Aintazar

Aintazar
Aintazar XVII



"Terserah kalian aja, udah ayo ke kamar rebahan sambil nunggu adzan isya'." ucap Natha dengan mimik wajah malas, seraya menaiki anak tangga menuju kamarnya yang diikuti ciwi ciwinya yang cengengesan mendengar jawaban Natha saat mereka goda.


Di dalam kamar Natha..


Natha dan Sila, berbaring di ranjang king sizenya sambil berbincang santai. Sedangkan Dewi dan Ayu bermain game online di laptop dan komputer Natha. Saat Natha hendak memejamkan matanya, tiba-tiba handpone Natha berdering. Tak menunggu lama Natha langsung meraih handpone yang ada di meja sebelah ranjangnya dan langsung mengangkat panggilan itu.


Sang Bunda meng-video call Natha, saat Natha telah menghubungkan panggilan tersebut terpampanglah wajah sang Bunda, Ayah dan dua abang kembarnya.


panggilan terhubung


Bunda~Assalamualaikum sayang, zeyeng, cebong!! 'suara Bunda,Ayah dan dua kampret bersamaan'


Natha~ Waalaikumsalam, gimana acaranya lancar?


Bunda~Alhamdulillah lancar sayang, siapa itu yang disamping?


Natha~Sila bun, itu juga ada Ayu sama Dewi nemenin Natha. (seraya membalikan kamera ponselnya)


*Sila, Ayu dan Dewi~ Halo bun, apa kabar? (mereka bersamaan seraya melambaikan tangan)


Bunda~Baik nak, ohh ada ciwi ciwi kamu, gapapa deh itung itung ada temennya hehe.


Natha~Ayah sama abang kemana?


Bunda~Nemuin tamu mungkin!


Natha~Ohh yaudah bun salam buat Oma Opa sama lainnya.


Bunda~Oke sayang, kalian jangan lupa makan sama sholat ya..


Natha,Sila,Ayu,Dewi~ Siap bun( ucap mereka bersamaan seraya mengangkat tangan untuk hormat pada bunda Nathasya.


Bunda~Bye girls assalamualaikum.( ucapnya sambil melambaikan tangan)


Natha,Ayu,Sila,Dewi~Walaikumsalam bun (ucap mereka membalas lambaian tangan bunda)


Usai divideo call sang Bunda, Natha berjalan menuju kamar mandinya untuk berwudhu disusul oleh ketiga ciwi ciwinya. Lalu mereka turun ke bawah menuju tempat sholat di rumah Natha. Selesai sholat isya' mereka kembali ke kamar. Dan menuju ranjang king size Natha untuk tidur.


Natha mempunyai Trundle bed yang bisa digunakan untuk 4 orang sekaligus. Natha dan Dewi tidur dibawah sedangkan Sila dan Ayu akan tidur diatas seperti biasa saat mereka menginap dirumah Natha. Mereka tidur dengan tenang dan pulas tanpa gangguan, terlihat dari wajah mereka yang kecapekan padahal gak ngapa-ngapain, cuma main game, becanda, nugas.


Beberapa jam kemudian adzan shubuh berkumandang, Ayu, Sila dan Dewi bangun bersamaan. Berbeda dengan Natha yang masih asyik bermimpi indah di dunia kapuknya. Dewi, Sila, dan Ayu mencoba membangunkannya dengan berbagai cara, namun masih juga tak berhasil dasar kebo. Akhirnya mereka meninggalkan Natha yang masih tertidur pulas.


Samar-samar Natha membuka matanya dan mengedarkan pandangannya kesekitar namun tak menemukan ketiga ciwi ciwinya. Tak lama kemudian Natha beranjak dari ranjangnya dan meregangkan otot-ototnya. Kemudian ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul setengah lima, lalu ia berjalan menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk sholat dan berangkat sekolah.


Usai menyelesaikan sholat shubuhnya Natha turun ke bawah menuju dapur seraya membawa tas sekolahnya, namun yang ia temukan hanya bi Titik yang sedang mengaduk susu.


"Ciwi ciwi kemana bi?" tanya Natha seraya meminum susu hangat rasa vanila digelas yang ia pegang.


"Tadi neng Sila, neng Ayu, sama neng Dewi pamitan, katanya mau lari pagi neng." jawab bi Titik yang dibalas anggukan Natha.


Tak berselang lama, ketiga ciwi ciwi Natha kembali dari lari paginya. Ketiga ciwinya datang dengan wajah memerah dan ngos-ngosan.


"Assalamualaikum," ucap Ayu, Sila, dan Dewi bersamaan seraya mendudukan diri ke kursi meja makan.


"Waalaikumsalam." ucap Natha dan bi Titik.


"Cuma tiga kali puteran, tapi ini kompleks gede tau," jawab Ayu seraya mengibas-ngibaskan tanganya ke depan wajah.


"Kan lho tau kita cuma bawa piyama sama seragam sekolah, padahal tadi kita mau ngajak lho lari bareng tapi gue yakin lho bakal nolak ya kita tinggal deh." ucap Dewi sambil menyenderkan punggungnya ke kursi yang membuat Natha terkekeh, sedangkan Sila hanya mengeleng-ngelengkan kepalanya dan mengatur nafasnya.


"Ya jelas dong, ya kali pagi pagi buta lari, lagian kalian kan juga bisa minjem baju ke gue. Gitu aja repot." ucap Natha seraya mengedikkan bahunya acuh, yang membuat ketiga ciwinya memutar bola mata malas.


"Yang punya rumah aja tidurnya kayak kebo, gimana mau minjem sayang, yaudah gue mau mandi dulu dah lengket dan bau keringet aceemm..." ucap Sila seraya berdiri dari kursinya yang diikuti oleh Ayu dan Dewi beriringan dan berjalan menuju kamar Natha. Natha hanya menjawab dengan jari telunjuk dan jempol tangannya yang menyatu membentuk O.


"Neng Natha mau sarapan dulu apa nunggu?" tanya bi Titik.


"Nunggu mereka selesai aja bi," jawab Natha menoleh ke bi Titik lalu kembali menatap handponenya.


Tak menunggu waktu yang lama, ketiga ciwi Natha kembali turun sambil membawa tas mereka masing masing. Usai sarapan mereka langsung berangkat ke sekolah menggunakan motor masing-masing. Ditengah perjalanan Natha melihat ada orang yang berdiri di depan mobilnya dengan mimik wajah kebinggunan. Natha mendekat diikuti ciwi ciwinya.


'Kenapa tuh orang' batin Natha seraya melepas helmnya.


"Kita duluan deh Nath, nggak mau ganggu kalian, hati-hati!." ucap Dewi seraya mengerlikan sebelah matanya yang membuat Sila dan Ayu tertawa lepas, tanpa menunggu jawaban dari Natha mereka bertiga menancapkan gas motornya meninggalkan Natha sendiri. Natha hanya berdecak kesal, lalu tatapannya kembali pada si Ketos didepannya.


"Kenapa?" tanya Bara yang binggung ditatap Natha.


"Kenapa mobilnya?" tanya Natha dengan nada datar tatapan dinginya.


"Mogok plus ban nya bocor." jawab Bara sedikit terkekeh, seraya memasukan handponenya ke saku celananya.


"Kamu mau nebengin saya?" tanya Bara menatap Natha yang kembali memakai helmnya.


"Ada pilihan lain nggak?" tanya Natha balik.


"Sayangnya enggak tuh!" ucap Bara dengan kekehan kecilnya, tanpa menunggu perintah ia mengambil helm bogo hitam yang terdapat di jok belakang Natha langsung memakainya.


"Jangan sayang, nanti susah lupa!" jawab Natha dengan raut wajah datar menatap Bara.


"Cinta aja deh,"


"Masih kecik gaboleh cinta cintaan masdep masih panjang." jawab Natha terkekeh kecil.


'Bisa diajak becanda ternyata' batin Bara seraya tersenyum kecil.


"Iya, kamu tungguin aja aku yang jadi imammu wahai makmum," ujar Bara seraya tertawa ringan.


"Aku atau kamu?" tanya Bara sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Saya aja udah cepet naik tasnya pakek didepan!" perintah Natha pada Bara yang langsung menaiki motor Natha seraya melepas tasnya yang ia pakai menghadap depan sesuai perintah. Tas mereka saling menempel dan juga tas merekalah yang membuat adanya jarak diantara mereka.


Dalam perjalanan Natha ia hanya terdiam fokus pada jalan lurus ke depan dan sesekali melirik Bara yang bolak balik tersenyum manis terlihat dari kaca spion motor Natha. Beberapa kali Natha tertangkap basah sedang menatap Bara dari kaca spion, Bara yang menangkap basah Natha menatapnya membalas Natha dengan senyum manisnya.


Natha yang melihat senyuman manis itu merasa ada yang aneh pada dirinya, namun ia menyakinkan batinnya bahwa itu hanya sesuatu yang tak perlu dipikirkan terus menerus.


Sesampai diparkiran sekolah, Natha binggung harus memarkirkan motornya dimana, karena parkiran sudah penuh dengan motor siswa lain. Bara yang melihat raut wajah Natha langsung mengambil alih motornya dan langsung membawanya menuju tempat parkir paling belakang. Natha yang melihat itu hanya menghela nafas panjang dan berjalan menuju kelasnya meninggalkan Bara.


Makasih udah mau baca, beri Natha likenya dung, ama komenan, ama dukungan lainya.


Tengkiyuuu..