Young Marriage

Young Marriage
Awalan



"Saya terima nikahnya Alika Hermawan Aveerdas binti Hermawan Aveerdas,dengan maskawin tersebut di bayar tunai."


"Bagaimana para saksi?"


"Sah!"


"Sah!"


Acara ijab qobul telah selesai,janji sakral sudah terucap. Aku menghela nafasku bukannya terasa lega tapi malah terasa sesak,aku menatap seseorang yang kini duduk di sampingku dengan wajah datar,menyebalkan andalannya.


Ah iya aku hampir lupa! perkenalkan namaku Alika Hermawan Aveerdas,umurku baru 17 tahun dan aku sudah menikah!


Sebenarnya aku tidak ingin menikah terlalu cepat seperti ini,selain karna umurku yang masih muda,aku juga masih bersekolah bahkan aku belum lulus SMA,dan alasan terkuat aku menolak pernikahan ini adalah karna pria yang kini duduk di sebelahku.


Pria yang beberapa saat lalu mengucapkan ijab qabul,pria yang sebelumnya biasa saja menurutku namun saat dia masuk dalam kehidupanku,aku mulai membencinya.


Pria itu Januar Prayoga,umurnya hanya terpaut satu tahun dengan ku dan kalian tau? Dia adalah kakak kelasku di sekolah.


Mungkin dari kalian ada yang bertanya jika tidak ingin menikah kenapa malah menikah juga pada akhirnya? Jawabannya tentu saja karna perjodohan konyol itu! Perjodohan yang dilakukan oleh Papahku dan Om Aryo,Ayah dari Januar.


Aku sudah menolak dengan keras perjodohan ini,bahkan aku sampai mengancam Papah jika aku akan bunuh diri dengan melompat dari atas gedung,tapi bukannya khawatir atau takut Papah malah terkekeh mendengarnya.


Papah bilang padaku. "Bagaimana mungkin kamu mau lompat dari gedung? Kamu naik ke atas pohon saja sudah jerit-jerit,ketakutan."


Dan pada saat itulah aku kalah telak,ucapan Papah memang benar. Aku tidak mungkin lompat dari atas gedung,sedangkan diriku saja takut ketinggian,untuk naik ke atas gedungnya aja bisa bikin kakiku gemetaran.


Akhirnya yang aku bisa lakukan adalah pasrah,nangis di pojokkan kamar.


Kasian memang diriku,dan pada akhirnya perjodohan ini tetap terjadi.


Semua orang terlihat bahagia hari ini,kenapa semua orang bisa terlihat bahagia sedangkan aku yang notabennya pengantin disini tidak ada bahagia-bahagianya.


Lihatlah Papah dan Mamah yang sedang tertawa bahagia mengobrol bersama para tamu,mereka malah bahagia di atas penderitaan anaknya,miris.


"Alikaaa."


Aku terkejut sekaligus senang dengan kehadiran sahabatku,Ismi.


"Ya ampun Alika,gk nyangka ya lo udah merrid aja apalagi merridnya sama kak Januar! Gila sih lo beruntung parah!"


"Birinting pirih,hilih. Beruntung apaan mi,yang ada tuh ya gue malah buntung."


Lagian Ismi itu ada-ada aja lagi,masa nikah sama si Januar ini  sebuah keberuntungan,mana ada yang ada hidupku menderita.


Kenapa aku bilang begitu? Tuh liat aja mukanya dari tadi datar-datar aja kaya triplek. Aneh emang,padahal sebelumnya Papah bilang kalau pernikahan ini bisa saja gk terjadi kalau dari pihak mempelai laki-lakinya menolak pernikahan ini,tapi sialnya dia malah setuju,terlalu kampret emang.


"Huhu Ismi,gue gk mau merrid!" Aku malah meraung-raung di depan Ismi,bodo amat diliatin orang juga.


"Heh lo kenapa sih? Telat lo kalau bilang gk mau merrid,udah gk bisa lah *****. Lo tuh sekarang udah nikah,udah jadi Mrs.Januar hehe."


Aku mencebikkan bibirku mendengar ucapan Ismi,Mrs.Januar apanya coba? Mrs.Januar mbah mu salto noh!


"Ululu udah ya terima aja,nikmatin aja entar juga ketagihan hehe."


"Ketagihan your jidat mi,yang ada gue ogah!"


Emang kampret sahabatku ini,kayanya bahagia banget ngeliat aku sengsara begini.


"Daripada lo ngeluh mulu,mendingan gue makan dulu. Mubazir kalau makanan gratis di anggurin hehe."


Aku mendengus mendengar ucapan Ismi.


"Ck kebiasaan lo itu mah mi,sukanya yang gratisan." Cibirku,dan Ismi malah tertawa.


"Nah tuh tau! Gue melipir dulu deh ya bye!" Ismi melambai-lambaikan tangannya padaku,namun sahabatku itu malah berlari lagi ke arahku.


"Ngapain lagi lo?" Tanyaku bingung,dan Ismi hanya nyengir lagi,kayanya Ismi suka banget nyengir ya.


Ismi mendekat,ia lalu membisikkan kata-kata yang membuatku tak habis fikir dengan tingkah sahabatku itu.


"Cepet bikin ponakan yang unyu buat gue ya,yang banyak 15 kalau bisa." Kata itulah yang Ismi bisikkan di telingaku.


Kampret memang! Setelah mengatakan itu dia langsung lari,sambil tertawa puas melihat wajahku yang memerah menahan kesal dan malu.


"Ismi kampret! Gue manusia bukan kucing oi!" Aku berteriak ke arahnya.


"Alika!"


Aku pun langsung diam saat mendapat teguran dari Papah,karna tingkahku menarik perhatian para tamu dan tingkahku barusan mungkin nantinya bisa membuat mereka malu dan ya bisa membuat harga diri mereka jatuh.


Aku sih tidak perduli,mereka saja tidak perduli dengan kebahagianku kan? Mereka saja tidak perduli dengan apa yang putri mereka inginkan,mereka terlalu egois,mereka hanya mementingkan martabat dan kehormatan. Manusia gila hormat memang,cih.


Sekarang yang bisa aku lakukan hanya diam,duduk di atas pelaminan memasang senyuman penuh kepalsuan.


Pakaian ini,riasan,kebahagian,ini semua hanyalah dusta belaka.


Setelah Ismi pulang beberapa menit yang lalu,aku jadi kesepian lagi.


"Ya ampun kalian sangat serasi,semoga kalian selalu bahagia." Ujar salah satu tamu yang memberikan ucapan selamat,apa aku harus mengamini ucapannya? Sepertinya tidak usah,aku yakin tidak akan ada kebahagian dari pernikahan ini.


22.00


Haris sudah mendekati tengah malam,para tamu undangan juga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.


Aku merasa sangat lelah hari ini,meskipun tamu yang datang tidak terlalu banyak hanya kerabat,teman dekat,dan rekan kerja orang tuaku dan rekan kerja orang tua Januar,tapi tetap saja itu melelahkan apalagi saat kita harus pura-pura bahagia.


Tanpa menunggu kedua orang tuaku,aku pun langsung pergi dari pelaminan. Dengan bersusah payah aku berjalan dengan gaun pengantin yang sangat panjang ini,yang tentunya membuatku sangat tidak nyaman.


Berkali-kali aku hampir jatuh karna menginjak gaun pengantin yang aku pakai ini,sebelumnya aku sudah meminta pakaian pengantin yang simple saja tidak seribet ini tapi orangtuaku yang sepertinya memang sifat egoisnya itu,mereka tidak mendengarkan aku.


Aku kecewa pada kedua orangtua ku,mereka tidak pernah mendengarkan aku. Selalu menggambil keputusan sesuka hati mereka,padahal keputusan itu menyangkut diriku dan masa depanku.


Aku yakin pasti saat ini kedua orang tuaku sedang menahan kesal karna ulahku hari ini,persetanan di marahi Papah dan Mamah,mereka saja tidak perduli dan tidak mengerti lalu untuk apa aku mengerti mereka juga?


Terserah kalian mau bilang aku ini anak durhaka,titisan malin kundang,aku tidak perduli.


Tok tok tok


"Sebentar!" Aku mendengus kesal,padahal aku baru saja ingin melepas gaun menyebalkan ini ada saja cobaan yang datang.


Aku pun akhirnya mengurungkan melepas gaunku,aku membukakan pintu kamarku terlebih dahulu.


"Mau ngapain lo?!" Aku langsung memasang wajah tak suka ketika aku tau siapa yang baru saja mengetuk pintu kamarku.


"Mau tidur,gue ngantuk." Setelah mengatakan itu,Januar malah masuk dengan seenaknya ke kamarku,sekali lagi ke dalam kamarku!


"Heh,ini kamar gue ya. Jadi lo gk boleh seenaknya masuk,gue gk izinin lo masuk. Pergi sana!" Aku mengusir Januar,dia malah menatapku bukannya keluar dari kamarku.


"Ck,lo tuh gk ada sopan santunnya ya sama suami."


"Suami? Terus kalau sekarang lo jadi suami gue,apa gue harus turutin semua perkataan lo gitu? Ngarep lo." Aku menatap tajam pada Januar,biarin aja dia mau nge cap aku sebagai istri gk sopan juga gk apa-apa,karna aku gk perduli siapa suruh dia setuju sama perjodohan konyol itu.


"Eh? Lo mau ngapain?" Aku langsung berlari dan merentangkan kedua tanganku,saat Januar ingin masuk ke dalam kamar mandi milikku,karna kamar mandi itu ada di dalam kamarku jadi sudah termasuk milikku juga.


"Lo tuh ya-"


"Stttt,berisik." Aku terpaku menatap mata Januar,ia meletakkan jari telunjukkan di bibirku membuat ucapanku jadi harus terhenti.


"Diem! Gue capek,kalau mau ngajakin adu bacot besok aja." Setelah mengatakan itu Januar melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar mandi.


Aku yang baru sadar kalau Januar sudah masuk ke dalam kamar mandi pun,langsung berdiri di depan pintu kamar mandi. Mengedor-gedor pintu kamar mandi,sambil meneriakinya untuk keluar.


Namun akhirnya aku lelah juga,dan di sinilah aku sekarang duduk di atas kasurku menunggu manusia tidak tau diri itu keluar dari kamar mandi milikku,aku merasa bebas sekarang karna gaun pengantin sialan itu sudah lepas dari tubuhku,kini aku merasa nyaman menggunakan kaos oblong dan celana pendek yang memang biasa aku pakai sehari-hari.


Cklekk


Telingaku menangkap suara pintu kamar mandi ku terbuka,dan ternyata benar si manusia tidak tau diri itu sudah keluar dari dalam kamar mandi,dan saatnya aku memarahi dirinya.


"Lo tuh ya-eh *****!" Aku berteriak dan refleks menutupi kedua mataku.


"Lebay lo!"


"Lo ngapain sih,keluar gk pake baju gitu?!" Aku masih menutupi kedua mataku,pria tidak tau diri itu keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pingangnya sedangkan dada bidang dan perutnya terekspos begitu saja.


"Gue lupa bawa baju ke dalam tadi,karna biasanya kalau di rumah gue gk biasa ganti baju di kamar mandi langsung." Aku yang mendengar hal itu hanya mampu berdecak kesal.


"Cepetan pake baju lo." Aku segera mendorong punggung Januar untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Alika!"


"Apaan?!" Teriak ku membalas panggilan Januar yang kini sudah berada di dalam kamar mandi kembali.


"Ambilin baju gue di dalam koper."


"Ck ngeribetin." Meskipun ngedumel,aku tetap membuka koper milik Januar dan menggambil pakaiannya.


"Buka dulu,ini bajunya udah gue ambilin." Aku berteriak lagi,dan pintu kamar mandi pun terbuka tidak lebar dan tidak lama muncul lah tangan Januar.


"Makasih,btw kayanya lo cocokan jadi babu gue dari pada jadi istri."


Blam


Aku mulai emosi mendengar ucapan Januar barusan,apalagi ketika ia menutup pintu kamar mandi ku dengan kencang.


"Januar sialan! Januar gila!"


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


**Halo semuanya! Ketemu lagi sama author,apa kabar semuanya? Semoga kabarnya baik ya. Yang baru mampir aku ucapin selamat datang! Semoga suka dengan cerita dan karakter yang ada di cerita ini. Jangan pelit komen sama votenya! Enjoy dan selamat jatuh hati!


See you next part!


[FV/V]


💙**