Aintazar

Aintazar
Aintazar XXI



"Zeyengnya Ayah, bangun dong udah mau telat nih kita, katanya kit mau liburan berlima?" tanya Ayah seraya menguncangkan pundak Natha yang dibalas deheman anak bungsunya. Natha langsung menyikap selimutnya dan langsung berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Ayahnya.


Sang Ayah menutup pintu dan keluar dari kamar Natha, sedangkan Natha langsung membersihkan diri di dalam kamar mandi dengan keadaan yang masih mengantuk.


Natha menuruni anak tangga dengan berlari tergesa-gesa karena mendengar omelan Bang Nabil yang menyuruhnya cepat, sesampai di hadapan keluarganya ia kembali berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Nathaaaa..." teriak Bang Nabil lantang seraya mengangkat kepalan tangan kanannya karena kesal dan gemas pada adik bungsunya yang menurutnya sangat-sangat mengulur waktu.


"Sabar Bang Bil, mungkin ada yang ketinggalan," ucap Bunda seraga mengelus lengan Bang Nabil yang dibalas anggukan dan helaan nafas panjang anak sulungnya, sedangkan Ayah dan Bang Nizal hanya menahan tawa melihat ekspresi Nabil yang menahan kesal.


Natha berlari menuruni tangga dengan membawa sling bag efg navy kesayanganya. Ia berlari keluar dari rumah dengan wajah tak bersalahnya, ia sangat acuh tak menghiraukan wajah sang Abang sulungnya yang melotot melihatnya.


"Udah ayo berangkat!" ucap Natha seraya memasuki mobil, membuat Bunda dan Ayah tersenyum sambil mengelengkan kepalanya.


"Ayoo cepet semua, lama amat!!" teriak Natha mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil pajero Ayahnya.


"Ditabok boleh nggak sih tuh bungsu laknat," ucap Bang Nabil yang mendapat pukulan kecil dari Bunda.


"Boleh aja, tapi kamu Ayah sunat lagi," ucap Ayah pada Bang Nabil yang membuat Bunda dan Bang Nizal tertawa terpingkal-pingkal.


"Ngeri amat Yah ngancemnya.." jawab Bang Nabil seraya berlari menuju mobil.


Setelah 1 setengah jam perjalanan mereka lalui, Natha sekeluarga mengeluarkan barang-barang dari bagasi yang mereka bawa dari rumah. Tidak banyak barang yang mereka bawa, Natha dan kedua Abangnya hanya membawa tiga ember kecil dan skop, sedangkan Bunda dan Ayah membawa bekal, payung dan tikar yang tidak terlalu besar.


Mereka membangun istana menggunakan ember dan skop yang mereka bawa diiringi gurauan dan canda tawa mereka. Sedangkan Bunda dan Ayah piknik sendiri diatas tikar dan dibawah payung.


"Mereka kayak bocil ya Bun," ucap Ayah seraya menyenderkan kepalanya dibahu Bunda.


"Iya Yah, tapi nggak kerasa ya sebentar lagi mereka pasti menempuh jalannya masing-masing. Dulu sering berantem berebut mainan, saling bantu ngerjain tugas, bantuin Bunda berberes, huff... Bunda masih nggak mau pisah sama anak-anak Yah." ucap Bunda seraya tersenyum hangat.


"Ayah juga belum mau pisah Bun, tapi namanya manusia kan pasti punya tujuan hidup, kita sebagai orang tua harus mendidik, mendukung, dan mengarahkan mereka ke jalan yang lurus, semoga mereka bisa menjadi anak yang sholeh sholehah, bahagia selalu, dan berguna bagi nusa bangsa amin. Udah jangan bersedih, Ayah yakin mereka nggak bakal mengecewakan kita hehe." ucap Ayah seraya terkekeh menatap Bunda.


"Amin," ucap Ayah dan Bunda bersamaan.


"Yah, Bunda takut sama kondisi Natha, dia masih sering ngeluh kepalanya pusing,"


"Bunda tenang aja, tomboy sayang kita nggak bakal kenapa-napa lagian itukan kejadian 2 tahun lalu, ada Abang-abangnya yang bakal ngejaga dia," ucap Ayah pada Bunda dengan tatapan hangatnya menatap ketiga anaknya yang keasyikan membangun istana pasir.


"Semoga Natha, Abil dan Ical selalu dilindungi Allah," ucap Bunda.


"Amin," jawab Ayah.


Helo guys, makaaih ya yang udah mau baca sama dukung Natha, beri like ama komenya dong..