
...Happy ReadingđŸ¤—...
"Ck! Awas aja lo vin, kalau sampai lupa."
Entah sudah berapa kali, Aletta berdecak dengan kesal. Hari sudah mulai sore tapi Arvin tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Jika saja bukan karena ancaman dari laki-laki itu, sudah pasti ia akan sangat enggan menunggunya di pinggir jalan seperti yang dilakukannya sekarang.
Aletta memilih duduk di atas trotoar yang panas, merasakan betapa siang itu terasa semakin membosankan. Hembusan angin sepoi-sepoi berusaha memberi kenyamanan, tapi suara klakson yang terus berbunyi membuat kesabaran Aletta semakin menipis. Dia merenung, membiarkan matahari menyapu anak rambutnya yang lebat.
Hingga, suara deruman motor berhenti tepat di hadapannya, membuat gadis itu mendongak dan langsung berdiri. Tak segan-segan ia mengangkat kedua tangannya untuk berkacak pinggang, menatap Arvin dengan geram layaknya emak-emak yang akan memarahi anaknya yang bandel.
"Soory telat," ujar yang laki-laki tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Sorry telat" Aletta menirukan nada bicara Arvin, dengan bibir yang dimonyong-monyongkan tanda mengejek.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Netra hitam milik Aletta kembali menatap Arvin dengan nyalang, "Kemana aja lo? Jamuran gue nungguinnya. Masih mending tadi ga ada orang jahat, kalau semisal ada terus gue diculik, gimana?"
Arvin tertawa ringan mendengar celoteh gadis itu, dan satu hal lagi yang Arvin ketahui, ternyata Aletta juga sama bawelnya seperti gadis pada umumnya, padahal selama ini ia kira, Aletta adalah gadis yang sangat tidak ramah, jutek dan sangat menyebalkan.
"Ngapain ketawa-ketiwi kayak gitu? Seneng kalau gue beneran diculik.
Masih dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya, Arvin menarik tangan Aletta agar lebih mendekat ke arahnya. Tanpa permisi ia langsung mencubit pipi gembul milik gadis itu, kelewat gemas, tak peduli jika sang empu terus mengaduh kesakitan. "Iya nggak papa! Kan gue bisa cari istri baru, gampang kan?"
"ihhh … Arvin lepasin!" ucapnya sedikit berteriak, membuat Arvin dengan segera menghentikan aksinya, "sakit!" lanjutnya dengan menggembungkan pipi putihnya yang mulai memerah.
Bukannya merasa kasihan, Arvin justru semakin mengeraskan tawanya. Melihat itu Aletta reflek ikut tersenyum meskipun tidak kentara.
"Habisnya lo lucu Al kalau gitu."
"Tapi sakit!" adu Aletta lagi, masih dengan nadanya yang dibuat seketus mungkin.
"Utututu, sini-sini mana pipinya!" Arvin kembali menarik tubuh Aletta hingga hanya ada jarak sejengkal diantara mereka, tanganya bergerak lembut mengusap pipi sang istri.
Tak bisa dipungkiri, dalam jarak sedekat itu, Arvin memang terlihat sangat tampan dengan segala pesonanya, jakunnya yang tengah naik turun seperti menghipnotis Aletta agar terus berlama-lama di posisinya saat ini.
Tangannya yang semula mengelus pipi Aletta, berganti menjadi menangkupnya, matanya yang tajam menelisik ke arah mata gadis itu, mencoba mencari kenyaman disana, dan benar saja, dengan mudah ia menemukan yang ia cari.
"Maafin gue, udah buat lo nunggu lama." lirihnya cukup pelan, "gue janji ini yang terakhir!"
Aletta menggeleng pelan, membuat Arvin menaikan salah satu alisnya, menunggu kalimat yang akan gadisnya ucapkan,
"Gue gak butuh janji!" ujarnya dengan suara tak kalah pelan, dan tiba-tiba tatapannya berubah tajam ke arah Arvin.
"Gue butuh bukti, Arvin Askarava Wijaya!" Suaranya penuh dengan keputusasaan dan harapan yang menggebu.
Arvin yang mendengar itu pun, menarik tubuh Aletta untuk masuk ke dalam dekapannya, tangannya bergerak teratur mengelus surai indah nan tebal milik gadis itu. Merasakan lembutnya rambut Aletta di ujung jari-jarinya, dan sensasi itu memberinya rasa nyaman. Dengan hati yang berdebar, gadis itu turut membalas pelukan dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Arvin yang masih berada di atas motornya,
"Al, apa ini artinya, lo udah mau buka hati lo buat gue?" tanyanya dengan suara penuh harap.
Layaknya berhasil memenangkan lotre bernilai milyaran rupiah, melihat itu membuat mata Arvin berbinar dengan sejuta kebahagiaan yang tiba-tiba menghampirinya. Senyuman berangsur menghiasi wajah tampan yang ia punya, dan tanpa berpikir dua kali, ia kembali memeluk Aletta dengan cukup erat. Bahkan dengan berulang-ulang ia mengecup puncak kepala gadis itu.
"Thanks Al, gue bakal pastiin gak bakal ada yang berani nyentuh dan nyakitin lo."
...****...
Malam itu, suasana ruang tamu kediaman orang tua Arvin dipenuhi dengan kehangatan cahaya lampu yang lembut. Mereka duduk di sofa yang nyaman, berdua dalam keheningan yang nyaman. Sebuah meja kecil di depan mereka berisi cangkir-cangkir berisi teh hangat yang mengeluarkan uap kecil. Kedua orang tuanya, yang berada di kursi seberang mereka, tengah asik bercegema, tertawa dan bercerita dengan penuh semangat.
"Eh, kalian tahu nggak?" tanya Naya dengan tiba-tiba, matanya menatap ketiga orang lain yang berada di sana dengan bergantian, "Mama pernah tuh baca Artikel, katanya kalau makan kue bareng pasangan itu bisa bikin bahagia!"
Pak Wijaya, yang tengah asik meminum teh buatan menantunya itu, turut membalas tatapan sang istri dengan penuh tanya. " Serius Ma? Berarti kalau kita makan semua kue ini. Hidup kita bisa bahagia terus dong."
Naya mengangguk, kemudian memasukkan sepotong kue kedalam mulut suaminya, yang langsung diterima dengan senang hati oleh sang empu. membuat Aletta terkekeh ringan tapi tidak untuk Arvin. Laki-laki itu memutar bola matanya malas, bosan dengan tingkah kedua orang tuanya. Memangnya siapa yang tidak tahu jika kedua orang sepuh itu hanya mencoba memamerkan keromantisan di depannya.
Namun, tidak berlangsung lama ia kembali menatap mereka dengan senyum jahil,
"Eh sayang!" panggil Arvin yang langsung menatap lekat Aletta, dan gadis itu sendiri langsung melotot tak terima.
Seolah tidak peduli dengan tatapan Aletta, Arvin kembali menarik kepala Aletta untuk menyender di bahunya, gadis yang masih dibuat syok itu hanya bisa diam dengan memaksakan senyumnya yang justru terlihat kaku.
"Kamu tau nggak? Aku tuh sayang banget sama kamu!"
Melihat tingkah kedua anak nya, berhasil membuat sepasang orang tua itu tertawa cukup keras, sepertinya Arvin sudah mulai berani membalas keusilan mereka, dengan berpura-pura menampilkan kemesraannya dengan Aletta.
Padahal, aslinya mereka juga sangat tahu jika hubungan keduanya sangat tidak akur bak Tom dan Jerry di film kartun.
Saat mereka semua asyik tertawa, suara ketukan dari pintu utama mengambil alih atensi mereka. saat Naya hendak beranjak, Aletta lebih dulu mendahului dan meminta izin untuk membuka pintu. Gadis itu berjalan cepat, memutar kunci dan perlahan membuka pintu yang menjulang tinggi di hadapannya.
Pintu perlahan terbuka, menampilkan dua sosok yang sangat Aletta ketahui mereka siapa, membuat gadis itu terbelalak kaget, dan ternyata bukan hanya Aletta, kedua tamunya itu juga tak kalah kagetnya.
"Siapa yang dateng, Al?" teriak Arvin dari dalam, laki-laki itu turut menyusul langkah Aletta.
"Kok nggak diajak masuk? Emangnya siapa yang dat–
Belum sempat ucapannya selesai, seorang dari arah luar lebih dulu memotong ucapannya.
"Ngapain malem-malem ada Aletta dirumah lo?
Bersambung...
Terimakasih yang udah baca:)
Jangan lupa tinggalin jejak kalian:)
See You di eps berikutnya:)