Aintazar

Aintazar
Aintazar XXVI



Sinar mentari telah muncul dari timur, menyinari lapangan SMK NUSA BANGSA 01 dengan kehangatannya. Beberapa minggu yang lalu telah seluruh siswa lewati dengan hebat, nilai-nilai yang mereka dapatkan sangat memuaskan. Meski tak banyak siswa yang berprestasi, namun yang namanya hasil pasti tak akan menghianati usaha walau nggak semua siswa berusaha sih hehe. Buktinya semua telah naik kelas dan lulus dengan usahanya masing-masing.


Dan disinilah seluruh anggota dan inti Osis telah berkumpul dalam barisan yang rapi dilapangan. Mereka sedang melakukan briefing untuk sebuah acara yang mereka adakan guna memperingati kenaikan kelas bagi kelas X, XI dan pelepasan bagi kelas XII yang akan menjadi alumni di SMK NUSA BANGSA 01.


Usai memberi instruksi pada seluruh anggota, Bara sang ketua Osis dan inti Osis kelas XII lainya berjalan menuju ruang Osis. Memang yang menjalankan acara ini rata-rata kelas XII dibantu adik kelasnya karena Bara dan Osis seangkatanya menginginkan agar acara ini berkesan untuk adik-adik kelas mereka, dan juga untuk kenang-kenangan. Untuk Osis seangkatan Natha dan Wanda mereka bertugas untuk menyiapkan properti untuk acara ini.


"Udah semua? Panggung, Band, tempat?" Tanya Bara seraya membaca sebuah kertas yang ia bawa.


"Udah semua, tinggal panggung!" Seru Wildan seraya menatap ponsel yang dipegangnya.


"Iya udah Bar, udah oke semua, tinggal panggung doang dikit lagi pasti kelar," jawab sang sekretaris dan sang bendahara Osis.


"Alhamdulillah, semoga semua berjalan dengan lancar, yaudah semua boleh kembali ke tugas masing-masing," ucap Bara seraya berjalan menuju mejanya.


Sepeninggal teman-temannya, Bara masih setia menatap kertas yang sedari tadi ia pegang.


Brakkk...


"Aduhhhh..." mendengar suara kesakitan dari ruang olahraga sebelah ruang Osis, Bara langsung menuju tempat tersebut.


"Kenapa Nath?" Tanya Bara yang melihat Natha sedang mengelus puncak kepalanya sendiri, karena kalo berdua jadi sarimi. Garing-garing lupakan lanjut!!


"Nyuci baju!!"


"Hah, kok ngusap kepala?"


"Kejedot kak Baraaaaa, nggak lihat apa," jawab Natha ketus.


"Enggak," jawabnya seraya mengelengkan kepalanya.


"Mau ngambil apa emang?" Tanya Bara seraya memunguti perkakas yang berserakan dilantai karena keluar dari kotaknya.


"Mau ngambil meteran sama palu," jawabnya seraya berjalan menuju kursi dan mendudukinya.


"Teruuss kepala kamu?"


"Kotaknya mau jatuh Natha menghindar tapi malah kejedot lemari!?" Ucapnya seraya menunjuk ke lemari kayu yang pintunya telah terbuka dan isinya juga sudah berserakan dimana-mana.


"Hati-hati mangkanya, kepala kamu aja nggak kamu jaga baik-baik, gimana anak kita nanti kalo mommy nya teledor kayak gini," ucap Bara lembut seraya menatap Natha.


"Telat nyuruhnya, terus apa? anak kita, Natha mah ogah, kakak sendiri aja ngapain sama Natha!" Jawab Natha bernada ketus menatap Bara tajam.


"Lakan aku maunya nikah sama kamu, nggak mungkin dong aku hamil sendiri wahai istriku," ujar Bara seraya terkekeh.


"Udah mana palu sama meterannya!" Pinta Natha.


"Buat apa emang?" Tanya Bara seraya menyerahkan palu dan meteran.


"Gawe maku lambemu, ben ora ngomong aneh-aneh," ucap Natha tanpa menoleh Bara dan keluar dari ruang olahraga meninggalkan Bara yang dirasa Natha tak akan paham dengan ocehanya.


"Aneh-aneh yokpo se sayangku?" Jawab Bara.


"Yo iso lah, apa sih yang nggak bisa calon suamimu ini lakukan, udah ganteng, baik hati, lemah lembut, sayang kamu lagi," ujar Bara seraya mengoda Natha dengan mengerlikan sebelah matanya.


"Idihh, sombong amat tukang parkir," jawab Natha bergidik ngeri.


"Dah lah males ama orang yang kepd an selangit," ujar Natha lalu pergi meninggalkan Bara yang cekikikan di ruang olahraga seraya menyimpan kotak berisi perkakas tadi ke tempatnya seperti semula.


•••


"Kak Natha, mana meteranya," tanya Wanda.


"Nih," jawab Natha seraya menyerahkan meteran pada Wanda.


"Makasih kak,"


"Yoi," usai berpamitan pada Natha, Wanda lalu pergi meninggalkan Natha.


"Siapa ini yang naik?"


"Kamu aja deh Nath, aku takut ketinggian soalnya!!" Jawab seorang laki-laki seangkatan Natha.


"What!? Elu tega nyuruh cewek naik tangga diatas panggung, elu tuh bener-bener jahhhatt tau nggak," ucap Natha seraya melotot pada sang pemuda itu dan perlahan-lahan menaiki tangga.


Setelah Natha berada diatas dan menduduki tangga paling atas tanpa rasa takut, Natha meminta temannya untuk melempar palu tadi keatas. Dengan sigap dan cekatan Natha menangkapnya dan mulai memaku sebuah papan dihadapannya. Saat hampir selesai memaku Natha sedikit oleng diatas tangga karena kaget mendengar pekikan salah satu ciwinya dan tanpa sengaja ia menjatuhkan palu yang ia pegang.


"Aduhhh, aduh, aduh, aduhhh..." pekik Dewi yang membuat Natha melebarkan matanya.


Tanpa aba-aba Natha melompat dari atas tangga dan menghampiri Dewi yang mengaduh kesakitan. Semua yang berada disana menatap Natha dengan kaget karena melompat dari tangga yang begitu tinggi, sedangkan Natha tengah panik menatap sahabatanya yang meringis kesakitan.


"Astagfirullah aduh Dewiiii gue nggak sengaja beneran deh, ayo gue anter ke UKS!" Ajak Natha hendak merangkulkan tangan Dewi ke pundaknya.


"Nggak papa Nath, sakitnya sedikit kok, untung sepatu gue tebelnya setebal baja, elo juga jangan main lompat aja, kalo kenapa-napa gimana!!" ujarnya seraya menatap Natha.


"Ya nggak gimana-gimana, jangan cerewet deh, udah ayo kita ke UKS, atau ada yang mau gendong nggak, gue nggak kuat, cepet dong genting penting iniii!" ujar Natha menatap para lelaki didekatnya.


"Nggak papa Nath, udah deh jangan lebay," ujar Dewi meringis menahan sakit seraya memijat kakinya.


"Nggak sakit gimana udah deh, jangan bawel," ujar Natha menatap Dewi dengan tatapan kesal.


"Aduh.." pekik Dewi saat tubuhnya merasa melayang.


Tanpa babibu seorang pemuda membopong Dewi dan berjalan agak cepet menuju ke UKS, tanpa disadari pemuda itu ternyata Dewi malah semakin lemas dan tak bisa menetralkan detak jantungnya sendiri.


"Jangan cepet-cepet bawanya, kakinya Dewi sakit itu," teriak Natha pada pemuda yang membopong Dewi.


Natha berlari menuju UKS yang tak jauh dari panggung, dengan segera ia membuka pintu UKS dan merapikan kasur serta mengobrak abrik kotak P3K mencari obat untuk sahabatnya.


Makasih ya buat yang udah mau baca, beri Natha like dan komenannya.