Young Marriage

Young Marriage
Young Marriage 19



...Happy Reading🤗...


"Al, gue boleh masuk?" gumam Arvin setelah mengetuk pintu yang berdiri kokoh di hadapannya. Namun, tidak ada suara yang menjawab dari dalam.


"Al, lo tidur? Gue masuk ya."


Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, Arvin memutar knop pintu dan memasuki ruangan yang dipenuhi warna abu-abu sebagai catnya.


Banyak foto-foto kecil Aletta dan juga Sea terpajang di dinding kamar ini, namun Arvin tidak menemukan sosok yang ia cari.


Perlahan, laki-laki itu melangkah lebih dalam hingga ia menemukan istrinya sedang sibuk dengan laptop di balkon kamar.


Arvin tersenyum, langkahnya mendekat ke arah Aletta yang ternyata menyadari kehadirannya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Aletta, tangannya bergerak menutup layar laptop berlogo apel di pangkuannya.


"Emangnya salah kalau gue kesini?"


Aletta berdecak malas, baru saja sehari ia merasakan ketenangan tanpa adanya Arvin, tapi sekarang justru laki-laki itu yang datang mengunjunginya.


"Ck! Terserah lo, gue mau masuk."


Gadis itu beranjak dari duduknya dan langsung masuk kedalam kamar, meninggalkan Arvin dengan tatapan cengo.


"Al, gue ini suami lo. Bukannya disambut malah ditinggal pergi." decak Arvin, kepalanya menoleh sempurna mengikuti kepergian Aletta.


Gadis itu sendiri, langsung mendudukan tubuhnya di pinggiran kasur. Diikuti Arvin yang langsung melakukan room tour dikamarnya.


"Gila Al, ternyata Lo dulu imut ya? Tapi sekarang lo jadi amit-amit!" seru Arvin yang tengah terfokus pada foto masa kecil Aletta, dengan pipi chubby dan hidung yang menghilang entah kemana.


Aletta reflek melempar sebuah bantal dan tepat mengenai tengkuk suaminya. " Enak aja! Kalau gue amit-amit terus lo apa?"


Arvin tersenyum, menatap Aletta, "kalo gue mah, tamvan tingkat dewa. Lihat aja wajah gue, udah spek dewa yunani!" tuturnya dengan sangat percaya diri, membuat Aletta ingin mual mendengar itu semua.


"Mana ada spek dewa Yunani? Yang ada wajah lo tuh spek dugong main lumpur!"


"Walaupun kayak dugong, buktinya lo tetep mau nikah sama gue!" elak Arvin dengan menaik turunkan alisnya berusaha menggoda Aletta.


Kan benar, belum ada satu jam, Arvin sudah berhasil membuat Aletta naik darah. Kalau gini terus, yang ada Aletta bisa stroke.


Arvin kembali melangkahkan kakinya, ia duduk di kursi dekat meja belajar gadis itu, matanya menyapu semua buku yang tertata rapi, di sudut meja ada sebuah lampu belajar dan bingkai kecil berisi fotonya dengan Aletta yang tengah memakai kebaya pengantin


Di Foto itu tampak Aletta tengas melengos tidak suka, sedangkan Arvin sendiri terlihat melirik dengan memamerkan cincin nikahnya.


"jangan gr dulu, itu bunda yang naroh" cicit Aletta dengan nada ketus, saat melihat melihat Arvin tengah mengambil bingkai itu dengan sedikit menampilakan senyuman.


Namun, yang laki-laki tampak tidak menggubrisnya, dengan hati-hati Arvin meletakkan kembali bingkai itu pada tempat semula, kemudian ia berdiri dan berjalan mengikis jaraknya dengan Aletta.


"Lo udah sehat?" Dengan selembut mungkin Arvin kembali bertanya, matanya menatap wajah Aletta begitu dalam, berusaha mencari sesuatu di dalam sana. Tapi tetap saja, hanya kehampaan yang berhasil ia temukan.


Tak juga mendapat jawaban dari gadis dihadapannya, membuat Arvin kembali mengeluarkan suara. " Lo sayang banget ya sama Sea?"


Aletta, yang sebelumnya hanya diam, kini terkekeh mendengar pertanyaan itu. Membuatnya bangkit dari duduk, dan melangkah menuju dinding, di mana tergantung sebuah foto Sea yang tengah memamerkan senyum termanis, dengan kacamata bulat yang menempel di klit putihnya.


Dengan senyuman yang terus mengembang, Aletta meneliti setiap inci dari gambar itu.


"Gimana gue gak sayang banget sama dia, Vin. Lihat saja, gadis yang selalu terlihat ceria dengan kacamata bulatnya itu, dia rela ngorbanin apapun demi lihat gue bahagia, termasuk dirinya sendiri." ujarnya mengingat semua momen indah mereka.


Arvin yang masih duduk tertarik untuk mendekat, memandangi foto Sea dengan senyuman yang memgembang sempurna. Tak bisa dipungkiri, wajah Sea memang sangat cantik, matanya bulat, bulu matanya melentik serta gigi gingsul di kedua sisi.


"Lo bener Al, Sea memang secantik itu, senyuman yang ia punya berhasil menghangatkan siapapun yang melihatnya, termasuk gue."


Arvin menoleh, menatap Aletta yang tatapannya masih fokus ke arah depan, dia memperhatikan dengan seksama setiap detail wajah gadis di sampingnya, pipi yang kemerahan, mata memancarkan perasaan yang rumit, dan bibir yang sedikit terkatup erat, dan dengan menunjukan senyum manis Arvin kembali berucap, "tapi sekarang, senyuman itu pindah di lo Al"


Aletta yang mendengar itu, merasakan desiran hebat terjadi lagi pada tubuhnya, entah mengapa tapi tubuhnya terasa panas dan dingin dalam satu waktu, dalam tempo yang lambat ia menoleh, netranya menemukan Arvin yang masih menatapnya dengan lekat.


Aletta tertawa, berusaha mencairkan ketegangan yang ia alami. "dasar calon buaya! Udah mulai pinter gombal sekarang."


Setelah berucap gadis itu melenggang pergi, dan kembali duduk di tempat awalnya, tangannya bergerak membuka ponsel dan ia teringat sesuatu.


"oh, iya Vin? Lo kenal Medina udah lama kan?" tanya gadis itu, membuat Arvin dengan cepat bergerak mendekatinya dengan wajah campur aduk, antara panik juga bingung.


"Nggak usah panik gitu muko lo. Sans aja!" celetuk Aletta dengan raut meledek.


"Halah, basi." Aletta mencebikkan mulutnya, sebelum kembali ke topik awal, "Tapi gue serius, lo deket sama tuh cewek udah lama kan?"


Arvin mengangguk, karena memang itu kenyataannya, sejak kejadian malam hari kala itu, mereka berdua menjadi dekat hingga saat ini.


"Apa yang lo tahu dari dia?"


Arvin menyerngit pertanda semakin bingung. "Maksud lo?"


Melihat ekspresi yang Arvin tunjukan, membuat Aletta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung mau menjelaskan dari mana.


"Lo kenal sama keluarga dia?"


Arvin kembali mengangguk, dan menjawab. " Gue emang udah lama kenal sama dia, tapi gue gak kenal sama keluarganya. Yang jelas sekarang dia tinggal sama om dan tantenya, setelah kedua orang tuanya meninggal karena insiden kecelakaan tunggal."


Aletta menutup mulut tak percaya, Selama ini yang ia tahu Medina hanya gadis angkuh dan selalu ingin berkuasa karena harta kedua orang tuanya. Tapi nyatanya tidak, atau mungkin semua kelakuan Medina hanyalah sebuah pelampiasan untuk mencari sebuah hiburan.


...****...


Sella duduk di ruang tamu yang nyaman, menyesuaikan sudut ponselnya untuk menghubungi Aletta dan Dino melalui video call. Ditemani secangkir teh yang sedikit berkabut, karena uap panasnya. Tak perlu waktu lama panggilan itu akhirnya terhubung, menampilkan wajah kedua temannya dengan senyum akrab di layar ponsel.


Sella tersenyum lebar, pandangan pertama jatuh pada Aletta yang masih sedikit pucat. "Hai, Aletta. Gimana kabar lo, udah baikkan?"


"Gue baik-baik aja, palingan besok juga udah bisa ke sekolah." jawab gadis itu dengan menampilkan senyuman penuh kegembiraan.


"Kalau masih sakit gak usah dipaksa, iya nggak Sel?" sambung Dino meminta dukungan dari gadis berambut sebahu itu.


Sella mengangguk setuju. " Iya, bener kata Dino, daripada ntar lo makin sakit, terus gak bisa ikut ujian terus gak lulus, terus–


"Terosss aja terooos, terusin Sel, biar nabrak sekalian!" potong Aletta dengan senyum selebar mungkin, membuat Dino mengeluarkan tawanya yang terdengar renyah.


Sella pun turut tertawa, sebelum kemudian mengingat tujuan utamanya memulai panggilan. Gadis itu diam seribu bahasa, dan berhasil membuat kedua temannya bingung.


"Kenapa lo diem? Kesambet?" tanya Dino yang justru membuat Sella menatapnya dengan penuh intimidasi.


"Hayo Dino, lo abis kencan kan semalam? Ngaku lo sama gue!"


Mendengar itu, Aletta langsung tertawa. "Ngaco lo Sel, salah lihat kali?"


Sella berdecak, mengingat kejadian semalam bahwa yang dilihatnya benar-benar Dino. " Nggak Al, gue serius. Kemaren gue beneran lihat dia jalan sama cewe."


"Emang bener, Din?" Aletta beralih menatap layar yang memunculkan wajah Dino, keningnya mengerut menunggu jawaban laki-laki itu.


"udah, Din. Ngaku aja! Palingan kita juga cuma minta bakso sepuluh porsi." Sella terkikik sendiri mendengar ucapannya. Membayangkan betapa nikmatnya makan bakso dalam porsi besar.


"lo beneran lihat?" tanya Dino memastikan,


Dengan gambalang sella menganggukkan kepala, "tapi sayang … gue gak lihat mukanya kayak gimana." sambungnya dengan menghembuskan nafas penuh kecewa.


Tanpa keduanya sadari, Dino menghilang sejenak dari layar, ia menghembuskan nafasnya yang sejak tadi terasa mencekat di leher, lalu kembali memunculkan wajah di layar, mencoba untuk tersenyum dengan santai.


Sella menyerngitkan kening dengan penuh curiga. "lo nggak nyembunyiin sesuatu kan dari kita?"


"Ya nggak lah, ngapain juga main rahasia-rahasiaan sama kalian." jawabnya dengan tegas.


"eh, gue ijin left dulu ya, biasa om gue manggil."


Tanpa menunggu persetujuan dari kedua temannya, Dino langsung saja menekan tombol berwarna merah, menyisakan tampilan layar hitam di ponsel kedua orang yang masih saling terhubung tanpa dirinya. Membuat Sella dan Aletta saling melemparkan pandangan penuh kebingungan.


"Aneh banget si Dino, nggak biasanya dia kayak gitu." ujar Sella, masih belum bisa berpikir dengan baik.


Aletta mencoba meredakan keadaan, menahan Sella agar tidak berpikir terlalu jauh. " Ya, palingan dipanggil omnya beneran. Lagian lo juga sih julid banget jadi cewek."


Namun, dalam hatinya, Aletta merasa ada yang tidak beres dengan teman laki-lakinya itu, seperti ada yang sengaja ditutupi, tapi dengan cepat ia menepis semua itu, toh jika memang benar ada yang disembunyikan, utu juga hal yang lumrah. Karena Aletta percaya dengan kata setiap orang punya privasi.


Sella mengangggukan kepalanya berualng kali, dengan bibir tersenyum sangki, menyadari sikapnya yang terlalu kepo malam ini.


Sedangkam Dino sendiri, dengan langkah cepat ia keluar dari kamar untuk menemui seseorang yang tengah berada di halaman belakang.


Ia berdehem, guna mengambil alih atensi orang itu. dan dengan dingin ia berkata. "Udah berapa kali gue bilang, gue gak mau ikut campur dan jangan ceroboh kalau masih mau aman!"