
...Happy Readingš¤...
Lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai terdengar dari pengeras suara mushola yang terletak di komplek Eternal love village, membuat Arvin yang kala itu masih terlelap, menggeliat dan perlahan membuka matanya. Suara burung yang turut berkicau menjadi saksi awal dimulainya perjalanan hari ini.
Arvin berbalik, menatap Aletta yang masih terlelap di sampingnya dengan tangan sebagai penyangga kepala. Wajah tenang dan damai yang terlukis pada wajah gadis itu, berhasil membuat senyuman tipis terukir di wajah tampan Arvin.
Dengan perlahan laki-laki itu menggerakkan telunjuk untuk menyentuh hidung kecil gadisnya. Kemudian dengan lihai tangan kekar itu membersihkan wajah Aletta dari rambut yang menutupi wajah. Naas, hal itu berhasil membuat Aletta membuka matanya dan Arvin pun langsung berdehem dan membuang senyumnya.
"Ngapain sih lo pegang-pegang, sana balik ke wilayah lo," ucapanya dengan mata yang masih setengah terpejam. "Dan jangan ngelewatin batas!" sambungnya penuh penekanan, tapi justru terdengar sangat lemas karena suaranya yang serak.
Dalam kegelapan yang masih menyelimuti kamar mereka, Arvin merubah posisinya menjadi duduk.Untuk saat ini mereka berdua telah memutuskan untuk tidur di ranjang yang sama, dengan guling yang menjadi pembatas antar keduanya.
Hawa dingin, yang terasa semakin menusuk, membuat Aletta semakin menarik selimutnya hingga leher, menyisakan wajah dan kepala nya.
Melihat itu tak segan-segan membuat Arvin menarik paksa selimut itu dengan kasar, lantas membuangnya ke sembarang arah. Aletta yang tak terima turut mendudukan tubuhnya dengan tatapan malas yang menggebu. Arvin sendiri yang menyadari itu hanya merespon dengan mengangkat kedua alisnya bersamaan.
"Biasa aja lihatnya! Buruan bangun, kita sholat subuh." perintah laki-laki itu dengan mutlak dan langsung beranjak dari atas kasur, di lanjut dengan Aletta yang ikut bergerak mengikuti langkahnya.
Lima menit berlalu, Arvin sudah siap dengan setelan koko berwarna biru dongker yang dipadukan dengan sarung polos berwarna hitam, rambutnya yang masih basah karena air wudhu segera ia sunggar ke belakang, menggunakan peci hitam yang ia pegang. Aletta sendiri sudah siap dengan mukena berwarna coklat dan berdiri di sisi kiri, tepat di belakang Arvin.
Dua sajadah telah dibentangkan dengan rapi, sekilas laki-laki itu menoleh guna memastikan persiapan istri yang berada di belakangnya, Aletta yang memahami tatapan itu, segera menganggukkan kepala memberi instruksi tanpa sebuah kata.
Arvin kembali menatap sajadah dihadapannya, ia memejamkan mata, melafalkan sebait niat sholat subuh, sebelum akhirnya kedua tangan terangkat tepat disamping telinga, dengan khidmat mulutnya terbuka, suara lembutnya menyerukan nama Tuhan Yang Esa. Dalam keheningan dan kekhusyukan, mereka bersama-sama memulai ibadah Subuh, merasakan kedekatan spiritual yang tak tergantikan di antara mereka dan Sang Pencipta.
Aletta sendiri merasakan hentakan hebat dalam dadanya, ini adalah kali pertama gadis itu melakukan ibadah bersama Arvin sebagai imamnya. Hatinya bergetar hebat saat mendengar setiap lantunan ayat yang keluar dari mulut Arvin.
"Assalamualaikum warahmatullah." serunya dengan menolehkan kepala ke arah kanan, dan disambung ke arah kiri, sebagai pertanda mereka telah selesai melaksanakan sholat.
Arvin meraup wajahnya dengan kedua tangan, mengucap syukur, kemudian ia kembali menghadap Aletta, memberikan tangan kekarnya yang ternyata langsung diterima oleh Aletta. Gadis itu menempelkan punggung tangan Arvin pada dahi, disusul Arvin yang memegang kepala Aletta menggunakan tangan satunya, membisikan sebait do'a yang pernah ia pelajari dari guru mengajinya tempo dulu.
Melihat itu, semakin membuat perasaan Aletta terombang ambing tak karuan. Apalagi saat merasakan bibir kenyal Arvin yang mendarat lembut pada keningnya, memberikan kesan hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Kenapa senyum-senyum!" tanya Arvin dengan nada menggoda. Aletta hanya merespon dengan gelengan berulang kali.
"Lo keren!" serunya memuji laki-laki itu dengan perasaan canggung yang mendalam.
Atmosfer yang sebelumnya dingin kini berubah menjadi hangat, apalagi saat sepasang suami-istri istri itu saling melempar senyum malu-malu.
"Lo baper kan?" Gumam Arvin dengan suaranya yang berat, berusaha menyingkirkan kecanggungan yang menjajah keduanya.
Aletta mengangguk, gadis itu mengangkat jarinya membentuk lingkaran kecil dari ibu jari dan telunjuk yang disatukan.
"Dikit!" tuturnya dengan tawa yang dibiarkan lepas begitu saja.
Melihat itu Arvin semakin tak bisa menahan rasa gemasnya, Sepertinya ia sudah dibuat jatuh hati oleh gadis itu, tapi gengsinya masih terlalu besar untuk sekedar mengucapkan.
Masih dengan senyuman yang terus mengembang, Tangan Arvin ikut bergerak menepuk puncak kepala Aletta. " Lo makin cantik kalau senyum."
Aletta diam, merasakan detak jantungnya berdebar lebih cepat, saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arvin. Kulit kuning langsat di bagian pipi seketika berubah menjadi merah merona bak udang rebus. Tak bisa dipungkiri, perlakuan Arvin di awal fajar ini, berhasil menghangatkan hatinya yang sempat mendingin. Sudah lama pula ia tak merasakan rasa yang membahagiakan seperti saat ini, dan kini rasa itu perlahan kembali, menerobos tembok tinggi yang telah ia bangun.
"Udah,sana siap-siap kita ke sekolah sekarang!"
Arvin lebih dulu beranjak dari ruangan itu, meninggalkan Aletta yang masih terdiam, mencoba memahami segala perasaan yang tiba-tiba menghampirinya.
Bersambung...
Terimakasih yang udah baca:)
Jangan lupa tinggalin jejak kalian:)
See You di eps berikutnya:)