
Seusai semua berberes badan dan membawa tas mereka masing-masing, ketiga saudara tersebut menuju meja makan. Mereka sarapan dengan tenang, beberapa saat kemudian Ayah datang dan menciumi kening satu persatu anaknya. Lalu Ayah berjalan menuju dapur menghampiri Bunda yang tengah membersihkan sayuran untuk dimasukan ke kulkas.
Kembali ke meja makan
"Bang abang, jadi Osis tuh enak gak?" tanya Natha.
"Biasa aja tuh!" ucap bang Nabil dan bang Nizal bersamaan dan saling memandang satu sama lain saudara kembarnya.
"Kok biasa aja, emang pernah jadi Osis yang jabatannya tinggi?" ucap Natha dengan Natha agak mengejek.
"Kamu tuh ya tanya, dijawab malah ngejek gimana sih dek!" ucap bang Nabil rada gemas ke Natha.
"Menurutku sih biasa sih, soalnya dulu waktu di SMP bang Ical yang jadi ketua Osis, bang Nabil jadi wakilku. Padahal dulu waktu masuk organisasi nggak kepikiran punya jabatan tinggi cuman pengen ikut aja nambah pengalaman!" ucap bang Nizal.
"Sama dulu juga waktu bang Nabil jadi ketua Osis di SMA juga biasa aja, Ical juga jadi wakilku padahal dia udah nolak mentah-mentah karena nggak mau jadi Osis lagi. Eh.. jadi wakil juga, soalnya abang paksa dan kita kayak tuker-tuker jabatan gitu ya di setiap tingkatan sekolah dulu!" ucap bang Nabil yang dibalas anggukan dari kedua adiknya.
"Seingetku sih dulu kita kepilih soalnya dari nilai bagus, punya sifat kepemimpinan, tanggung jawab, disiplin nggak pernah telat kayak kamu sama... dukungan republik seluruh rakyat sekolah pastinya. Dan juga karena kita ganteng!" ucap bang Nabil menaik turunkan alisnya yang dibalas gelengan dari Natha.
"Waw si kembar hebat juga ya jabatanya tinggi juga, gak sia-sia dong kalo sekolah wkwk!" ucap Natha seraya memajukan kedua jempolnya dan tertawa.
"Yaiyalah emang kamu!" ucap bang Nabil, sedangkan bang Nizal hanya mengeleng mendengarkan jawaban adeknya.
"Jadi inget dulu setiap berangkat sekolah SMA dulu banyak banget cewek-cewek teriak-teriak gak jelas, udah kayak tarzan aja bikin pusing. Waktu SMP sih normal paling banyak cewek cuma minta tanda tangan, foto. Kalo waktu SMA nya nggak normal semua ada yang peluk-peluk, nyubit perut, pipi yang paling parah ada yang hampir nyium bibir bang Nabil udah gitu si abang cuma diem aja untung aja cuma hampir!." ucap bang Nizal yang bergidik ngeri menceritakan masa lalu.
"Ohh gitu!" ucap Natha sambil mengigit roti berselai coklatnya.
"Kenapa emangnya zeyeng kok tanya abangmu tentang Osis!" tanya Ayah berjalan dari dapur.
"Natha tiba-tiba jadi wakil Osis Yah, sedangkan Natha nggak mau tapi kata ketua Osisnya Natha gantiin wakil sebelumnya yang pindah sekolah. Dan karena diminta Pak Alfarizi, ya gimana lagi beliau guru nomor dua yang terkiller di SMK Natha." ucap Natha sambil mengerucutkan bibirnya.
Dan ucapan Natha tadi membuat bang Nabil kaget dan membulatkan kedua matanya. Sedangkan Ayah hanya tersenyum lalu mengelus lembut kepala Natha dan bang Nizal hanya tertawa kecil karena sudah menduga arti dari pertanyaan Natha tentang Osis.
"Kamu kok bisa, kamu kan sering telat, pelupa, ceroboh sama... jutek dan jabatan kamu tinggi loh dek!" ucap bang Nabil bertanya-tanya.
"Maka dari itu Natha ogah, tapi dipaksa!" rengek Natha.
"Ya alhamdulillah dong dek berarti kamu dikasih kepercayaan sama guru kamu, mungkin juga karena nilai sama jiwa kepemimpinan kamu. Jadi inget kamu ikut tawuran sama anak-anak STM sebelah, dulukan waktu kelas satu SMK itu kamu yang mimpin buat tawuran, ketua yang sangat berbakat." ucap bang Nizal mengungkap cerita Natha.
"HAHAHA...," tawa keras Ayah, Nabil dan Nizal yang ingat kejadian dimana Natha masuk kantor polisi akibat tertangkap saat tawuran dan tertidur pulas di balik jeruji besi dengan nyaman sampai ngecess dan muka lebam dan untungnya saat tawuran Natha tidak membawa benda-benda tajam hanya mengandalkan ilmu beladirinya.
Namun bukannya marah Ayah malah mendukung Natha supaya tidak diremehkan orang lain, menjaga sesuatu yang menjadi miliknya dan Natha saat itu melindungi salah satu anak di SMK Natha bersekolah yang di hajar habis-habisan oleh anak STM karena masalah sepele dan ulah anak-anak STM yang merusak fasilitas di SMK Natha.
"Tergantung situasinya Yah!" ucap Natha sambil cengengesan yang dibalas gelengan dan tawa kecil dari Ayah, Nabil, dan Nizal.
Tak berselang lama Natha berdiri dari kursinya lalu menciumi kedua pipi dan mencium punggung tangan Ayah beserta abang-abangnya.
"Hem manisnya sikap adekku yang tomboy ini!" ucap bang Nabil dan Nizal bersamaan saat Natha mencium kedua pipi abang-abangnya dan menyalaminya tanda akan berangkat ke sekolah.
"Iso.. ae abang-abang siomay!" ucap Natha sambil cengengesan lalu ia berjalan menuju dapur untuk berpamitan kepada sang Bunda setelah mencium kedua pipi Bundanya dan menyalaminya. Ia mengambil kunci dan memakai helmnya.
"Assalamualaikum.." ucap Natha dengan nada seraya menuju garasi dan menancapkan gasnya melintasi jalanan aspal menuju sekolahnya .
"Waalaikumsalam warahmatullah" jawab seluruh keluarga Natha.
Setibanya disekolahan
Natha melihat ketiga ciwi ciwinya sedang berkumpul ditempat Natha biasanya memarkirkan sepeda motornya. Saat Natha melepas helmnya Natha ditarik oleh Ayu, Dewi dan Sila menuju kelas.
Mereka bertanya kepada Natha mengapa dahi Natha terluka. Natha mulai menceritakan dari ia disuruh menaiki mobil Bara sampai ia di antar sampai kerumah. Dan ciwi ciwinya hanya membalas dengan mengoda Natha dan ber 'oh'.
Hingga jam pembelajaran pertama dimulai sampai jam istirahat berbunyi Natha masih fokus pada bukunya. Natha mempelajari tiap bab dari buku yang ia pegang, karena mulai Senin depan SMK NUSA BANGSA 01 sudah memulai ujian. Ketiga sahabatnya hanya bertanya apa Natha mau ikut atau menitip makanan namun Natha hanya menjawab 'kalian duluan aja gue belum laper' dan mengelengkan kepalanya tanpa menatap ketiga sahabatnya.
Ketiga sahabatnya memang sudah sangat mengenal Natha, ketika Natha sudah bertemu dengan buku maupun novel ia tidak akan dapat diganggu. Lalu mereka berpamitan dan langsung pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah demo. Kini dikelas hanya ada Natha seorang diri.
"Assalamaualaikum"
"Waalaikumsalam, ada apa ya dek?" tanya Natha pada adek kelasnya yang memberi salam.
"Ohh iya kak ini ada bekal buat kakak!" ucap cewek berbadan imut dan lucu tersebut.
"Dari siapa?" tanya Natha sambil mengerutkan keningnya.
"Maaf kak saya nggak tau tapi ini amanah dan saya harus ngasih ke kak Natha!" ucap cewek tersebut seraya memberi kotak bekal berwarna hijau muda tersebut.
"Oh yaudah makasih ya besok kotak bekalnya kakak balikin,thanks ya" ucap Natha.
"Mari kak" ucap cewek tersebut lalu pergi meninggalkan kelas dan dibalas anggukan oleh Natha.
Beri Aintazar like...
thanks ya udah mau baca