
"Nggak jadi deh, cuma pengen ketemu aja sama kamu, masa' sama adek sendiri gaboleh kangen" jawab Bara.
"Gak jelas!?" Ketusnya dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.
"Kamu siap nggak?" Tanya Bara mengadahkan kepalanya ke atas menatap sepatu Natha.
"Nggak!!"
"Kenapa, kan pertanyaanya belum selesai," Ujar bara.
"Males aja jawab, pasti pertanyaanya unfaedah." Ucap Natha seraya mengelus mukenah yang halus dihadapanya.
"Tau aja kalo buat sekarang nggak berfaedah, tapi mungkin beberapa tahun kedepan bermanfaat loh?!" Ucapnya seraya terkekeh.
"Seterah,"
Natha dan Bara kini terlihat seperti teman akrab, ya walau sering bertengkar dan bercanda kayak orang pacaran padahal kan nggak, mereka juga sering telponan, jalan biasa, makan malam, dan juga Bara sering ke rumah Natha saat Natha tidak ada.
"Eh Nath, kalo aku curhat kamu mau nggak kasih solusi apa tanggapan gitu?" Tanya Bara.
"Kenapa nggak, cerita aja, aku bisa jaga rahasia kok,"
"Kamu pernah suka ke seseorang nggak, jatuh cinta gitu?!" Tanya Bara.
"Pernah, tapi biasalah sekedar pengagum rahasia hehe sekarang udah nggak sih, kenapa?" kekehnya.
"Aku lagi suka sama seseorang, nggak tau kenapa pertama kali ketemu biasa aja, tapi lama kelamaan jadi suka, dia baik, cantik, rajin beribadah, pokok sempurna dimataku, alay yah? Tapi dia emang baik kok, aku nggak tau dia suka balik apa nggak, aku maunya dia yang jadi calonku, kalo menurut kamu gimana, dia mau apa nggak sama aku?" Tanya Bara agak bersemangat.
Sedangkan Natha melamun mengartikan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Bara. "Kak Bara lagi suka ke cewek ya," ucapnya seraya tersenyum aneh.
'Gue kok aneh ya, bukan siapa-siapa kok gue dengernya jadi kayak di remet ya hati gue,' Natha mengeleng lalu menatap Bara yang mengadahkan kepalanya ke atas.
"Ya tergantung ceweknya sih, kan Natha bukan ceweknya, tapi kalo menurut Natha pasti dia juga suka sama Kak Bara, tikung aja apa susahnya sih Kak," ujar Natha.
"Lah apanya yang di tikung?"
'Selain judes, cerewet, kadang dingin, nggak baperan kamu juga nggak peka ya,' batin Bara lalu ia tersenyum tipis.
"Iya deh, semoga ya, amin." Jawab Bara.
"Balik yuk, bentar lagi acaranya dimulai." Ajak Bara.
"Btw makasih hadiahnya bilangin sama osis lainya makasih," ucap Natha seraya menuruni rumah pohon.
"Iyaa, nanti pulang sama aku ya," ajak Bara yang di balas anggukan Natha.
"Btw kak boleh tau nggak siapa yang kak Bara suka?" Tanya Natha melirik Bara. Bara tersenyum manis melihat Natha.
"Nggak dijawab juga nggak papa sih, nggak penting lagi!?"
"Nanti kamu pasti tau, udah ayo!"
Dalam batinnya Bara ia sangat senang karena Natha ternyata masih mempedulikanya, ia tau waktu tadi ia bercerita dari raut wajah Natha ia seperti agak berbeda.
"Nath,"
"Apa?"
"Semuanya sedangku usahakan semoga Allah kabulkan," ucap Bara yang membuat Natha menautkan alisnya.
"Aminin aja kenapa!?"
"Aminn, do'a terbaik buat kak Bara," kata Natha yang membuat Bara tersenyum.
Sesampainya mereka didepan panggung untuk sekedar mengecek keadaan panggung, Natha dan Bara berjalan menuju ruang osis. Namun belum sampai memasuki ruangan, langkah mereka terhenti.
Brakkk...