Aintazar

Aintazar
Aintazar XXIX



Natha berjalan meninggalkan parkiran dan melangkahkan kakinya menuju lapangan, dimana letak acara diselenggarakan. Tak berselang lama ada yang menepuk bahunya membuat Natha menoleh dengan cepat.


"Dari mana sih kok baru dateng?"


"Dari rumah," jawab Natha cuek.


"Udah makan?"


"Udah," jawab Natha menatap ketiga ciwinya yang ada dihadapanya sekarang.


'Tes tes, satu, dua, tiga' suara Wildan dari atas panggung.


"Ehh kak Wildan, kesana yuk, udah mau mulai tuh acaranya," seru Dewi seraya menyeret ketiga sahabatnya.


"Malam guys!!"


"Udah siap guys buat ngeramein acaranya?"


"Siappp!!!" Seru semua siswa siswi yang ada dibawah panggung.


"Sebelum acara dimulai, mari kita sambut ketua Osis kita yang akan menyampaikan sepatah dua katanya untuk membuka acara ini, kepada ketua Osis SMK NUSA BANGSA 01 'ALIANO BARA AL-AHMAD' dipersilakan." Ujar Wildan panjang lebar yang disambut tepuk tangan dari siswa siswi.


Tak berselang lama Bara menaiki panggung dan menerima mick ropon dari Wildan. Lalu Bara mulai menyampaikan kalimat demi kalimat, kata demi kata, dan kata-kata perpisahan yang membuat beberapa siswi merasa terharu hingga menitikan air matanya. Dan diakhiri salam dan senyuman manis Bara ia menyelesaikan pidatonya yang panjangnya nggak seberapa panjang, pokok masih panjang jalan tol, gajelas deh authornya.


Di malam ini ada beberapa acara yang diadakan, ada penyerahan hadiah khusus dari Osis untuk siswa siswi yang berprestasi ditahun ini, puisi atau lagu dari siswa siswi untuk kakak kelasnya yang akan menjadi alumni, dan lain sebagainya.


Disaat acara penyerahan hadiah bagi siswa siswi beprestasi dalam satu angkatan diambil 10 orang, jadi jika kelas X dan XI maka ada 20 orang yang diundang untuk menaiki panggung. Dimulai dari kelas X, satu persatu siswa siswi naik ke atas panggung dan menerima hadiahnya. Dilanjut dengan kelas XI menaiki panggung, nama-nama murid tersebut dipersilakan untuk naik ke panggung dari 10 besar. Saat MC membacakan siswa yang berada di 5 besar, Izul berteriak sangat kencang dan langsung berlari menaiki panggung dengan antusiasnya.


"Selamat Zul," ucap Bara seraya menjabat tangan Izul dan menyodorkan sebuah kotak yang berukuran sedang bertulis angka 5 dengan hiasan pita indah.


Izul dengan antusiasnya menerima hadiah tersebut, dan tak lupa ia memeluk Bara dengan erat yang membuat semua temannya tertawa.


"Malu-maluin deh si Izul," ucap Natha yang menatap Izul diatas panggung.


"Iya sih main peluk-peluk aja, kan Natha jadi cemburu!?" Seru Dewi.


"Yah ada yang panas tapi bukan dari api," sindir Sila seraya terkekeh.


"Ada yang bikin gemesss tapi bukan dedek bayi," Ayu lalu tertawa menepuk pundak Natha kencang.


"Untung ciwi-ciwi tersayang kalo nggak udah gue tabok lo bertiga," ucap Natha menatap tajam ketiga ciwinya yang tertawa terpingkal-pingkal.


"Maapkan kita Donat," ujar mereka bertiga bersamaan, namun tawanya masih terdengar keras, yang dibalas Natha helaan nafas panjang.


Tak berselang lama Izul melepas pelukannya dan berujar. "Makasih kak Bara atas hadiahnya, makasih Osis, love u deh pokoknya, nggak nyangka bisa dapet hadiah," ucapnya seraya tersenyum sumringah.


"Sama-sama Izul yang cakep semoga bermanfaat ya hadiahnya, oke lanjut ya guys.." ucap Wildan seraya melanjutkan membaca daftar murid berprestasi di handponenya.


"Wih namanya ciwi-ciwi cakep semua nih, bjar kompak langsung dipanggil semua ya, setuju nggak?!" Tanya Wildan kepada penonton.


"Barengggg!!!" Teriak penonton.


"Okee, siappp semuaa?"


"Mari kita undang Ayu Aningrum, Sila Sanjaya, Dewinda Hafifa, dan Nathaya Bramana untuk naik ke atas panggung," Wildan mempersilakan mereka berempat untuk menaiki panggung yang di sambut tepuk tangan meriah siswa siswi.


Natha hanya diam berdiri tak menunjukan tanda-tanda untuk menaiki tangga. Ketiga ciwinya menatap Natha kesal, tak menunggu lama mereka menarik tangan Natha dan membawanya kepanggung.


Sesampai dipanggung Ayu menerima kotak bertulis angka 4, Sila menerima kotak berangka 3, Dewi menerima kotak berangka 2, dan Natha menerima kotak berangka 1, ketiga ciwinya menerima kotak dari Bara seraya berterima kasih. Sedangkan Natha hanya diam memandang Bara.


"Aww, sakit tau!?" Natha menatap Dewi tajam, Dewi yang ditatap malah menatap Natha lebih kesal.


"Bilang makasih lah, masak cuma mau menerima lo nya," bisik Dewi lalu melototkan matanya kepada Natha, yang di balas helaan nafas Natha.


"Thanks kak!" Ujar Natha menatap Bara yang berada di depannya.


"Iya sama-sama, semoga bermanfaat ya kadonya, maaf nggak bisa jaga kamu lagi di SMK, yang pinter ya biar bisa satu kampus!" Bara mengelus puncak kepala Natha yang membuat beberapa siswi terpekik melihat sang idola yang mengelus puncak kepala gadis lain. Sedangkan ketiga ciwi Natha hanya melongo melihat perlakuan Bara pada Natha.


"Ih ngapain sih, sok tau emang tau aku mau kuliah dimana, tanganya juga dikondisikan dong, emang aku kucing dielus-elus," ketus Natha yang membuat Bara malah tersenyum manis.


"Masak calon istriku kucing,"


"Sinting!?" Ujar Natha memelototi Bara, lalu mendekati Wildan dan berucap "Udah belum nih, mau turun aku kak,"


"Sabar napa, foto dulu baru turun mbaknya," jawab Wildan diakhiri tawanya.


"Kuy langsung foto, ada yang buru-buru turun nih," goda Wildan pada Natha.


Usai berfoto Natha dan juga lainya menuruni panggung, lalu acara selanjutnya dimulai, Natha meninggalkan lapangan dan berpamitan pada ketiga ciwinya kalau dia mau cari angin seraya ingin membuka kadonya, entahlah hanya itu yang ia ingin lakukan sekarang.


Natha berjalan menaiki rumah pohon yang ia dan ktiga teman cowoknya buat beberapa bulan lalu, rumah pohon itu berada dibelakang gedung sekolah, sangat jarang ada siswa siswi yang akan ke belakang sekolah, biasanya tempat itu digunakan Izul, Ahkam, Zidan dan ciwi-ciwi Natha. Meskipun mereka pandai, baik, tapi mereka tetap murid biasa kok, yang biasa mbolos jam pelajaran, jajan dikantin, keluyuran waktu ada tugas dan lainya.


Sesampainya ia di dalam rumah pohon Natha membuka ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Bara. Natha hanya melihatnya lalu mematikan handponenya.


Ia mulai mengfokuskan pandangannya tertuju pada kotak bertulis angka satu tersebut. Perlahan tapi pasti Natha membuka kotak itu dengan hati-hati, ia menatap barang tersebut dengan raut wajah yang sulit diartikan. Hingga ia dikejutkan dengan suara yang sangat familiar dipendengarannya.


"Itu khusus buat kamu, semoga mukenah sama al-qur'an nya bermanfaat ya,"


"Anak-anak lainya juga dapet kayak gini?" Natha terus memperhatikan dan sesekali menyentuh mukenah yang berbahan kain yang halus dengan warna kesukaan Natha, navy.


"Ya enggaklah, kan kamu spesial, masa' disamaain sama yang lain," Bara menjawab seraya meluruskan kakinya dibawah rumah pohon.


"Kak Bara kok tau aku disini?"


"Mau dijawab bener apa boong!?"


"Kalo bisa dua-duanya kenapa harus satu," katus Natha.


"Boong dulu ya, sebenernya sih karena...,"


"Apa?" Tanya Natha kepo, saat Bara tiba-tiba menghentikan kalimatnya.


Beri like kak, thanks buat yang udah baca.