Adelina

Adelina
Pengungkapan Isi Hati Tio



Lalu Adel menurut sama Tio, sambil menahan malu Finna duduk disamping Tio. Mereka yang mengintip dan menguping di parkiran hanya tertawa dengan lirih. Tio pun juga merasa canggung dan deg deg kan.


"Ayolah jantung berhenti jangan deg degkan seperti ini, malu tau kalau di dengar sama Tio", kata Finna dalam hatinya. Lalu Tio menenangkan dirinya agar bisa rileks.


"Fin", Panggil Tio sambil memegang dadanya sendiri karena jantungnya berdetak keras.


"Iya", jawab Finna dengan deg degkan.


"Hadap sini dong, aku kan sedang bicara sama kamu, masak kamu ngadepnya membelakangiku", pinta Tio. Akhirnya Finna pun mengganti posisi duduknya menghadap ke Tio.


"Nah gitu dong kan enak ngomongnya". Finna hanya tersenyum malu sambil melihat Tio.


"Mereka kok lama banget ya ke kantinnya ayo kita susul yuk". Ajak Finna.


"Udah lah tunggu sini saja bentar lagi mereka pasti kesini lagi".


"Iya", jawab Finna sambil menganggukkan kepalanya.


"Fin, aku mau ngomong sama kamu".


"Iya, kan dari tadi kamu sudah ngomong".


"Serius nih Fin".


"Oke oke silahkan ngomong, aku siap dengerin".


"Tapi jangan marah dan jangan ditertawain ya".


"Heeeeem ya tergantung ceritanya kalau lucu ya aku tertawa kalau itu bisa membuatku marah, aku ya bisa marah hehehe".


"Kalau gitu enggak jadi deh".


"Udah ngomong saja, aku hanya bercanda kok".


"Beneran ya".


"Iya iya, cepetan ngomongnya".


"Fin, sebelumnya aku minta maaf ya jika perkataanku menyinggung kamu. Dulu waktu pertama kali aku melihat kamu, aku selalu memperhatikan kamu, dan enggak tau kenapa setiap kali bertemu kamu jantungku berdetak keras, tanpa aku sadari semakin hari semakin aku memikirkan kamu, enggak tau kenapa perasaanku tumbuh dengan cepat dan aku tidak bisa membohongi perasaanku padamu, aku menyukaimu dan aku mencintaimu Fin, mau kah kamu menjadi pacarku?".


Finna mendengarkan perkataan Tio, sambil memegang dadanya yang berdetak kencang. Dan Finna pun bingung mau menjawabnya, dia bingung mau dimulai dari mana ngomongnya. Yang pasti tidak bisa dipungkiri kalau perasaan Finna pun sama dengan Tio. Dalam hati Finna sangat senang sekali karena Tio benar benar suka sama Finna. Finna masih diam dan belum menjawabnya, sambil memandang Tio dia tidak ngomong sepatah katapun. Akhirnya Tio kembali bertanya sama Finna.


"Fin kenapa diam saja, apa ada yang salah dengan kata kataku?".


"Eeeh enggak kok Tio, enggak ada yang salah, aku cuma sedikit kaget saja, apa aku tidak salah mendengarnya tadi".


"Enggak Fin, aku benar benar mencintaimu, sekali lagi aku ucapkan, apa kamu mau menjadi pacarku?".


"Tio, sebenarnya aku juga mempunyai perasaan sama kamu, sejak pertama kali aku melihatmu di kelas ini, tapi aaakuuu tidak bisa..... ". Finna belum melanjutkan kata katanya. Tapi Tio sudah memotongnya.


"Tidak bisa apa Fin, tidak bisa jadi pacar aku gitu maksudnya?". Tanya Tio sambil deg degkan. Sedangkan Adel dan teman temannya yang menguping ikut deg degkan.


"Maaf", Finna hanya mengucapkan satu kata itu. Lalu Tio terlihat kecewa dan beranjak dari duduknya sambil berkata.


"Tio maaf, aku tidak bisa menolak jadi pacar kamu", kata Finna sambil tersenyum.


"Benarkan Fin, berarti kamu mau jadi pacar aku?". Tanya Tio sekali lagi untuk memastikannya.


"Iya Tio, aku mau jadi pacar kamu, aku juga mencintaimu, tapi ingat satu hal aku tidak suka di selingkuhin maupun di bohongi".


"Iya Fin, aku akan berusaha setia sama kamu, terimakasih kamu sudah menerimaku sebagai pacar kamu". Jawab Tio sambil memegang kedua tangan Finna dengan posisi duduk jengkeng sedangkan Finna berdiri.


"Sama sama Tio, aku sempat mengira kalau kamu itu tidak suka sama aku, tapi bener juga apa yang di omongin Tita waktu di kantin kemarin ya hehehe".


"Aku juga sempat mengira begitu ke kamu hehehehe, jadi hari ini kita resmi pacaran ya". Finna pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lalu Adel, Nathan dan teman teman muncul dari arah parkiran dan berjalan sambil bersorak sorak ke arah Tio dan Finna.


"Yeee mereka jadian hore hore", teriak mereka dengan ramai.


"Selamat girls akhir impianmu terwujud juga".


"Makasih Del". Mereka semua mengucapkan selamat ke Finna dan Tio.


"Kapan nih traktirannya wakakakak", celoteh Tita.


"Gampang lah besok besok". Jawab Tio.


"Oooooh jadi kalian ini sengaja ninggalin aku di sini ya, ngomongnya mau ke kantin enggak taunya eeeh di balik parkiran situ heeeem". Celoteh Finna.


"Hehehehe maafin kita kita ya, kita emang sengaja ngasih waktu ke kalian berdua, agar bisa ngobrol serius agar tidak selalu bertengkar", jawab Adel.


"Iya bener tuh kata Adel, jadi sekarang kalian sudah jadian yeee", saut Dina.


Setelah mereka ngobrol dengan asyik dan seru, mereka terus pulang, mereka keluar bersama dari sekolahan, Dina dan Rifa pergi ke tempat biasanya dimana mereka menunggu angkot. Dan yang lainnya naik sepeda bersama, Nathan bersampingan dengan Adel, Tio bersampingan dengan Finna sedangkan Tita sendirian di belakang mereka, sambil kesal sih.


"Enak yaaa kalian bisa berduaan semua, trus aku jadi satpamnya", celoteh Tita sambil nyungir mulutnya.


"Astaga aku lupa, kalau masih ada sobatku yang jomblo satu ini, ampuni hambamu ini Ya Allah", jawab Adel dengan bercanda.


"Wakakakakak", saut mereka dengan tertawa.


"Sini sini maju barengan sama aku dan Tio sini". Saut Finna.


"Mentang mentang sudah punya pacar kalian lupakan aku heeeeem, payaaah". Jawab Tita.


"Iya Tit maaf". Jawab Finna.


"Kamu juga, baru aja jadian dah ngelupain aku".


"Maaf Tit".


"Sudah sudah jangan bertengkar sini Tit maju barengan sama aku dan Adel saja, biarkan mereka berduaan kan mereka baru saja jadian". Jawab Nathan.


"Oke oke, nah gitu dong Nath, bilang dari tadi jangan dieeeem saja". Akhirnya Tita maju dia barengan sama Adel dan Nathan. Sedangkan Adel, Finna dan Tio hanya geleng geleng melihat tingkah Tita. Mereka bercanda tawa dengan naik sepeda. Lalu mereka berpisah di persimpangan jalan yang menuju rumah masing masing. Adel, Finna dan Tita searah, sedangkan Tio searah dengan Nathan. Setelah semua sampai rumah masing masing, mereka cuci tangan, cuci kaki dan ganti baju. Mereka istirahat di rumah masing masing. Finna berbaring diatas kasur sambil membayangkan kejadian tadi waktu di sekolah, dia senyam senyum sendiri, karena dia merasakan bahagia, saat dia ditembak sama Tio. Finna tidak pernah menyangka akan secepat ini dia bisa pacaran sama Tio.