
'Gila ni ya nih orang, bener sok kecakepan juga, astagfirullah sabar Nath.' batin Natha menahan emosinya pada Bara.
"Kamu bawa motor nggak?" tanya Bara.
"Enggak." jawab Natha.
"Besok kamu boleh bawa motor , gak perlu tanya!" perintah Bara yang membuat Natha mengerutkan alisnya.
Jam istirahat tiba
"Assalamualaikum Natha, kak Bara," ucap Dewi, Sila, dan Ayu bersamaan.
"Waalaikumsalam warahmatullah." Bara dan Natha menjawab seraya menoleh asal suara.
"Nath ke kantin yuk udah jam istirahat nih!" ajak Dewi.
Natha pun menoleh pada Bara seolah meminta persetujuan. Namun, yang ditoleh hanya diam menatap tajam Natha. Natha yang tak mengerti tatapannya pun bangkit dari kursinya menutup pulpen sebelum ia keluar ruangan, Bara berucap memberitahu sahabat Natha bahwa ia belum selesai pekerjaannya.
"Natha istirahatnya nanti, kalian semua ke kantin dulu biar Natha bareng sama saya. Paham!" ucap Bara tegas di akhir kalimat.
"Ohh yaudah duluan ya kak!" ucap Sila mengedipkan sebelah matanya pada Natha.
"Selamat bersenang-senang kawan!" ucap Ayu seraya menyenggol bahu Natha, ketiga sahabat Natha pun tertawa bahagia sambil meninggalkan ruang Osis menuju kantin.
"Diem lo mau gue sumpelin tuh mulut!" ucap Natha datar mengandung emosi level sedang.
Setengah jam kemudian bel masuk pun berbunyi, Bara menyudahi pekerjaannya. Lalu Bara mengajak Natha untuk kekantin, Bara adalah orang yang kadang ceria, kadang cuek namun, ia juga sangat baik.
Saat Natha hendak berdiri dari kursinya ia memegang kepalanya lagi dan terus memijatnya. Bara yang merasa ada yang aneh dengan Natha bertanya.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya Bara datar namun, masih ada sedikit rasa kekhawatiran.
"Nggak papa kak cuma sedikit pusing aja, jadi nggak ke kantin?" tanya Natha yang masih memegang kepalanya.
"Nggak jadi, apa kamu mau saya antar ke UKS?" tanya Bara.
"Nggak usah kak, cuma haus sama laper!" ucap Natha.
"Yaudah kamu tunggu disini, saya belikan dulu, jangan kemana-mana," ucapnya lalu berjalan meninggalkan Natha.
"Makasih kak" ucap Natha lirih.
Setelah Bara pergi, Natha kembali keruangan Osis. Lalu ia duduk dan menyandarkan kepalanya ke tembok sambil memijatnya. Sesampai Bara di ruangan ia menaruh tas kain berwarna hitam yang berisi obat sakit kepala, dua porsi makanan dan dua botol air mineral. Ia menenggok Natha yang bersandar ditembok sambil menutup matanya.
Lalu ia memanggil Natha untuk segera makan, ternyata Natha tertidur. Karena tidak tega membangunkannya akhirnya Bara pun melanjutkan pekerjaannya dan sesekali ia menoleh ke Natha.
"Euuhh... jam berapa Bun?" tanya Natha meregangkan otot ototnya tanpa membuka matanya.
'Bun.. bundanya kali yah, gak ada was wasnya nih anak kalo tidur.' Bara membatin menatap Natha.
"Nath kamu bangun dulu! makan terus minum obatnya!" perintah Bara tanpa menoleh Natha.
"Loh kok ada kak Bara disini?" tanya Natha sedikit kaget.
"La kamu mau saya dimana?, dihati kamu, dirumah kamu, apa di barisan depan kamu waktu sholat?" tanya Bara.
"Terserah deh males debat, ayo makan dulu!" ucap Natha, lalu ia membuka kresek tersebut dan mengajak Bara untuk makan, tanpa menolak Bara langsung meninggalkan pekerjaannya dan makan bersama Natha.
"Gimana udah enakan apa saya antar ke UKS?" tanya Bara.
"Gak usah, udah mendingan kok nanti buat istirahat dirumah juga bisa." Natha berucap santai sambil mengambil bungkus makanan tersebut dan membukanya.
Saat Natha makan, Bara memperhatikannya mulai dari berdo'a sampai Natha selesai dan meminum obatnya, karena Natha sangat berbeda dengan cewek lainya. Yang pada umumnya mereka akan menjaga imagenya didepan cowok, namun berbeda dengan Natha yang terlihat asik menyantap makanannya tanpa memperdulikan sekitarnya.
"Gapapa cuma aneh aja kamu nggak kayak cewek lain yang jaga image depan cowok," ucap Bara.
"Kayak kurang kerjaan aja, makan aja ribet banget!" ucap Natha.
"Hm." Bara mendehem membuat Natha mengerutkan alisnya.
"Nanti sepulang sekolah kamu tunggu saya di parkiran belakang penting!" ucap Bara kembali ke pekerjaanya.
Natha yang mendengarkan hanya membalas helaan nafas panjang dan anggukan. Tugas dari Bara pun sudah Natha selesaikan, tak terasa Natha ketiduran lagi dimeja kerjanya. Namun, ia sudah menata semua berkasnya di rak, Bara yang memperhatikanya hanya membatin ' lucu juga kalo tidur kelihatan tenang, coba kalo bangun kayak macan betina mau berantem hhh,' batin Bara sambil mengelengkan kepalanya.
Natha terbangun dari tidurnya karena adanya adzan dhuhur berkumandang. Lalu ia melihat sekitar mengumpulkan kesadaranya dan melihat Bara yang masih setia dengan pekerjaannya.
"Kak-" ucapan Natha langsung terpotong.
"Kamu duluan aja saya nanti nyusul!" ucap Bara tanpa menoleh.
"Assalamualaikum," salam dari Natha.
"Waalaikumusalam warahmatulah."
'Emang dia tau gue mau kemana? sotoy banget.' Batin Natha seraya meninggalkan ruangan Osis menuju mushola sekolah untuk melaksanakan kewajibanya sebagai seorang muslim.
Saat Natha akan memasuki mushola ia melihat seorang pemuda tampan keluar dari mushola dan memakai sepatunya sepertinya ia usai menyelesaikan sholat. 'kayak nggak asing!?' Namun wajahnya tidak terlalu kelihatan dan ia bukan siswa dari SMK NUSA BANGSA 01, kelihatanya ia seperti orang kantoran karena pakaian yang dikenakannya sama seperti ayah. Dari setelan jas, dan sepatu hitam mengkilatnya namun, ia terlihat cuek, dingin dan tak terlalu memperhatikan sekitarnya yang banyak siswi yang menatap kagum dirinya. Namun, berbeda dengan pandangan Natha yang hanya kepo siapa dia.
Saat Natha sedang memperhatikan pemuda itu, Natha dikagetkan oleh ketiga sahabatnya. Mereka juga hendak melaksanakan sholat dhuhur.
"Ddduuuaarrrrrrr!!" suara pekikan Dewi, Ayu, Sila mengagetkan Natha.
"Astagfirullah, bisa nggak sih jangan ngagetin gitu!" ucap Natha beristigfar sambil mengelus dadanya.
"Ngelamunin sapa nih?" goda Ayu.
"Kepo!" ucap Natha meninggalkan ketiga cewek petakilan itu menuju tempat wudhu.
"Siapa Nath, pacar lo ya?" tanya Sila.
"Calon mungkin!" celetuk Dewi.
"Bukan lah pacar-pacar apalagi calon ada-ada aja kalian, itu tadi ada orang habis sholat, tapi pakaiannya kayak orang kantoran gitu, gue baru pertama kali liat dia." Natha menjelaskan yang dibalas 'oh' dan anggukan oleh ketiga sahabatnya.
Selesai berwudhu mereka memasuki mushola dan sholat berjama'ah yang diimami oleh pemuda yang memiliki suara merdu saat melantunkan ayat suci al-qur'an.
Selesai sholat
"Suaranya kayak bukan suaranya kak Wildan ya, beda banget suaranya enak, merdu-merdu gimana gitu!?" ucap Ayu.
"Iya siapa ya?" tanya Dewi.
"Guys itu suaranya kak Bara guys. Masyaallah idaman banget nggak?" ucap Sila sambil melongo melihat Bara berdiri dari tempat imam dan hendak keluar. Dewi dan Ayu yang menoleh pun ikut melongo tanpa berkedip menatap Bara.
"Udah tutup tuh mulut, nanti ngeces tuh iler!" ucap Natha menggelengkan kepalanya sambil menutup satu persatu mulut sahabatnya.
"Kenapa?" tanya Bara yang berdiri tepat didepan Ayu,Dewi,Sila yang masih melongo dan menatap Natha.
"Nggak kenapa-napa!" ucap Natha sambil menduduki anak tangga dan memakai sepatunya.
"Apa mau gue pakek in tuh sepatunya ke kalian satu-satu?" tanya Natha yang membuyarkan lamunan mereka, lalu ketiga sahabatnya duduk di anak tangga dan segera memakai sepatu mereka.
......**Terima kasih untuk yang sudah baca.......
......See u next chapter**!......