
Percayalah ketika cinta dan obsesi bertemu, segala hal akan terasa halal untuk dilakukan. Seperti yang Ares alami, ia begitu mencintai Aura sehingga membuat dirinya berani melakukan hal sakral yang seharusnya tak pernah ia lakukan, sebelum kata 'sah' di ucapkan oleh para saksi di hadapan penghulu.
Ia merenggut apa yang sudah Aura jaga selama ini, ia hancurkan semua harapan yang tersisisa dari Aura, membuat Aura menjadi seonggok sampah yang menjijikkan.
"Apa kau puas?" tanya Aura dengan raut wajah hancur serta tatapan sinis yang ia layangkan ke arah Ares. Ia hancur, benar-benar hancur saat ini. Tak satupun dari dirinya yang tersisa, semua ikut lebur tepat ketika penyatuan itu terjadi.
"Au...
Belum sempat Ares mengungkapkan rasa bersalahnya, Aura terlebih dulu menjauh dari tepian ranjang, ia tampak mencoba membuat jarak sejauh mungkin dengan Ares.
"Kau menghancurkan hidupku, Brengsek!" teriak Aura dengan kedua mata yang memandang murka Ares, tak ia perdulikan jikalau suaranya menggelegar mengganggu penghuni kediaman Jackson, toh kamarnya kedap suara dan untuk beberapa saat yang lalu, Aura sempat menyesali kekedapan suara di kamarnya itu.
Ares yang mendapatkan kemurkaan dari Aura, hanya dapat memandang lirih ke arah Aura. Ia menyesal, sungguh. Awalnya ia tak bermaksud melalukan hal itu, hanya saja ego serta ambisinya lebih mendominasi dirinya saat itu dan jadilah hal itu terjadi.
"Hhhhh... sekarang aku tak ubanya seorang jalang. Kau renggut kesucian yang ku jaga untuk suamiku kelak. Kau sungguh, Sialan!"
Tawa miris Aura menggelegar di setiap sudut kamar. Perlahan tapi pasti sebuah sungai kecil tercipta di pipi Aura, membuat Ares lagi dan lagi merasakan rasa sesak yang sama ketika ia mendengar tangisan Aura sesaat setelah mereka selesai bersetubuh.
"Aku benar benar membencimu, Ares!!" ujar Aura menatap benci Ares. Tak butuh waktu lama untuk Aura memutuskan pergi meninggalkan kamar yang menjadi saksi bisu kehancuran Aura, untuk yang kesekian kalinya.
Brakk
Tepat ketika pintu terbanti, Ares menghantamkan tinjuannya pada kaca meja rias yang ada di samping ranjang.
Dug
Prangg
"ARGHHTT!" raung Ares, menjambak rambut hitamnya.
Tak ia indahkan tangannya yang berdarah serta beberapa helai rambut yang rontok, bahkan rasa perih yang mulai menderanya pun ia acuhkan. Ini tak seberapa dengan rasa sakit yang Aura terima saat ini.
"Maaf, maafkan aku, Sayang!" guman Ares begitu menyesali apa yang baru saja terjadi di antara keduanya. Ia tahu pasti, setelah malam ini Aura benar-benar membencinya dan ia akan semakin sulit mendapatkan Aura walaupun cincin pertunangan telah melingkar di jari manis Aura.
***
Malam semakin larut, ribuan bintang bertebaran menghiasi malam. Jalanan tampak lengang sebab jam hampir menunjukkan pukul satu dinihari.
Dengan langkah terseok, Aura berjalan meninggalkan mobilnya di bassmean apartmen tempat Rei tinggal. Dengan sisa tenaga yang ada, Aura berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai delapan dimana Rei berada.
Ting Tong
Dengan tangan yang bergetar, Aura menekan bel yang ada di sampaing nomor apartemen. Cukup lama ia berdiri di sana, sebelum suara seorang pria menyahut dari dalam.
"Ya, sebentar."
Ceklek
"Ada ap... Aura?" kaget Rei begitu menemukan Aura berdiri di depan pintu apartemennya dengan penampilan yang amat sabgat kacau.
"Hiks... Rei!!" isak Aura sebelum melangkah ke arah Rei.
Grepp
Aura peluk tubuh Rei yang tampak menegang akibat terkejut akan kehadirannya yang sangat tiba-tiba ini.
"Hei, apa yang terjadi?" tanya Rei bingung. Rasa-rasanya Aura masihlah baik-baik saja ketika mereka berdansa beberapa jam yang lalu, tapi kenapa sekarang ia terlihat amat sangat kacau dengan mata yang bengkak, rambut yang kusut dan lepek serta beberapa jejak air mata yang telah mengering.
"Aku kotor, Rei!" ujar Aura menatap nelangsa Rei. Sejujurnya ia tak berani menampakkan dirinya di hadapan Rei, ia merasa tak pantas tapi hanya Rei yang dapat membantunya saat ini.
"Dia mengambilnya hiks," isak Aura pilu, ia cengkram bagian depan gaunnya yang sudah kusut.
"Mengam...
Deg
Kedua mata Rei tampak membulat terkejut, ada pancaran kemarah, khawatir dan juga kecewa begitu melihat seberkas bercak keunguan memenuhi perpotongan leher Aura serta sebuah ruam di pergelangan tangan Aura, jangan lupakan sudut bibir Aura yang sedikit berdarah dan juga bengkak.
Berbagai macam fikiran buruk mulai hinggap di fikiran Rei. Ia cengkram kedua bahu Aura, memaksa gadis atau wanita itu menatap matanya.
"Siapa?" tanya Rei dengan nada pelan dan juga dalam, membuat Aura menelan salivahnya dengan susah payah.
"Jawab, Ra!" bentak Rei ketika yang ia dapat adalah kebungkaman Aura. Gadis yang telah menjadi wanita beberapa jam lalu itu tampak menunduk takut, Rei benar-benar mengerikan bila ia tengah dikuasai amarah.
"Ares."
"Sialan!!!" umpat Rei begitu ia mendapatkan satu nama dan harusnya ia tahu kalau pelakunya adalah tunangan Aura sendiri. Tetapi kenapa?
"Ku bunuh kau sialan!!" murka Rei, ia tampak akan bergegas pergi sebelum kedua lengan Aura membelit pingganya dari belakang.
"Tidak!!" ujar Aura mencoba mencegah apa yang berusaha Rei lakukan. Tidak, bukan ini tujuannya kemari.
"Kenapa?" tanya Rei sedikit frustasi akan apa yang Aura lakukan.
"Apa ia terima bila diperlakukan begini? Atau malah ia menyukainya," Batin Rei.
"Sembunyikan aku, Rei. Kumohon!!" pinta Aura dengan nada suara yang bergetar. Ia peluk dengan erat Rei, berharap pria itu mau menolongnya karena hanya Rei yang dapat ia andalkan saat ini.
"Ikut aku!" ujar Rei final. Ia bawa Aura menuju kamarnya, guna menyiapkan keperluan mereka.
"Kau telah membuatnya menangis, Ares. Jadi jangan salahkan aku bila membawanya pergi dari hidupmu. Menderitalah kau tanpanya!" guman Rei berbisik melalui angin, berharap apa yang baru saja ia katakan tersampaikan pada Ares.