
Natha menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya ke ranjang king sizenya. Ia mulai bosan dan memejamkan matanya.
Natha terbangun dari tidurnya karena adzan ashar telah berkumandang ia bangun dan meregangkan otot-ototnya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Lalu ia mulai memakai mukenahnya dan melaksanakan kewajibanya.
Natha berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tamu ia duduk dan menyalakan tv 40 inch nya. Natha memikirkan ucapan Bara sepulang sekolah tadi, bukannya Natha tidak peka namun ia masih ragu, aneh bukan. Natha memang bukanlah anak yang dijaga ketat dalam hubungan pergaulan, ia dibebaskan untuk memilih teman asal tidak dalam pergaulan yang buruk.
'Kenapa ya gue jadi mikirin Ketos, astagfirullah. Sadar Nath sadar, lama-lama ege juga gue.' batin Natha mengeleng-gelengkan kepalanya seraya menikmati cemilan yang ada dipangkuanya.
"Akkkhhhhhh!!" teriak keras Natha karena ada seseorang yang memegang tengkuk dan lehernya bersamaan.
"Gilaaa ya lho bang, udah tau leher gue gabisa dipegang-pegang malah kalian pegang geli tau," pekik Natha seraya melempar bantal sofa ke arah kedua abangnya.
"Maap sayang kita cuma kangen ama adek kita yang comel ini," ucap Nabil terkekeh seraya menduduki sofa diikuti oleh Nizal yang juga masih terkekeh.
"Masuk nggak salam malah ngejahilin adeknya kalian tuh bener-bener gilak," ucap Natha seraya berjalan menuju dapur meninggalkan kedua abangnya yang tengah terkekeh.
Natha kembali dengan dua gelas air putih di kedua tangannya. Lalu memberikan kepada Nabil dan Nizal, mereka langsung meminum air dalam gelas tersebut sampai tandas tak tersisa.
"Assalamualaikum," ucap Nabil, Nizal bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Natha seraya memutar bola matanya malas.
"Kemana Ayah sama Bunda?" tanya Natha.
"Masih kencan," ucap kedua Abangnya bersamaan.
"Tumben," ucap Natha seraya melangkahkan kakinya menuju dapur serta membawa dua gelas yang dipakai minum kedua abangnya tadi.
"Mana Bang Ical?" tanyannya sambil berjalan hendak menduduki sofa.
"Keluar sebentar, nggak tahu ngapain," ucap Bang Nabil seraya mengangkat bahunya.
"Dek," panggil Bang Nabil saat Natha telah menduduki sofa.
"Kamu kalo di panggil tuh jawabnya jangan singkat-singkat terus mbok yo noleh wong e!" ucap Bang Nabil yang membuat Natha menghentikan kegiatanya.
"Ada apa Abang pertamaku yang tampan, sopan, pintar, rajin menabung, dan tidak sombong Nabil Bramanaaa.." ucap Natha memanjangkan kalimat akhir dengan senyum manisnya menatap Bang Nabil.
"Nggak jadi, muka kamu jelek kalo senyum jadi gak mood buat ngomong sama kamu!" ucap Bang Nabil seraya berdiri dari sofa dan menaiki anak tangga yang dipastikan Natha, abangnya kembali ke kamarnya.
"Abangku gesrek, tambah ege diriku ini yaampunn," ucap Natha menyenderkan pungingnya ke sofa.
"Abang Abil yang gesreknya setengah gila, kenapa tuh?" tanya Bang Nizal menaikan sebelah alisnya dan memasuki rumah seraya memasukan handponenya ke saku sebelah kiri bajunya.
"Biasa, efek kebanyakan nyinyirin orang jadi kumat tuh otak gesreknya." jawab Natha seraya mengandeng lengan Bang Ical dan menaiki tangga.
"Ada apa?" tanya Bang Ical yang hafal betul dengan cara Natha memperlakukanya seperti ada sesuatu hal yang diinginkan adiknya.
"Bagi duit Bang," ucap Natha seraya menyodkngkan tanganya.
"Buat?"
"Untuk keperluan yang sangat mendesak dan tidak dapat diganggu gugat dengan cara apapun, termasuk pertanyaan tak penting darimu yang bertanya padaku," ucap Natha yang menatap Abangnya.
__________________☆_________________
Taqabbalallahu minna wa minkum (تقبل الله منا ومنكم)
"Semoga Allah menerima amal kami dan kalian"🤲🏼
Happy Eid Mubarak, sorry physically and mentally. May our struggle and good deeds for one month be accepted by Allah.🙏🏼🙏🏼
#Happy Eid Mubarak🍋🙏🏼