
...Happy ReadingđŸ¤—...
Di antara tumpukan buku yang tertata rapi dan sepinya pengunjung di jam-jam seperti ini, Arvin membawa Aletta ke dalam ruang perpustakaan. Sejak tadi, Aletta hanya diam, menatap Arvin dengan tatapan tak suka. Karena Arvin terus melawan apa yang Aletta inginkan. Dia menyeretnya dengan paksa di hadapan teman-temannya.
"Kalau lo gak mau ngomong, gue pergi!" sungut Aletta, yang masih setia berdiri di hadapan suaminya.
Arvin masih juga belum membuka suara, membuat Aletta memutuskan untuk melangkahkan kakinya, berniat menjauh dari sana.
"Lo habis berantem lagi sama Medina?" hingga suara dingin dan mengintimidasi terdengar menyapa Aletta.
Aletta yang saat ini berdiri membelakangi Arvin, meremas ujung roknya dengan cepat, mengingat betapa menyakitkan pertemuan dengan Medina. huft! Berurusan dengan Medina sama halnya dengan minum kaplet tambah darah.
"Al, gue nanya sama lo. Lo beneran habis berantem sama Medina?" gumam Arvin, menekankan pertanyaannya.
Aletta masih belum menjawab. Gadis itu sibuk mengatur deru nafasnya yang tiba-tiba menjadi ngos-ngosan.
"Iya!" Akhirnya, Aletta menjawab singkat.
Arvin segera bergerak, berdiri di hadapan Aletta, tangannya memegang lembut bahu Aletta, mempertemukan kedua mata mereka dalam satu garis.
"Al, udah gue bilang. Jangan pernah berurusan sama Medina. Oke!"
Aletta terdiam, matanya terbelalak karena takjub. Dia kira Arvin sudah berubah, tapi nyatanya tetap sama. Gadis itu mengangkat alisnya sebelah, bersamaan dengan tangan yang menepis kasar tangan Arvin dari lengannya.
"Gimana Vin, coba ulangi?"
Arvin terdiam, membuat Aletta meraup wajahnya sendiri dengan frustasi. "Lo nyuruh gue diem gitu aja, di saat ada anak yang di bully mati-matian sama geng lo itu? Lo sehat?"
Arvin berdecak, tatapannya semakin dalam ke arah Aletta. "Lo nggak ngerti maksud gue, Al!"
"Maksud apa, Vin? Sudah jelas-jelas tadi lo bilang, kalau lo ngelarang gue ikut campur sama apa yang dilakuin Medina—"
"Iya, Aletta. Gue ngelarang lo untuk jadi sok pahlawan. Lo bisa gak diem aja sekali, lagi pula bukan lo kan yang di bully sama Medina."
Dalam satu tarikan nafas, Arvin mencoba menjelaskan lebih lanjut agar Aletta mau mengerti.
"Lo bisa ngomong kayak gitu karena lo nggak tau apa-apa, Vin. Lo nggak tau rasanya itu semua. Yang lo tau cuma menindas yang lemah."
"Lo salah, Al. Gue tau semuanya."
"Apa yang lo tahu, Vin," Aletta menghembuskan nafasnya yang terasa panas, tenggorokannya terasa seperti tercekik, bersamaan dengan rasa perih yang memenuhi kelopak matanya. "Sampai kapanpun gue nggak bisa diem, dan gak bakal tinggal diam ngeliat orang yang gak bersalah tiba-tiba di bully gitu aja!"
Arvin mengepalkan tanganya dengan frustasi, tak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana agar Aletta mau mengerti maksudnya.
Melihat itu, Aletta kembali menunjukkan tawanya yang hambar, sambil bersedekap dada, ia membuka suara kembali. "Udah kan, Vin, lo cuma mau nanya tentang itu."
Arvin diam, dengan mata terus menatap Aletta. "Kalau gitu gue pergi, lo buang-buang waktu, tau nggak!"
Aletta kemudian berlalu begitu saja, menjauh dari Arvin dengan segala amarah yang masih membara di dalam dirinya. Namun, baru saja membuka pintu, dua laki-laki sudah lebih dulu berada di hadapannya.
"Widih, ngapain kalian berdua disini?" tanya Ardi dengan cengiran kuda, dan berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Aletta.
"Bukan urusan kalian. Minggir!" tanpa permisi, Aletta menabrak bahu keduanya dan berlalu begitu saja, membuat kedua orang itu tersenyum bingung. Mereka kemudian mendekati Arvin.
"Buset, Vin, lo serius naksir cewek kayak reog gitu!" celetuk Zidan turut menambahi.
"Berisik!" Arvin menjawab dengan nada kesal menatap keduanya.
Meninggalkan mereka bertiga, Aletta terus berlari menyusuri lorong demi lorong sekolah tak menghiraukan tatapan aneh dari siswa siswi yang juga tengah berlalu lalang disana. Amarah benar-benar sudah menguasai hatinya. Semua perkataan arvin terus berputar pada otak kecilnya. Hingga tanpa sengaja Aletta menabrak bahu Siren yang baru saja keluar dari toilet.
"Bisa pelan-pelan gak sih lo jalannya!" umpat gadis itu dengan suaranya yang melengking, tapi Aletta tak berniat menggubrisnya ia terus berlari menjauh dari Siren. Mengundang tatapan curiga dari gadis itu.
"mau kemana tu cewek, gue ikutin aja kali ya!"
Dengan perlahan Arvin memarkirkan mobilnya tepat di depan cafe yang dipenuhi gemerlap lampu yang indah. Disana ia dapat melihat kendaraan keempat temannya sudah terparkir dengan rapi. Membuat laki-laki itu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan khusus yang ada di cafe itu.
Jika bukan karena dipaksa kedua temannya, Arvin sangatlah enggan datang kesini, belum lagi hujan baru saja reda menimbulkan hawa dingin yang menusuk hingga tulang, dan masalah Aletta, yang hingga kini belum juga memberinya kabar.
Saat sudah berada di ambang pintu, laki-laki itu berhenti sejenak, Ia ragu untuk masuk saat tanpa sengaja mendengar percakapan dari arah dalam
"Lo beneran ngikutin dia sampai ke rooftop sekolah?" tanya Medina dengan perasaan takjub, sedikit demi sedikit senyuman berhasil terbestit pada wajah cantiknya.
Siren mangangguk dengan antusias, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat tanpa sengaja Aletta menabraknya dan berlangsung sampai gadis itu membuntutinya hingga ke rooftop sekolah.
"Terus … kalian tau nggak apa yang gue lakuin ke dia?" tanya gadis itu lagi, matanya bergerak menatap ketiga temannya secara bergantian.
"Halah, palingan juga lo bully dia, tapi lo yang kalah! Iya kan?" ejek Ardi dan langsung melempar bantal ke arah gadis itu.
Namun, Siren terlalu tangkas untuk sekedar menangkap bantal itu. "Enak aja, nggak ya!"
"Terus, lo apain gadis reog itu?" sambung zidan dengan nada datar, tanpa mengalihkan pandangan dari tangan yang sibuk mengupas kulit kuaci di hadapannya.
"Gue kunciin dia di rooftop!"
"Whatt! Lo serius?" pekik Medina yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Matanya menatap Siren dengan ekspresi tak percaya. Juga berhasil membuat dua insan lain turut terlonjak kaget.
Siren mengangguk mantap. " Iya, gue serius ngapain gue bohong. Lagian gue udah gedek banget sama tuh cewek. Sok jadi pahlawan kesiangan"
Mendengar itu langsung membat Medina bertepuk tangan. "perfect, lo emang bestie gue ter the best!"
Arvin yang mendengar itu semua dengan jelas, membuat wajahnya langsung memancarkan kemarahan yang mendalam. Pintu cafe bergema ketika laki-laki itu membukanya dengan keras, menarik semua perhatian dari mereka yang ada di dalam. Matanya mengeluarkan sorot tajam dengan ekspresi yang sangat tidak bersahabat.
"Kenapa sih lo Vin, dateng-dateng mukanya kayak gitu?" tanya Siren dengan mengerutkan keningnya heran. Begitu juga dengan Zidan dan Ardi yang langsung menoleh, menatap satu sama lain.
Sedangkan Medina sendiri, berdehem singkat, dia berjalan mendekati Arvin, tangannya bergerak mengusap bahu laki-laki itu berusaha untuk menenangkan.
"Lo kenapa Arvin, ada yang salahkah dari kita?"
Namun, dengan kasar Arvin menepisnya, tatapannya tajam menatap Siren, perlahan kakinya bergerak mendekat ke arah gadis itu.
"Apa yang lo lakuin ke Aletta?"
"Lo kenapa sih Vin, Aneh banget!" gadis itu bersedekap dada, berusaha menetralkan rasa gugup yang menghampirinya, tatapan Arvin terlihat lebih seram dari biasanya.
"Lo kunciin dia di rooftop? Lo gila apa gimana sih?" bentak Arvin tanpa rasa prihatin sedikitpun.
Sirena menggenggam erat tangannya sendiri, ia mengangkat wajah untuk menatap Arvin. "iya kenapa? Lo peduli sama dia? Lo suka sama dia?".
jika saja Siren buklah perempuan, sudah dapat dipastikan saat itu juga Ia akan habis ditangan Arvin.
"Lo bodoh Siren, lo kunciin anak orang di atas rooftop. Dia kehujanan bego. Kalau dia mati gimana? Lo mau tanggung jawab? Lo mau kena pidana? Jawab!"
Arvin terkekeh menatap Siren yang langsung kicep. "Gak bisa jawab kan Lo?"
"Lain kali kalo mau bertindak tuh mikir dua kali, bully ya bully tapi jangan sampe ngabisin nyawa orang. Itu tugas malaikat, Ngerti Lo!"
Tak mau membuang waktu lagi, Arvin segera berlari keluar ruangan. Meskipun Aletta suka membuatnya emosi tapi tetap saja, Aletta adalh istri sahnya.
"Vin lo mau kemana? Arvin gue bilang tunggu, jangan pergi!" teriak Medina yang turut frustasi. Namun, sama sekali tak dihiraukan oleh laki-laki itu, membuatnya kepalang kesal.
Ardi dan Zidan sendiri, segera berlari mengejar Arvin, meninggalkam kedua gadis itu dengan perasaan yang semakin membenci Aletta.
"Vin, tungguin. Kita ikut!"