
Part ini kalian wajib baca author note ya karna ada info penting! Oke deh,happy reading gais!
-
-
-
-
Seperti yang ku bilang kemarin,hari ini aku akan mulai bekerja.
Aku menatap pantulan diriku di cermin,aku sengaja menggunakan hoodie dengan bawahan rok sekolahku.
Di balik hoodie ini sudah ada kemeja yang aku gunakan,bukan seragam sekolah karna hari ini kan aku sudah mau mulai bekerja jadi aku tidak usah memakai seragam sekolahkan?
"Loh kok tumben lo pake hoodie? Lo sakit?" Aku berdecak ketika Januar menghampiri diriku.
"Emangnya kenapa kalau gue apke hoodie? Gk ngebebani diri lo kan? Jadi gk usah sok perduli."
"Lo lagi PMS ya? Gue kan nanya baik-baik,aneh lo." Iya juga sih Januar dari tadi bertanya baik-baik denganku,entahlah mungkin aku terlalu takut,takut ketahuan oleh Januar kalau hari ini aku akan membolos sekolah.
"Ck terserah gue,udah ah gue mau berangkat duluan bye!" Aku langsung melangkahkan kakiku keluar rumah,seperti biasa aku akan naik angkot terlebih dahulu agar bisa sampai ke tempat kerjaku.
Tin..tin.
"Ayo naik,lo berangkat bareng gue ke sekolah." Aku membulatkan mataku ketika mobil Januar berhenti tepat di sampingku.
"Gk mau! Gue gk mau di serang sama fans-fans lo." Aku beralibi karna memang aku tidak ingin berangkat ke sekolah hari ini.
"Ck rese ya lo."
"Eh Januar,lo mau apa? Turunin gue woy!" Aku begitu kaget saat Januar tiba-tiba mengangkat tubuhku,bukan ala-ala bridal style tapi Januar mengangkat tubuhku seperti mengangkat karung beras. Dia membawaku masuk ke dalam mobil tidak perduli dengan diriku yang terus meronta-ronta dalam gendongannya.
"Turunin gue! Gue teriakin penculik loh ya!" Aku mengancam Januar namun sepertinya Januar tidak terpengaruh sama sekali.
"Teriak aja,gue bisa bilang ke mereka kalau lo ini istri gue. Mana ada kan suami nyulik istrinya sendiri?" Aku berdecak mendengar ucapan Januar,akhirnya aku memilih untuk diam.
Sepanjang perjalanan aku terus berfikir bagaimana caranya aku bisa turun dari mobil Januar,jika aku tidak turun sekarang aku bisa telat untuk bekerja.
"Januar...aduhh sakit.."
"Eh? Lo kenapa? Perut lo sakit?" Januar mulai panik ketika melihat diriku yang kesakitan.
"Iya sakit banget...hiks...gue mau pulang...hiks...perut gue sakit."
"Duhh,iya deh kita puter balik ya,lo masih kuat kan?" Aku hanya mengangukkan kepalaku,Januar pun memutar mobilnya tidak jadi melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah.
"Lo mau ngapain?!" Tanyaku was-was saat tubuh Januar begitu condong ke arahku.
"Ck katanya lo sakit,sini biar gue yang gendong lo ke dalam rumah." Aku akhirnya hanya pasrah saja saat Januar mengendong diriku,kali ini dia mengendongku tidak seperti sebelumnya,kali ini ala bridal style,tapi aku tetap tak perduli yang aku harapkan Januar bisa segera berangkat ke sekolah dan aku bisa segera berangkat bekerja.
"Hiks...sakit..hiks."
"Duh sakit banget ya? Apa gue gk usah sekolah aja nih,biar bisa nemenin lo?" Aku langsung membulatkan mataku mendengar ucapan Januar barusan.
"Eh jangan! Lo sekolah aja,jangan bolos. Nanti juga gue bakalan mendingan kok."
"Beneran nih lo gk apa-apa gue tinggal sendiri di rumah?" Aku langsung mengangukkan kepalaku dengan penuh semangat agar bisa meyakinkan Januar.
"Oke deh,kalau lo butuh apa-apa inget telepon gue aja ya."
"Pasti,nanti gue bakaln telpon lo kok kalau gue butuh sesuatu."
Setelah itu Januar pergi dari kamarku,lalu tak lama ia kembali membawa secangkir teh hangat.
"Nih gue buatin teh hangat,siapa tau bisa ngebantu buat ngeredain rasa sakit di perut lo."
"Makasih ya."
Januar tersenyum lalu ia menjawab ucapanku.
"sama-sama."
Setelah itu Januar pamit pergi ke sekolah,setelah aku memastikan kalau Januar benar-benar sudah pergi. Aku pun segera bangit,merapihkan pakaian dan penampilanku lalu setelah itu aku segera menyambar sling bag ku dan langsung pergi keluar dari rumah untuk berangkat bekerja.
****************
"Pagi mbak,masih inget saya kan?" Tanyaku pada wanita paruh baya yang kemarin aku temui yang memperkenalkan dirinya sebagai pemilik laundry,yang akan menjadi tempat ku bekerja.
"Ah iya yang mau kerja itu ya? Ayo sini saya kasih tau apa aja tugas kamu." Aku pun mengangguk semangat,lalu segera mengekori wanita paruh baya itu.
"Btw nama saya Lilis,kamu bisa panggil Lis doang juga gk apa-apa. Nama kamu siapa ya?"
"Ah iya mbak,perkenalkan nama saya Alika mba." Mbak Lis terlihat mengangukkan kepalanya saja.
Kemudian mba Lis menjelaskan apa saya pekerjaan ku di sini,aku mendengarkannya dengan serius kemudian setelah paham apa tugasku aku pun segera bekerja.
"Ah iya Alika,ini Taufiq dia yang akan menjadi partner kerja mu,dan ada satu lagi yang akan bekerja bersama dengan kamu tapi dia lagi gk masuk hari ini,dia lagi sakit." Aku pun mengangukkan kepalaku.
"Ya sudah kalau gitu mba mau pulang dulu ya,Taufiq kamu bantu Alika ya dia masih baru di sini."
"Oke deh,mba pulang dulu ya lik,kalau butuh bantuan bilang aja sama Taufiq hehe." Aku mengangukkan kepalaku sambil menyungingkan senyum.
Lalu setelah mba Lis pergi,aku mulai bekerja bersama dengan partner kerja ku,namanya Taufiq tapi aku memanggilnya kak Taufiq karna umurnya tiga tahun lebih tua dari diriku.
Kak Taufiq orang yang sangat ramah dan baik,dia juga orangnya asyik dan tidak pelit ilmu.
Dia mau mengajari diriku sampai aku mengerti dan bisa mengerjakan pekerjaan ku sendiri,awalnya aku merasa tidak terbiasa bekerja seperti ini tapi setelah aku coba dan aku bisa melakukannya aku fikir ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan.
"Istirahat duli lika." Ujar kak Taufiq yang memanggil diriku dengan sebutan 'lika', panggilan yang sangat jarang di sematkan oleh orang lain untukku sepertinya hanya kak Taufiq yang memanggil diriku seperti itu.
"Nih gue beliin lo nasi padang lik." Aku menatap bungkusan nasi padang yang di sodorkan kak Taufiq ke arahku.
"Eng..anu kak aku gk suka nasi padang hehe buat kakak aja." Aku mencoba menolak nasi padang tersebut secara sopan,karna memang jujur saja aku tidak begitu suka dengan nasi padang.
"Wah seriusan lo gk suka nasi padang? Asli sih gue baru tau,padahal nih ya lika,semua orang tuh suka nasi padang."
"Kecuali aku kak hehe." Kak Taufiq terkekeh ia bilang ia tidak menyangka ada orang yang tidak suka dengan nasi seenak nasi padang ini.
"Ya udah nih,lo bisa beli apapun yang lo mau buat lo makan siang ini." Aku menatap uang lima puluh ribu yang di sodorkan oleh kak Taufiq padaku.
"Eh? Nggak usah kak,saya gk laper juga kok."
"Ngeles mulu lo kaya bajai,udah sana beli makanan,gue tau lo juga pasti laper dan inget ya jangan di tolak karna gue gk terima penolakan." Seketika aku terdiam mendengar kalimat terakhir yang kak Taufiq ucapkan,sama persis dengan ucapan kak Alex waktu itu,sepertinya kak Taufiq dan kak Alex sama-sama tipe orang yang tidak terima penolakan.
Akhirnya aku pun menuruti ucapan kak Taufiq,aku pun izin padanya untuk membeli makanan dulu.
Aku melangkahkan kaki ku menjajaki tenda-tenda penjual makanan yang ada di dekat tempat kerjaku,pilihanku pun jatuh pada mie ayam,entah kenapa aku sangat ingin makan mie ayam sekarang.
Setelah memesan satu bungkus mie ayam,aku segera kembali ke tempat laundry.
"Ini kak kembaliannya." Ujarku seraya menyerahkan uang kembalian pada kak Taufiq.
"Udah kembaliannya lo ambil aja,buat jajan yang lain."
"Eh? Kok gitu kak? Gk usah ah kak,aku gk mau ngerepotin kakak." Kak Taufiq menghentikan suapan nasinya,ia malah menatap ke arahku.
"Dengerin ya lika,lo inget kan kalau gue benci penolakan?" Aku hanya mengangukkan kepalaku,lalu mengucapkan terimakasih pada kak Taufiq yang sudah sangat baik padaku.
"Ya udah sini,kita makan bareng." Aku pun menurut,aku langsung menggambil mangkuk ke belakang,karna kebetulan di tempat laundryan ini di sediakan dapur kecil dan beberapa peralatan makan untuk para karyawannya.
"Lo suka banget sama mie ayam ya?" Tanya kak Taufiq,aku menghentikan seruputan ku pada mie ayam yang sedang ku makan.
"Iya kak,ini emang makanan favorite aku selain pizza." Kak Taufiq tersenyum mendengarnya.
"Kalau gue liat-liat nih ya,lo tuh masih muda kalau gue tebak sih lo masih sekolah kan?"
"Uhuk..uhuk..uhuk." aku langsung tersedak kuah mie ayam,ketika kak Taufiq bertanya hal seperti itu padaku.
"Aduh pelan-pelan dong lika makannya,gue tau tuh mie ayam enak tapi pelan-pelan makannya." Aku segera menerima gelas yang berisi air minum yang baru saja di sodorkan oleh kak Taufiq padaku.
"Terimakasih kak." Setelah merasa lega,aku kembali melanjutkan menyantap mie ayam.
"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi,lo masih sekolah kan?" Tanya kak Taufiq,sepertinya dia benar-benar penasaran dengan ku.
"Iya kak,tapi karna udah gk ada biaya jadinya saya pilih kerja aja deh." Aku terpaksa berbohong,aku tidak mau kak Taufiq tau kalau aku masih sekolah. Bisa-bisa dia bilang pada mba Lis dan mba Lis malah mengeluarkan aku nanti,aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini.
"Haduh sayang banget ya,emang umur lo sekarang berapa?"
"17 tahun kak." Kak Taufiq terlihat mengangukkan kepalanya.
"Berarti lo kalau sekolah udah kelas 11 atau kelas 12?"
"Kelas 11 kak." Jawabku lagi,kak Taufiq kembali mengangukkan kepalanya.
"Kenapa lo gk sekolah lagi?"
"Saya gk punya uang buat biayain sekolah saya kak." Jawabku beralasan lagi.
"Ya begitulah kehidupan,kadang kehidupan emang sekeras ini. Kadang apa yang kita harapkan dan kita inginkan tidak terwujud,kita malah harus menjalani kehidupan yang pelik." Aku mengangukkan kepalaku mendengar ucapan kak Taufiq yang sangat tepat sekali.
"Tapi gk apa-apa,lo tetep semangat ya!"
"Siap kak!" Aku dan kak Taufiq lalu tertawa bersama,aku benar-benar merasa punya seorang abang saat ini.
Dan aku yakin bahwa aku akan sangat betah bekerja di sini,aku juga harus rela menyembunyikan identitasku,karna aku tidak ingin kehilangan pekerjaan yang sangat berharga ini,aku berharap semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar dan berjalan dengan baik-baik saja.
Author note:*Heyoo gais! Ululu,ketemu lagi sama author! Gimana part ini? Semoga kalian gk ada yg bingung ya sama alurnya. Jangan bingung juga sama nama-nama tokohnya:") biar kalian gk bingung aku bakalan jelasin deh ya.
Sementara ini tokoh yang baru terekspos yaitu:
Alika dan januar,lalu ada Alex(kakak kelasnya Alika yang semuran,seangkatan sama Januar juga,dan dia juga naksir Alika) lalu ada mba Lis(bos Alika/ yg punya Laundry,tempat Alika kerja),lalu terakhir ada Taufiq(temen Alika,sama-sama karyawannya mba Lis).
Nah semoga gk ada lagi ya yang komen "terlalu banyak pemainnya jadinya pusing" hehe soalnya aku suka rada kesel baca komenanya:") intinya tokoh utama dari cerita ini tu
Januar dan Alika karna emang cerita ini menceritakan kehidupan pernikahan mereka:") sementara pemain yg lain hanya sekedar pemanis dan pelengkap,dah ya segitu dulu dari Author,jangan lupa banyakin vote plus komen gengs biar authornya rajin update,see you next part!
[FV/V]
💙