Adelina

Adelina
Liburan Adel Di Puncak



Setelah sampai di taman depan kelas. Tita, Dina dan Rifa mengintrogasi Adel tentang bagaimana dia bisa putus dengan Revan. Lalu Adel menceritakan semua kepada sahabat sahabatnya, sebelum memulai ceritanya, Tita mencari Finna di taman belakang, karena Finna juga harus berhak tau, biar nanti Tita tidak mengulangi ceritanya lagi.


"Hey Fin, Tio, maaf ya aku mengganggu, tapi aku harus mengajak Finna pergi dulu, karena ada rapat kecil kecilan di my girls hehehehe".


"Ada apa sih Tit, kok serius amat", jawab Finna.


"Sudah ayo ikut aja", jawab Tita.


"Ya sudah sayang kamu pergi saja kesana enggak pa pa kok, aku nyamperin Nathan saja", jawab Tio.


"Makasih sayang ya, ayok kita pergi", kata Finna. Lalu mereka berdua pergi ke taman depan kelas. Sambil jalan Tita menceritakan kejadian di kantin tadi, Finna kaget mendengar cerita Tita. Setelah sampai taman dan mereka sudah berkumpul, lalu Adel menceritakan semuanya.


*Flash Black kejadian di puncak*


Hari pertama libur Adel dan Ibunya berangkat ke rumah Neneknya yang ada di puncak, kedua kakaknya tidak ikut karena tidak ada libur kerja. Mereka perginya naik bis umum. Setelah perjalanan beberapa jam, sampailah mereka di rumah neneknya, dia merasakan capek dan lelah karena perjalanan yang sangat jauh. Adel dan Ibunya istirahat di kamar yang sudah disiapkan oleh tukang kebun yang biasa disuruh nenek membersihkan rumahnya, beliau adalah pamannya Revan bernama Pak Dadang. Pak Dadang mempunyai satu istri namanya Bu Siti, Beliau juga memasak di rumah nenek, mereka mempunyai satu anak perempuan yang rajin membantu namanya Nira, dia seumuran dengan Adel. Nira selalu membantu Bapak dan Ibunya membersihkan ataupun memasak di rumah nenek Adel jika libur sekolah.


"Assalamualaikum, Nenek Adel datang", salam Adel sambil berlari memanggil Nenek dan memeluknya.


"Waalaikumsalam, Nenek kangen sekali sama cucu nenek yang cantik ini". Jawab Nenek Nenek.


"Adel juga kangen sama nenek".


"Ibukmu mana?".


"Itu di belakang hehehe".


"Dasar kamu ini, tetep saja seperti dulu, selalu ninggalin Ibukmu".


"Hehehe habisnya Adel kangen banget sama Nenek". Nenek tersenyum senang karena melihat cucunya yang bawel dan menyenangkan itu datang.


"Pak Dadang tolong bantu bawakan tas Ibunya Adel". Minta Nenek ke Pak Dadang.


"Iya Nek", Jawab Pak Dadang. Lalu Pak Dadang berjalan menghampiri Ibunya Adel.


"Mari Bu saya bantu bawakan tasnya".


"Makasih Pak Dadang ya".


"Sama sama Bu". Lalu Pak Dadang berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan untuk Adel dan Ibunya untuk menaruh tasnya.


"Pak Pak Dadang, Nira mana ya Pak, apa enggak ikut kesini?". Tanya Adel.


"Iya non, Nira lagi bantuin ibunya memasak di dapur belakang".


"Makasih Pak, Adel mau nyusul Nira dulu, Adel sudah kangen sama Nira, dada Pak".


"Iya non hati hati jangan lari".


"Siap Pak". Lalu Adel berjalan kebelakang menuju dapur. Nira dan Bu Siti belum menyadari kedatangan Adel karena terlalu sibuk memasak.


"Niraaaaaa, aku datang". Teriak Adel sambil berlari memeluk Nira. Nira pun kaget dan membalikkan badan.


"Heeeey Adeeel". Nira menjawab dengan berteriak juga.


"Selamat sore Ibu", sapa Adel ke Bu Siti.


"Selamat sore juga nona cantik, bagaimana kabarnya non?". Jawab Bu Siti.


"Alhamdulillah sehat Bu. Ibu dan keluarga bagaimana kabarnya?".


"Kita juga sehat sehat Non, Alhamdulillah".


"Bu boleh ndak saya ajak Nira ke kamar, saya ingin istirahat di kamar sambil ngobrol sama Nira, lama enggak ketemu kangen Bu".


"Makasih Bu, ayo Nir kita ke kamar".


"Iya Del. Buk Nira ikut Adel dulu ya".


"Iya Nak. Ingat yang sopan ya!".


"Iya Buk, siap". Akhirnya Adel dan Nira pergi menuju kamar Adel, mereka bercanda tawa hingga mereka ketiduran di kamar. Waktu sudah mulai malam Bu Siti dan Pak Dadang berpamitan pulang. Mereka ingin membangunkan Nira, tapi di tahan sama Nenek.


"Biarkan saja Nira tidur sama Adel, mereka itu lagi kangen kangenan lama enggak ketemu".


"Ooh iya nek, maaf merepotkan Nenek, kami pamit dulu Nek".


"Tidak merepotkan kok, Nenek sudah menganggap Nira seperti cucu nenek sendiri".


"Terimakasih Nek, selamat malam Nek kami pulang dulu, pamitkan ke Ibu Adel Nek".


"Iya, mungkin dia sudah tidur, hati hati di jalan". Akhirnya mereka pulang berdua, rumah mereka tidak jauh dari rumah nenek Adel, cukup hanya dengan jalan kaki saja.


Pagipun tiba, Nira bangun lebih awal dari pada Adel. Nira mencoba pergi ke dapur, dia melihat apa sudah ada orang di dapur. ternyata belum ada orang satupun di dapur, akhirnya Nira mencuci piring dan peralatan dapur yang masih terlihat kotor, lalu Nira merebus air untuk membuatkan Teh Nenek. Tak lama kemudian Ibu Adel ke dapur. Ibu Adel kaget ketika melihat Nira sepagi ini di dapur.


"Nir, sudah bangun ya, kok pagi pagi sekali kamu sudah di dapur".


"Eeh Ibu sudah bangun, iya bu Nira sudah terbiasa seperti ini".


"Ooh, selain pintar kamu juga rajin banget ya".


"Ibu bisa saja".


"Oh ya buat apa kamu?".


"Ini Bu, Nira membuat teh untuk nenek, ibu mau dibuatkan?".


"Oh, itu nenek sudah bangun, tapi masih duduk duduk di kamar. Enggak usah nanti Ibu tak buat saja sendiri".


"Oooh iya bu, mari Adel ke kamar Nenek dulu bu".


"Iya Nak". Lalu Nira berjalan ke kamar Nenek memberikan Segelas tehnya. Sedangkan Ibu Adel di dapur menyiapkan bahan bahan yang mau di masak. Adel dan Ibunya sedang menginap beberapa hari di rumah Neneknya jadi Bu siti tidak memasakkan nenek, sedangkan Pak Dadang hanya datang kalau dipanggil. Setelah dari kamar nenek Nira kembali lagi ke dapur untuk membantu Ibunya Adel. Tak lama kemudian Adel menyusul mereka di dapur, mereka berdua membantu Ibu memasak, setelah selesai memasak mereka pergi mandi lalu sarapan, lalu mereka bermain ke kebun teh, disana Adel mulai ngobrol dengan asyik, karena tadi malam belum sempat ngobrol banyak Adel sudah ketiduran karena capek.


"Del bagaimana kabar Tita dan Finna?". Tanya Nira, Nira sudah mengenal mereka berdua karena mereka berdua sudah pernah diajak ke rumah nenek dan dikenalkan Nira.


"Mereka sehat dan baik baik saja, sekarang mereka tambah jadi bawel hahahaha", jawab Adel sambil tertawa dan diikuti Nira.


"Oooh ya, wah pasti rame dong".


"Iya di kelas tuh kalau ada mereka, selalu rame".


"Oooh ya Del, dulu aku pernah cerita ke kamukan kalau aku punya saudara di surabaya".


"Iya pernah, saudaramu yang sering bawa ceweknya kesini kan?".


"Iya bener sekali, yang suka mainin cewek, tapi hatinya baik kok hehehehe".


"Trus emang kenapa?".


"Sebenarnya aku ingin sekali mengenalkan kamu dengan dia, tapi setiap kali dia kesini selalu saja pas kamunya tidak kesini".


"Hehehehe, enggak ah diakan suka mainin cewek".


"Ya siapa tau, kalau kenal kamu, dia akan berhenti mainin cewek, kamu kan cantik bawel dan kadang suka galak sih wakakakak".