
Bara mulai mengutak-atik tasnya mencari keberadaan kunci motor Natha yang ia taruh ke dalam tas. Natha mulai mengerti dengan kepanikan Bara yang tertutupi oleh wajah datarnya.
"Bar, lama banget sih ngasihinnya keburu sore nih." ucap salah satu kakak kelas cowok itu karena si Ketos yang lama mencari kunci.
"Sabar, ini juga lagi dicari kalo mau cepet pulang mending bantuin, besok masih bisa rapat lagi. Tapi kok nggak ada ya kuncinya, apa aku lupa naruhnya?" ucap Bara seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Urus dulu rapatnya, kalo udah selesai baru cari kunci saya. Kasihan anak orang pulang sore keburu dicari emaknya!" ucap Natha datar lalu pergi menuju lapangan basket.
Bara menuruti Natha lalu kembali ke kursinya, ia pun langsung menyelesaikan rapat. Natha berjalan menuju lapangan basket dan mulai bermain basket sendiri, ia sempat mengerutu karena keluarganya semua pergi ke tempat Opanya jadi tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk menjemputnya. Mau naik angkutan umum sudah sore pasti tidak ada. Dan ia tidak mau meninggalkan motor kesayangannya.
Natha menyudahi basketnya dan berjalan menuju pinggiran lapangan mengambil tasnya. Saat hendak mengambil tasnya ia terpeleset di depan kursi, untungnya kepalanya tidak terbentur, hanya telapak tanganya yang sedikit luka. Natha segera berdiri dan mengendong tasnya. Tak lama kemudian Bara datang.
"Mana kunci motor saya?" tanya Natha seraya menyodorkan tangannya seolah meminta pada Bara. Bara menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya cengengesan dan menunduk tak jelas.
"Mana!" minta Natha sekali lagi.
"Ketinggalan dikelas, kelasnya juga udah dikunci sama pak Hari," ucap Bara yang membuat Natha menghela nafas panjang.
"Terus!" ucap Natha singkat dan nampak pasrah.
"Kamu tunggu bentar disini, biasanya pak Alfarizi masih di sekolah bawa kunci cadangan. Bentar ya!" ucap Bara seraya berlari menuju ruang guru.
Setengah jam kemudian Natha melihat Bara dengan wajah sumringahnya, serta melirik kunci motor ditangan kanannya, lalu ia tak mendekati Natha namun ia berteriak tidak terlalu keras dan berucap 'Ayo!'. Natha segera berdiri dan mendekat menuju Bara.
"Nebeng lagi ya," ucap Bara menaik turunkan alisnya yang tak dihiraukan Natha. Natha yakin walau ia menolak Ketos tersebut, dia akan tetap naik ke motor Natha. Bara yang melihat sedikit goresan luka di telapak tangan Natha bergegas memakai helmnya lalu ia berbalik menghadap Natha dan memakaikan helm pada Natha.
Natha hanya diam dan membuang muka karena jantungnya sedang diskoan, Bara yang melihat Natha membuang muka hanya tersenyum tipis sangat tipis. Kemudian Bara menaiki motor dan disusul Natha. Bara menghentikan motor Natha didepan gerbang rumah Natha.
"Buka gerbangnya!" perintah Bara, entah angin dari mana yang membuat Natha mematuhi ucapan Bara. Kemudian Bara memasukan motornya ke garasi, melepas helm lalu mengembalikan konci motor Natha.
"Kak Bara baliknya naik apa?" tanya Natha sebelum memasuki rumah.
"Gampang, nanti Wildan yang jemput." ucap Bara seraya mengutak atik handpone nya.
"Mau masuk dulu?" tawar Natha yang di angguki Bara.
Natha memasuki rumah yang diikuti Bara dari belakang. Natha menyuruh Bara untuk duduk dan menawari minuman, Natha menaiki tangga ke kamarnya dan meninggalkan Bara sendiri. Bara berdiri dari sofa dan mengamati satu persatu foto yang terpajang di ruang tamu tersebut. Ia melihat foto Natha bersama kedua orang tuanya dan Natha saat bayi yang dipeluk oleh kedua balita kembar. Natha terlihat montok, imut, lucu yang membuat Bara mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Minumannya den, saya bi Titik pembantu disini." ucap bi Titik seraya meletakan dua gelas jus apel dan setoples makanan ringan diatas meja yang membuat Bara menoleh dan tersenyum hangat.
"Terima kasih bi Titik." ucap Bara seraya mengembalikan sebuah foto anak kecil yang memakai helm hitam menutupi seluruh wajah, terlihat sedang marah.
"Itu siapa bi, yang pakai helm?" tanya Bara seraya kembali menduduki sofa.
"Ohh itu neng Natha den, itu waktu neng Natha maksa mau ikut ayah sama bundanya yang nemenin pergi dinas seminggu, waktu itu neng Natha udah siap-siap bawa baju, jaket, terus udah pakek helm tapi ditinggal sama ayahnya. Terus neng Natha marah besar, sampek kucing peliharaan ayahnya dilempar ke kolam renang, terus mogok sekolah sama mogok makan karena segitu marahnya." jawab bi Titik diiringi tawanya yang membuat Bara ikut tertawa.
"Kecil kecil udah jahat," ucap Bara seraya mengelengkan kepalanya.
"Ekhem.. seru bi ngerumpinya?" ucap Natha menaik turunkan alisnya seraya memasukan kedua tangannya ke dalam hoodie dan menuruni anak tangga menuju sofa.
"Hehe cuma dikit kok neng, yaudah bibi balik dulu ke dapur." ucap bi Titik seraya kembali ke dapur yang diangguki Natha.
"Ayah sama Bunda kemana?" tanya Bara seraya meminum jus apelnya.
"Calon mertua kemana?"
"Byurr uhuk.. uhukk.." Natha menyemburkan minumanya ke meja dan terbatuk sampai wajahnya memerah. Bara menahan tawa, dan membersihkan meja menggunakan tissu yang ada dibawah meja.
"Kenapa? hati hati kalo minum nggak bakal aku minta kok." ucap Bara terkekeh membuat Natha menghela nafas panjang.
"Aku nggak punya kakak perempuan atau adek perempuan, jadi disini nggak ada calon mertua kakak." ucap Natha seraya menyenderkan punggunganya ke sofa dan mengaktifkan handponenya. 'Kenapa jadi aku kamu ya, biasanya formal, bahas mertua lagi emang mau nikah sama bang Bilzal .' batin Natha.
"Maksudnya tuh orang tua kamu kemana?" ucap Bara.
"Lagi ke rumah Opa." ucapnya singkat yang dibalas oh tanpa suara dari Bara.
"Kakak nggak pulang?" tanya Natha yang masih fokus bermain game di handponenya.
"Tanya apa ngusir!" ucap Bara sambil mengetikan sesuatu di handponenya tanpa menoleh Natha.
"Kalo bisa dua-duanya kenapa harus satu," ucap Natha seraya memasukan camilan ke mulutnya.
"Satu aja biar bisa jaga hati sampai mati." ucap Bara seraya tertawa pelan.
"Garing." ucap Natha datar.
Bara hanya tersenyum menatap gadis didepannya yang sedang bermain game online, 'unik, lucu, imut, baik, pintar, idamanku.' batin Bara yang langsung beristigfar ketika membatin kata idamanku. Namun senyum manisnya masih ada, Natha melihat Bara yang tersenyum manis, membuat ia mengerutkan alisnya.
"Kenapa?" tanya Natha menatap Bara. Tak mendapat jawaban Bara, Natha mendekat ke Bara dan bertanya lagi.
"Kenapa kak, kesambet ya!" ucap Natha dengan nada agak meninggi.
"Cantik.." gumam Bara yang membuat Natha menautkan alisnya dan melambaikan tanganya didepan wajah Bara.
"Ehm.. nggak papa cuma lihat bidadari surga main game online, kapan-kapan kita mabar," ucapnya dengan kekehan kecil yang membuat Natha bergidik ngeri seraya mengangguk menatap Bara.
"Kak Bara kenapa kok sikapnya aneh, kadang baik, kadang jutek, kadang sok manis, kadang dingin. Punya kepribadian ganda ya kak?" ucap Natha menatap Bara menunggu jawaban.
"Enak aja ya nggak lah," ucap Bara lalu berdiri dari sofa dan berpamitan untuk pulang karena Wildan telah sampai. Mereka berjalan keluar rumah sampai gerbang.
"Pulang dulu ya..(ucap Wildan seraya melambaikan tanganya ke arah Natha)
"Assalamualaikum," ucap Bara dan Wildan bersamaan.
"Waalaikumsalam, hati hati dijalan, jangan ngebut kalo masih sayang nyawa." ucap Natha pada Bara dan Wildan yang seraya menutup gerbang.
"Iya masih sayang kok," goda Wildan yang mendapat pelototan dari Bara.
Ma**kasih udah BACA**...
Tolong tinggalkan like dan coment ya.
thanks๐ฟ