
...Happy Readi**ng**🤗...
Dengan langkah pelan, Arvin masuk kedalam kamar dan langsung membanting tubuh diatas kasur king sizenya, matanya terpejam merasakan deru nafas yang berhembus dengan normal, lalu ia membuka matanya dengan lebar membiarkan dua netra hitam dan tajam itu menjelajahi plafon
yang ada diatasnya, sebelum perlahan menoleh ke samping, tempat dimana biasanya Aletta tidur.
Tangannya bergerak mengambil bantal panjang berbentuk kucing yang selalu Aletta peluk saat tertidur. Dengan sadar ia menarik kedua ujung bibirnya untuk membentuk lengkungan yang terlukis indah, mengingat betapa menggemaskan gadis pemilik pipi gembul itu saat tengah memarahinya.
Meskipun untuk saat ini Aletta tidak sedang bersamanya, tapi setidaknya gadis itusudah bisa keluar dari ruangan bernuansa serba putih yang mengerikan itu, dan membuat Arvin bernafas lega. Ya … Aletta memutuskan untuk kembali bersama orang tuanya sementara waktu, hingga kesehatan psikis dan fisiknya benar-benar pulih. Arvin sama sekali tidak keberatan dengan keputusan itu, toh ia masih bisa mengunjunginya kapan saja.
"Al, cepet sehat ya! Rumah sepi nggak ada lo." gumamnya bermonolog, dengan mata perlahan terpejam, akibat rasa kantuk yang mulai menyerang.
Namun, baru saja ia merasa akan merosot ke dalam tidur yang lelap, ponselnya berbunyi dengan nada khasnya. Masih setengah mengantuk, tangannya dengan canggung mengambil ponsel itu, dan ia menekan tombol hijau tanpa melihat nama yang tertera di atas layar.
"Iya, Al. Ada apa telpon malem-malem, gue baru nyampe rumah." ucapnua dengan suara yang serak, khas orang bangun tidur.
Disisi lain, Zidan menarik kembali ponsel dari telinga, memastikan jika dia tidak salah melakukan panggilan.
"Al? Al siapa yang lo maksud, Aladin? Oh gue tau, Aletta kan?" Zidan kembali membuka suara dengan nada ketus, keningnya menyerngit bingung menunggu jawaban dari Arvin.
Menyadari itu bukan suara istrinya, Arvin yang semula masih dalam keadaan ngantuk berat dan terbaring, seketika langsung duduk, bersamaan dengan rasa kantuk yang menghilang tanpa jejak.
"Hallo, Vin! Lo masih disana kan? Jawab gue! Ini gue Zidan."
Arvin menjauhkan ponsel dari wajahnya, benar saja di sana terdapat nama Zidan yang tertera di bagian atas layar, membuat Arvin meringis menahan sumpah serapah untuk dirinya sendiri.
"Bodoh! Dasar bego!" umpatnya yang hanya sampai pangkal tenggorokan,
Kemudian, laki-laki itu berdehem menetralkan segala rasa yang berkecamuk agar tidak semakin membuat Zidan curiga.
"Siapa juga yang ngomong Al, salah denger lo!" tukas Arvin dengan nadanya yang tegas.
"Udah gausah ngibulin gue! Orang tadi jelas-jelas gue denger lo nyebut nama Al, beneran suka kan lo sama tuh cewek reog?"
Laki-laki itu kembali berdecak dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Ingin sekali rasanya memakan manusia bernama Zidan.
"Ngapain gue suka sama tuh cewek. Nggak banget, lagi pula gue udah ada Medina. Lu lupa?"
Terdengar di seberang sana, Zidan tengah menghela nafas. " Terserah lo! yang penting lo kesini sekarang, gue lagi sama Ardi di tempat biasa."
Tanpa menunggu Arvin menjawab, panggilan itu lebih dulu ditutup oleh Zidan, membuat Arvin berdecak, tapi walau seperti itu ia tetap beranjak mengambil jaket dan kunci motor, lalu bergegas ke tempat yang telah Zidan sebutkan.
...*******...
Malam semakin larut, Arvin, Zidan dan juga Ardi memutuskan untuk segera balik ke kandang masing-masing. Rasanya candan serta gurauan yang dilontarkan Ardi, hingga klarifikasi yang membuat Zidan semakin emosi, harus berakhir sampai disini.
Suasana malam semakin sepi, angin pun turut bertiup kencang, menyebabkan hawa dingin yang menusuk tubuh, tapi hal itu sama sekali tak menggoyahkan Zidan untuk terus menaiki motornya dengan kecepatan sedang. Pandangannya lurus ke depan, hingga mata sipit itu berhasil menangkap seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah cafe dan berdiri di pinggiran jalan, terlihat ia tengah clingak-clinguk mencari sesuatu, tanpa berpikir panjang, Zidan segera mengarahkan kendaraan besinya untuk menghampiri gadis itu.
Sesampainya disana, ia langsung membuka kaca helm yang ia kenakan, dan disambut oleh tatapan yang tidak mengenakan dari gadis berambut sebahu itu.
Dia adalah Sella, gadis itu tak menggubris kehadiran Zidan sama sekali, hingga yang laki-laki lebih dulu menyapa.
"Lo nyari apaan sih?" ujarnya yang turut mengikuti pandangan Sella.
"Bukan urusan lo! Lagian ngapain lo disini, pergi sana!" desisanya dengan nada sinis, dengan bersedekap dada matanya menatap Zidan tajam
Sama halnya dengan Aletta, Sella juga meresa sangat tidak suka dengan sikap Medina dan teman-temannya, terutama Zidan. Bagi Sella, Zidan adalah orang yang paling aneh di komplotan itu. Terkadang laki-laki itu terlihat cuek, tapi kadang juga sangat sadis.
Ah, sudahlah membahas Zidan tidak akan ada habisnya. Apalagi di pikiran Sella yang memang tidak suka dengan laki-laki itu.
"Lo mau pulang kan? Gue anterin!" Zidan kembali menutup kaca helm dan menyalakan motornya. Nadanya cukup dingin dan sangat tidak ramah, membuat Sella bingung sendiri.
"Naik!" perintahnya lagi, saat mendapati Sella tak juga bergerak.
"Ogah, siapa lo nyuruh-nyuruh gue." Sella melengos, enggan menatap laki-laki bermata sipit itu, " Pergi sana, gue masih bisa pulang sendiri!"
Hal itu berhasil membuat Zidan mencebikkan mulut. Tangannya bergerak melepas helm yang ia kenakan, memamerkan rambut belah tengah yang menjadi ciri khas laki-laki itu.
Sella menghembuskan nafasnya, kemudian kembali menatap Zidan dengan remeh. " Lebih bahaya lagi kalo pulangnya bareng sama lo."
Jika saja gadis dihadapannya ini bukan Sella, sudah pasti Zidan akan mengeluarkan sumpah serapah dan segala umpatannya sebanyak mungkin. Tetapi tak lama setelah itu, Zidan kembali menyunggingkan senyum, sepertinya laki-laki itu tau harus berbuat apa.
Zidan menatap Sella dengan lekat, membuat gadis itu ikut menyerngit penuh tanya, tapi ia tetap berusaha bersikap biasa saja.
"Ini udah malem, susah nyari taxi di sekitar sini!" gumam laki-laki itu, "dan gue denger-denger, di pohon itu tuh…" sambungnya dengan jari menunjuk pohon rindang yang berada tak jauh dari mereka, mata Sella mengikuti arah yang Zidan tujukan.
"Kenapa emangnya?" tanya Sella, yang terus mentap pohon besar itu. Tak bisa dipungkiri angin yang menerpa kulit berhasil membuat bulu kudungnya berdiri seketika.
Zidan mencoba menahan tawanya saat melihat wajah ketakutan yang terus Sella tahan, dan sepertinya ide laki-laki itu berjalan dengan lancar.
Ia semakin mendekat, mengurangi volume suaranya agar lebih lirih. "Gue denger-denger disitu banyak mahluknya."
Sella mengerjapkankan matanya cepat berulang kali,dan dengan susah payah ia menelan salivanya sendiri.
"Oke, kalau lo emang mau pulang sendiri gapapa, gue balik duluan! Hati-hati lo!" Zidan segera memasang kembali helm di tangganya, hendak meninggalkan gadis itu
Namun, saat hendak melaju, Sella lebih dulu menahanya. Membuat tawa kecil keluar dari bibir ranum yang ia punya. Gadis yang awalnya cukup tajam dalam menanggapi Zidan, akhirnya memberikan tanda setuju dengan tatapannya yang enggan. Dia naik ke belakang motor Zidan tanpa sepatah kata pun.
Meskipun udara semakin dingin dan angin bertiup kencang, Zidan tetap berkendara dengan mantap. Sella duduk di belakangnya dengan tubuh yang agak canggung, tetapi setidaknya dia sudah setuju untuk diantarkan pulang oleh Zidan. Baginya menurunkan sedikit ego bukanlah hal yang susah, jika lawannya mahluk tak kasat mata.
Perjalanan pulang mereka berdua berlangsung dalam keheningan yang tegang. Zidan tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan Sella juga terlihat enggan untuk memulai percakapan. Suasana dalam perjalanan terasa seperti beku.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Zidan mulai merasa sedikit tidak nyaman dengan kesunyian itu. Dia mencoba untuk memecah keheningan.
"Jadi, Lo sering ke cafe tadi?" tanya Zidan dengan nada yang lebih ramah.
Sella mengangguk singkat, tetapi masih tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Tapi lo kok sendiri? Aletta nggak ikut?" lanjut Zidan mencoba membuka pembicaraan.
Sella yang terlanjur malas, berdecak. " Lo nanya mulu deh perasaan, udah kayak pak Jamal!"
Meskipun upaya Zidan untuk berbicara, Sella tetap terlihat dingin dan enggan. Perjalanan mereka berdua berlanjut dalam keheningan hingga Sella melihat sesorang yang sangat familiar baru saja keluar dari dalam mobil, Gadis itu menepuk kasar pundak Zidan agar mau menepi. "Stop stop!"
Zidan dengan cepat menghentikan motornya, dengan tangapan bingung hingga Sella turun dan hendak berlari ke arah laki-laki yang ia lihat, tapi degan cepat Zidan menahannya, "lo mau kemana?"
"Lepasin, gue mau nyamperin Dino?" pekik Sella, gadis itu menarik tangannya agar bisa terlepas dari genggaman Zidan.
Sedangkan Zidan sendiri, mengikuti arah mata Sella, dan benar saja ada Dino disana, tapi bukan itu yang membuat Zidan memutar otaknya dengan cepat, tapi mobil yang ditumpangi laki-laki itu. Ia sangat tahu itu mobil punya siapa. ia tidak mungkin salah lihat. Dan pertanyaannya, ada hubungan apa mereka?
"Woy, Nglihatin apaan lo!" Tanya Sella, membuyarkan Zidan dari lamunan panjang.
"Enggak … itu cuma, lo beneran mau kesana?" tanya Zidan dengan wajah tidak yakin.
"I-iya iyalah, kenapa emang?"
"Ck! Lo nggak lihat Dino sama siapa?"
Sella menyengit, matanya kembali menatap keberadaan Dino yang ternyata sedang bersama seorang perempuan, tapi sayang wajahnya tertutup tudung hoodie berwarna mint yang dikenakan. Gadis itu semakin menyipitkan mata, berusaha melihat wajah dari gadis yang berjalan dibelakang Dino, tapi sialnya mereka sudah keburu masuk kedalam Cafe itu.
"Dia sama cewek, siapa ya? Apa pacaranya? Tapi Dino kok nggak cerita kalau ada pacar?"
Zidan menggedikan bahunya acuh, jika bukan urusannya kenapa dia harus sibuk memikirkan.
"Mana gue tau, emang gue emaknya?" sungut laki-laki itu, dan kembali menuyuruh Sella untuk naik.
Gadis itu menurut saja, dan mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam keheningan malam yang menyelimuti kedua manusia berbeda gender yang saling berkutat dengan pertanyaan di kepala masing-masing.
Bersambung...
Terimakasih semuanya yang sudah baca, Jangn lupa tinggakin Vote dan Comment kalian sebagai dukungan.