Aintazar

Aintazar
Aintazar VII



Pada keesokan paginya, Natha terbangun karena suara adzan subuh berkumandang, lalu ia segera mengambil air wudhu dan mukenahnya yang berwarna navy lalu ia berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawahnya untuk berangkat bersama familynya menuju masjid dekat rumah Natha.


Semua sudah berkumpul dibawah, lalu mereka semua berangkat menuju masjid.


Seusai menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid, mereka berjalan kembali ke rumah. Saat diperjalanan Bunda bertanya.


"Kenapa dahi kamu sayang?" tanya Bunda.


"Ohh tadi malem Bun kena dashboardnya kak Bara, dia tiba-tiba ngerem mendadak gitu tapi udah nggak sakit kok." jawab Natha tanpa ragu-ragu yang dibalas 'oh' oleh semua familynya.


"Alhamdulillah kalo udah nggak kenapa-napa!" seru Bunda.


"Nath," panggil Ayah, Natha yang sedang di bopong oleh Nabil dan Nizal langsung menoleh ke belakang dan turun dari bopongan abang-abangnya.


"Ada apa Yah zeyeng?" ucap Natha sambil merapikan mukenahnya menghadap ke belakang.


"Pulang jam berapa Nath?" tanya Ayah.


"Ohh.. jam sembilan Yah." jawab Natha jujur memang ia tak pernah menyembunyikan apa pun dari semua keluarganya.


"Kamu jangan keseringan pulang malam ya Nath" ujar Bunda.


"Dan kamu gak boleh macem-macem loh, mentang-mentang dibolehin sampek malem nanti kebiasaan, Ayah ngebolehin kamu keluar malem kan karena Ayah percaya sama kamu bisa jaga diri." ucap Ayah dengan nada sedikit mengejek namun penuh makna.


"Siap bun." ucap Natha jelas, padat, singkat sambil digandeng kedua babang tamvannya seperti anak TK.


"Hati-hati lho dek sama cowok, emang kamu deket banget sama dia?" tanya Nizal yang mendapat lirikan malas dari Natha.


"Enggak tuh b aja!" jawab Natha.


"Dari tatapannya sih masih PDKT, tapi kamu gak boleh pacaran dulu dek kamu kan masih kelas sebelas masa depan kamu tuh masih panjang belum lagi kamu kuliah terus kerja, jadi kamu harus fokus ke pendidikan dulu baru cari cowok tapi, bang Nabil tetep dukung kamu, nikah muda juga nggak papa, ehh nggak boleh deh!" cerocos Nabil yang mendapat lirikan malas dari Natha.


"Udah?" tanya Natha sambil memiringkan kepalanya melihat Nabil.


"Apanya?" tanya Nabil balik sambil mengerutkan keningnya.


Natha dan Nizal hanya geleng-geleng melihat sikap Abangnya yang rada ya begitulah.


"Gaboleh dong bang, Natha harus fokus ke pendidikan dulu kalian juga gak boleh ada yang nikah muda, kalian seharusnya ngasih nasehat yang bener dong bang Bil, bang Cal buat adekmu." ucap Ayah tegas namun bersifat sayang tingkat tinggi.


"Jodoh nggak akan kemana sayang," ucap Bunda lemah lembut.


"Iya Ayah zeyeng, bunda sayang." jawab Natha, Nabil dan Nizal bersamaan seraya hormat ke Ayah dan Bunda.


Sesampai dirumah.


"Dek, Bang jangan tidur lagi loh ya, kalian hari ini kan ada jadwal!" ucap Bunda memperingati anak-anaknya agar tidak tidur lagi setelah sholat subuh.


"Hiyoi Bun," ucap mereka bertiga bersamaan.


"Nak supaya nggak ngantuk dan ini masih pagi buta mending ikut Ayah nyuci mobil, hayuk!" ajak Ayah.


"Iya Yah, keatas dulu ya Yah." jawab mereka bertiga seraya menaiki anak tangga menuju kamar mereka masing-masing.


Setelah Natha melipat mukenahnya dan berganti celana dan memakai kerudung instannya, Natha menuju kamar kakak pertamanya.


"Ayo Bang Nabil cepet." ucap Natha yang melihat Abangnya masih melipat sarung dengan lamban, kemudian Natha berjalan menuju kamar abang keduanya.


Belum sampai mengetuk pintu, pintu telah dibuka oleh Bang Nizal. Lalu Nizal mengandeng tangan Natha menuju kamar Nabil. Sesampai dikamar Nabil, Nizal menarik tangan kakaknya yang hendak tidur kembali.


Lalu Nizal menyeret Nabil keluar kamar, menuruni tangga dan tetap mengandeng lembut tangan Natha. Ayah yang melihat mereka pun langsung menaruh kopinya ke meja makan dan berjalan keluar rumah, diteras sudah tersedia empat kaleng dan empat spons kuning beserta sabun didalamnya.


Lalu Ayah membagikan satu persatu kaleng tersebut pada semua anaknya. Nabil, Nizal dan Natha menerima kaleng tersebut dan berjalan mengikuti Ayahya menuju garasi. Tanpa menunggu perintah Ayah mereka langsung mencuci kendaraan mereka masing-masing dengan bergantian selang air.


Lima belas menit kemudian semua selesai mencuci kendaraan masing-masing mereka membereskan kaleng dan spons tadi, namun matahari belum muncul dan jam masih menunjukan pukul 04.55 WIB.


"Udah selesai semua?" tanya Ayah.


"Udah yah." jawab Nabil, Nizal dan Natha bersamaan.


"Yaudah ayo masuk mandi, terus sarapan!" perintah Ayah.


"Woke boss." ucap mereka bertiga bersamaan dan berjalan memasuk ke rumah beriringan seperti kereta api.


Natha dan abang-abangnya menuju ke kamar mereka lalu Natha mengajak abangnya untuk berenang dan tanpa bertanya, mereka langsung membopong Natha dan melemparkan Natha ke kolam. Lalu Nabil dan Nizal juga ikut melompat ke kolam, dan mereka berenang bersama dipagi hari.


"Udah nggak sakit dek dahimu?" tanya bang Nizal.


"Alhamdulillah enggak Bang Cal." jawab Natha.


"Seinget aku sih kak Bara bilang kalo aku bilang apaa.. gitu terus dia spontan nge rem, tapi aku juga nggak sadar sih aku bilang apa." ucap Natha.


"Pasti kamu ngomongnya sambil ngelamun terus baca novel!" ucap bang Nabil.


"Hehe.. nggak sadar dikit kok" ucap Natha lalu kembali ke tepian kolam.


"Lain kali jangan ceroboh ya dek, kamu kan kalo ngelamun mesti ngomong sesuatu hal yang aneh-aneh dan membahayakan!" ucap Nizal yang dibalas deheman dari Natha.


"Bang Abil, bang Ical, Natha, udah ayo cepet mandi sudah jam setengah enam loh nanti kalian telat berangkat!" ucap Bunda agak keras.


"Siap bun.." ucap mereka bertiga bersamaan.


Saat Natha akan berjalan masuk ke dalam rumah, ia di cegah oleh abang-abangnya.


"Dek tunggu dulu, berangkat sama-sama balik juga sama-sama dong, tolong!" ucap Nabil yang mengulurkan tanganya dibalas deheman dan sedikit tawa kecil dari Nizal, tanpa pikir panjang Natha berdiri di pinggir kolam dan menarik tangan kedua abang-abangnya.


"Berat banget sih bang, makan apa sih kalian body tepos tapi kok berat!" ucap Natha mengejek dan dibalas pelototan tajam dari kedua abangnya.


Saat mereka sudah ditepi kolam semua, Nizal mengedipkan sebelah matanya mengarah ke Nabil, Natha yang melirik Nabil dan Nizal merasakan firasat yang tak enak. Tanpa hitungan, kedua abangnya langsung mendorong Natha hingga Natha kembali tercebur ke kolam.


"HAHAHAHAHAHAHA..." ketawa keras Nabil dan Nizal melihat Natha tercebur kembali ke kolam.


"Siapa suruh ngatain berat, dan kamu kok nggak sadar kalo kamu juga tepos kayak kita!" ucap Nizal sambil bertolak pinggang melihat Natha mengerucutkan bibirnya sembari melolot ke arah Nabil dan Nizal yang kembali tertawa.


"Kita... elo aja kali gua mah enam kotak!" ucap Nabil sambil tertawa dan Nizal kuga ikut tertawa lagi. (ketawane nular gitulo ceritanya)


"Seneng?" tanya Natha sinis.


"Banget!" ucap si kembar bersamaan dengan nada sangat bahagia.


"Tolong dong!" ucap Natha sembari mengulurkan kedua tanganya, yang di sambut oleh kedua abangnya, lalu Natha menarik kuat kedua tangan abang-abangnya. Lalu mereka bertiga kembali tercebur bersamaan ke kolam.


Namun, Natha langsung naik ke tepi kolam dan mengejek abang-abangnya.


"Blekk..." ejek Natha ke si kembar, sembari mengambil handuk kimononya dan berlari menuju kamar mandi dekat dapur.


"Yaampun..." ucap Nizal.


"Natha resekkkk.." teriak Nabil dan Nizal bersamaan.


Lalu mereka kembali ke kamar masing-masing lalu mandi dan sarapan bersama di meja makan.


Beri Natha like, dan komenan anda, thanks...