Aintazar

Aintazar
Aintazar – II Selamat membaca!



Ketika semua mata yang membulat sempurna itu menatap Natha dengan pandangan tak percaya, akhirnya Natha berkata. "Bercanda gue ya kali gue suka dia, mungkin dia salah lihat kali mungkin lo-lo pada yang dilihat."


"Yaampun Natha bikin kaget tau gak, gua kira hati lo udah meleleh!" ucap Ayu lalu menyenderkan punggungnya ke kursi yang didudukinya.


"Gua juga kaget tau si cewek balok bisa suka cowok!" ucap Dewi dan Sila bersamaan dan saling pandang.


"Biasa aja kali, nanti juga ada waktunya sendiri jangan mikirin cowok, udah deh lanjutin aja makannya, terus main ke lapangan siapa tahu ada bola nganggur buat main!" ajak Natha yang meninggalkan ketiga sahabatnya yang bertanya tanya kenapa Natha tumben bercanda kayak gitu.


"Join or not?" tanya Natha yang menoleh karena sahabatnya masih diam mematung dan akhirnya pertanyaannya dijawab kompak 'oke oke' oleh sahabat sahabatnya.


Sesampai dilapangan mata Natha langsung tertuju pada bola basket yang mengelinding tepat dibawah kakinya, ia melihat sekeliling mencari pemilik bola tersebut dan ternyata pemilik bola tersebut adalah Ketua Osis SMK NUSA BANGSA 01, ia melihat ke arah Natha.


Lalu salah satu teman Ketua Osis tersebut berteriak dan meminta agar Natha yang berdekatan dengan bola basket itu agar melemparkan padanya. Natha pun mulai memungut bola tersebut dan melempar keras bola basket tersebut, dan tanpa sengaja bola tersebut malah terkena kepala sang Ketua Osis yang mengakibatkan goresan kecil dipelipisnya.


Namun, yang berteriak bukanlah orang yang tak sengaja terkena lemparan Natha namun, teman seangkatan Bara, yang diduga gebetan atau fans dari sang Ketua Osis.


'Yah yah yah kenak si ketos, ceweknya yang marah nih, apes!!' batin Natha yang untuk kedua kalinya hari ini ia mengumpat namun, ekspresinya masih sama tanpa wajah khawatir.


"Lo buta ya, ngapain lo lempar bolanya ke arah kepalanya Bara apa lo mau Bara luka?" ucap Nazwa yang telah berada tepat didepan Natha, padahal bukan ia yang terkena bola, Bara yang terkena malah diam mematung dan memasang wajah dingin.


"Maaf nggak sengaja!" ucap Natha sedikit membungkuk dengan agak memiringkan badannya ke kanan agar dapat melihat Bara yang tertutupi Nazwa.


Usai mengatakan itu Natha langsung berbalik dan mengedipkan sebelah matanya kepada para sahabatnya pertanda berbalik dan pergi.


Belum juga menaiki tangga, tangan kananya ditarik oleh Nazwa, dan Nazwa hendak menamparnya namun, tanganya sudah dicegah dulu oleh Natha sebelum menyentuh pipi putihnya.


"Lo minta maaf model kayak gitu ke Bara, emang lo siapa hah!!" ucap Nazwa penuh amarah.


"Mau kakak gimana?" tanya Natha balik yang membuat Nazwa semakin geram.


"Udah Nazwa, di nggak sengaja!" ucap Bara yang berjalan dari arah belakang Nazwa menuju Natha.


"Tapi tetep aja dia ngelemparnya kena kepala kamu!" ucap Nazwa ketus.


"Udah nggak papa Naz,"


"Sebagai tanda perminta maaf kamu, kamu harus mau sore nanti tanding basket sama saya, kamu boleh nentuin lapangannya" ucap Bara.


"Bara!!" pekik Nazwa yang dibalas anggukan pelan Bara.


"Dasar manusia ribet!" gumam Natha seraya memalingkan badan hendak meninggalkan pasangan konyol tersebut.


Sebelum ia hendak berbelok, ia berhenti dan mengatakan.


"Lapangan Arjuna taman Indah jam tiga sore gak pakek ngaret." Natha menatap Bara lalu pergi.


•••


"Lo beneran kesana nanti sore?" tanya Dewi, Ayu dan Sila bersamaan.


"Kan dia yang ngajak dan ege banget sih si ketos tuh udah tau ada bola malah di diemin bukannya dihindarin!" jawab Natha datar.


"Nanti gua juga ikut, gua akan bantuin lo buat menangin tantangannya, kan gak mungkin juga dia gak bawa temen." Ayu memelas yang hanya dibalas deheman dari Natha.


Sila dan Dewi yang melihat itu hanya menghela nafas panjang kemudian duduk dibelakang Natha.


"Bener banget apa dia sengaja ya," ucap Sila


"Biarin gausah dipikir tunggu aja nanti!" ucap Natha sambil menatap layar handponenya.


"Kelihatannya ada susuwatu nih wkwk," sindir Ayu yang dibalas tatapan tajam Natha.


"Diem deh cerewet banget sih!" yang di tatap malah tersenyum manis.


•••


Jam menunjukan pukul 14.45 WIB, saat Natha dan ciwi ciwinya memasuki area parkir motor mereka menuju lapangan basket namun, mereka masih belum menemukan keberadaan sang penantang.


Menunggu sambil pemanasan beberapa menit kemudian sang penantang membawa tiga temannya memasuki lapangan. Mereka mendekat pada segerombolan ciwi-ciwi, beberapa saat hanya ada keheningan, akhirnya Natha membuka suara dengan bertanya kapan bisa dimulai. Namun, bukan mendapat jawaban malah ia ditanya balik.


"Kamu mau sendirian apa sama teman kamu?" tanya Bara.


"Sendirianlah kan kak Bara ngajaknya aku, ngapain sampek ngelibatin mereka!" ucap Natha sambil menyatukan alisnya binggung.


"Gapapa kak kalo kita boleh ikut?" tanya Ayu sambil bersikap cuek.


"Jangan bercanda deh kaliankan cuman nemenin gue, gue gamau kalian kenapa napa cuma gara ketos gila nih!" bisik Natha yang membalikan tubuhnya menghadap sahabatnya.


"Gapapa kali Nath kita kan kesini bareng susah seneng hadepin bareng dong, please yaa sekali aja" ucap Sila sambil tanganya memohon pada Natha yang dibalas anggukan dan deheman dari Dewi dan Ayu.


"Terserah deh tapi jangan ngeluh kalo kecapekan!" ucap Natha yang dibalas anggukan semangat dari ketiga sahabatnya.


"Battle rame rame aja deh kak, biar gue sama temen temen, empat lawan empat!" ucap Ayu yang dibalas senyuman manis dari Bara. Natha yang melihat itu bergidik ngeri dan takut akan suatu hal yang akan terjadi.


Waktu bermain basket seperti biasa yaitu 4×10 menit, saat saat yang ditunggu datang Ayu mengumpan bola mengarah pada Natha, Natha langsung menangkapnya dan memasukan bola tersebut kedalam ring dan langsung mendapat tiga poin langsung.


Bukan sekali Natha memasukan bola tersebut kedalam ring, waktu hampir habis dan tim Natha kini memimpin dengan skor 60. Di lain pandangan kini Bara malah tersenyum bahagia padahal tim ia mendapatkan hanya 55 poin.


Waktu berjalan dan akhirnya pertandingan hampir selesai saat Natha hampir memasukan bola ke dalam ring Bara merebut bola tersebut dan langsung terjatuh.


Semua pasang mata yang melihat langsung menghampiri Bara dan para teman Bara langsung memapahnya menuju bangku dipinggir lapangan.


Natha yang melihat itu hanya mengumpat geram pada ketos 'hadeuh bisa acting kayak gitu kurang kerjaan nih orang.' batin Natha yang mengetahui gerak gerik Bara.


"Yah emang nggak lecet sih tapi kok sakit ya tangan aku apa mungkin patah ya?" ucap Bara yang terduduk dibangku sesekali meringis.


"Ya kali kak gitu doang langsung patah tulang, ohh iya jangan lupa kak pemenang basket ini tim gue dan sekarang gue pamit dulu, sekali lagi maaf atas kejadian disekolah tadi!" ucap Natha tegas dan cuek lalu ia berbalik akan pulang.


Sebelum ia pergi Bara menahannya dan meminta pertanggung jawaban dari Natha sambil wajah memelas dan meringis kesakitan seolah manusia paling susah di dunia.


"What!!tanggung jawab!!" ucap Natha membulatkan matanya dan tanganya mulai mengepal.


"Elo hamil sampek gue harus tanggung jawab!!" emosi Natha sudah membuat kepalanya serasa mau pecah.


Ketiga sahabat Natha dan semua teman Bara yang melihat wajah merah padam Natha hanya bisa menahan tawa. Sedangkan Bara hanya menatap penuh arti ke Natha.


...Terima kasih untuk yang sudah baca....


......See u next chapter!......