Aintazar

Aintazar
Aintazar XXII



Istana pasir yang Natha dan kedua abangnya bangun telah jadi, mereka tertawa bahagia layaknya anak kecil tanpa beban. Mereka foto bertiga dengan latar belakang istana pasir buatan mereka, usai berfoto bertiga mereka memangil Ayah dan Bunda untuk foto bersama. Walau candid namun hasil foto mereka sangat bagus dengan wajah keluarga Bramana yang tampan dan cantik hehe.


Usai berfoto ria, mereka menuju hotel yang telah dipesan oleh Ayah karena hari telah siang, jam telah menunjukan jam 12.05 dan matahari telah berada di puncak kepala. Saat dihotel Ayah hanya mendapatkan dua kamar karena hotel tersebut telah penuh, dan hanya tersisa 2 kamar.


"Bun Natha tidur ama siapa ntar malem?"


"Kamu sama Bang Abil sama Bang Ical ya sayang dikamar kalian ada dua ranjang," ucap Bunda seraya mengelus puncak kepala Natha yang dibalas anggukan oleh Natha dan pergi menyusul abang sulungnya.


"Bun sholatnya di kamar?" tanya Bang Nizal seraya membawa pakaian dilehernya.


"Iya kata mbaknya tadi dilemari ada mukenah sama sarung, tapi kamukan udah bawa sendiri kan?"


"Udah Bun itu dikoper, numpang mandi ya Bun kalo dikamar nanti nunggu Bang Abil selesai lama," ucap Bang Ical yang dibalas anggukan Bundanya.


"Ayah mana?"


"Tadi sempet ketemu teman bisnisnya, mungkin masih bincang-bincang." jawab Bunda seraya membongkar kopernya dan menata pakaian.


"Ohh okee," ucap Bang Nizal seraya memasuki kamar mandi.


Usai menumpang mandi dikamar Bundanya Bang Nizal keluar dan berjalan menuju kamar kedua saudaranya berada.


"Tok.. tok.. tok...... Ceklek..." suara ketukan dan pintu terbuka.


"Cari siapa ya mas?"


"Sholat dulu baru rebahan," jawab Bang Nizal seraya mengeser tubuh Abangnya yang menghalangi jalan masuk.


"Bawang bungsu merah.. sholat dulu baru tiduran," teriak Bang Nabil seraya menutup pintu dan berjalan menuju kamar mandi.


"Iya iya, berisik amat dah!!"


Natha terbangun dan Bang Nabil telah keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah usai mandi. Mereka bergantian untuk membersihkan badan, Natha menyangkutkan handuk dan pakaian dilehernya dan mengamati kamar mandi yang mewah dan luas itu. Ada bathup besar berwarna hitam, wastafel dan kaca yang besar, dan juga tempat khusus wudhu yang unik.


Keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos lengan panjang berwarna putih dan celana kain creamnya Natha menyusul kedua Abangnya yang sedang memakai sarung. Natha membongkar kopernya dan mencari mukenah navynya.


"Bang pakek in," pinta Natha dengan senyum manisnya seraya menyerahkan mukenahnya.


"Kamu itu udah gede manja banget sih, kurang satu tahun lagi kamu di SMK bukannya tambah dewasa, mandiri malah tambah manja," tutur Bang Nabil sambil memakaikan mukenah navy bagian atas pada Natha dengan gaya bicara mirip emak-emak ngomel gitu wkwk.


"Nggak selamanya Natha bisa manja-manja sama Bang Abil Bang Ical kapan lagi?" ucap Natha.


"Kapan-kapan juga bisa kamukan kesayangan, udah ayo sholat katanya capek," ucap Bang Nizal seraya memakaikan bawahan mukenah pada Natha.


"Hehe makasih Bang Abil Bang Ical yang tampannya tak terkalahkan." ucap Natha seraya mencubit pipi abang abangnya dengan gemas.


"Udah ayo Bang Abil imamin," ucap Bang Nizal.


"Kamu aja deh dek," ucap Bang Nizal balik menyuruh adiknya.


"Natha aja deh kalo lama," ucap Natha cekikikan, guyonnya pada kedua abangnya yang membuat kedua abangnya kompak mengeleng dan Bang Nabil pun bergegas menata sajadah dan menjadi imam.


Usai sholat berjamaah mereka merebahkan diri ke ranjang yang lebih luas, dikamar itu terdapat dua ranjang yang terpisah, ranjang pertama berukuran king size untuk Bang Nabil dan Bang Nizal. Ranjang kedua hanya cukup untuk satu orang yaitu untuk Natha tidur.


Natha rebahan ditengah-tengah kedua abangnya, mereka bertiga merehatkan badan seraya bercerita mengenang masa kecil mereka. Natha memperhatikan canda tawa mereka bersama yang entah kapan lagi akan terulang kembali disaat mereka beranjak dewasa.


Makasih udah mau baca tinggalkan jejak ya..