Young Marriage

Young Marriage
Young Marriage 28



...Happy readingšŸ¤—...


Saat Zidan tengah asik berkutat dengan benda pipih yang dibiarkan miring di tangannya, ekspresi wajahnya sangat khusyuk. Matanya terfokus, dan bibirnya sedikit mengernyit dalam konsentrasi. Rambutnya yang tergerai sedikit menyelimuti wajahnya yang serius.


Di sisi lain, Ardi justru sibuk berguling kesana-kemari seperti orang kesetanan. Ekspresi wajahnya mencerminkan kegabutan dan kesengsaraan.


Laki-laki dengan rambut belah tengah itu mendongak, menatap Zidan yang sama sekali tak menghiraukan kehadirannya, sehingga ia memutuskan untuk melempar guling ke arah laki-laki itu. Meski hanya melihat dari ekor mata, Zidan dapat menangkap guling itu dengan sempurna, membuat Ardi kembali mendengus tak suka.


Entah sudah berapa kali pula, ia menelpon Arvin, tapi tetap saja, hanya suara operator yang menjawabnya. Hingga laki-laki itu memutuskan untuk bangun dan mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu.


"Mau kemana lo?" tanya Zidan yang berhasil menangkap langkah kaki itu, membuat Ardi yang sudah berada di ambang pintu menoleh dengan sarkastis.


"Ke Rumah Arvin. Kenapa, mau ngikut lo?"


Dengan segera, Zidan mematikan ponsel dan memasukannya kedalam saku jaket, lantas berjalan mendekat ke arah Ardi. "Ngapain kesana markonah! Udah malem. Lo mau di ketok ama palunya Om Wijaya"


Ardi mengerlingkan matanya pada Zidan, lalu melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 9 malam. Kemudian kembali menghadap Zidan dengan helaan nafas yang dibuat seberat mungkin


"Bodo Amat! Salah sendiri punya anak diajak nongkrongnya susah bet!"


Setelah selesai berucap, tanpa menunggu respon dari Zidan, laki-laki itu kembali berlari menuju tempat dimana motornya diparkirkan. Zidan yang tak habis pikir, hanya bisa menggeleng pelan, Sebelum akhirnya turut beranjak guna menyusul laki-laki itu.


Malam ini, langit berbintang menghiasinya dengan gemerlap. Cahaya bulan yang lembut memancar dari balik awan tipis, menciptakan bayangan-bayangan misterius di sekitar mereka. Jalan yang sepi hanya diterangi oleh lampu jalan yang jauh di trotoar. Kedua anak manusia itu memasuki pekarangan rumah Arvin.


Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, Ardi lebih dulu mengetuk pintu yang menjulang tinggi di depannya, disusul Zidan yang berdiri di sampingnya dengan wajah pasrah.


Satu kali ketukkan, belum ada yang menjawab.


Dua kali ketukan, nyatanya masih sama.


Hingga di ketukkan ketiga, pintu terbuka dengan lebar. Menampilkan sosok gadis cantik dengan tinggi semampai dengan bulu mata yang melentik indah, membuat Ardi melotot seketika.


****


Langit yang semakin berbintang menyajikan pemandangan yang memesona. Bulan menghiasi langit dengan sinar lembutnya yang menerangi pekarangan rumah Arvin. Gemercik air dari kolam ikan yang terletak tidak jauh dari mereka menambah nuansa tenang. Suara gemuruh daun-daun pepohonan yang ditiup angin malam melengkapi kesan alami di sekitar mereka.Ketiganya duduk bersama di bangku panjang yang terletak di halaman belakang rumah Arvin. Udara malam yang sejuk memeluk mereka dalam keheningan yang penuh makna. Zidan, dan Ardi saling memandang, ekspresi mereka mencerminkan kebingungan yang mendalam. Dan susah payah mereka berusaha mencerna semua informasi yang baru saja diungkapkan oleh Arvin, membuat suasana menjadi semakin tegang seiring dengan lamanya keheningan yang menggantikan percakapan.


"Minum!" ucap yang perempuan, sembari menurunkan tiga cangkir teh untuk Arvin dan teman-temannya, seketika berhasil membuyarkan keheningan yang sempat terjadi.


Saat hendak melangkah pergi. Namun, Ardi lebih dulu menahan lengannya untuk tetap berada di sini bersama mereka. Aletta sendiri hanya melirik, sebelum akhirnya mengambil duduk di samping Arvin dengan helaan nafas yang terdengar pasrah.


"Jadi lo dijodohin sama, ni cowok?" tanya Ardi pada Aletta, dagunya bergerak menunjuk Arvin yang tengah bersandar pada sandaran yang ada pada bangku.


"Bukan urusan lo!" jawab Aletta sarkatis. Baginya ini bukan urusan Ardi, dan Ardi bukanlah seorang penyidik yang semua pertanyaannya harus dijawab dengan jujur.


Ardi menghela nafas, manatap Zidan yang nampaknya belum bisa mencerna ini semua.


"Apa lo udah tahu kalau Arvin suka sama lo?" tanya Ardi lagi, laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya pada Aletta. Dan saat itu juga Arvin langsung mendorong tubuh itu hingga menabrak tubuh Zidan.


"Lo berisik!" ujarnya penuh penekanan. Kemudian ia menatap Aletta yang masih setia duduk di sampingnya, "sana masuk! lama-lama disini, bisa bikin otak lo gesrek kayak Ardi."


Aletta tak berniat menjawab, gadis itu hanya mengangguk, kemudian beranjak untuk menuruti perintah suaminya.


Kepergian gadis itu tak lepas dari tatapan Zidan dan Ardi, membuat Arvin berdehem untuk mengambil atensi kedua temannya.


"Ooo, jadi ini alasan lo? Pantes susah bener diajakin nongkrong, iya nggak Dan?" tuturnya meminta persetujuan dari Zidan.


Zidan pun turut mendekat ke arah Arvin, kini posisinya Arvin ada ditengah-tengah kedua temannya. Arvin yang menyadari itu segera menatap kedua orang itu bergantian.


"Weh, mujur banget nasib lo, ga usah susah-susah lagi cari cara buat dapetin tu cewek, sekarang udah dateng sendiri. Mana langsung mau jadi istri lagi!" celetuk Zidan, tangannya menepuk pundak Arvin dengan tertawa ringan.


Arvin kembali menatap depan, mungkin ini memang sudah saatnya semua untuk tahu. Laki-laki itu menyeringai menatap Ardi dan Zidan dengan horor. " Udah bukan mau lagi, Aleta udah sah jadi miliknya Arvin askarava Wijaya."