
Sudah hampir seminggu aku tinggal di rumah ini bersama dengan Januar,omong-omong soal Januar,kami berdua sudah tidak terlalu sering bertengkar.
Tapi meskipun kami tidak lagi sering bertengkar tapi kekesalan ku pada Januar masih belum berkurang,karna bagaimanapun ini semua terjadi karna campur tangan Januar juga dan aku tidak akan bisa melupakan itu.
Selama seminggu ini aku benar-benar merasa tersiksa,sepulang sekolah aku harus mengerjakan pekerjaan rumah tapi untungnya ada Januar yang membantuku.
Kami membagi-bagi pekerjaan rumah supaya adil,hari ini jadwal ku mencuci,menjemur,dan melipat pakaian,sedangkan Januar jadwalnya hari ini adalah memasak,menyapu,mengepel, dan merapihkan kamar ku dan kamarnya sendiri.
Aku meregangkan otot-ototku,merasa lelah karna baru saja selesai melipat pakaian.
Aku menatap kedua tanganku yang terasa kasar,walaupun baru seminggu tapi tanganku sudah terasa kasar saja,padahal dulu saat masih tinggal dengan mamah dan papah tanganku tidak pernah sekasar ini.
Aku merenung,tiba-tiba merasa ingin menangis menghadapi semua ini,entah sampai kapan semua ini akan berakhir.
Aku rasanya tidak akan bisa sanggup menghadapi ini semua kedepannya,dulu kalau di rumah orang tua ku aku selalu di perlakukan seperti putri,mau ini dan itu tidak perlu mengerjakan sendiri karna sudah ada pembantu yang mengerjakannya tapi kini aku benar-benar kesusahan.
"Kenapa jadi begini." Aku menundukkan kepalaku,meratapi nasib ku yang malang.
"Udah selesai melipat bajunya?" Aku langsung mendongakkan kepalaku,di hadapanku sudah ada Januar yang sedang tersenyum.
"Udah."
"Kalau udah makan malam dulu yuk,kebetulan gue baru aja selesai masak." Aku hanya mengangukkan kepalaku,lalu bangkit mengikuti langkah Januar.
"Sini duduk lik." Aku menurut lalu duduk tepat di hadapan Januar.
Aku menatap lauk yang tertata di meja makan,ada tempe dan tahu goreng,ikan goreng,lalu ada telur sambal balado.
"Sorry ya gue cuma masak ini,karna uang gue cuma cukup buat beli ini." Aku rasanya ingin menangis,tapi ku tahan,dan aku hanya mengangukkan kepala saja.
"Coba deh di makan enak kok." Aku menurut,perlahan aku memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutku.
"Gimana? Enak gk masakan gue?" Aku mengunyahnya,lalu aku tersenyum pada Januar.
"Enak." Jawabku,Januar tersenyum sumringah.
"Iya dong,kan gue yang masak." Aku mendengus mendengar ucapannya yang narsis.
"Lo tau gk lik,gue tuh suka banget sama telor sambal balado ini,rasanya enak banget." Aku mengangguk membenarkan,ternyata telur balado itu rasanya tidak seburuk dugaanku.
"Lo besok ada ulangan harian kan?" Tanya Januar padaku,ah iya aku baru ingat kalau besok aku ada ulangan harian Matematika.
"Udah lo belajar aja sana,malam ini gue deh yang gantiin lo nyuciin piring."
"Seriusan?"
"Iya,udah sana sebelum gue berubah fikiran." Aku langsung bangkit dan berjalan menuju kamar setelah aku selesai menyantap makan malam,aku harus belajar karna besok ada ulangan harian matematika di sekolah.
Tok...tok...tok
"Masuk,gk di kunci." Lalu tidak lama pintu kamar ku terbuka,menampilkan sosok Januar yang tersenyum.
"Nih gue bawain lo teh hangat,sama cemilan dan obat juga. Gue liat tadi lo kurang sehat,jangan lupa di minum obatnya ya." Aku terdiam saat Januar mengusap kepalaku sebelum akhirnya dia keluar dari kamarku.
"Dia...kenapa jadi manis gitu?"
*******************
Pagi ini aku sedang menikmati sarapan bersama dengan Januar sebelum kami berangkat ke sekolah.
Kali ini aku yang bertugas memasak menu sarapan pagi ini,ya walaupun hanya telur ceplok doang sih tapi itu semua perlu pengrobanan apalagi melawan minyak panas yang selalu mengenai kulitku.
"Gimana rasanya?" Tanyaku pada Januar,Januar tersenyum itu pertanda kalau makanan ku enak kan?
"Iya enak,ayo lo juga cobain dong." Aku menganguk antusias,kemudian menyuapkan potongan telor tersebut ke dalam mulutku.
"Ihh apaan ini,kok asin banget!" Aku segera meneguk segelas air untuk menteralkan rasa asin di mulutku.
"Hahaha,gimana asin banget ya? Ck ck kalau gk pro masak telur mendingan lo masak mie instan aja tadinya haha." Aku menatap kesal pada Januar,lihat semalam dia begitu manis tapi sekarang malah terlihat begitu sangat menyebalkan.
"Gue berangkat." Aku merasa kesal mendengar ejekkan Januar,aku pun akhirnya memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu,meninggalkan Januar sendirian di meja makan.
Untuk berangkat ke sekolah kali ini aku harus berjalan kaki dan naik angkutan umum.
"Bang kiri." Teriakku saat ada sebuah angkot yang melintas,aku pun langsung naik ke angkot tersebut.
Aku menatap tak nyaman pada seorang pria di sampingku ya sedang merokok,apalagi keadaan di angkot ini yang sangat penuh dengan penumpang,membuatku semakin sesak saja rasanya.
Aku mencoba menahan rasa kesalku,dari dulu aku memang tidak pernah naik angkot seperti ini,biasanya aku selalu di antar naik mobil ke sekolah oleh supir pribadiku.
"SMA Pelita pak." Ujarku,angkot pun berhenti.
Aku menyerahkan uang pada supir angkot tersebut,setelah itu aku melangkahkan kakiku masuk ke halaman sekolah.
Di depan gerbang,para murid yang melihatku berangkat naik angkot menatapku dengan tatapan yang bermacam-macam.
"Tumben dia naik angkot,biasanya di anter sama supir pribadinya kan?"
"Eh iya ya,jangan-jangan perusahaannya ortunya bangkrut kali,makannya dia naik angkot haha." Aku mencoba menulikan pendengaranku,aku tidak mau memikirkan ucapan orang-orang padaku,aku pun memilih untuk berjalan sambil menundukkan pandanganku dan mencoba tuk tidak perduli pada sekitar.
Brukkk
"Eh sorrry,gue gk liat tadi. Ada yang sakit gk? Kepala lo sakit?" Aku masih menundukkan kepalaku yang terasa pusing.
"Loh Alika? Hei kita ketemu lagi,sebuah kebetulan yang luar biasa." Aku terkejut ketika melihat seseorang yang tadi menabrakku,ternyata dia adalah orang yang sama,orang yang kemarin di kantin itu,yang mengaku sebagai pacarku.
"Gimana Alika,udah mau jadi pacar gue?" Aku mengerjapkan mataku,menatap tak percaya ternyata dia masih ingat pernyataan cintanya padaku.
"Maaf nih ya,kok lo bisa suka sama gue? Maksudnya...erggg kenapa harus gue gitu?"
"Haha,lo itu lucu banget ya." Dia malah mencubit hidungku dengan gemas,membuat jantungku berdetak abnormal.
"Gue suka sama lo dan itu gk ada alasannya,karna gue tulus suka sama lo hehe,ngertikan?" Aku membalas senyumannya yang begitu manis.
"Btw lo tau nama gue kan? Tau kelas gue juga gk?" Aku langsung mengangukkan kepalaku,siapa juga yang tidak mengenal dia? Dia adalah seorang pria yang terkenal di sekolaku,dia berada satu tingkat di atas ku,ya lebih tepatnya dia sekelas dengan Januar.
Namanya Alex Pradipta Maheswari,anak dari pemilik perusahan ternama,Maheswari company group . Dia termasuk most wanted di sekolah ini,banyak yang suka dengannya bahkan mungkin fansnya bisa mengalahkan fans Januar.
"Iya tau kak." Jawabku,dia tersenyum memamerkan lesung di kedua pipinya.
"Bagus,nanti pulang sekolah ke kelas gue ya. Kita pulang bareng dan kali ini gue gk suka penolakan ya hehe."
Blush
Pipi ku terasa panas karna perlakuan Alex barusan,sebelum pergi dari hadapanku ia mengacak-acak rambutku dengan gemas,lalu pergi dengan senyuman manisnya.
"Hmm,senyum-senyum sendiri,gila lo ya?" Aku kembali sadar dari rasa saltingku,aku menatap seseorang di depanku yang memasang senyuman menyebalkan andalannya.
"Bukan urusan lo,gk usah sok kenal deh." Aku menatap tajam pada pria tidak tau diri dan menyebalkan,siapa lagi kalau bukan Januar.
"Masuk kelas sana,jangan selingkuh sama orang lain. Inget lo udah punya suami jangan genit." Aku mendengus kesal mendengar ucapan Januar.
"Sorry gue gk kenal lo,jadi jangan sok akrab."
"Aduh ***** kaki gue!" Aku tidak segan-segan menginjak kaki Januar,setelah itu aku pun berjalan menuju kelas ku,mood ku yang cerah seketika mendung gara-gara kehadiran manusia kampret bernama Januar itu.
*****************
Aku menatap ke arah jendela,entah mengapa cuaca di luar terlihat sangat gelap. Aku menghela nafasku,terasa berat menghadapi ini semua.
Aku kembali teringat pada kejadian kemarin,kemarin saat aku membereskan kamar Januar aku melihat brosur iklan tentang lowongan pekerjaan yang tergeletak di atas meja belajar Januar.
Aku menduga kalau Januar berencana untuk mencari pekerjaan,melihat itu aku merasa kalau aku juga harus mencari pekerjaan agar aku tidak membebani Januar.
Walaupun dia sekarang adalah suamiku,dan aku adalah tanggung jawabnya tapi tetap saja aku tidak pernah meminta dia untuk menjadi suamiku.
Jadi aku sudah memutuskan bahwa aku akan membolos sekolah hari ini,saat jam istirahat pertama nanti aku harus pergi mencari pekerjaan agar aku bisa meringankan sedikit beban yang di tanggung Januar.
Kringg....kringgg...kringg.
Seperti rencanaku,istirahat pertama ini aku akan membolos.
"Aduh..duh sakit..." aku merintih kesakitan lalu tak lama teman sekelas menghampiriku,mereka terlihat panik melihatku kesakitan.
Lalu mereka membawaku ke UKS,dan mereka memberitahu keadaanku pada Bu Endah-wali kelasku,beliau mengizinkan aku untuk istirahat saja di UKS namun aku bilang kalau aku tidak kuat dan memilih untuk pulang saja.
Akhirnya Bu Endah yang merasa kasihan padaku pun menyetujuinya,ia membiarkan aku pulang.
Saat ini aku sedang berjalan tertatih keluar dari gerbang depan,dan saat aku sudah lumayan jauh dari sekolah aku tersenyum senang.
"Hebat juga akting gue,cocok lah jadi pemain sinetron azab di indojiar." Aku terkekeh mendengar ucapanku sendiri.
Aku pun mulai melangkahkan kakiku,aku juga memutar otakku agar aku bisa mendapat pekerjaan.
Satu persatu toko ku datangi,menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan untuk anak SMA seperti diriku namun nyatanya nihil.
Hari sudah beranjak siang,namun aku masih terus mencari lowongan pekerjaan untukku.
Saat aku hampir putus asa,aku melihat sebuah brosur yang menyatakan bahwa ada lowongan pekerjaan sebagai pegawai laundry,tentu saja aku sangat senang mendengarnya.
Dengan langkah riang aku menghampiri alamat toko laundry tersebut.
"Permisi,apakah benar di laundry ini sedang ada lowongan pekerjaan?" Tanyaku pada seorang wanita paruh baya.
"Iya betul dek,oh adek mau melamar pekerjaan ya?" Aku mengangguk antusias.
"Kebetulan laundry ini milik saya,kalau emang adek serius mau kerja di sini besok pagi langsung datang aja ya bisa langsung kerja kok." Aku tersenyum,akhirnya pencarian ku tidak sia-sia.
Setelah berbincang-bincang dengan sang pemilik laundry tersebut aku pun memutuskan untuk pulang kebetulan ini sudah sore dan aku yakin Januar pasti sudah ada di rumah.
Aku tidak sabar untuk segera bekerja esok hari,semoga hari pertama ku bekerja semuanya berjalan dengan lancar,ya semoga saja.
Yipiii! Aku update lagi gais:) gimana part ini? Komen di bawah ya! Jangan lupa vote dan komen see you next part😊
[FV/V]
💙