Young Marriage

Young Marriage
Young Marriage 15



...Happy ReadingšŸ¤—...


Masih dengan pikiran dan hatinya yang kacau, Aletta bergegas memasukkan semua pakaian ke dalam koper berukuran sedang, miliknya. Sejak insiden di taman hingga saat ini, kata-kata Medina terus berputar-putar di kepalanya, membuat perasaannya semakin mendidih. Ditambah lagi, pembelaan yang dilakukan oleh Arvin, seolah hal itu berhasil menusuk hatinya lebih dalam.


Ketika dia merasa semua pakaian telah dimasukkan, Aletta segera menutup koper itu dengan rapat. Dia ingin segera pergi dari sini, menjauh dari semua yang membuatnya menderita. Namun, langkahnya terhenti oleh kehadiran Arvin yang berdiri di hadapannya, membuatnya harus mengurungkan niat untuk kembaki melangkah. Arvin melayangkan tatapan yang sulit untuk Aletta pahami, seakan dia ingin bicara, tetapi Aletta terlalu takut untuk kembali mendengar penjelasan atau pembelaan yang mungkin akan laki-laki itu katakan, dan membuatnya semakin kecewa lagi.


"Minggir! Gue mau pulang, gue nggak mau lagi tinggal seatap sama laki-laki kayak lo!" bentak Aletta, matanya sudah berkaca-kaca akibat perasaan campuran antara kemarahan dan sakit hati yang begitu mendalam.


Arvin tak menjawab, Laki-laki itu terus memandangi Aletta dengan jantung yang berpacu lebih cepat, keduanya saling terdiam dalam rumitnya pikiran masing-masing.


"Al…" ucap Arvin dengan suaranya yang lembut, "gue mohon, lo jangan pergi ya!" lanjutnya penuh harap. Membuat Aletta dengan cepat membuang wajah, enggan menatap Arvin.


Gadis itu merasakan jantungnya seperti sebuah palu yang berdenyut keras di dadanya, menggetarkan seluruh tubuh. Sedikit demi sedikit air mata mulai merembes keluar dari sudut mata, tetapi dia berjuang keras untuk menahan mereka semua. Kedua tangannya gemetar tak terkendali, dan otot-ototnya tegang seperti senar yang diatur untuk bergetar. Napasnya datar, seolah-olah kehidupan itu sendiri terhenti sejenak. Dia merasa begitu terjepit dalam kebingungan, kemarahan, dan kesedihan, semua bercampur menjadi satu dalam kekacauan emosi yang melanda dirinya.


"Lo boleh benci sama gue, lo boleh marah sama gue, lo boleh ngelakuin apapun yang lo mau, asal lo jangan tinggalin gue dan tolong maafin Medina."


Aletta yang semula membuang muka, kembali menatap Arvin dengan melayangkan tatapan tajamnya, kalimat itu berhasil menciptakan pertanyaan yang semakin buruk dalam benaknya. Apa yang begitu istimewa dari Medina, sehingga suaminya itu rela merayu dirinya dengan begitu tulus? Walaupun Aletta sendiri tahu, hubungannya dengan Arvin hanya karena paksaan.


Namun, kata-kata Arvin yang memohon maaf atas nama Medina, justru menjadi pukulan yang sengaja Arvin arahkan tepat di hatinya. Membuat setetes cairan bening berhasil menerobos pertahanan yang ia buat.


Dengan wajahnya yang sayu, Aletta terkekeh tajam, suaranya mencerminkan sindiran dan kebingungan yang mendalam."Apa lo bilang? Maafin Medina? Nggak salah lo ngomong gitu ke gue!"


"Iya gue tau, gue salah ngomong gitu ke elo. Dan gue juga tau, Medina itu ngehina lo cuma gara-gara dia nggak suka sama lo, karena lo selalu ikut campur urusan dia!" jawab Arvin dengan setingkat meninggikan intonasi suaranya, karena memang mengolah emosi dengan baik adalah hal yang sulit dilakukan laki-laki itu. wajahnya dipenuhi raut frustasi yang mencerminkan betapa rumitnya situasi yang sedang ia hadapi.


Aletta menggeleng pelan, tidak terima dengan jawaban Arvin. Pasalnya ini bukan hanya soal dirinya, tapi juga soal Sea, yang bahkan tidak ada yang mengenal gadis itu selain keluarga dan sahabat dekatnya. Aletta sendiri juga belum mengerti bagaimana bisa Medina berkata demikian terhadap kakaknya, padahal mereka bekum pernah bertemu.


"Oke, gue bisa terima kalau dia ngehina gue, Gue bisa diem dan menganggapnya angin lalu. Tapi enggak kalau soal Sea, Vin!"


"Dan lo bisa dengan mudahnya minta maaf!" pekiknya menatap Arvin tajam, " maaf gak selalu bikin semuanya membaik, Vin. Justru kata maaf itu sendiri yang bikin semua orang bisa semena-mena!"


Arvin melepaskan tatapan lembutnya, dan menggantikannya dengan pandangan tajam.


"Emang apa sih susahnya nerima kata Maaf?" Tanya laki-laki itu lagi, nada suaranya naik.satu tingkat, seolah ikut tersulut emosi oleh bentakan yang ia terima dari Aletta.


Aletta yang semula sudah emosi, semakin dibuat berapi-api, dan kembali menjawab pertanyaan itu dengan penuh amarah. "Nerima dan bilang maaf emang gak susah, yang susah itu nyadarin orang yang gatau apa-apa, tapi bersikap seolah tau semuanya kayak lo!"


Dengan keras Aletta mendorong tubuh Arvin, tetapi ia merasa energinya meredup seketika, otot-ototnya terasa lemas. Dan bukannya membuat Arvin jatuh, justru ia sendiri yang jatuh dan tersungkur di lantai yang dingin. Ia menundukkan pandangannya, tak kuasa menahan gejolak hebat yang menyerang batinnya.


"Al, Sorry. B-bukan gitu maksud gue!" ucap Arvin gelagapan, sejenak ia mengingat tujuan awalnya dan merasa bersalah pada gadis itu. tangannya bergerak hendak membantu Aletta untuk kembali berdiri.


"Kata maaf gak bisa balikin keadaan, kata maaf gak bisa buat Sea kembali hidup."


"Sea punya salah apa sama kalian semua?" Aletta berteriak, menghancurkan keheningan yang sebelumnya memenuhi ruangan bernuansa scadinanvia itu.


" Kenapa dunia begitu kejam, Sea cuma gadis lemah yang butuh perlindungan!" lanjutnya disela isak tangis yang terdengar lebih menyayat hati.


"Sea kedinginan, Sea dihina bahkan gadis malang itu sampai dilecehkan hingga membuatnya depresi. Masa depannya direnggut dan lo tau apa yang dilakukan pelakunya?"


Arvin tertengun, semua yang diucapkan Aletta tentang gadis itu melenceng jauh dari apa yang dia pikirkan.


"Mereka hanya minta maaf dan menganggap masalah itu selesai. Tapi apa mereka pernah mikir, gimana sakitnya keluarga gue, gimana terpuruknya kami kehilangan sosok Sea?"


"Enggak Vin, orang diluar sana gak ada yng peduli. Yang mereka tau, Sea cuma wanita murahan, yang dengan mudahnya mau di tidurin lelaki manapun."


Arvin tak lagi mampu berkata, Ia turut menjatuhkan tubuh dihadapan Aletta, laki-laki itu menarik tubuh Aletta walaupun si gadis berontak kesetanan. Ia terima segala pukulan yang Aletta berika. Sampai akhirnya gadis itu lemas, ia membiarkan Arvin mendekap tububya.


"Mereka jahat Vin, gue benci mereka!"


"Mereka udah rebut Sea dari gue!"


Gadis itu terus meracau dengan kepala yang bersandar di dada bidang milik Arvin, tangannya yang lemas terus memukul tubuh kekar itu. Sedangkan Arvin sendiri mendekap tubuh Aletta dengan kuat, berusaha menenagkan gadis itu, tangannta sesekali mengelus surai indah yang Aletta punya.


"Gue takut Vin, Gue gak bisa … bilang ke Sea, suruh dia balik!"


Pandangan yang semula cerah mulai meredup dan gelap gulita, tak ada lagi suara tangisan, dan tangan Aletta terkulai lemah seolah kehilangan kekuatan.


Arvin menyadari perubahan ini dan terus memanggil dengan keras nama Aletta, berharap akan mendengar suara balasan. Tetapi ketika dia mencapai sisi Aletta, kesadarannya pun lenyap. Arvin menggenggam bahunya lembut, mencoba membangunkannya.


Namun, Aletta tidak merespons. Dia seperti tertidur dalam kegelapan, meninggalkan Arvin dengan kekhawatiran yang semakin mendalam.


"Al, bangun! Lo denger gue kan? Aletta sadar, kita kerumah sakit sekarang!"


Bersambung....


...Terima kasih semuanya;) Semoga kaliam suka. Dan dukung terus cerit pertamaku ini ya😁...