
...Happy Reading🤗...
Sinar matahari yang mulai masuk melalui celah-celah kecil dari ventilasi udara membuat kening Aletta menyerngit karena paparan sinarnya. Gadis itu menggeliat tidak nyaman hingga kemudian kelopak matanya terbuka dengan perlahan. Kepalanya sedikit menoleh ke arah samping saat merasakan tangannya digenggam seseorang, dan ternyata itu adalah Arvin, laki-laki itu tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya berada di atas sofa. Dalam keadaan masih malas, Aletta sedikit menarik kedua ujung bibirnya, membentuk lekungan yang indah. Jari lentiknya perlahan membenarkan poni Arvin yang hampir menyentuh mata.
Namun, baru saja bergerak, laki-laki itu sudah ikut terbangun. Ia menatap Aletta dengan heran, "Ngapain senyum-senyum sendiri?" tanyanya dengan suara serak.
Aletta menggeleng, kemudian berkata, "bangun, udah pagi!"
Dengan malas, Arvin membenarkan tubuhnya menjadi duduk sepenuhnya dan bersandar pada sofa. Aletta sendiri segera bergegas untuk bangun, tangannya mengambil kuncir yang tergeletak di atas meja, gadis itu mengikat rambutnya yang panjang dan tebal. Meski matanya masih terasa sangat berat dan perih, Arvin tetap menahannya untuk terbuka, menikmati keindahan yang Tuhan suguhkan kepadanya saat ini.
Dan sekarang Arvin percaya dengan kalimat yang pernah diucapkan Ardi kala itu, jika wanita akan terlihat lebih cantik saat mengikat rambut, dan itu berhasil Aletta buktikan. Gadis itu berhasil membuat Arvin terkesan dan tertegun menatapnya, seolah semua pusat gravitasi berpindah padanya.
Aletta yang sadar, segera menoleh setelah berhasil mengikat rambutnya. Gadis itu menaikkan salah satu alis, "kenapa lo?"
Bukannya menjawab, laki-laki itu justru berdiri dan berjalan ke arah Aletta. Aletta yang tidak mengerti hanya bisa diam dan memperhatikan, kepalanya mendongak menatap Arvin yang tiba-tiba memegang kedua pundaknya.
"Mau ngapain?" tanya gadis itu pada akhirnya, membuat Arvin tersenyum lebih lebar.
"Cuma mau bilang-" laki-laki itu menggantung ucapannya, tatapan yang semula biasa kini terlihat semakin dalam dan menghanyutkan, kemudian ia menyeringai dan tepat di samping telinga Aletta ia berucap,"jangan pernah ngiket rambut kayak tadi, di depan lelaki manapun. Kecuali gue!"
Arvin kembali menjauhkan wajahnya, menatap Aletta dengan kedua alis yang dinaik turunkan. Aletta sendiri masih diam tak bergeming. Dengan sesekali ia mengerjapkan mata, bingung harus merespon bagaimana. Pasalnya ia tidak tahu apa yang salah dari hal itu.
Arvin tersenyum, merasa gemas dengan raut polos terpoles pada wajah gadis itu. Tanpa sadar tangannya bergerak mengacak-acak pangkal rambut Aletta. " Lo mau nurut kan?"
Aletta hanya bisa mengangguk pasrah, otaknya terasa sangat lemot, dengan jantung yang terus berdebar tak karuan.
"Good job girls!"
****
"lo kenapa sih? Diem mulu perasaan dari tadi, lagi mikirin apa? Mikirin gue!" celetuk Sella yang baru saja tiba dengan membawa banyak makanan ringan di kedua tangannya.
"Berisik lo!" jawab Aletta ketus, kemudian gadis itu berganti menatap Sella dengan tatapan takjub, "buset, ngerampok dari mana lo?"
Sella yang mendengar itu langsung nyengir kuda, menaruh segala jenis ciki-ciki yang ada dalam pelukannya ke atas meja.
"Gue habis morotin Ardi." serunya dengan bangga, mengingat kejadian beberapa menit lalu, saat tanpa sengaja ia melihat Zidan dan kedua temannya berada di kantin.
Aletta tersenyum lebar, penasaran dengan cerita sahabatnya itu. dan dengan segera Sella mengambil duduk di samping Aletta, bersiap menceritakan semuanya.
"Jadi … tadi kan gue pergi tuh ke kantin, nah kebetulan disana ada si Zidan, Ardi sama si Arvin. Disaat Arvin sama Zidan asik ngobrol, gue lihat tuh si Ardi, dan lo tahu Ardi ngapain?"
"Dia lagi tiduran di bangku belakang, eh tiba-tiba otak mungil gue ini, punya rencana buat morotin dia, sekalian bikin perhitungan."
"Gue ambil deh ni semua ciki, gue taruh di hadapan tuh cowok. Dan bagian yang paling lucu, waktu dia bangun, mukanya kaget banget anjir ngeliat ciki segini banyaknya, terus gue nyuruh mbak Dina buat nagih tu cowok!"
Aletta terbelalak kaget, "Lo serius, dia nggak marah atau nolak gitu."
Sella memutar bola matanya, " ya mana mungkin gak marah, jelas banget tadi dia emosi, tapi untung ada Zidan yang dukung gue. Jadi walau dengan terpaksa dia yang bayar." ujarnya diakhiri dengan senyuman.
"Terus sekarang, ngapain lo senyum-senyum sendiri?" tanya Aletta penuh curiga.
"Ternyata mereka baik ya Al, apalagi si Zidan, tuh cowo ternyata gak ngeselin yang gue kira,"
Aletta hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi meremehkan. "Heleh, basi lo," lantas disambung dengan senyuman menggoda, "bilang aja, lo suka kan sama si Jidan?"
Dengan cepat, Sella menggeleng. Berusaha mengelak pernyataan itu, bukan untuk Aletta, melainkan untuk dirinya sendiri.
"idih, amit-amit. Gak-gak, gue gak suka dan gak mau sampai suka sam—"
"Hust! Stop!" Aletta memotong ucapan Sella, dengan telunjuk yang sengaja ia tempelkan pada bibir merah muda milik gadis itu.
"Jangan diterusin, Lo lupa gimana kisah gue?" sambung Aletta dengan menarik telunjuknya, kemudian menghela nafas berat.
"Al," gumam Sella, matanya menelisik wajah Aletta yang ternyata sangat sulit ditebak, tatapannya kosong tapi bibirnya nampak tersenyum walau setipis tisu.
"Tapi, sekarang lo gimana?"
Aletta kembali menatap Sella dengan kerutan di dahi, "apanya?"
Sella tak langsung menjawab, gadis itu menolehkan kepalanya, mengamati keadaan dan memastikan bahwa semuanya aman.
"Lo udah suka sama Arvin?"
Bersambung...
Terimakasih yang udah baca:)
Jangan lupa tinggalin jejak kalian:)
See You di eps berikutnya:)