Aintazar

Aintazar
Aintazar – VI Selamat membaca!



"Eh guys, katanya kita dipulangin habis sholat dhuhur. Soalnya guru pada rapat buat ujian kita." ucap Ayu.


"Bagus tuh nanti nongkrong yuk habis pulang sekolah." Ajak Dewi.


"Bener tuh kita ke basecamp yuk, lama nggak modif motor!" ucap Sila.


"Gue nggak bisa on time ngaret agak lama mungkin, nunggu kak Bara dulu, katanya sih ada yang penting. Kalo sempet sih gue bakal nyusulin, kalo gue enggak bisa kalian nggak usah nungguin gue maap yaa," ucap Natha menjelaskan sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Yah Enath kok gak ikut sih." Dewi,Sila,Ayu berujar bersamaan sambil memanyunkan bibirnya.


"Maap ya besok-besok deh gue ikutan, emm.. insyaallah deh nanti gue nyusul, kalo jadi chat dulu digrup, yaudah ayo ke kelas sapa tau beneran ada info pulang cepet." ucap Natha menarik tangan ketiga sahabatnya.


Sesampai dikelas


"Assalamualaikum warahmatullahiwabarokatu." Bu Ami mengucap salam.


"Waalaikumusalam warahmatullahiwabarokatu," jawab seluruh siswa dikelas.


"Bu Ami disini mau menyampaikan bahwa jam ke tujuh sampai jam ke sembilan ditiadakan, dikarenakan semua guru dan staf SMK NUSA BANGSA 01 akan mengadakan rapat pembahasan ujian demikian yang dapat ibu sampai wassalamualaikumwarah matullahiwabarokatu." ucap Bu Ami seraya berjalan keluar pintu meninggalkan kelas.


"Yuk guys pulang," ajak Ayu.


"Yo kita pergi," ucap Dewi.


"Enath gimana lo, kan lo nggak bawa motor?," tanya Sila.


"Kalian duluan aja deh, gampang nanti gua bisa naik ojol atau angkutan yang lain, duluan ya!" ucap Natha sambil memasukan bukunya kedalam tasnya.


"Siap bebebsz hati-hati ya!" ucap ciwi-ciwi Natha bersamaan.


"Assalamualaikum bebsz duluan ya!?" ucap Dewi, Sila, Ayu seraya meninggalkan kelas.


"Waalaikumusalam warrahamatullah," ucap Natha seraya menautkan tasnya ke bahunya.


Beberapa saat kemudian Natha meninggalkan kelas, ia memperhatikan lingkungan sekolah yang mulai sepi, Natha berjalan menuju parkiran belakang sesuai perintah Bara. Natha menunggu tepat di gerbang pintu keluar, tak menunggu lama Natha melihat jika Bara telah sampai dengan mobilnya, kemudian Bara membuka perban ditanganya. Bara mengajak Natha untuk menaiki mobilnya.


"Tangan kak Bara emang bisa dibuat nyetir?"


"Udah jangan cerewet, ini juga udah baikan kok!" ucap Bara sambil memasuki mobilnya.


"Ayo naik ke mobil!" ucap Bara yang membuat Natha mengangkat sebelah alisnya.


"Ngapain?" tanya Natha sambil menyikap kedua tanganya di depan dada.


"Sebagai wakil yang baik kamu harus nurut dong sama atasan." Bara menyebalkan.


"Nggak deh saya mau pulang aja," ucap Natha hendak meninggalkan Bara.


"Masuk atau mau nambah hari jadi sebulan untuk nemenin saya, nemenin seumur hidup juga nggak papa, mau?" ucapan Bara yang di respon langsung oleh Natha yang memasuki mobil sambil memutar malas bola matanya.


•••


Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah toko buku dan alat tulis. Mereka lalu turun dari mobil dan Natha mulai mengikuti Bara dari belakang. Lalu Bara memberi secarik kertas pada Natha yang berisi daftar belanjaan buku yang diperlukan, mulai dari buku absen baru sampai buku tulis.


Sedangkan Bara menyusuri tempat alat tulis ia membeli karton tebal dan lainya. Entah acara apa yang akan digelar oleh Ketua Osis tahun ini, Natha hanya menuruti perintahnya. 'emang anggota osis lainya pada nggak kerja ya, kok nih ketos yang belanja sendiri.' Batin Natha.


Lalu Natha menghubungi ketiga sahabatnya karena tidak bisa ikut dan diperkirakan bisa sampai malam. Ketiga sahabatnya pun digrup chat malah mengoda Natha dengan candaan tak berfaedahnya.


"Kamu laper?" tanya Bara.


"Nggak." Natha menjawab dengan singkat.


"Udah nggak sakit kepalanya?" tanya Bara.


"Alhamdulillah, nggak." Natha kembali menatap handpone-nya.


Setelah pembicaraan tersebut dalam mobil hanya ada keheningan, tak ada dari mereka yang mau berbicara Natha yang fokus pada handpone-nya dan Bara yang fokus menyetir. Beberapa saat kemudian, Bara bertanya kepada Natha.


"Rumah kamu dimana, biar saya antar." Bara bertanya seraya menoleh sekilas ke arah Natha yang melamun sambil memegang hp.


Ia sedang membuka aplikasi novel online dan membaca sebuah novel yang menceritakan perjalanan kisah kasih yang amat berlika liku penuh cobaan. Yang sang pemeran utama menjalani semua dengan ketabahan dan kesabaran. Natha termenung menghayati tiap kalimat novel tersebut, tanpa sadar ia mengucapkan sesuatu yang membuat Bara kaget.


"Nath rumah kamu dimana?" tanya Bara sekali lagi yang belum mendapat jawaban.


"Aku mencintaimu!" ucapnya agak keras.


Bara yang mendengarkan ucapan Natha, langsung mendadak meng rem mobilnya dan mengakibatkan dahi Natha terbentur dashboard dengan keras.


"Aww.." pekik Natha yang meringis kesakitan.


"Astagfirullah, maaf Nath aku nggak segaja, maaf!" ucap Bara dengan ekspresi khawatir melihat Natha mengelus dahinya.


"Hm.." dehem Natha yang tenang walau merasa kesakitan namun, Natha tidak tau kalau dahinya mengeluarkan sedikit darah.


"Kak Bara nggak kenapa-napa?" tanya Natha tanpa menoleh dan masih mengelus dahinya.


"Saya enggak kenapa-napa," ucap Bara sambil mengambil hansaplast dalam dashboardnya kemudian ia membuka hansaplast tersebut dan memasangkannya pada Natha.


Natha yang dahinya dipasangi oleh Bara hanya diam dan tidak menatap Bara sedikitpun.Lalu Bara menyenderkan kepalanya ke belakang dan menghela nafas panjang.


"Kak Bara ngapain nge rem mendadak, bahaya tau. Untung kita nggak kenapa-napa, kalo orang lain yang kena gimana!" ucap Natha sambil mengambil hpnya yang terjatuh ke bawah.


"Kamu ngagetin saya sama ucapan kamu, spontan saya nge rem mendadak, maaf!." ucap Bara meminta maaf dan menjalankan mobilnya kembali.


"Emang saya ngomong apa sama kak Bara?" tanya Natha menoleh ke Bara.


"Aku mencintaimu, siapa yang nggak kaget coba, sekali lagi minta maaf ya Nath saya nggak sengaja, alamat rumah kamu dimana?" ucap Bara yang menganggap ucapan Natha hanya guyonan atau saat Natha membaca kalimat di handpone-nya tak sadar ia mengucapkannya.


"Iy nggak papa, rumah saya di Jl.Welirang no.11 D." Natha mengatakan alamat rumahnya.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai didepan pagar rumahnya.


"Thanks ya kak!" ucap Natha seraya turun dari mobil dan dibalas anggukan oleh Bara.


Kemudian Natha menawari apa Bara mau masuk dulu namun, Bara langsung menolak lalu mengucapkan menitip salam pada orang tua Natha dan meminta maaf karena mengajaknya sampai malam. Lalu Bara menancapkan gas mobilnya menghilang dari penglihatan Natha.


Lalu Natha mengambil kunci rumah dari tas ranselnya, sekarang sudah jam sembilan malam dan semua penghuni rumah pasti sudah berada dikamarnya masing-masing. Natha menaiki tangga menuju kamarnya.


Lalu ia menyimpan tasnya digantungan tas, kemudian pergi ke kamar mandi, lalu Natha memakai piyamanya dan merebahkan dirinya pada ranjangnya dan ia membaca do'a lalu tertidur.


...**Terima kasih untuk yang sudah baca....


...See u next chapter**!...