
Sinar matahari yang masuk kedalam kamar membuat Natha membuka matanya dan mengedarkan pandanganya pada seseorang yang membuka gorden.
"Natha mandi!! udah jam 08.05 pagi," perintah Bunda.
"Kok Bunda baru bangunin sih," ucap Bang Nizal seraya melompat dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi membawa handuk berserta pakaian gantinya.
"Bang Natha dulu!!" teriak Natha.
"Kalian gimana sih, Bunda tadi subuhkan kan udah bilang selesai sholat subuh jangan tidur lagi," ucap Bunda seraya membuka pintu balkon.
"Bang bangun katanya mau jalan-jalan?" tanya Natha seraya menarik selimut yang digunakan Bang Nabil.
"Ropeahhh jangan ganggu deh, masih gelap nih," ucap Bang Nabil seraya menarik kembali selimutnya dan memunggungi Natha. Natha berdecak kesal lalu kembali menarik selimut Bang Nabil dan menarik kaki Abangnya dari kasur hingga terjatuh.
"Romlahhh!!!!" teriak Bang Nabil.
"Apa," jawab Natha seraya mendudukan dirinya ke sofa pojok kamar seraya memasukan kedua tanganya ke saku jaket.
"Natha kamu apain abangmu?" suara Bunda dengan nadanya yang lembut menatap Natha.
"Baru ngebangunin Bang Abil," jawab Natha pada Bundanya, Bunda cekikikan melihat kelakuan anaknya paling bungsu yang terlihat santai.
"Kamu ngga boleh gitu, jangan diulangi ya sayang," ucap Bunda seraya mengusap puncak kepala Natha.
"Siap Bun kalo nggak khilaf," jawab Natha seraya menoleh pada Abangnya yang duduk dipinggir ranjang dengan mengelus bahu dan lengannya seraya melotot pada Natha dengan tajam.
"Mata abang kenapa? kok kayak mau copot gitu?" tanya Natha dengan nada mengejek pada Abangnya.
"Gapapa cuman lihat mangsa tengil, yang sok!" ucap Bang Nabil menekan akhir kata.
Bunda yang melihat dan mendengarkan kedua anaknya berbincang penuh arti hanya menghela nafas dan mengeleng kecil dengan senyuman manisnya. Lalu berpamitan untuk keluar dari kamar yang diangguki oleh Bang Nabil. Tak berselang lama Bang Nizal yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih berada di depan pintu kamar mandi langsung didorong Natha sampai hampir terjatuh.
"Dek!!"
"Opo?" jawab Natha dari dalam kamar mandi.
"Gak sido!" jawab Bang Nizal sewot.
Kemudian Bang Nizal menghela nafas dan berjalan menuju sofa dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sedangkan Bang Nabil memandangi Bang Nizal dengan menahan tawa yang membuat Bang Nizal mengerutkan dahinya.
Jam dinding telah menunjukan pukul 09.00 pagi, ketiga makhluq pemalas dan sedarah tersebut keluar kamar lalu berjalan menuju kamar orang tuanya. Diketuk beberapa kali namun tak ada sahutan dari dalam akhirnya mereka meninggalkan kamar orang tua dan mereka bertiga memasuki lift menuju lobi hotel dan berlari menuju pantai.
Disaat mereka bermain kejar-kejaran dan mengejar Bang Nizal, handpone Natha berbunyi ternyata Bunda yang menelponya dan berkata bahwa Bunda dan Ayah tengah bersama teman bisnis Ayahnya di restoran seafood dekat pantai.
"Main dulu, apa ke restoran nyusulin Bunda sama Ayah?" tanya Natha seraya menatap kedua Abangnya yang sejak tadi memperhatikan Natha menjawab telpon.
"Ngapain?" tanya Bang Nabil.
"Makanlah, atau kita main sama jalan-jalan dulu aja dipantai kalo udah capek kita nyusulin Bunda sama Ayah, pasti sejam dua jam belum selesai ketemuannya." ajak Bang Nizal yang diangguki oleh Natha dan deheman Bang Nabil.
"Bang mau kesitu," ucap Natha seraya menunjuk sebuah toko aksesoris.
"Ngapain?" tanya Bang Nabil yang tak mendapat jawaban malah ditinggal oleh kedua adiknya yang saling bergandengan lalu ia menyusul seraya berlari kecil.
"Hem." jawab Natha Bang Nizal yang mendehem bersamaan.
Natha dan Bang Nizal mulai memilih satu persatu aksesoris yang akan mereka dijadikan oleh-oleh saat pulang dari pantai. Berbeda dengan Bang Nabil yang merebahkan tubuhnya dikursi panjang dibawah poholon rindang seraya menutup matanya menggunakan salah satu lengan.
"Yah malah molor nih kang parkir," ucap Natha seraya mendekat pada kursi dan meneteng tas berukuran sedang berisi aksesoris yang ia pilih tadi bersama Bang Nizal.
"Bang, ayok ke restoran, Natha sama Bang Nizal udah laper nih," ajak Natha seraya menguncangkan pundak Abang sulungnya.
"Bang hayuk, keburu demo nih cacing Ical,"
Tak mendapatkan respon dari Abangnya, akhirnya Natha melirik Bang Nizal dengan senyumnya, Bang Nizal yang mengetahui maksud adiknya pun menunjuk tangan abangnya dan Natha mengangguk semangat. Lalu mereka berdua menarik tangan Abangnya sampai Bang Nabil berdiri seraya matanya melotot kaget dengan nafasnya yang memburu.
Natha dan Bang Nizal tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Bang Nabil yang terkejut. Bang Nabil kembali duduk menyenderkan punggungnya pada kursi dan menatap kedua adiknya tajam dengan mata memerahnya seraya memijat pelipisnya. Natha dan Bang Nizal langsung menghentikan tawanya dan menunduk merasa bersalah.
"Maaf Bang Bil," ucap mereka berdua bersamaan.
"Hem.. sampek kalian ulangin lagi, awas kalian." ucap Bang Nabil seraya berdiri dari duduknya dan menyentuh puncak kepala kedua adiknya secara bergantian dan meninggalkan kedua adikanya yang masih menunduk.
"Udah pergi?" tanya Natha dengan suara lirih.
"Udah, huff.." jawab Bang Nizal menghela nafas panjang yang membuat Natha merasa lega.
"Udah ayo nyusulin abang nanti marah lagi," ucap Bang Nizal seraya mengandeng tangan Natha dengan langkah agak menyeret agar cepat.
Sesampai di restoran seafood mereka berdua melihat Bang Nabil yang sedang makan disamping Bunda. Natha juga melihat seorang wanita dan pria seumuran Ayah dan Bunda, juga seseorang yang tak asing baginya, ia memunggunginya dan berada didepan Bang Nabil.
"Asalamualaikum," ucap Bang Nizal dan Natha bersamaan.
"Waalaikumsalam." jawab mereka.
"Ical, Natha, sini!" ucap Ayah seraya melambaikan tanganya pada kedua anaknya untuk duduk disebelahnya.
Meja panjang dan kursi saling berhadapan cukup untuk 10 orang sekaligus. Bang Nizal dan Natha berjalan mendekat dan menarik sebuah kursi dekat Ayahnya, saat Natha telah mendudukan dirinya, nampak terkejut dengan orang dihadapan abang sulungnya.
Namun ekspresi Natha tetap sama dan tak menampakan keterkejutanya, sang Ayah langsung menawarkan makanan pada kedua anaknya yang baru datang. Pemuda tampan itu menatap Natha sekilas dan kembali fokus pada makanan dihadapanya.
"Dia siapa Nath?" tanya Bang Nizal berbisik pada Natha yang dibalas angkat bahu darinya.
"Kalian belanja apa aja tadi?" tanya Bunda pada Natha dan Bang Nizal.
"Aksesoris kayak anak kecil Bun, biasa bocil," jawab Bang Nabil seraya meminum jus jeruk dihadapanya.
"Yaelah kalo ngambek mah ngambek aja gausah ngata-ngatain bocil, dasar kang parkir tukang molor, ya nggak bang Cal." ucap Natha menoleh pada sang abang sulungnya seraya membuka cangkang kepiting didepannya.
"Bener tuh kata Adek, abang aja yang baperan," jawab Bang Nizal seraya membuka mulut menerima suapan dari Natha yang berbalik menyuapi Natha sendiri, yang membuat Ayah, Bunda, dan keluarga Bara terkekeh.
"Siapa yang baperan, kalian aja yang jahil," ucap Bang Nabil yang membuat Ayah dan Bunda hanya geleng-geleng.
Beri likenya dung..