
...Happy Readingš¤...
Di hadapan televisi yang menyala, Gadis berpiyama dengan corak beruang itu tengah asik berbaring disana, memberikan cahaya biru dari layar menerangi wajahnya dengan lembut. Namun, matanya tertuju pada layar ponsel yang sedang ia mainkan dengan asyik. Meskipun adegan-adegan menarik dan suara-suara dari televisi mengisi ruangan, dunianya seperti telah tenggelam dalam dunia digital di ponsel yang ia genggam. Jarinya dengan gesit mengetuk layar ponsel, sementara senyum kecil terukir di wajahnya ketika ia terlibat dalam aktivitas yang menyita perhatian.
Tapi, Aletta tiba-tiba terbangun karena syok, gadis itu menatap layar ponsel dengan cukup jeli, jarinya bergerak lincah di atas layar guna memperbesar gambar dari postingan yang ia temukan.
Mulutnya sedikit terbuka, saat ia meyakini bahwa foto yang diunggah oleh akun gosip sekolahnya itu, adalah fotonya dengan Arvin sore tadi.
Belum selesai dengan segala keterkejutannya, panggilan dari Sella sudah lebih dulu masuk kedalam ponselnya. Disambung oleh spam chat yang terus Sella kirim, membuatnya semakin bingung sendiri
Gadis itu berdiri, memakai sandalnya dengan susah payah karena rasa panik yang mulai menyerang, kemudian ia berlari dengan terus berteriak memanggil nama Arvin.
Tanpa permisi gadis itu membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Tapi, apa yang dilihat oleh matanya justru semakin menambah rasa keterkejutannya.
"Bundaaaa ... mata Aletta ternodai!" Suara itu melengking mengisi seluruh ruangan.
Arvin yang panik segera menarik handuk dari atas ranjang, untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang hanya dilindungi oleh ****** *****. Aletta sendiri dengan cepat berbalik badan, membelakangi Arvin dengan wajah yang berubah menjadi merah padam.
Dengan nafas yang berhembus tak beraturan, Aletta menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha melupakan kejadian memalukan yang baru saja ia alami.
"Tuhan, jangan marah sama Aletta, Aletta tadi nggak lihat apa-apa kok! Beneran." gumamnya dengan menggelengkan kepala brutal, berusaha menyakinkan dirinya bahwa tadi ia memang tidak melihat sesuatu itu.
Namun, dengan perasaan jengkel Arvin mengikis jarak keduanya, tangan kekarnya bergerak menarik bahu Aletta membuat gadis itu berbalik dan menatap ke arahnya.
"Buka tangan lo! " perintahnya penuh penekanan. Aletta kembali menggeleng.
Arvin berdecak, lantas membuang muka, salah satu tangannya berkacang pinggang dan satu lagi mengepal berusaha meredakan emosinya.
"Gue bilang buka!" ujarnya lagi, suaranya terdengar tegas dan berat. Mau tidak mau Aletta terpaksa membuka kedua tangannya, memperlihatkan wajanya yang masih merah padam menahan malu. Gadis itu menunduk dalam-dalam berusaha menghindari eye contact dengan Arvin yang bernotaben sebagai suaminya.
"Ngapain tadi masuk nggak ketok pintu?" tanya Arvin, merubah nada suaranya menjadi lebih lembut tapi tetap saja dingin.
Aletta yang merasa terintimidasi perlahan mendongak, menatap dada Arvin yang terlihat macho dengan 6 kotak yang tergambar jelas disana. Susah payah pula ia menelan salivanya sendiri, sebelum memberanikan diri untuk menatap netra Arvin yang memang lebih tinggi darinya.
Raut merah padam karena malu, seketika berubah menjadi tatapan kesal dan penuh emosi. "Lo juga? Ngapain nggak kunci pintu! Kan gue nggak tahu kalau lo lagi ganti baju!"
Aletta berdecak, "kenapa juga gak ganti di kamar mandi, ngapain ganti disitu tasdi."
Arvin yang semakin kesal karena mendapat perlawanan, menarik paksa tangan Aletta dan menyuruhnya untuk segera duduk diatas ranjang.
"Ini murni salah lo! Kalau aja tadi lo nggak buru-buru, nggak mungkin tadi mata lo itu ngelihat aset berharga milik gue!"
Aletta kembali diam, tak berani menjawab. Bayangan kejadian tadi kembali berputar dan memenuhi otaknya. Arvin yang menyadari perubahan wajah gadis itu meraup wajahnya kasar kemudian menghembuskan nafas panjang, berusaha membuang segala rasa yang berbaur jadi satu, antara malu dan marah.
Arvin menatap Aletta dengan tatapan sedikit melunak, tangannya bergerak menepuk bahu gadis itu dengan lembut, membuat satu isakan berhasil lolos dari bibir gadisnya.
"Gue tadi nggak lihat apa-apa!" racaunya dengan menggelengkan kepala, hal itu berhasil mebuat senyuman tipis kelaur dari bibir Arvin. Baginya aletta yang dihadapamnya ini sangat lucu, tidak seperti Aletta saat disekolah.
"Lihat gue!" Arvin berucap dengan datar. Membuat Aletta dengan cepat menuruti perintahnya. Gadis itu mendongak dengan pipi yang sudah basah.
Melihat fenomena dihadapannya, membuat Arvin lagi dan lagi merasakan gelenjar hangat yang tak biasa. Entah datang dari mana tapi semua itu berhasil menimbulkan sesuatu yang sulit didefinisikan, tapi rasanya jelas sangat mendebarkan. Arvin mengakui jika dirinya dibuat tertarik dengan Aletta, sejak saat pertemuan pertama mereka di aula sekolah waktu masa ospek. Namun, seiring berjalannya waktu dan segala peristiwa yang ia alami, membuatnya harus mengenyimpangkan semua yang ia rasakan, dan sekarang tanpa permisi rasa itu kembali hadir dengan mudahnya.
Arvin menggerakan tangannya, mengusap lembut bercak air yang masih menggenang di pipi chubby yang gadis itu miliki, "udah gausah nangis, gue gak bakal marahin lo. Lagi pula lo gak lihat kan tadi?"
Aletta mengangguk pelan, seperti bocah yang tengah ditawari mainan oleh orang tuanya. Arvin pun ikut mengangguk, rasa malu yang ia rasakan seakan sirna begitu saja.
"Gue cuma bilang, lain kali kalau mau nglakuin sesuatu jangan buru-buru. Karena kata guru ngaji gue dulu, buru-buru tu sifatnya setan!"
"Lo mau jadi setan?"
Dengan helm fullface yang menjadi pelindung kepala, juga jaket tebal yang Arvin kenakan, laki-laki itu menarik kuat gas motor yang ia kendarai. Hembusan angin malam yang semakin terasa kencang saat motor itu melaju diatas kecepatan rata-rata sama sekali tak menghentarkan tubuh Arvin. Sudah lama rasanya ia tidak melakukan hal seperti ini.
Beberapa menit berlaku, Arvin kini sudah sampai pada rumah besar yang selalu menjadi tempat penginapannya ketika tengah bosan. Laki-laki itu mengetuk pelan pintu dihadapannya, tak perlu waktu lama seorang wanita paruh baya yang bekerja dirumah itu membukakan pintu dan menyuruhnya masuk. Dengan sedikit berlari Arvin menaiki setiap anak tangga yang akan mengantarkanya pada satu ruangan yang menjadi tujuan utamanya saat ini.
Tanpa megucap salam, ia langsung memutar knop pintu, menampilkan dua laki-laki yang tengah asik berkutat dengan stik PlayStations ditangan masing-masing. Namun, baru saja Arvin merebahkan tubuhnya dengan nyaman diatas kasur, pertikaian sudah kembali ia dengar. Mulai dari mencibir satu sama lain, saling ejek dengan senyum-senyum penuh kemenangan palsu. Bahkan mereka tertawa cukup keras ketika satu di antaranya berhasil mencetak gol atau mencapai level yang lebih tinggi.
Brak!!!
Ardi memilih membantik stik yang ia pegang dengan kasar, matanya menatap intens Zidan yang ternyata juga tengah menatapnya dengan remeh, "gue out, lo curang!"
Tawa Zidan terdengar mengejek saat ia menjawab, "gue gak curang, lo nya aja yang kurang skill"
Ardi mendengus kesal, laki-laki itu memutuskan untuk beranjak dan turut merebahkan tubuh disamping Arvin. Kini posisi mereka saling berjajar meninggalkan Zidan yang kembali memainkan Stik yang terhubung dengan televisi besar di kamar Ardi.
"Vin, lo kemana aja sih, susah banget diajak ngumpul" tutur Ardi berusaha mengambil atensi Arvin, tapi yang diajak ngobrol sama sekali tidak menggubrisnya, karena terlalu fokus pada benda pipih yang sedang ia pegang.
"Vin, lo ngapain sih?" tanya Ardi lagi, saking penasarannya ia sampai menarik ponsel Arvin hendak melihat apa yang tengah laki-laki itu lakukan.
Keadaan Arvin yang lengah membuat Ardi dengan mudah mengambil alih ponselnya. Ia berdiri hendak menghindari Arvin yang kelihatan kesal.
"Ck! Balikin, ponsel gue!" Arvin menggerutu dengan wajahnya yang berubah lesu, terlalu malas untuk bermain-main. Tangannya bergerak hendak mengambil ponsel dari genggaman Ardi, sayangnya laki-laki itu terlalu lihai untuk menghindar.
"Zidan, tangkap!" Laki-laki itu melempar ponsel berlogo apel milik Arvin. Dengan cepat, Zidan berhasil menangkapnya, meskipun sebelumnya ia tengah asyik bermain game. Ardi akui sejak dulu Reflek laki-laki itu sungguh luar biasa dan jarang meleset.
Zidan sedikit menyeringai, ia membolak balikkan benda pipih yang kini berada ditangannya, " Ada apa emang di dalem sini? Nonton yang aneh-aneh kan lo!" ucapnya dengan menatap Arvin berusaha menggoda.
Hal seperti ini memang biasa dilakukan mereka bertiga, tapi baru kali ini seorang Arvin menjadi korbannya.
"Hayo, Ngaku lo!" hardik Ardi, dengan memunculkan garis diantara alisnya. Sementara tatapannya meneliti wajah Arvin yang tampak santai di hadapannya.
"Ngaco lo pada!" elaknya dengan ketus, kemudian ia berdiri dan mengambil duduk diatas karpet bulu tepat di samping Zidan, "Orang gue lagi lihatin foto cewe gue!" lanjutnya dengan menunjukan senyum nakal.
Pengakuan itu berhasil membuat Ardi syok berat, laki-laki itu ikut turun dan duduk dihadapan Arvin dengan raut penuh tanya, kemudian beralih menatap Zidan yang justru mengedikan bahunya sebagai jawaban.
"Lo bohong kan?" tuduh Ardi, matanya menelisik mencari kebohongan di wajah Arvin, tapi bukanya menemukan jawaban, yang didapatkan justru sebuah tampolan yang berbunyi renyah di wajahnya.
Zidan yang sebenarnya juga penasaran, dan karena tidak mau mati karena hal itu, membuatnya memutuskan untuk menyalakan ponsel Arvin yang sudah pasti ada jawaban disana.
Namun, baru saja tangannya hendak bergerak, sebuah panggilan sudah lebih dulu masuk. Arvin yang menyadari hak itu segera merebut ponselnya dan sedikit menjauh dari kedua temannya.
"Oke-oke, Gue kesana sekarang! Lo jangan kemana-mana!"
Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi wajah Arvin terlihat panik setelah mengucapkan kalimat itu, dan memutuskan untuk mengakhiri panggilannya. Bak enggan memberi sedikit celah untuk kedua temannya bertanya, laki-laki itu sudah lebih dulu mengambil jaket dan kunci motor, lalu bergegas keluar ruangan, tanpa mengucapkan sepatah kata. Membuat Ardi dan Zidan menatap heran pintu yang menghilangkan jejaknya.
Ardi lebih dulu menoleh, menatap Zidan yang masih terdiam di tempat. Layaknya seorang cenayang, laki-laki itu mencoba membaca wajah Zidan yang telihat malas dalam keterdiamannya.
"Dia lagi?"
***
Bersambung...
Terimakasih yang udah baca:)
Jangan lupa tinggalin jejak kalian:)
See You di eps berikutnya:)