
Hening, sunyi, sepi, tak ada suara sekecil apapun yang terdengar, walau ruangan tersebut ditempati oleh beberapa makhluq astral.. eh bukan makhluq astral, maksud w manusia (garing bingit wkwk). Mereka sangat fokus pada soal-soal didepan mata, mereka sedang fokus pada Ujian Kenaikan Kelas yang dulu sempat tertunda beberapa kali.
Waktu terus berjalan, dan Ujian berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Beberapa saat kemudian seluruh siswa SMK NUSA BANGSA 01 kelas X, XI, XII keluar dari kelas masing-masing karena Ujian hari ini telah selesai dan masih ada beberapa sisa hari lagi untuk berjuang demi naik kelas.
"Gimana punya kalian tadi?" Natha bertanya seraya menuangkan sambal ke mangkuk baksonya.
"Susah bener tadi soalnya yang terakhir, tapi alhamdulillah banyak yang bisa," jawab Ayu, saat ini mereka tengah berada dikantin sekolah. Sebelum pulang mereka berempat menyempatkan diri untuk ke kantin sekolah bertujuan untuk mengisi perut mereka.
"Iya bener, susah-susah gampang gimana gitu," jawab Dewi.
"Lumayanlah soalnya buat otak gue yang agak membahana ini," Ucap Sila seraya memakan baksonya.
"Yakin aja, pasti kita dapet nilai bagus!" Ucap Natha menyemangati ketiga sahabatnya.
"Aminn." Jawab ketiga ciwinya bersamaan.
"Hello cantik cantik!!" Pekik Izul menghampiri Natha dan ciwi ciwinya.
"Boleh gabung nggak?" Tanya Ahkam.
"Duduk aja kale!" Jawab ciwi ciwi Natha bersamaan.
"Gimana Ujian kalian, bisa?" Tanya Natha pada ketiga teman lelaki sekelasnya.
"Omg itu susah tau, gue udah belajar tapi bener bener susah deh," jawab Izul alay :v
"Itu emang otak lu aja yang nggak mencapai standar," jawab Zidan seraya mengejek Izul.
"Dulu aku pernah pinter, cuman nggak diasah aja, terus ketemu lu berdua bodo aku!" Ucap Izul mengerucutkan bibirnya yang dibalas gelak tawa mereka.
"Ngidam apa dulu emak lu Zul anaknya kok gini?" Tanya Dewi seraya mengeleng kecil.
"Ya mana gue tau, ntarlah gue tanya," jawabnya seraya menimun es tehnya.
Usai Ahkam, Zidan, dan Izul makan
"Kita balik dulu ya, bye cewek cewek cantik!" Ucap ketiga cowok itu bersamaan.
"Cepet amat baliknya!" Ucap Natha.
"Iya, mau belajar bareng kita, mau ikut?" Ajak Zidan.
"Kita mau belajar sendiri aja deh kalian dulu aja," jawab Sila.
"Oke bye," ucap Ahkam.
Sepeninggal ketiga cowok tadi, mereka berempat kembali ke rumah masing-masing dan memutuskan untuk belajar bersama di rumah lewat video call. Sesekali mereka bercanda bersama seraya belajar bersama membahas materi-materi yang masih agak membinggungkan. Usai belajar bersama, Natha turun dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga menuju dapur. Sesampai di dapur, ia melihat seseorang yang sedang memunggunginya dan mengobrak abrik kulkas dengan kepala orang itu setengah memasuk kulkas.
Natha mendekati orang itu dan...
Plak...
"Ngapain sih?" Tanya Bang Nabil menatap Natha yang sudah memukul bahu Bang Nizal.
"Nggak jadi ngagetin Bang Ical, gegara lu ganggu, niat gue mau ngagetin malah jadinya nabok,"
"Ngapain sih, kok pakek nabok Abangnya kualat nanti kamu," Ucap Bang Nizal menatap tajam Natha, dan kembali memasukan kepalanya ke kulkas.
"Adanya anda yang sedang apa didalam lemari es tersebut," ucap Natha seraya mengambil sebotol air dingin di pintu kulkas.
"Lagi nyari kunci mobil," jawab Bang Nizal.
"Kok bisa, ngapain kunci mobil kamu masukin ke kulkas, mau buat es wawan rasa kunci, ada rasa apa aja emangnya, nyobak ya kalo udah jadi, jangan lupa temuin kuncinya nanti kena marah Bunda gegara lecet kulkasnya,"
"Dasar ceroboh, ngapa dimasukin kulkas tuh kunci,"
"Hadeuh Bambang, Romlah, bikin kesel aja, bantuin dong mangkanya jangan ngoceh mulu luh jadi manusia!" Kesal Bang Nizal mendengarkan ocehan kembarannya.
"Susah punya sodara sama sama sedeng, nggak pengertian, dan berperikemanusiaan." jawab Bang Nizal seraya mengeluarkan satu persatu isi kulkas dan menaruhnya diatas meja.
"Ehh Bang Cal, la di saku celana itu apa?" Tanya Natha seraya menunjuk menggunakan dagunya.
"Kunci mobil,"
"Laitu ketemu, ngapa dicari lagi ege?"
"Heuhh, kenapa nggak dari tadi bilangnya!"
"Anda tidak bertanya kepada saya Ropeah!" Ucap Natha pada Bang Nizal dan langsung meninggalkan kedua Abangnya menuju kamarnya.
"Gue kira cuma gue yang agak ege, ternyata ohh ternyata kembaranku jauh lebih ege dariku hahaha!" Ucap Bang Nabil seraya tertawa keras melihat adiknya mengembalikan isi kulkas tadi dengan menatap Abangnya sebal.
Tak berselang lama, Natha turun dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan helm dan kunci motornya. Ia mengenakan hoodie kuning, celana kain hitam, dan sandal swallow biru nya.
"Mau kemana?" Tanya Bang Nabil yang sibuk menonton televisi menoleh ke Natha yang hendak membuka pintu.
"Minimarket."
"Ikut!!" Ucap Bang Ical seraya berjalan mengambil helmnya.
"Yah mumpung kesana nitip ya dek, nggak banyak kok, nitip coklat aja deh... sama roti coklat, susu coklat, sama gorengan cabenya lima aja jangan lama keburu dingin ntar, sama bilangin ke mbaknya cabenya yang ijo aja, udah itu aja, silakan berangkat!" Cerocos Bang Nabil.
"Eh Bambang gue mau ke minimarket bukan ke-"
"Udah deh dek, kalo di sana nggak ada yang jualan gorengan, beliin di minimarket mana kek, gitu aja repot!" Ucap Bang Nabil santai.
"Huff... serahlu, mana duitnya?"
"Duit elu lah, kalo nggak ada utang duit Ical aja, kalo inget abang ganti deh, beneran dah!" Jawabnya yang mendapat tatapan horor Natha dan Bang Nizal yang baru balik mengambil helmnya.
"Banyak pahalanya lohhh, aminnn..." ujar Bang Nabil seraya mengusap wajahnya.
"Dasar manusia paling tidak BER-MO-DAL," ejek Natha seraya berjalan keluar rumah diikuti Bang Ical dari belakang.
•••
Sesampai ditempat tujuan Bang Nizal memarkirkan motor Natha dan berjalan bersama memasuki minimarket yang dituju.
"Kembaran lu ege nya kelewatan deh bang, masak beli gorengan di minimarket," ucap Natha seraya memasukan roti coklat ke keranjang belanjaanya.
"Kagak tau dah itu nurun dari siapa," jawab Bang Nizal seraya terkekeh kecil.
"Nggak mungkin Ayah, nggak mungkin Bunda, kalo anak pungut juga nggak mungkin karena wajahnya mirip elu Bang Cal, apa kalian berdua sama-sama anak pungut HAHAHA!?" ucap Natha cekikikan yang dibalas tatapan datar abangnya.
"Puas ketawanya?" tanya Bang Ical pada Natha. "Ya nggak mungkin anak pungutlah kalo gue sama abang anak pungut elu anak apa, demit, wewe, kunti!" tatapannya yang datar membuat Natha semakin tertawa.
"Yaampun Bang Cal, baperan amat lu!?" jawab Natha yang dibalas pelototan abangnya.
"Bang Ical mau beli apa?"
"Parfum,"
"Dirumah kayak masih ada deh!" Ucap Natha seraya menahan tawa karena Banagnya masih ngambek.
"Dihabisin sama abang,"
"Ada dua kemungkinan Bang Cal, pertama bisa jadi di buat mandi parfum, kedua bisa jadi di minum sampek otaknya kayak gitu," jawab Natha cekikian.
"Bisa jadi tuh," jawab Bang Ical seraya tertawa kecil.
Hello... makacii udah mau baca, beri Natha like okee THANKSSSS