
Setelah minum es tea lemon, Nathan mengucapkan terimakasih ke Adel. Lalu Adel menanyakan tentang apa yang ingin dibicarakan Nathan tadi.
"Nath katanya tadi kamu mau ngomong tentang Tio, ayo ngomong ada apa?".
"Iya Del sabar dong, mereka dah pada pulang beneran pa nguping di luar ya?".
"Mereka tuh da pada pulang tenang saja, mereka tu enggak gitu kok anaknya, ayo sekarang mulai cerita".
"Iya tapi aku mau tanya dulu sebentar sama kamu",
"Iya tanya apa jangan bikin penasaran dong".
"Jangan marah ya tapi".
"Enggak enggak, cepetan mau tanya apa?".
"Del, sebenarnya kamu itu cinta dan sayang sama aku enggak sih?".
"Lah kamu kok gitu sih tanyanya".
"Aku hanya mastiin saja ke kamu Del, soalnya kamu itu deket banget sama Kak Revan".
"Oooooh jadi ceritanya kamu ini cemburu gitu".
"Ya iyalah Del aku cemburu, masak ceweknya deket sama cowok lain gak boleh cemburu".
"Nath, aku tuh sayang bahkan cinta sama kamu, jadi percayalah sama aku, jika aku deket sama Revan ataupun cowok lain, itu aku anggap sebagai teman biasa, percayalah sama aku Nath". Dalam hati Adel berkata, maafkan aku Nath, aku banyak salah sama kamu dan aku banyak bohong sama kamu, akupun juga menduakanmu.
"Oke oke aku percaya sama kamu, aku seneng dengernya kalau kamu bener bener sayang sama aku". Adel tersenyum sambil memandang Nathan.
"Ooh iya tadi kamu mau ngomongin apa tentang Tio?".
"Iya, gini Del, aku mau minta bantuan ke kamu".
"Bantuan apa Nath?".
"Hiiiisstt makanya kalau aku lagi ngomong tu dengerin dulu jangan di potong sayang". Kata Nathan sambil mengacak ngacak rambut Adel.
"Iya iya sayang maaf".
"Gini, aku mau minta tolong, bagaimana cara mendekatkan Finna dengan Tio".
"What", jawab Adel sambil teriak karena kaget.
"Huuuust jangan kenceng kenceng entar Ibuk kamu kaget", karena kaget Nathan sepintas menutup mulut Adel.
"Hehehehehe maaf keceplosan, habisnya aku kaget". Kata Adel sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lanjut gak ini?".
"Iyalah lanjut, penasaran nih".
"Panggil aku sayang dulu dong, ntar baru aku lanjutin". Goda Nathan.
"Heeeem, sayang lanjutin dong ceritanya".
"Nah gitu dong hehehehehe, makasih sayang".
"Sama sama sayang".
"Jadi gini sayang, Tio itu sudah lama sekali suka sama Finna, tapi dia tidak berani ngungkapinnya, karena kamu tahu sendiri kan Finna itu gimana".
"Oooh jadi tadi kalian tidak ikut ke kantin, kalian ngomongin itu ya".
"Iya, dia ingin aku mendekatkannya dengan Finna, aku juga bingung akhirnya aku minta tolong sama kamu sayang".
"Oke oke gampang itu, oooh pantesan tingkah Tio sama Finna agak gimana gitu ya, kadang cocok kadang bertengkar heeeem".
"Iya sayang, mungkin mereka sama sama suka tapi sok jual mahal".
"Bisa jadi itu sayang, cobak nanti aku tak cari tau tentang perasaan Finna, soalnya sejauh ini Finna masih tertutup tentang cowok".
"Oke sayang terimakasih ya".
"Sama sama".
Setelah mereka berbicara panjang lebar mengenai Tio, mereka bercanda tawa menghibur diri, selayaknya anak yang lagi pacaran, tapi mereka mengerti batasannya. Setelah lama bercanda Nathan pamitan untuk pulang.
"Adel aku pulang dulu ya, kapan kapan aku main lagi kesini boleh?".
"Iya Nath, ya gak pa pa laah, pintu rumahku selalu terbuka untukmu".
"Makasih sayang, tolong nanti pamitkan ke Ibu kamu ya".
"Oke siap sayang, hati hati di jalan ya".
"Iya, jangan cemburu cemburu terus ya, ntar gantengnya hilang looh, hehehehe".
"Iya iya bawel", kata Nathan sambil mengacak ngacak rambut Adel.
Akhirnya Nathan pun pulang, dia sangat senang sekali bisa main ke rumah Adel dengan puas seperti ini.
Ketika hari sudah mulai sore, Tita dan Finna datang ke rumah Adel, dan mereka sudah membawa baju seragam buku jadwal pelajaran untuk besok.
"Assalamualaikum, Big Mom, Adel aku datang", teriak mereka berdua.
"Waalaikumsalam, ayok masuk". Jawab Big Mom.
"Haallloo Big Mom, kami kangen sama Big Mom", manja mereka berdua, bergantian memeluk Big Momnya.
"Ayok masuk dulu, sana tasnya di taruh kamar Adel, Adelnya lagi mandi", suruh Big Mom.
"Oke Big Mom".
"Fin ayok ke kamar Adel dulu naruh tas", ajak Tita.
"Aaaasssiiiiiap", jawab Finna.
"Mom kita ke kamar Adel dulu ya".
"Iya, silahkan, Big Mom masak dulu di dapur ya, buat makan malam ntar".
"Iya Mom".
Mereka berdua berjalan menuju kamar Adel untuk menaruh tasnya. Sampai didepan pintu kamar Adel, Finna membuka pintunya, tapi pintunya tidak bisa di buka ternyata di kunci dari dalam sama Adel karena Adel sudah selesai mandi.
"Loh Tit kok di kunci pintunya, katanya Adel masih mandi".
"Mana ku tau Fin".
Sedangkan Adel dari balik pintu kamarnya dia mendengarkan percakapan mereka sambil tertawa, "rasain kalian emang enak aku kerjain hehehe", kata Adel dalam hatinya.
"Coba minggir kamu, biar aku yang ngetuk, Tok... tok... tok Del Adeeel". Tita mencoba mengetuk pintu Kamar Adel, tapi Adel tetep diam tidak menjawabnya, dia hanya tertawa dengan lirih.
"Ya kan di ketuk aja nggak di jawab", kata Finna dengan sebel.
"Apa mungkin dia ketiduran ya Fin", saut Tita.
Lalu Adel membukakan pintu untuk mereka, karena Adel kasihan sudah lama mengerjain mereka.
"Silahkan masuk nona nona wakakakak", kata Adel sambil tertawa terbahak bahak.
"Aaah dasar kau Del, sengaja ya ngerjain kita awas kau", kata Finna.
"Hehehehe maaf, aku kan cuma bercanda".
"Sudah sudah ayo masuk naruh tas dulu", kata Tita sambil melerai mereka.
Akhirnya mereka masuk bersama ke kamar, lalu mereka ngobrol dan bercanda bersama. Setelah puas ngobrol, Finna pergi ke dapur untuk membantu Big mom, dan Tita masih menata buku dan seragamnya di kamar, sedangkan Adel masih menata kasurnya yang berantakan akibat ulah mereka tadi.
"Girls aku bantu Big Mom dulu ya di dapur", Pamit Finna.
"Iya sana bantu Big Mom dulu, nanti aku susul, aku tak beresin ini dulu", jawab Tita.
Lalu Finna berjalan menuju dapur, dan Tita sama Adel masih di kamar.
"Tit sini aku kasih tau sesuatu", Kata Adel dengan suara pelan.
"Ada apa Del, kok pelan banget kamu bicaranya".
"Iya biar gak kedengaran Finna, hehehehee".
"Ada apa sih, jangan bikin penasaran dong".
Akhirnya Adel menceritakan semua persis dengan apa yang di ceritakan Nathan kepadanya tentang Tio. Tita pun kaget sempat berteriak, tapi Adel segera membungkam mulut Tita, agar tidak terdengar dari dapur. Tita sempat tidak percaya kalau Tio punya perasaan sama Finna, tapi dia berfikir lagi dengan tingkah Tio dan Finna yang agak agak gimana gitu.
"Del kamu enggak bohongkan dengan ceritamu tadi, soalnya aku enggak percaya kalau Tio punya perasaan ke Finna".
"Iiih kamu itu Tit kenapa gak percaya sih, Tio bener bener suka sama Finna, coba ingat ingat setiap mereka ketemu pasti ada aja tingkahnya".
"Oooh iya bener bener Del, mereka selalu bertengkar kadang juga mereka akur hehehehe, oke oke aku akan bantu kamu dan Nathan untuk menyatukan mereka".
"Naah sip Tit, kalau begitu ntar malem kita beraksi untuk memancing Finna ya, agar Finna mau menceritakan isi hatinya ke kita".
"Siap Del, ayok kita ke dapur dulu, ntar Big Mom dan Finna nungguin kita".
"Oke ayok".