Aintazar

Aintazar
Aintazar XII



Natha yang mendengarkan perintah itu hanya mengerutkan dahinya dan ia merasa ada kejanggalan di kelompoknya.


"Kalian masih nanya kenapa saya hukum, saya kan sudah bilang hari Sabtu tugas kerja kelompoknya kalian kumpulkan di rumah saya. Tapi mana tugas kalian.. mana... satu kelas bahkan satu sekolahan juga sudah tau rumah saya!" ucap B.Ami dengan nada amarahnya level dua.


"Maaf B.Ami tapi tugasnya dibawa Maira Bu, katanya sudah diberikan ke ibu." ucap Ahkam dengan hati-hati pada setiap kalimat takut disemprot oleh sang guru killer.


"Kalo tugasnya sudah diberikan ke saya, nggak mungkin saya marah-marah ke kalian, saya kasih waktu penyerahan tugas yaitu besok harus ada, sekarang pergi ke lapangan hormat sampai jam istirahat berakhir, cepat!" ucap B.Ami tegas dan penuh amarah diakhir kalimat.


Kemudian Natha msngucap salam dan menyalami B.Ami seraya berjalan menuju lapangan mendahului ketiga temannya.


Di Lapangan🏟


Natha menghadap tiang bendera dan langsung mengangkat tanganya dan menempelkan ujung jarinya di pelipis sebelah kanan, membentuk sebuah gerakan hormat.


Ahkam, Izul, dan Zidan menyusul Natha. Mereka hormat bersama kepanasan bersama. Saat hukuman mereka masing berlangsung, Natha menahan haus di tenggorokannya yang kering. Beberapa saat kemudian Natha membuka pembicaraan dengan nada datar, dingin yang terkesan cuek namun terdapat sejuta makna.


"Ada yang bisa jelasin?" tanya Natha tanpa menoleh ketiga temannya.


"Maaf Nath ini salah kita, seharusnya kita ngomong ke kamu dulu!" ucap Izul menolehkan kepalanya menatap Natha.


"Iya Nath maaf kita salah!" sambung Ahkam.


"Maksud kalian?" tanya Natha sekali lagi dengan nada bicara lebih dingin dari sebelumnya yang membuat ketiga temannya merinding.


"Gini Nath emm.. waktu dirumah kamu kan Ahkam ngasih tugas kelompok kita ke Maira semua, terus Ahkam nyuruh Maira buat kesimpulan dari tugas kita, terus Maira udah bilang ke kita kalo tugasnya udah dikasih ke B.Ami, terus kita percaya aja soalnya kita waktu itu juga ada urusan masing-masing jadi gak ada waktu buat panjang lebar lagi, terus waktu kamu tanya tentang tugasnya maaf kita juga nggak tau gimana jadinya cuma dapet info dari Maira kalo tugasnya udah diserahin, jadi ya.. kita disini!" jelas Zidan dengan wajah menunduk dan bibir gemetaran takut menatap Natha.


"Ini akibatnya kalo kalian nggak mau jujur sama gue dan nanti sore kalian harus ngambil itu tugas ke rumahnya Maira, kalo sampai besok nggak kalian bawa siap-siap gue kasih kejutan kalian," ucap Natha datar dan masih menatap ketiga temannya.


"Iy..iyaa..." ucap mereka bertiga bersamaan.


"Maaf Nath ini bener-bener diluar dugaan kita," ucap Ahkam yang gemeteran ditatap tajam Natha.


"Careless (ceroboh)!" ucap Natha datar seraya kembali menghadap ke depan.


"Maaf." ucap mereka bertiga bersamaan yang dibalas deheman oleh Natha.


Satu setengah jam berlalu, kini semua siswa SMK NUSA BANGSA 01 telah keluar dari kelas masing-masing, banyak yang memperhatikan Natha dan ketiga lelaki bersama Natha yang sedang dihukum. Natha hanya bersikap seperti biasa datar, acuh, dan tak menghiraukan pembicaraan orang.


Tiba-tiba saat Natha hormat sambil memejamkan matanya, terjemur dilapangan seperti ikan asin, Natha merasa ada bayangan yang menutupinya dan itu membuatnya tak merasakan panasnya terik matahari lagi. Saat ia membuka mata didepan sudah ada Bara yang menutupinya dari terik matahari.


"Minggir," ucap Natha dingin, singkat, namun Bara seolah tak mendengarkannya dan tetap tak bergeming ia masih tetap pada posisinya.


Natha yang tertutupi Bara pun mendongakan kepalanya ia menatap Bara dengan tatapan dingin dan mencekam. Bara yang ditatap seperti itu langsung menoleh ke arah lain dengan memasukan ledua tanganya ke saku celananya.


Natha masih dengan tatapan dinginnya memandang Bara, tak berselang lama Bara meninggalkan Natha yang masih dengan hormatnya dilapangan. Ahkam, Izul, dan Zidan yang melihat adegan tersebut hanya terdiam. Natha menoleh pada ketiga temannya yang langsung menunduk saat ia tatap.


"Kenapa?" tanya Natha masih menatap keyiga temannya yang menunduk.


"Kenapa kalian kayak ketakutan gitu, tenang.. gue gak gigit jadi jangan takut!" ucap Natha seraya kembali menghadap ke depan, yang dibalas anggukan dan tawa kecil ketiga temannya.


Dengan tiba-tiba, B.Ami datang dan menyuruh mereka untuk kembali ke kelas, menurut B.Ami hukumannya sudah cukup. Tanpa membantah B.Ami ke empat anak manusia tersebut kembali ke kelas dengan keringat bercucuran.


"Enak ya kalian!" ucap Izul kepada Natha, Ahkam dan Zidan.


"Dihukum, mana ada yang enak!" ucap Ahkam.


"Ada-ada aja lho Zul." ucap Bara.


"Ya enak lah kulit kalian putih, kalo keringetan kelihatan glowing. Lah gue kenak panas keringetan malah kayak habis ke siram solar." ucap Izul yang membuat Ahkam, dan Zidan tertawa. Sedangkan Natha hanya geleng-geleng dan tertawa kecil.


"Gapapa, lho item-item manis kok!" ucap Natha sambil memasukan kedua tangannya ke saku dan berjalan mendahului temannya, ketiga temannya yang mendengarkan penuturan Natha tercenggang dan membulatkan matanya.


Natha berjalan baru beberapa langkah dan berbalik ke belakang melihat ketiga temannya yang diam mematung.


"Tapi bo'ong!" ucap Natha diakhiri senyumnya yang manis menahan ketawa pecahnya, seraya memasuki kelas.


Ahkam, Izul dan Zidan hanya melongo saat Natha tersenyum menahan tawanya. Jarang-jarang mereka melihat tawa Natha yang menurut mereka manis.


"Natha jahat ya sama gue, habis dibawa terbang ke langit langsung dihempaskan ke bumi. Sakit sih, tapi sakitnya langsung hilang waktu Natha tersenyum." ucap Izul sambil tersenyum.


"Nggak salah sih Natha kalo bilang bo'ong, kenyataannya lho gak ada manis-manisnya." ucap Ahkam sambil tertawa.


"Emang lho pahit Zul," sambung Zidan dengan tawa.


"Emang sih gue gak manis, emang gue air mineral ada manis-manisnya, tapi gue ganteng kok!" ucap Izul dengan PD, yang dibalas jitakan Ahkam dan Zidan dikepala Izul, mereka langsung lari meninggalkan Izul yang berteriak marah.


Di dalam kelas🏛


Natha langsung duduk di kursinya, Dewi, Sila, dan Ayu baru datang dari kamar mandi menghampiri Natha yang berkeringat dan memerah, Sila menyodorkan tissu dan mereka menyuruh Natha untuk tidur. Natha membalas dengan ucapan terima kasih dan deheman. Kemudian Natha tertidur dengan menghadap tembok, Dewi duduk disebelah Natha, Ayu dan Sila duduk didepan meja Natha.


Ahkam, Zidan, dan Izul yang baru sampai kelas langsung di introgasi oleh ketiga ciwi ciwi Natha. Lalu mereka menceritakan hukuman mereka yang disebabkan oleh Maira.


Tak berselang lama Bara datang menuju kelas Natha, dan membawa sebotol air mineral. Tiba-tiba ia duduk di sebelah Natha. Natha yang merasakan adanya orang asing, langsung membuka matanya dan mendapati Bara yang menyodorkan air mineral ke Natha.


"Buat apa?" tanya Natha sambil mengerutkan dahinya.


"Mandi... ya di minumlah, tapi minumnya pas udah buka puasa aja, gaboleh mokel!" ucap Bara seraya meninggalkan kelas Natha.


'Dari mana dia tau gue puasa, biarin deh terserah si ketos.'


Makasih buat udah baca.


beri like okkeee