
Mereka pun bersiap-siap menuju rumah Natha menggunakan kendaraan masing-masing serta membawa seragam juga tas sekolah mereka. Rencana mereka akan menginap dirumah Natha dan berangkat sekolah bersama.
______________________________________________________
🌈Sohib terter🌻
______________________________________________________
♡Dewi
Otw Nath sayang!
♡Sila
Me too..
♡Ayu
Tunggu ya, ini gua udah jemput papa. Habis itu langsung nyusul. Bye bebz love you_-
○Natha
Nggak usah keburu-buru guys, selow aje pintu rumahku selalu terbuka untukmu :v
♡Ayu
👍🏼
♡Dewi
👌🏻
♡Sila
Siap bu boss👋🏻
______________________________________________________
Dirumah Natha, ia sedang berbaring di sofa ruang tamunya. Natha berjalan menuju dapur dan melihat Bi Titik yang sedang memasak untuk ciwi-ciwinya. Natha berujar menawarkan diri untuk membantu Bi Titik. Namun Bi Titik menolak dengan halus.
"Ada yang bisa di bantu Bi?" tanya Natha menawarkan diri.
"Makasih neng, tapi bibi bisa sendiri kok." ucap bi Titik seraya tersenyum mengarah ke Natha yang dibalas telunjuk dan ibu jari menyatu serta anggukan kecil dari Natha.
Natha hanya memperhatikan bi Titik yang sedang memasak, dan hanya ada keheningan didapur. Tak lama kemudian Natha memecahkan keheningan dengan bertanya.
"Bunda yang ngelarang ya bi' kalo Natha gak boleh masak, lebih sayang dapurnya si Bunda. Ya emang bener juga sih bi' kalo Natha gasuka masak, kan Natha sekolah juga bukan di jurusan tataboga." ucap Natha seraya mengerucutkan bibirnya dan menumpangkan dagunya ditangan, yang membuat bi Titik terkekeh melihat eneng kesayangannya cemberut.
"Ya enggak gitu juga neng, Bundanya eneng kan khawatir sama eneng." ucap bi Titik.
"Apa mungkin Bunda masih greget ya sama Natha. Dulu kan Natha hampir ngebakar dapur bi'?" ucap Natha seraya mengingat-ingat kejadian satu tahun lalu yang membuat bi Titik tiba-tiba tertawa ngakak yang membuat Natha kembali mengerucutkan bibirnya lagi.
_Flashback on
Natha POV
"Nath sayang.." panggil Bunda agak keras yang membuatku menghentikan permainan game online yang ada di handpone ku. Segera aku menuruni satu persatu anak tangga dan turun ke bawah menemui Bunda, melihat Bunda yang ada didapur sambil menggoreng sesuatu, aku hanya menatapnya dari belakang punggungnya dan aku merasakan sesuatu yang tak mengenakan akan muncul.
"Adek sayang.. bisakah Bundamu ini meminta tolong padamu cantiku?" tanya Bundaku.
"Ada apa Bun." ucapku seraya mendekat.
"Tolong kamu gorengkan ya sisa tempenya, cuma dikit kok gorengnya!" pinta bunda.
"HA.. (ucapku kaget), Bunda kan tau Natha nggak bisa masak. Apalagi ngoreng, numis, nyincang, ngukus, dan kawan kawannya." ucapku menyikap kedua tanganku didepan dada seraya memanyunkan bibirku yang membuat Bundaku terkekeh dan tersenyum manis.
"Bunda yakin kamu bisa, itung itung belajar dek." ucapnya lagi diakhiri senyum manis.
"Sebentar doang nggak sampek dua puluh menit kok dek, Bunda mau beli ayam sama sayur ditukang sayur depan. Sama mau ke rumahnya bu RT, mau ngasih uang arisan. Bentar doang kok dek, itu gorengnya sampek warnanya keemasan ya. Jangan lupa dibalik tempenya biar nggak gosong. Bunda tinggal dulu, assalamualaikum sayang." ucap Bunda seraya meninggalkanku didapur sendiri.
"Waalaikumsalam Bun."
"Bi Titik ngapain sih pulang ke rumah Oma, Opa emang ada apa coba' kan jadi gini deh. Udah nggak bisa masak disuruh goreng tempe lagi, yaallah.." omelku yang greget sendiri sambil membolik-balikan tempe diwajan dan agak ketakutan karena minyak yang panas seraya berpegang tutup panci sebagai pelindung.
"Astagfirullah, kapan nih tempenya mateng. Apa gue kecilin aja ya kompornya." ucapku mengerutu seraya mengecilkan kompor tersebut.
15 menit kemudian
"Bunda masak bohong sih, mana warna keemasannya kok gak muncul muncul, capek gue disini berdiri terus terusan nunggu yang gak mateng mateng." ucapku mulai tak sabaran.
"Assalamualaikum sayang." salam Bunda yang kusambut ciuman di punggung tangannya seraya membalas salamnya.
"Bau apa ini dek, kok kayak..." belum sempat ku menjawab, Bunda langsung berjalan cepat menuju dapur dan mematikan kompor yang aku gunakan mengoreng tempe tadi seraya menatap tembok yang agak menghitam entahlah terkena apa itu aku tak tau.
Kemudian Bunda hanya menatapku dengan tatapan yang tak dapatku artikan seperti marah tapi bukan, sedih juga bukan entah apa itu, lalu Bunda bertanya mengapa tempenya gosong. Ku jawab dengan jujur, karena tempenya tidak berubah menjadi warna keemasan dan karena Natha nunggu lama ya jadi Natha berinisiatif kecilin api kompornya. Bunda hanya menghela nafas panjang dan mengelengkan kepalanya menatapku, yang membuatku mengerutkan dahiku tak mengerti maksud Bunda.
Kemudian Bunda menyuruhku berbalik ke kamar meneruskan game onlineku tadi yang terjeda. Sebagai anak yang harus berbakti dan patuh serta menuruti perkataan orang tua aku menyalami Bunda dan kembali ke kamarku meneruskan game onlineku tadi yang kutinggal.
Sore harinya saat makan malam, Ayah menceramahiku agar lebih hati hati saat berada didapur, Bunda yang disebelahku mengingatkan dan takut terjadi apa-apa saat aku didapur. Sedangkan kedua abangku hanya tertawa keras sambil memegangi perutnya.
Aku hanya berdiam mengerucutkan bibirku dan sesekali mengangguk yang membuat semua tertawa.
Flashback off_
Mengingat hal itu sungguh menyebalkan sedangkan bibi yang tengah memasak didepanku hanya menahan tawanya. Kupastikan bibi mengetahui itu dari Bunda, huff...
kembali ke Author POV
"Ting tong... ting tong..." suara bel berbunyi yang membuat bibi bergegas membuka pintu untuk tamunya, namun dicegah oleh Natha.
"Biar Natha aja, mungkin itu ciwi ciwinya Natha bi', bibi siapin aja makanannya meja makan nanti kita makan sama-sama." ucap Natha seraya meninggalkan bibi.
"Makasih neng," uvap bi Titik sebelum Natha meninggalkannya.
Didepan pintu rumah Natha telah berdirilah Sila dan Dewi yang membawa tas sekolah mereka masing-masing.
"Masuklah ciwi ciwiku!" perintah Natha yang dibalas anggukan ciwi ciwinya.
"Kalian mau nunggu si Ayu dulu apa langsung ke kamar?" tawar Natha pada Sila dan Dewi.
"Nunggu aja deh, nanti bareng-bareng ke kamarnya." ucap Dewi.
"Yaps nunggu dulu Nath." ucap Sila sambil mengerlikan sebelah matanya pada Natha.
"Yaudah sambil nunggu Ayu, kalian mau minum apa?" tanya Natha seraya berjalan mengarah ke dapur.
"Yaelah Nath, kayak kita baru sekali aja kesini, nanti kita juga ngambil sendiri." ucap Sila yang diangguki Natha dan Dewi.
"Ikut deh.. gue mau air putih sama teh." timpal Dewi yang mengikuti Natha seraya diikuti Sila, yang dibalas deheman Natha.
Kemudian mereka bertiga berjalan beriringan menuju dapur. Dewi meminta ijin pada Natha untuk membuat teh sedangkan Sila membawa tiga buah gelas untuk mengambil air putih di galon.
"Emang Bunda Tasya sama Ayah Naufal pulangnya masih lama Nath?" tanya Sila.
"Cuman seminggu, bi Titik gue suruh nginep juga sih biar kalo ada apa-apa nggak perlu repot orangnya." jawab Natha yang dibalas anggukan faham dari Sila dan Dewi.
Tak lama kemudian bel rumah Natha kembali berbunyi ia yakin kalau itu adalah Ayu.
Thanks for reading.👋🏻
Beri Natha like, komen kuy komen.