tanya Kevin tepat setelah keduanya duduk di dalam mobil sport milik Kevin.


Sudah beberapa hari ini keduanya tampak semakin akrab, bahkan keduanya kerap kali dijumpai tengah jalan berdua atau pulang bersama. Seperti saat ini.


"Jalan aja. Di rumah lagi nggak ada orang," sahut Aura menatap ke arah Kevin. Entah ini hanya perasaannya saja atau memang Kevin terlihat makin tampan?


"Ikut denganku ya. Ada yang ingin bertemu denganmu!"


Aura tampak berfikir sejenak. Menimbang nimbang jawaban apa yang akan ia berikan kepada Kevin atas tawarannya itu. Lalu ia tampak mengangguk setelah berfikir cukup lama.


"Oke."


Kevin tampak melajukan mobilnya dengan kecepat sedang, sedikit banyak ia trauma akan kejadian yang menimpa sang adik.


Cukup lama mereka berada di jalan menuju ke tempat yang hendak mereka tuju.


Hingga sampailah mereka di sebuah tempat yang tak pernah Aura duga sebelumnya. Kevin keluar dari mobilnya. Berjalan di sebelahnya, lalu kembali membuka pintu untuk Aura. Mereka lalu bersama sama memasuki sebuah gerbang yang menjulang setinggi dada Aura.


Sebenarnya Aura ingin bertanya sejak mobil yang mereka tumpangi berhenti di kawasan ini. Namun ia tampak menahan pertanyaannya, biarlah Kevin sendiri yang memberitahunya.


"Hai brother," sapa Kevin setelah ia sampai di tempat tujuannya. Tempat dimana seseorang tengah menunggu keduanya atau bisa di bilang menunggu Aura.


"Aku membawanya untuk menemuimu. Ku rasa kau ingin melihatnya bukan?" ujar Kevin kepada seseorang yang telah terbaring di sana. Di bawah gundukan tanah yang di tumbuhi rumput jepang yang tampak terawat.


"Ula. Ini makam, Stev."


Deg


"Jadi yang Kevin maksud itu Stev?" batin Aura melirik batu nisan yang sejak tadi di elus oleh tangan Kevin.


"Stev?"


"Aku... aku tak tahu harus bilang apa. Tapi....


.... Terimakasih karenamu aku bisa kembali melihat dunia dan aku suka warnanya. Entahlah setahuku bila kita melakukan operasi mata,  korneaku pada mataku harusnya tetaplah berwarna coklat tapi ini malah berwarna safir sama sepertimu."


"Aneh bukan?" canda Aura dengan kedua mata yang telah digenangi air mata.


"Kau tau brother? Aura menepati janjinya untuk selalu bersamaku, walau pada awalnya aku harus menggunakan namamu untuk membuatnya mau berada di sisiku," ujar Kevin.


Diam diam Aura menatap ke arah Kevin. Entahlah sejak kejadian first kiss waktu itu, Aura mulai merasakan rasa yang berbeda terhadap Kevin. Ia selalu merasakan jantungnya berdebar tiap kali ia berdekatan atau melakukan kontak fisik dengan Kevin.


"Stev?"


"Apa aku mulai mencintai Kevin?" batin Aura dengan perasaan yang campur aduk.


"Ra?" panggil Kevin membuyarkan lamunan Aura.


"Ini mungkin terlalu cepat dan terlalu mendadak tapi jujur aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Kau tahu aku bukan pria yang romantis, aku tak terlalu pandai merangkai kata kata. Kau tahu sejak stev menunjukkan fotomu aku...aku telah jatuh hati pada saat itu."


Dengan tatapan serius dan juga raut wajah tenang, Kevin menyampaikan apa yang ia rasakan kepada Aura.


"Sekarang aku ingin mengatakan bahwa aku, Kevin Anggara menyukai Aura ahh salah tetapi mencintainya. Jadi will you be my girlfriend?"


Katakan bahwa saat ini Aura tengah bermimpi. Jantungnya berdetak tak karuan seakan akan segera meledak. Pipinya bersemu merah menandakan sang pemilik tengah tersipu malu.


"Aku..."


Aura tampak gelisah. Ia edarkan pandangannya ke segala arah kecuali mata coklat yang kini memandang penuh harap ke arahnya.


Aura tampak menghelan nafas sebelum membuka bibirnya guna menjawab pertanyaan Kevin.


"Yes I will."


Dengan senyum lebar di wajahnya, Aura menjawab pertanyaan Kevin.


Tanpa menunggu waktu lama, Kevin segera menarik Aura ke dalam pelukannya. Ia bahagia, sunggu benar benar bahagia.


"Aku benar benar mencintaimu, Ra."


Berulang kali Kevin mengucapkan hal itu, membuat Aura tanpa sadar semakin mengeratkan pelukannya dan juga tak henti hentinya tersenyum sembari memandang ke arah batu nisan yang ada di balik punggung Kevin.


"Aku akan menjaganya, Stev." batin Aura memandang batu nisan itu dengan raut wajah serius.


Tanpa keduanya sadari sepasang mata coklat madu tengah menatap keduanya dengan raut wajah bahagia, namun itu tak berlangsung lama sebelum raut wajah sesih tergambar di wajah penuh cahayanya.


"Aku percaya kau akan menjaganya untukku, Ula. Tapi mulai sekarang akan ada banyak rintangan yang harus kau hadapi guna menemukan kebahagaian serta cinta sejatimu di antara tiga orang pria ayang ada si sekitarmu. Ku doakan kau selalu bahagia dan baik baik saja. Aku titip Kevin padamu. Aku menyayangimu, Ula. " bisik sosok pemuda berambut pirang dengan baju putih bersih miliknya. Sebelum menghilang selaras dengan angin yang menerpa keduanya.


Entah bagaimana bisiakan itu dapat terdengar walau samar oleh Aura.


"Terimakasih Stev. Aku menyayangimu kak."


***


Prangg


Suara benda pecah terdengar di seluruh penjuru kamar itu.


"Sialan!!!" umpat seorang pemuda berambut hitam dengan mata hitam yang berkilat tajam penuh akan api amarah yang menggelora.


"Kenapa harus dia?" teriaknya marah. Ia benar benar marah begitu mendengar laporan dari salah satu anak buahnya bahwa sang gadis pujaannya tengah bermesraan bersama puda yang amat ia benci.


"Tak akan ku biarkan. Sejak awal Aura milikku dan akan selamanya begitu."


"Khhhhh.... Arghhtt...." kekehan serta erangan frustasi dari sang pemuda membuat ia terlihat tak ubahnya seorang Psychopat gila.


"Akan ku rebut kau darinya, Sweet heart."


Mata hitam itu tampak semakin meredup membuat siapa pun yang melihatkan akan bergidik ngeri.


Sedangkan di sisi lainnya, seorang pemuda tampak menatap dingin kearah sebuah potret seorang gadis berambut navy dengan mata biru safir cerah tengah tersenyum lebar. Potret yang pemuda itu ambil diam diam dan ia pajang di atas tempat tidurnya setelah ia beri bingkai besar.


"Lihat saja apa yang bisa ku lakukan untuk membuatmu menjadi milikku, Ra."


Dengan mata onyx yang tak lepas dari sosok di potret itu, pemuda tersebut meraih ponsel yang ada di dalam kantong celananya.


"Halo."


"Kakek."


"..."


"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?" tanya pemuda itu dengan seseorang yang tengah ia hubungi. Kakeknya.


"Kau tahu aku tak pernah meminta apapun. Jadi kali ini saja!" ujar pemuda itu lengkap dengan seringai lebar di bibirnya. Biarkan ia menggunakan cara licik ini agar dapat kembuat Aura terikat padanya untuk selamanya.


"Bisakah kakek...


***


Pagi ini hampir seluruh warga penghuni SMA NUSA BANGSA  di buat gempar dengan berita yang sedang panas panasnya. Berita apa lagi kalau bukan tentang Aura dan juga Kevin yang tak sengaja kepergok tengah kencan oleh salah satu siswi disana. Kabar itu juga didukung oleh beberapa potret kebersamaan keduanya yang tampak mesra.


"Kau serius Aura dan Kevin berpacara?" tanya salah satu siswi di koridor dekat lapangan basket.


"Iya. Kau tahu aku melihat mereka kemarin malam kencan di salah satu kafe."


"Wahhh... ku kira Aura dan Rei pacaran?" sahut siswi lain yang baru saja bergabung di sana.


"Aku malah mengira Aura dan Ares yang berpacaran," ujar yang lainnya ikut menimpal.


"Ya mau bagaimana lagi resiko orang cantik."


"Ya. Kau benar."


Kurang lebih begitulah pembicaraan yang tengah ramai di SMA Nusa Bangsa.


"Ada apa ini?" tanya Getta kepada Ayu begitu ia melihat gadis berambut hitam ikal itu.


"Sepanjang jalan dari gerbang sampai ke sini semua orang membicarakan Aura?" ujar Ayu ikut heran dengan keadaan yang ada.


"Kau tak tahu, Al?"


Dengan raut yang sama bingung dengan Getta, Ayu bertanya kepada Aldi tepat setalah mereka sampai di depan kelas.


"Apa?" tanya aldi.


"Aura dan Kevin jadian."


"WHAT???" pekikan kaget Key membuat beberapa siswa menatap aneh ke arah ketiganya. Hal itu sontak saja membuat Key mendapatkan pelototan dari yang lainnya.


"Katakan kalau itu bohong!" tiba tiba saja suara biru membuyarkan ketegangan yang ada akibat Key. Namun bukannya reda ini malah semakin menjadi.


"Kami tak berbohong, Biru."


"Sial!!!" umpat Biru membuat ia ditatap dengan raut bingung oleh anggota TAD yang lain.


"Kenapa kau tampak cemas?" tanya aldi begitu menyadari gelagat Biru yang terlihat gusar.


"Apa Rei dan juga Ares tahu?" alih ali menjawab pertanyaan aldi, Biru malah balik bertanya kepada aldi.


"Kurasa belum soalnya mereka belum datang."


"Jangan sampai mereka tahu!" dengan raut wajah gusar, Biru mengayakannya.


"Kenapa?" tanya Getta bingung dengan ucapan Biru barusan. Kenapa Rei tak boleh tahu? Kalau Ares mungkin saja tak masalah tapi ini Rei, ia sudah menjadi seseorang yang amat penting dalam hidup Aura lantas kenapa ia tak boleh tahu?


"Atau Aura dan Kevin akan dalam masalah."


Ucapan Biru barusan membuat wajah mereka seketika pucat pasih. Sebenarnya ada apa ini?


"Mas...


"Karena aku tak akan membiarkan mereka bersama!" ucap Rei dari balik bahu Biru. Membuat biru tanpa sadar membulatkan mata perunggunya terkejut.


"Karena Aura milikku."


Kali ini bukan hanya suara Rei yang mereka dengar melainkan suara Ares juga.


"Kalian?" ujar Ayu dengan raut wajah kaget dan juga tatapan tak percaya kearah keduanya.


"Cih."


***


"Kenapa mereka menatap ke arah kita?" tanya Aura dengan raut wajah risih karena hampir setiap siswa maupun siswi yang berpapasan dengan mereka, selalu menatp kearah mereka lalu kembali berbisik bisik.


"Terpesona mungkin."


"Aiss... kau menyebalkan," ujar Aura dengan bibir yang ia manyunkan. Membuat beberapa pemuda yang melihatnya merasa gemas dengan tingkah Aura barusan.


"Hhhh... hanya padamu," goda Kevin membuat Aura mempercepat langkahnya meninggalkan Kevin yang kini turut mengejar dirinya


***


Ketika Aura telah sampao di ruang kelas, entah kenapa suasana di sana terasa tegang dan mencekam. Hanya saja perasaan Aura saat ini terasa tak enak.


"Ada apa ini?" tanya Aura entah kepada siapa. Anggota TAD yang mendengarnya hanya bisa menatap Aura dengan pandangan yang tak dapat di artikan sedangkan siswa lainnya memilih diam, tak ikut campur.


"Mau kau bawa kemana Aura?" ujar Kevin dengan nada datar serta tatapan tajam yang ia layangkan kepada Rei.


"Lepaskan!" perintah Rei dengan geraman di akhir ucapannya, membuat Aura makin merasakan perasaan tak enak. Sebenarnya ada apa ini?


"Tidak."


"Ku bilang LEPAS!!!" bentak Rei dengan raut wajah marah membuat semua yang ada di sana tersentak kaget kecuali Kevin yang tampak tak terpengaruh sama sekali.


Melihat keadaan yang semakin memanas akhirnya Aura mencoba membuka suara guna menengahi perdebatan keduanya.


"Kevin."


"Aku akan segara kembali," ujar Aura mencoba memberikan sedikit pengertian kepada Kevi agar ia mau melepas genggamannya. Dan berhasil.


Setelah memastikan Kevin tak akan mencegahnya lagi, Rei segera menarik Aura pergi dari sana.


Sepeninggalan Aura dan juga Rei, kelas menjadi sunyi kembali.


"Kevin?" panggil Getta dengan nada ragu ragu membuat Kevin menatap kearahnya dengan satu alis yang terangkat.


"Hn."


"Kau dan Aura pacaran?" tanya Getta mati matian menahan suaranya yang sedikit gugup. Bukan karena malu terhadap Kevin melainkan karena aura mencekam yang dikeluarkan oleh Ares dan juga Kevin.


"Ya."


Sepersekian detik dari Kevin menjawab pertanyaan Getta, sebuah pukulan melayang tepat mengenai rahang bawahnya. Hal itu tentu saja membuat semua yang melihatnya memekik terkejut.


Bughht


"Sialan!!" umpat pelaku pemukulan yang tak lain adalah Ares.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Kevin meludahkan darah dari bibirnya yang sedikit sobek.


"Seharusnya Aura menjadi milikku bukan kau!!" bentak Ares dengan mata yang menatap marah ke arah Kevin.


Bughht


"Aura sudah menjadi milikku!!!" bentak Kevin tepat setelah ia memberikan satu pukulan balasan di rahang bawah Ares, membuat Ares melusahkan darah yang berasal dari ujung bibirnya yang juga sobek seperti Kevin.


"Sialan."


Kembali Ares akan menyerang Kevin sebelum Key dan juga Aldi menahan badan Ares.


"Ares cukup!" bentak Biru di hadapan Ares mencoba menghalangi Ares yang hendak kembali menyerang Kevin.


"Lepas!" bentak Ares mencoba melepaskan diri dari cekalan Aldi dan juga Key. Membuat kedua pemuda itu sedikit kerepotan serta kesulitan menjaga kuncian keduanya,  agar Ares tak lepas.


"Akan ku rebut Aura darimu. Camkan itu sialan!" ujar Ares memperingatkan Kevin, setelah ia berhasil lepas dari kuncian Aldi dan juga Key.


"Dan aku tak akan membiarkan itu terjadi. Tak akan." balas Kevin menatap tajam Ares dengan kedua mata yang semakin menggelap.


Braakk


Bantingan pintu barusan membuat suasana yang awalnya tegang dan mencekam sedikit berangsung angsur normal kembali.


"Ya tuhan," guman Getta dan Ayu dengan kaki yang terasa lemas ketika Ares telah meninggalkan ruang kelas. Walaupun keduanya sering melihat teman se gengnya berkelahi bahkan tawuran, tali tetap saja kejadian barusan mempu membuat mereka takut sekaligus syok.


"Astaga itu tadi apa?" guman Ayu menatap ke arah pintu yang tadi di banting oleh Ares.


"Aura." batin Biru mencemaskan keadaan Aura saat ini. Untung saja Ares memilih melampiaskan amarahnya kepada Kevi kalau tidak ia tak tahu bagaimana Aura akan menghadapi kemarahan keduanya. Tapi kini ia masih cemas dengan keadaan Aura, sebab ia tahu Rei tak akan semudah itu untuk melepaskan Aura. Gadis yang amat di cintai pemuda itu.


"Sial!!" batin Kevin mengumpat. Tampaknya hari ini ia banyak sekali mengumpat.


***


"Kau mau membawaku kemana, Rei?" tanya Aura kepada Rei yang sejak tadi terus menarik tangannya entah kemana.


"Rei?" panggil Aura mencoba melepaskan genggaman tangan Rei di lengannya. Jujur itu mulai sakit.


"Katakan padaku kalau kau tak berpacaran dengan **** itu!" ujar Rei ketika mereka telah sampai di lapangan basket.


"Apa maksudmu dan siapa yang kau panggil **** itu, Rei?" tanya Aura bingung sembari membelai lengannya yang memerah akibat genggangan Rei yang terlalu kuat.


"Jawab saja!!" bentak Rei mencoba tak memperdulikan lengan Aura yang memerah akibat ulahnya.


"Ya."


"Kenapa?" tanya Rei mencoba menekan emosinya yang serasa tepat di ubun ubun.


"Apa maksudmu kenapa?" uja Aura menatap bingung Rei.


"Kenapa kau berpacaran dengannya hah? Kenapa harus dia?" bentak Rei membuat Aura menatap tak percaya ke arah pemuda itu. Ini pertama kalinya Rei membentaknya setelah sekian lama mereka bersama. Ada apa dengan pemuda ini?


"Karena aku mencintainya."


Dengan raut wajah yang masih menunjukkan bahwasannya Aura masihlah bingung, Aura menjawab pertanyaan bernada amarah dari Rei.


"Kau pasti bohong."


Aura dapat melihat rahang Rei yang tampak mengeras serta mata hitam yang semakin menggelap,  menatap tajam dan dingin ke arahnya. Membuat ia bisa merasakan aura mengintimidasi milik Rei, yang telah lama ia tak lihat.


"Sebenarnya ada apa denganmu, Rei?" kembali Aura bertanya kali ini dengan nada datar serta tatapan tajam sarat akan peringatan.


"Sialan!!!" teriak Rei menggumpat dengan raut wajah kacau serta rambut yang berantakan akibat ia remas barusan.


"Rei!" teriak Aura ketika Rei berlalu meninggalkannya sendirian di lapangan basket.


"Rei, kau mau kemana?" teriak Aura berlari menyusul Rei namun sayang Rei telah pergi jauh darinya, membuat ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Siapa tahu mereka akan bertemu di sana.


"Ck...sebenarnya ada apa ini?" gumannya ketika memasuki kelas dengan kepala yang tertunduk.


"Astaga!! Ada apa dengan wajahmu, Kevin?" ujar Aura kaget ketika ia melihat wajah Kevin yang terdapat lebam di sekitar rahang bawah serta bibir pemuda itu yang sedikit sobek.


"Tak apa hanya masalah kecil."


"Kita ke uks ya?" ujar Aura menarik tangan Kevin.


"Tak apa. Asalkan kau selalu ada untukku. Aku akan baik baik saja."


Ucapan Kevin barusan tentu saja membuat pipi Aura kembali memerah karena malu.


Bluss


"Ka.. kau ini!" gugup Aura dengan wajah yang memerah.


"Hhhh.. aww..." Kevin tampak merintih sakit akibat dirinya yang tertawa lepas tanpa mengingat keadaan bibirnya yang sobek.


"Lebih baik kita ke uks!" ujar Aura kembali membujuk Kevin, namun kembali di tolak pemuda itu.


"Tak apa."


"Haah~ya sudah."


"Kenapa wajah Ares juga memiliki lebam?" batin Aura bingung ketika ia tak sengaja memandang ke arah kaca jendela yang ada di sampingnya, dari sana ia dapat melihat bayangan Ares yang terus menatap punggungnya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Jangan bilang kalau mereka berkelahi?" batin Aura menduga duga apa yang terjadi ketika ia tak ada di kelas.


"Tapi kapan dan kenapa?" guman Aura pelan. Amat sangat pelan hingga Kevin yang berad di sampingnya tak mendengar gimanannya barusan.


"Di mana Rei, Ra?" tanya Biru membuayarkan lamunan Aura.


"Bukankah ia sudah kembali?" ujar Aura dengan raut wajah bingung. Apa Rei tak kembali ke kelas?


"Tidak."


"Sial. Kemana perginya Rei?" batin Aura mengumpat.


"Katakan pada guru kalau aku ke toilet sebentar!" ujar Aura berpesan kepada Biru, sebelum ia berlari menuju pintu kelas.


"Tap...


Brakk


"Haah~" helan nafas Biru sebab Aura yang telah pergi meninggalkan kelas lagi.


"Aura mau kemana?" tanya Getta dan Key bersamaan.


"Entah."


Dengan diikuti gelengan kepala Biru menjawab pertanyaan keduanya.


"Apa karena Rei?" batin Ares, Kevin dan juga Aldi secara bersamaan.


Kenapa semuanya menjadi semakin kacau saja?


***


Ceklek


Pintu atap itu terbuka lebar membuat Aura dapat melihat Rei yang tengah bersandari di pinggiran pagar pembatas atap.


Tap Tap Tap


"Sebentar lagi bel berbunyi."


"Kau tak mau masuk?" tanya Aura dengan nada lembut. Namun tak satupun dari ucapannya mendapat respon Rei.


"Rei?" panggil Aura mencoba mendekat ke arah Rei.


"Pergilah!" ujar Rei tanpa mau repot repot membalikkan badannya ke arah Aura.


"Tap..


"Ku bilang pergilah!! Tak bisakah kau mengerti aku sedang ingin sendiri." bentak Rei tepat di hadapan Aura. Mata keduanya bertemu. Hitam dan biru. Keras dan lembut.


"Kau sebenarnya kenapa?" tanya Aura dengan tangan yang membelai lembut wajah Rei.


"Pergilah!" ujar Rei mengusir Aura. Ia tepis tangan Aura yang bertengger manis di wajanya.


"Jaw...


"Aku cemburu kau puas?" seru Rei di hadapan Aura, membuat tubuh Aura menegang. Ia tampak berdiri kaku dengan mata yang menatap terkejut ke arah Rei.


"A.. apa?" guman Aura kaget.


"Tch," decak Rei sebelum berjalan menuju ke arah pintu atap, meninggalkan Aura yang berdiri kaku di sana sendirian.


"Tu.. tunggu apa maksud Rei barusan?" guman Aura memandang ke arah pintu atap dengan pandangan bingung.


Degh


Seketika jantung Aura rasa rasanya berhenti berdetak ketika satu kemungkinan terlintas di pikirannya.


"Jangan bilang...