
Jangan lupa beri like.
Usai membayar barang belanjaan yang dibutuhkan, mereka berdua menuju tempat penjual gorengan, kan nggak memungkinkan sekali ya minimarket jualan gorengan minta cabe ijo lima biji hehe. Sesampainya Natha turun dari motor dan berjalan menuju penjual gorengan pesanan Abang sulungnya, usai membeli gorengan mereka pulang, belum sampai dirumah Bang Nizal menepikan motornya.
"Motornya kenapa dek?" Tanya pak Polisi.
"Bocor pak, ini juga lagi buru-buru ada keperluan mendadak banget pak!" Jawab Bang Nizal dengan wajah paniknya.
"Ohh yaudah, Bapak bantu ya!" Bantu pak polisi yang langsung ikut mendorong motor Natha.
"Makasih ya pak," ucap Natha dan bang Nizal bersamaan yang dibalas acungan jempol dari kejauhan oleh pak Polisi.
_flashback on
"Nath bawa STNK, SIM, KTP?" Tanya Bang Nizal pada Natha.
"Lupa, tapi bawa duit Natha kantongin di jaket,"
Tak berselang lama, Bang Nizal turun dari motor dan mengempeskan ban belakang motor Natha.
"Bang, napa motor gue lu kempesin, mau tabrakan berjamaah, ogah lu aja sendiri!" Ucap Natha menatap tajam Abangnya.
"Eh neng Romlah, gue belum nikah, belum punya bini, belum punya anak, ngapain nyicip nyawa sendiri lu kira gue kucing yang nyawanya ada banyak. Nggak liat apa neng didepan ada bapak polisi lagi ngadain razia, lu mau kita kenak!?" Ucapnya dengan emosi level 1 sambel ijo.
"Lu yakin berhasil Bang?"
"Jangan meragukan kepandaian otak Abangmu ini sayang, dan semoga aja allah melindungi kita hari ini,"
"Serahlu aje, aminnn, terus kita ngapain habis ngempesin ban?" Tanya Natha.
"Dorong motor lah beb, anda kira jika motor ini kita tiup bersama maka akan sampai rumah dengan sendirinya!" Ucap Bang Nizal ketus.
"Sa ae kang cilok, baperan amat lu Bang," jawab Natha terkekeh kecil.
Saat melewati polisi mereka berdua diberhentikan, 'aduh masa kenak tilang' batin Bang Nizal seraya menatap panik Natha yang berwajah slow. 'Awas aja kalo motor gue kenak,' batin Natha menatap tajam Bang Nizal. Tanpa disangka - sangka sang Polisi malah menawarkan bantuan hehe. Usai menjauh dari lokasi bapak Polisi tadi, Natha dan Bang Nizal mampir ke sebuah bengkel kecil untuk mengisi angin di ban belakang motor Natha.
"Maapin Ical pak Polisi, Ical nggak bakal boong lagi kok, kalo nggak kepepet wkwk," ucap Bang Nizal seraya memakai helmnya dan meninggalkan bengkel tersebut.
"Untung hari ini kita selamat Bang, jangan diulangin lagi Bang, kagak tanggung jawab banget lu!" Kata Natha.
"Eh Oneng kan elu juga nggak bawa surat-suratnya, napa nyalahin gua," jawab Bang Nizal ketus.
"Yang bonceng sapa, ya elu lah bang,"
"Serah lu lah, cewek selalu benar dah."
•••
Sesampai Dirumah
"Eh dek, tadi kamu kayak nggak bayar deh di bengkel tadi!?" Tanya Bang Nizal seraya menyahut kantong belanjaan Natha.
"Hah.., anu ehmm, Bang Ical aja yadi yang nggak lihat, Natha bayarlah," jawab Natha.
"Ya juga sih mungkin abang kagak lihat kamu tadi bayar, nggak mungkin juga sih kamu utang ke bengkel orang,"
"Hehe itu tau,"
"Hemm, udah yuk masuk, ditanya gitu aja grogi amat tuh muka," ujar Bang Nizal seraya menatap Natha dan merangkilnya dari samping.
"Hah.. enggaklah b aja nih muka w,"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam wahai gorengan, lama amat kalian belinya," jawab Bang Nabil yang lansung menyomot kantung berisi gorengan.
"Yaiyalah, tukang gorenganya agak jauh tadi," jawab Bang Nizal.
"Abang kira beli di minimarket," ujar Bang Nabil seraya berjalan menuju dapur. Sedangkan Natha dan Bang Nizal duduk di sofa bermain handpone masing-masing.
"Mana ada bang?!" Jawab Natha.
"Kan cuman ngetes, siapa tau kamu ketularan ege nya Ical," ucapnya dengan kekehannya.
"Si ege menghina adiknya, dan sang adik hanya meneriman hinaan abang ege nya." Balas bang Ical seraya menyomot gorengan yang ada di piring Bang Abil yang kembali dari dapur.
"Eh Cal, main comot aja,"
"Bah,"
"Bisa diem nggak!" Ucap Natha kesal.
"Nggak," ucap kedua abangnya kompak.
"Terserah deh, pusing Natha," ucap Natha seraya berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dengan kantong belanjaan ditanganya.
"Ngambek?" Tanya Bang Nabil pada saudara kembarnya seraya menaikan kedua alisnya, yang dibalas gidikan bahu dari Bang Nizal.
•••
"Kakak bakal balik lagi kan?" Tanya anak kecil yang berada digendongan seorang pemuda.
"Iyaaa... kakak bakal balik lagi, kalian nggak boleh nakal ya, jaga kesehatan, rajin belajar oke, nggak boleh nyusahin Umi, bye semua." Ucap sang pemuda seraya menurunkan perempuan berumur lima tahunan itu.
"Dadah kak Bara..." ucap mereka seraya tersenyum dan melambaikan tanganya pada Bara. "Hati-hati nak Bara, sekali lagi terima kasih," ucap seorang wanita paruh baya.
"Iya Umi, sama-sama, dadah semua assalamualaikum," ucapnya seraya melambaikan tanganya.
"Waalaikumsalam kak, hati hati, bye bye kak," jawab mereka.
Di Dalam mobil
"Lagi ngapain ya dia?" Tanya Bara pada dirinya sendiri.
"Padahal bukan siapa-siapa, nggak deket juga, kok kangen ya?!" Gumam Bara seraya terkekeh geli dengan penuturanya sendiri.
'Mengapa jadi rindu suaranya, telpon aja deh nanti,' batin Bara dengan senyuman manisnya yang menghiasi wajah tampannya.
Sesampai dirumahnya, Bara langsung membersihkan badannya dan merebahkan tubuh diranjang kesayanganya dan menatap handpone yang ada digengamannya. Tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi nomor sang pemilik suara yang beberapa minggu belakangan ini selalu rutin Bara telpon dan alhasil sang pujaan sudah tak sedingin sebelumnya.
"Assalamualaikum,"
(*Waalaikumsalam, ada apa?) Tanya seorang wanita disebrang yang membuat Bara kembali tersenyum.
(Haloo)
(Halooo, kalo nggak penting saya tutup telponya*,)
"Ehh, halo, em kamu lagi ngapain?" Tanya Bara gelagapan.
(Rebahan, kakak sendiri ngapain nelpon saya?)
"Kangen!" Ucapnya pelan hampir seperti bisikan.
(Hah, gimana gimana?)
"Em maksudnya gimana ujian kamu?" Tanya Bara gelagapan.
(Alhamdulillah lancar sih, kak Bara sendiri gimana?)
"Alhamdulillah, lancar juga,"
(Kak Bara, lulus SMK nerusin kuliah?)
"Tumben kamu kepo, maunya sih kuliah, kalau kamu?"
(Kepd an banget, kan Natha cuman tanya, kalau Natha mungkin juga ngelanjut kuliah.)
"Udah magrib nih, udah sholat magrib belum?"
(Belum,)
"Mau disamperin nggak?"
(Buat apa?)
"Nikahin kamu biar kamu bisa jadi makhmum ku," ucap Bara seraya terkekeh.
(Yaelah kak, receh amat, emang saya mau sama kakak)
"Jangan terlalu formal kenapa, nyaman aku kamu,"
(Jangan terlalu nyaman, siapa tau bukan jodoh nanti sakit hati, galau, merana, kecewa, kan nggak boleh berharap sesama manusia,) jawab Natha seraya terkekeh.
"Iya deh, tunggu aku ya!"
(Nunggu apa?)
"Lamaranku,"
(Kak Bara ngelamar apa, udah mau kerja?)
"Ngelamar kamu Nath,"
(Ih, Natha kan nggak mau sama kak Bara,)
"Meskipun kamu nolak, kalau jodoh mah nggak kemana, siapa tau di masa yang kan datang kamu mau sama aku,"
(Seterah terah terah)
"Yaudah aku tutup dulu ya, kamu sholat dulu jangan lupa belajar, semangat ujiannya!" Ucap Bara.
(Iya Assalamualaikum,) ucap Natha langsung menutup telponnya.
"Waalaikumsalam calon istri," ujar Bara terkekeh, padahal sambungan telpon telah di matikan Natha.
Makasih udah baca, minta tolong dong beri Natha like, sama komenanya. Oke thanks.