Aintazar

Aintazar
Aintazar XI



Hari Senin telah tiba, Natha bangun lebih pagi dan datang lebih awal, karena setiap hari Senin adalah hari dimana semua siswa SMK NUSA BANGSA 01 berjemur bersamaan dilapangan, atau biasa disebut upacara.


Natha memang tidak pernah mengeluh bila panas-panasan dibawah terik matahari, malah ia akan bersemangat bila itu upacara, memperingati hari kemerdekaan atau hari-hari besar lainnya.


Dan Senin ini adalah giliran kelas Natha sebagai petugas upacara. Di SMK NUSA BANGSA 01 pembagian petugas upacara memang digilir perkelas dan bukan hanya saja Osis yang bisa menjadi petugas upacara, minggu lalu yang menjadi petugas upacara adalah kelas Bara si ketos.


B.Ami menjadi pembina upacara, Natha pemimpin upacara, Ayu pembawa acara upacara atau MC. Dewi, Ahkam dan Izul menjadi kelompok pengibar bendera. Sila menjadi dirigen. Zidan menjadi pembaca do'a, Tini menjadi pembaca UUD 1945 dan Jono menjadi pembawa naskah Pancasila.


Terakhir nih si Bara jadi pengatur upacara karena biasalah si ketos dapet kepercayaan dari guru. Pengatur upacara juga biasa disebut Tura, doi bakal stand by di panggung, tapi di pojok.


Tapi jangan khawatir bro! Tugas utama Tura ini kan memastikan semua perlengkapan upacara ada dan juga siap dipakai, misalnya bendera, dia bakal memastikan lipatan bendera itu benar, jadi waktu petugas pengibar bendera ngibarin, ga bakal kebalik. Atau dia nyiapin mic buat pembina upacara, tapi gak perlu ngomong “tes... tes” sih, cukup diketuk aja micnya.


Sisanya temen-temen Natha yang nggak dapet tugas ikut Sila buat jadi kelompok paduan suara itnung-itung sumbang suara wkwk.


Saat Natha menjadi pemimpin upacara dengan pembawaanya yang tenang dengan selempang bertulis pemimpin upacara bendera dan pandangannya yang terkesan tegas membuat siswa-siswi terasa kagum pada Natha, namun Natha bersikap acuh dan dingin seperti biasa.


Natha adalah orang yang memang akan fokus pada apa yang ia kerjakan, dan acuh tak acuh saat banyak orang yang membicarakanya. Dibalik ke kefokusan Natha yang memandang dan mendengarkan penuturan B.Ami sebagai pembina upacara yang menyampaikan bahwa ujian kenaikan kelas diundur, ada sepasang bola mata yang terfokus memandanginya, senyuman tipis orang tersebut juga menghiasi wajahnya membuat ia semakin tampan.


Bara menatap Natha dengan senyuman tipis, saat Natha melirik ke arah Bara, Bara langsung menundukan kepalanya seolah tak melihat Natha. Bara kaget dengan lirikan Natha dan auto ia menundukan kepalanya.


'Aneh.' batin Natha saat ia melirik Bara yang langsung menundukan kepalanya.


Upacara bendera telah usai, Natha mengucap syukur lalu melepas selempangnya ke rak yang tersedia.


"Balik yuk ke kelas mumpung guru-guru lagi pembinaan." ajak Natha pada ciwi ciwinya yang sudah berkumpul, kemudian ia berjalan mendahului teman-temannya tanpa menunggu jawaban, Natha berjalan menuju kelas seraya memasukan kedua tangannya ke saku celana abu-abunya.


"Mau ke kantin dulu nggak Sil, Dew haus nih?" ajak Ayu, ia memang sengaja tak mengajak Natha karena Natha yang sedang berpuasa dilihat dari sikapnya.


"Nggak deh gue nemenin donat di kelas aja, gue juga udah capek nanti ikut kalian takut khilaf gue kalo liat yang nyegerin hehe!" ucap Dewi cengengesan sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke depan wajah seolah itu kipas.


"Yaudah gue duluan ya sama Ayu ke kantin gapapa kali kalo nggak kuat buka aja, ke kantin dulu ya!" jawab Sila dan tertawa kecil.


"Yaudah duluan ya bilangin ke si donat, bye Wi." ucap Ayu dan Sila seraya melambaikan tanganya dan dibalas lambaian dari Dewi.


Kelas🏛


Natha berjalan menaiki tangga sendirian, ia melangkahkan kakinya menuju kelas. Hari ini menurutnya sangat menguras energi karena, ia sedang berpuasa dan ia tadi usai menjadi pemimpin upacara yang harus mempimpin dengan suara lantangnya.


Kelas saat itu sangat ricuh, ada yang menaiki meja untuk tiduran, berdandan, bermain tik-tok, kejar-kejaran, mengedor-ngedor papan tulis, bermain sapu dan menaiki meja guru sambil bergoyang.


Saat Natha hampir terlelap dalam tidurnya, Dewi duduk disamping Natha, sambil memandangi wajah manis Natha yang tertidur pulas.


"Imut banget sih lho Nath kalo lagi tidur, manis imut-imut gimana gitu pengen nyubit pipi lho deh" lirih Dewi cengengesan kecil sambil memandangi wajah Natha yang tertidur.


"Cubit aja kalo mau!" ucap Natha yang masih memejamkan matanya namun ia masih dapat mendengar lirihan Dewi. Natha walau pemalas namun, ia akan tetap siap siaga disekitarnya.


"Eh bangun Nath, maap kalo ganggu lanjutin tidurnya gue cuma nemenin," ucap Dewi sambil mengaruk pipinya yang tak gatal.


"Katanya mau nyubit, mumpung berbaik hati loh gue, kita ujian kenaikan kelas jadi kapan?" tanya Natha yang masih belum membuka matanya.


"Katanya sih diundur soalnya ada acara apa gitu!" ucap Dewi yang langsung menyubit pipi putih mulus Natha tanpa menunggu jawaban Natha.


Ayu dan Sila yang baru sampai ke kelas juga langsung ikut menyubit pipi Natha. Natha yang merasa banyak tangan di pipinya akhirnya mulai membuka matanya.


"Udah dong, waktunya terbatas kasar banget lagi nyubitnya kalian!" ucap Natha sambil tersenyum tipis dan mengelus-elus pipinya yang memerah.


"HAHA.." tawa pecah ketiga sahabatnya, jarang-jarang loh Natha pipinya mau dipegang, biasanya ia akan menolak secara halus.


Jam kedua sampai jam ketiga dikelas Natha kosong, Natha mengisi waktunya dengan membaca buku sambil mendengarkan cerita Ayu dan Sila, sedangkan Dewi tertidur disamping Natha.


B.Ami tiba-tiba memasuki kelas dan membawa selembar kertas. Natha membangunkan Dewi secara perlahan dengan lembut.


"Kelompok Natha di pembelajaran PAI harap ikut saya, semua kelompok Natha!" ucap B.Ami dengan senyum yang terkesan aneh diwajahnya.


"Ada apa ya bu?" tanya Izul seraya mengangkat tangan kanannya.


"Sudah ikut saja, jangan banyak bicara!" ucap B.Ami seraya berjalan meninggalkan kelas diikuti Natha dan anggota kelompoknya kecuali Maira yang hari ini tidak masuk sekolah dikarenakan sakit menurut keterangan suratnya.


Sesampainya di meja B.Ami beliau langsung menduduki kursinya dan menatap seluruh kelompok Natha.


"Kalian dihukum dilapangan berdiri di depan tiang bendera dan hormat." ucap B.Ami tegas.


"Loh ada apa bu kok dihukum?" tanya Izul agak panik, Ahkam dan Zidan langsung melotot, dan Natha yang mendengarkan perintah itu hanya mengerutkan dahinya dan ia merasa ada kejanggalan di pekerjaan kelompoknya.


Makasih buat yang udah baca, beri like ya...