
_Flashback on
"Natha! saya mau kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan!" ucap Bara datar.
"What!!tanggung jawab!!" ucap Natha membulatkan matanya dan tanganya mulai mengepal.
"Elo hamil sampek gue harus tanggung jawab!!" emosi Natha sudah membuat kepalanya serasa mau pecah.
"Yaitu urusan kamu kalau kamu nggak mau, kan gampang cuma bantu saya selama disekolah."
"Terserah, tapi awas aja sampek ngerepotin!" ucap Natha yang sudah sangat jengah.
"Udah jangan cerewet, ingat kamu itu bertanggung jawab ke saya bukan jadi babu saya," ucap Bara yang tak mempedulikan ocehan Natha, tutur Bara menatap Natha.
'Sinting kali ni ya orang mentang-mentang anak pemilik sekolahan. Emang sialan, astagfirullah ampuni hambamu ini ya allah.' batin Natha mengumpati permintaan dari Bara.
"Yang bener aja kak, gak bisa di-" ucapan Natha terpotong.
"Beneran ngapain saya bercanda?" ucap Bara mengoda Natha yang semakin merah wajahnya menahan amarah.
"Ihh resek!" umpat Natha sambil memakai helm menuju motornya, umpatannya masih bisa didengar semua teman Bara dan Natha pun meninggalkan lapangan basket diikuti ketiga sahabatnya yang geleng-geleng seraya cekikikan.
Flashback off_
Disekolah
Sesampai di parkiran mereka langsung memasuki kelas. Terlihat di dalam kelas sudah ada Dewi dan Sila mereka langsung memeluk Natha, waktu Natha melangkahkan kakinya memasuki kelas.
"Wah kasihan nih, masa' cantik cantik jadi babu doinya," ucap Sila mengoda Natha.
"Ya gapapa sih biar tambah deket sekali sekali," ucap Dewi menyenggol bahu menggoda Natha.
"Bisa diem nggak kalian, mau gue tabokin tuh mulut biar diem!" ucap Natha dengan tatapan dinginya mengarah pada kawan kawannya, yang dibalas tawa riang gembira kawannya.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum permisi, ada yang namanya kak Natha?" tanya siswa laki laki yang berkacamata tersebut.
"Waalaikumussalam warahmatullah." (ucap sekelas bersama)
"Iya gue sendiri ada apa ya?" tanya Natha balik sambil menyikap kedua tangannya kedepan dada dan menatap siswa tersebut.
"Maaf kak kalo ganggu, tapi kak Natha dicariin sama kak Bara, katanya penting. Kak Natha ditunggu diparkiran belakang. Yaudah cuma itu aja kak aku pergi dulu ya kak, permisi!" ucap siswa tersebut membungkuk lalu meninggalkan Natha tanpa pembicaraan lagi.
"Yaampun masih pagi loh nih!" ucap Natha yang kelihatan frustasi.
"Udah samperin sana, kasihan si doi lama menunggu bidadari tak kunjung datang dan kalo bicara tuh jangan kasar-kasar, jangan pakek gue lo, siapa tau di mau menyudahi tanggung jawab ini!" ucap Ayu, Dewi dan Sila hanya bisa menahan tawa yang dibalas tatapan tajam dari Natha.
Lalu Natha pun meninggalkan kelas dan menuju parkiran kendaraan siswa yang berada dibelakang gedung sekolah. Saat ia berjalan menuju parkiran, ia merasa sangat risih karena di tatap oleh banyak manik-manik para pemuda yang kagum oleh tingga dingin Natha.
"Ada apa kak!" tanya Natha cuek sambil memperhatikan tangan Bara yang hanya di balut perban.
"Tolong kamu bawakan tas saya, dan kamu nggak perlu khawatir, tangan saya ternyata cuma terkilir dan tergores gak lebih!" ucap Bara menyerahkan tasnya juga menjelaskan karena ia melihat Natha terus memperhatikan tanganya Bara.
"Ya kamu lah masa saya, kan kamu calon makmum saya harus khawatirlah," ucap Bara datar lalu pergi mendahului Natha.
"Ayo cepet nanti saya terlambat ke kelas loh kalo kamu lambat, dan juga wajahnya jangan ditekuk dong, senyum dikit kenapa!" ucap Bara yang membuat Natha meremas kesal tas Bara.
"Yang ikhlas dong bawanya jangan kayak orang kepaksa gitu!" tutur Bara sambil berjalan mendahului Natha.
"Ikhlas!" ucap Natha singkat, padat, jelas yang membuat Bara mengerutkan keningnya.
Sesampai dikelas Bara, Natha meletakan tas Bara di kursi paling belakang tempat dimana Bara biasanya duduk. Lalu Bara mengajak Natha agar mengikutinya, sesampai ditempat tujuan yaitu ruang guru, Bara menyuruh Natha agar duduk di kursi depan ruang guru. Dengan patuhnya ia menduduki kursi tersebut tanpa membalas ucapan Bara sepatah kata pun.
Beberapa saat kemudian Bara menyuruh Natha menunggunya di ruangan Osis, Natha yang mendapat perintah hanya menurutinya. Sekitar 15 menitan Natha menunggu namun Bara tak kunjung datang.
Akhirnya ia berjalan untuk meninggalkan ruangan Osis. Namun, saat ia menuruni anak tangga ia berpapasan dengan Bara, Bara yang menatapnya datar tanpa bersuara pun membuat Natha berbalik untuk kembali ke ruang Osis.
"Kamu sekarang wakil saya di pengurus Osis!" ucap Bara santai sambil memasuki ruangan.
"Wah jangan bercanda dong kak, gak lucu tau!" ucap Natha dengan penekanan diakhir kalimat mengikuti Bara memasuki ruangan.
"Enggak bercanda tuh saya, sekalian belajar jadi pendamping yang bener!" ucap Bara datar sambil menata map diatas meja kerjannya.
'Emang dasar, nyebelin!!' umpat Natha.
"Dari pada banyak ngumpatin saya, sekarang kamu nyusun data anggota Osis tahun ini!" perintah Bara.
"Loh kak, kak Bara jangan seenaknya dong, saya disini juga sekolah kak bukan jadi babu anda!" ucap Natha formal tenang namun mengandung emosi dalam tingkat tinggi.
"Sans dulu dong jangan emosian, saya jelaskan ya. Tadi kamu kan ngantar saya ke ruang guru lalu, saya menyuruh kamu untuk menunggu kamu disini. Saya tadi menemui pak Alfarizi untuk meminta kamu jamkos buat membantu saya disini dan juga meminta izin menyalonkan kamu agar menjadi wakil saya, dikarenakan wakil saya yang sebelumnya mengundurkan diri karena pindah sekolah, dan pak Alfarizi langsung menyetujuinya." ucap Bara menjelaskan.
"Ya terus apa hubunganya wakil anda pindah dan yang mengantikan saya, terus nggak minta persetujuan dari saya juga!" ucap Natha tegas sambil menyikap kedua tangannya.
"Kamu ini aneh ya, banyak loh siswa siswi yang ngantri buat bisa jadi Osis, tapi kamu malah menolak? dasar aneh!" ucap Bara sambil menyimpan map ke lemari kaca.
"Saya bukan mereka yang mau ikut kepengurusan Osis, dan kasih alasan yang jelas kenapa saya harus masuk kepengurusan Osis!?"
"Saya pilih itu karena... emm.. apa ya.. tanya aja deh nanti kamu ke pak Alfarizi, sekarang cepat bantu saya karena tugas kamu bukan hanya mendata!" perintah Bara sambil memberi Natha sebuah buku tebal, sebuah pulpen dan banyak lembaran identitas siswa SMK NUSA BANGSA 01.
"Nyusahin plus nyebelin!" gumam Natha sambil mengerucutkan bibirnya dan ia memulai pekerjaannya.
"Yang ikhlas biar dapat pahala," ucap Bara membalas gumam Natha.
"Astagfirullah, bisa diem nggak kak, ini tuh udah dari lubuk hati paling dalam ikhlasnya." ucap Natha menatap Bara sinis.
"Tapi wajah kamu menyiratkan ikhlasan, malah bikin kesel yang lihat. Dan jangan lihatin saya kayak gitu saya tau saya tampan dan mempesona,!" ucap Bara datar yang dibalas tatapan datar seolah tak peduli dari Natha.
"Anda sangat menyebalkan!"
...Terima kasih untuk yang sudah baca....
......See u next chapter!......