
...Happy ReadingđŸ¤—...
Angin yang bertiup kencang, semakin membuat hati Arvin tidak karuan, didepan sana sudah ada Medina yang tengah merentangkan tangan, menikmati hembusan angin yang sepoi-sepoi di atas rooftop.
Gadis itu menoleh, menatap Arvin dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. " Gue sayang sama lo Vin, makasih ya udah mau nemenin gue selama ini,"
Arvin hanya diam, menatap hamparan awan yang terlihat tenang di atas sana.
"Lain kali jangan bentak gue lagi ya? Gue gak suka dibentak! Dan lo tahu itu kan?" bisik Medina tepat di samping lelaki itu, dan berhasil membuat bulu kudung Arvin meremang seketika.
Meski dengan terpaksa, laki-laki itu menoleh, mendapati wajah Medina yang begitu dekat dengannya. "Lo bisa jaga sikap nggak? Ini di sekolah." tuturnya berusaha selembut mungkin.
"Lo kenapa sih Vin? Biasanya kita juga kayak gini, " jawab Medina dengan tersenyum sanksi. Perlahan gadis itu melepaskan pelukannya dan dengan langkah pelan ia kembali menjauh dari Arvin.
"Gue tahu, lo berubah karena ada Aletta kan? Lo suka sama dia?"
Medina kembali tertawa dengan lepas, menatap Arvin dengan tatapan remeh dan penuh kebencian. " Arvin, Arvin. Apa sih yang lo suka dari cewek murahan itu?"
"Dia bukan cewek murahan!" tukas Arvin, tatapannya kembali tajam dan menghunus ke arah lawan bicaranya.
Mendengar pembelaan Arvin, membuat gigi Medina bergemeletuk hebat, menimbulkan hawa ketegangan yang semakin terasa di antara keduanya. Seiring dengan desiran angin yang semakin kuat. Angin yang membawa hembusan dingin seolah mencerminkan suasana hati mereka yang semakin dingin satu sama lain. Medina merasa hatinya membara oleh perasaan cemburu dan kekecewaan, dan dia hampir tidak bisa lagi menahan amarahnya. Matanya yang tadi masih penuh senyuman, kini memancarkan ketajaman dan kekesalan yang sulit diabaikan. Dia merapatkan bibirnya, mencoba menahan amarah yang menggelora di dalam dirinya.
"Di kasih apa lo sama dia? Sampai lo lupain gue gitu aja! Hah? Lo lupa sama janji yang lo ucap, Arvin?"
Kedua mata mereka saling berhadapan dalam situasi yang semakin tegang. Arvin merasa semakin tertekan dengan pertanyaan tajam yang Medina lontarkan. Pandangan mereka bertemu dalam konfrontasi diam yang memancarkan ketidaksetujuan, dan emosi yang semakin meningkat.
Arvin, dengan suara tegas mencoba menjawab, " Aletta bukan cewek murahan, seperti yang lo pikirin! Stop jelek-jelekin Aletta didepan gue!"
Medina menggeram dengan frustasi. "Aletta, Aletta, Aletta, Aletta terus, semua tentang dia! Lo bakan udah berani sebut nama cewek lain didepan gua. Lo gak mikirin perasaan gue. Gue benci sama Aletta."
Angin kencang semakin menguat, seolah-olah alam itu sendiri ikut merasakan pertentangan di antara mereka. Rambut Medina berkibar liar, mencerminkan kekacauan dalam hatinya, sementara Arvin merasa terjebak dalam dilema yang semakin membingungkan. Medina menutup wajahnya dengan isakan kecil yang perlahan keluar dari bibirnya.
Arvin yang semakin dibuat bimbang, melangkah maju, mengikis jarak antar keduanya, matanya tak lepas dari gadis itu.
"Pergi dari sini! Lo sama aja kayak mereka semua." ucap gadis itu dengan terus terisak. Membuat Arvin semakin melangkahkan kakinya maju untuk mendekat.
Tangan kekarnya terangkat, memegang pundak Medina yang bergetar, mencoba menenangkan gadis itu. " Sorry Din, Gue kelepasan!"
Perlahan Medina membuka tangan yang menutup wajahnya, menatap arvin dengan smirk andalannya." Lo mau nemenin gue terus?"
Meski berat, Arvin kembali mengangguk, menyambut gadis itu ke dalam pelukannya, dengan pikiran yang terus melayang jauh di udara. Ia tak bisa meninggalkan Medina, tapi saat ini Aletta lah yang akan menjadi tujuannya.
Dengan tangan yang juga mendekap tubuh Medina, Arvin menutup matanya rapat-rapat merasa bersalah atas semua ini. Dia terlalu lemah, sehingga dengan seenaknya dunia mempermainkan dirinya.
"Maafin gue Al, Gue bakal nyelesain ini secepatnya."
Di belangkang mereka, dengan dada yang naik turun tak karuan Ardi juga Zidan menatap keduanya.
"Kita gak bisa diem terus kayak gini." seru Ardi meminta pendapat Zidan.
Zidan pun menoleh, menatap Ardi tanpa ragu, "Lo bener, Ini udah terlalu jauh."
...****...
"Vin, lo harus dengerin kita!" tukas Ardi yang terus mengikuti langkah Arvin.
Mereka bertiga memasuki ruangan kecil di pojok sekolah, yaitu warung pak Mamat, tempatnya yang jauh dari keramaian dan sejuk membuat mereka bertiga betah berlama-lama disana.
"Apaan sih? Udah gue bilang berulang kali, gue bisa atasi semuanya sendiri! Gue gak butuh bantuan kalian." jawab laki-laki itu dan langsung duduk di bangku yang tersedia disana.
Ardi mendekat dengan ekspresi penuh emosi, "Mana? Mana buktinya. Ini bukan kali pertama lo ngomong kayak gitu ke gue! Selama ini, gue sama Zidan udah diem, tapi apa yang lo lakuin? Gak ada."
Mereka semua terdiam sejenak, memberikan jeda yang disebut hening. Suasana ruangan yang sejuk karena angin membuat tegangan semakin terasa di antara mereka. Arvin kemudian menghela nafas dalam-dalam, Ardi memang benar selama ini ia hanya diam, dan semakin mempersulit keadaannya sendiri.
Zidan yang selama ini tampak acuh, akhirnya turut membuka suara. "Vin, bener kata Ardi, lo gak bisa gini terus. Kita temen lo, dan niat kita baik mau bantuin lo keluar dari ini semua."
Arvin terdiam, membiarkan pikiran mencerna perkataan kedua temannya, pandangannya sibuk menatap dua orang itu penuh keraguan. Mereka memang benar, dirinya telah jauh salah melangkah, tapi ia juga tidak bisa menghentikannya begitu saja, dan semakin membuat semuanya kacau. Sedangkan disisi lain ia telah muak dengan semua permainan konyol yang melibatkan dirinya itu.
"Nggak usah! Gue rasa kalian gak perlu terlibat di masalah ini terlalu dalam lagi, dan gue gak mau kalian ikut tersandung dalam permainan menyebalkan ini!"
Mendengar itu, membuat Zidan menghela nafas kasar, sedangkan Ardi dengan segera menepuk pundak Arvin dengan lembut. "Vin, apapun keadaanya, kita gak bakal ninggalin lo!"
Entah untuk keberapa kalinya, Arvin menghembuskan nafasnya dengan gusar, wajah kusutnya tak juga menghilang, kepalanya yang terus berisik membuat laki-laki itu semakin pusing.
"Kita jahat gak sih, ngebully orang terus?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Arvin, membuat Zidan dan Ardi kembali menatap temannya dengan serius.
"Yah, kalau gue kata sih nggak ya, soalnya kan gue cuma ngebully mereka yang sok berkuasa sama nggak tahu aturan, ya nggak Dan?
Zidan yang mendengar pertanyaan itu terlontar untuknya segera mengangguk. "Bener, lagian kita kan ngebully bukan sembarang orang, kita ngebully mereka yang suka bikin rusuh dan sok jagoan."
"Terus yang waktu itu, kalian bully si Dinosaurus! Dia salah apa sama kalian? Gak mungkin kan dia ganggu kalian!" tanya Arvin lagi, mengingat kejadian beberapa minggu lalu.
Ardi tampak bergumam, mengingat kejadian yang Arvin maksud, dan dalam tiga detik ia langsung mengingatnya. Laki-laki itu menunjukan deretan gigi putihnya, dan berkata, "gak tau, gabut aja!"
Zidan yang mendengar itu tanpa aba-aba langsung melayangkan satu tinjuan tepat di bahu Ardi, membuat sang empu merintih kesakitan.
"Ngaco lo jadi bocah!" gumamnya, kemudian berganti menatap Arvin. " Lo juga Vin, waktu itu kan lo ada disana bareng kita, masak iya lo lupa kejadiannya gimana?"
Arvin menyerngit bingung, mencoba mengingat kejadian itu, dan benar apa yang dikatakan Zidan. Kala itu mereka bertiga tengah asyik menikmati makan siang di kantin, dan tiba-tiba saja Medina mengajaknya menuju taman belakang yang ternyata disana sudah ada Dino yang terikat di pohon.
"Lo inget kan? Terus tiba-tiba si Ardi ngebully tu anak, dan gak berlangsung lama si Aletta datang sambil marah-marah, mana bawa Sella lagi. Hancur kan jadinya reputasi gue!"
Dengan Cepat Zidan menutup mulutnya rapat-rapat, menyadari kesalahan di akhir kalimatnya. Namun, Arvin dan Ardi lebih dulu mendengarnya. Kedua laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya ke arah Zidan, dengan senyuman menggoda. Seakan hal itu berhasil mengalihkan semua masalah yang tengah mereka alami saat ini.
"Lo suka sama Sella?" Arvin lebih dulu bertanya, laki-laki itu mengangkat kedua alisnya dengan wajah penuh kecurigaan.
"Oh jadi Sella yang selama ini udah buat lo nolak seribu cewek yang dateng?" sambung Ardi dengan terkikik geli, apalagi saat melihat wajah panik dari Zidan.
Namun, sepertinya keberuntungan berpihak pada laki-laki itu, belum sempat untuk mengelak, ponsel Arvin lebih dulu bergetar pertanda ada panggilan masuk, yang membuat Arvin segera mengangkatnya.
"Udah boleh pulang sekarang?" tanya Arvin, dengan wajahnya yang berubah menjadi berseri, "Oke-oke Arvin segera ke rumah sakit! Papa tungguin Arvin, jangan tinggalin sampai aku nyampek sana!" lanjutnya dan langsung mengakhiri telepon sepihak.
Hal itu berhasil mengundang tanya dari kedua temannya.
"Siapa yang dirumah sakit?" tanya Zidan dengan antusias, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Istri gu—
Arvin menggantung ucapannya, matanya melirik kedua temannya yang masih menunggu ucapannya,
"Istri-nya Bo-kap! Iya maksud gue Nyokap gue udah boleh pulang dari Rs!" sambung Arvin gelagapan sendiri, untung saja ia masih bisa mengontrol ucapannya. Jika tidak, hmm sudah dapat dipastikan ia akan dijadikan pecel oleh Aletta.
"Oh, Tante toh. Bikin kaget lo anjir, kirain tadi istri lo." sahut Ardi dengan menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dan untuk kedua kalinya mendapat tinjuan tak bersahabat dari Zidan
"Yakali istrinya Arvin, emang kapan dia nikahnya?"
Ardi berdecak malas, menatap Zidan ekspresi permusuhan. " Ya siapa tau, dia nikah diem-diem terus nggak ngundang kita!"
"Husss! Berisik" tanpa terbesit rasa kasihan sedikitpun Arvin meraup wajah Ardi dengan kasar kemudian segera bergerak untuk keluar dari stand mang mamat.
"Gue pulang duluan, Mang Mamat makasih! Arvin Pamit!" Laki-laki itu lebih mengeraskan suaranya dengan terus berlari menjauh.
"Vin, tungguin, kita mau ikut!" Teriak Ardi dengan suaranya yang melengking bak toa masjid.
Arvin yang masih mendengarnya segera berhenti, ia berbalik badan menatap kedua temannya. Tangannya ia letakkan di samping mulut guna memperkeras suaranya.
"Gak usah, kalian berdua berisik, yang ada istrinya bokap ga jadi sembuh karena Kalian"
Suara utu masih bisa didengar Ardi dan Zidan, dan membuat mereka menghela nafas pasrah.
"Dan buat lo Zidan, Gue tunggu klasifikasinya besok!"
Zidan yang menyadari kata itu ditujukan untuknya dengan cepat melotot dengan tubuh yang mematung sempurna.
"Mampus lo Zidan!"
Bersambung....
Hai kalian semua, jangan lupa tinggalin like dan commentnya ya, Teriamakasih:)