
Tak berselang lama, Dewi dan pemuda tadi masuk ke dalam UKS dan pemuda tadi meletakkan Dewi diatar kasur yang telah Natha rapikan tadi. Dengan hati-hati Natha mulai membuka kedua sepatu dan kaos kaki Dewi untuk mengecek kakinya.
"Makasih kak Wildan," ucap Dewi dengan senyuman manisnya seraya menatap Wildan yang masih berada didalam UKS.
"Iya, sama-sama, lain kali hati-hati. Untung kaki kamu yang kena kalo kepala jangan sampek deh. Yaudah aku keluar dulu ya, cepet sembuh, aku tinggal dulu Nath," Ucap Wildan seraya berjalan keluar dan menutup kembali pintu UKS. Sedangkan Natha hanya menatap Dewi dengan tatapan bertanya-tanyanya seraya mengobati luka pada kaki Dewi.
"Biasa aja kali natapnya,"
"Senyuman lo aneh tau nggak!" Ujar Natha.
"Gimana kagak senyum, rasanya tuh dag dig dug tau, kaget gitu waktu yang ngangkat kak Wildan, jadi lemes badan gue tadi, astagfirullah, ampuni hambamu ya Allah..." ucap Dewi seraya mengelengkan kepalanya.
"Kalo gue kuat, udah gue bopong sendiri tadi elu, gue panik tau kalo elo kenapa-napa" ucapnya lirih. "Wi maaf ya, gegara gue kaki lu jadi gini," ucap Natha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah nggak papa lukanya tuh kecil banget Nath, udah deh itu juga kesalahan gue kok, gue aja yang nggak hati-hati maaf juga buat elo kaget dengan teriakan gue tadi," ucapnya menepuk pelan bahu Natha seraya terkekeh berusaha menenangkan sahabatnya. "Udah, masak anak bungsu Tuan Bramana jadi cenggeng gini, mana si tomboy es balok," kata Dewi diakhiri tawanya, yang membuat Natha semakin mengerucutkan bibirnya.
Bruuakkk...
Pintu UKS terbuka lebar dan menampakan seorang makhluq astral yang sedang mengatur napasnya menghirup oksigen dengan serakah.
"Kamu nggak papa Nath?" Tanya Bara tanpa permisi, tanpa salam langsung menyelonong memasuki UKS.
"Emang Natha kenapa? Kan yang kena palu tadi Dewi bukan Natha, kak Bara ngapain ngos-ngosan? Kayak dikejar angsa aja," jawab Natha yang membuat Bara menghela napas panjang, arti jika ia lega mendengar jawaban calon istrinya.
"Alhamdulilah kalo nggak kenapa-napa, kakak tadi lari nyari kamu, kakak khawatir soalnya kata anak-anak kamu tadi lompat dari tangga!?" Jawabnya yang membuat Natha mengerutkan alisnya.
"Khawatir?!" Lirih Natha.
"Yaudah kak Bara keluar dulu, cepet sembuh Wi," ujarnya lalu keluar dari UKS.
"Wi-" ucap Natha terpotong oleh pintu yang kembali terbuka.
"Kalian nggak laper apa aku pesenin sesuatu?" Tanya Bara yang kembali ke UKS.
"Nggak!" Jawab Dewi dan Natha bersamaan.
"Yaudah, bye." Bara keluar dan menutup pintu.
"Wi-" panggil Natha.
"Beneran Nath nggak mau nitip?" Tanya Bara seraya menampakan hanya kepalanya dibalik pintu.
"Kak udah deh, nggak nitip kita tuh, keluar deh!" Ucap Natha ketus.
"Iya maaf assamalamualaikum," ucap Bara menutup pintu.
"Wi-"
Braaakk..
"Kalian... nggak.. pa.. pa..?" Tanya Ayu dan Sila ngos-ngosan.
"Ngapain lari sih," ujar Dewi mengerutkan kedua alisnya menatap kedua sahabatnya yang berada didepan pintu seraya menyender ke tembok.
"Khawatir lah, lo kira lomba balap karung!" Jawab Ayu ketus.
"Gimana kaki lo Wi, kalian nggak papa kan,?" Tanya Sila menghampiri Dewi dan Natha.
"Gue nggak papa kok, santuy aja kalian nggak usah khawatir gitu," ucap Dewi menenangkan sahabatnya.
"Tapi kaki lo sampek biru gitu, gue takut lo kenapa-napa, kita ke rumah sakit yuk!?" Ajak Natha.
"Aduh Nath, nggak papa ini yang biru tuh cuma sedikit, nggak sampek sehari juga ilang nih luka pasti nanti malem ilang habis dioles obat ampuhnya nyokap, jangan lebay deh gini doang ke rumah sakit," jawab Dewi menolak Natha.
"Beneran kan, nggak ada yang sak-?"
"Lo tanya sekali lagi gue tabok mulut lo Nath," ucap Dewi ketus yang membuat Natha langsung diam dan menghela napas panjang.
"Udah ayo ke kantin, kaki gue nggak papa asli bener suer, mana sepatu gue," pinta Dewi.
"Lo nggak mau pakek sandal?" Tanya Natha.
"Enggak sayangku, ini sekolahan bukan rumah," jawab Dewi meniru gaya anak kecil dan berjalan pelan keluar dari UKS di ikuti ketiga sahabatnya di belakang.
"Nanti malem gimana, udah kelar belum persiapan acaranya, jadi nggak sabar gue," ucap Ayu.
"Udah siap sih tinggal ngelaksanain acaranya aja," jawab Natha.
"Sama gue juga pengen, Lo berdua ikut kan?" Tanya Sila pada Natha dan Dewi.
"Ikut lah, jarang-jarang kakel yang ngadain, gue pasti ikut," jawab Dewi.
"Males gue, nggak ikutan gue mau dirumah aja rebahan," jawab Natha.
"Awas aja kamu nggak ikut!" Ucapnya seraya terkekeh dibalik tembok.
**Maaf kalo ada typo and makasih udah baca ceritaku yang membosankan ini hehe.
Beri like dan komenan buat Natha okee**.