
...Happy Readingš¤...
Suasana kantin yang semula ricuh karena padatnya pengunjung, seketika menjadi hening, setelah Siren dengan sengaja menggebrak meja di hadapannya. Menimbulkan suara nyaring yang mampu mengambil atensi setiap mata yang ada disana.
"Lo denger gue gak sih? Gue bilang minggir ya minggir!" maki gadis itu dengan nada tegas, juga dengan tatapannya yang tajam dan menghunus. Membuat gadis dihadapannya semakin menunduk dengan tangan bergetar.
"T-tapi kan kak, aku lebih dulu duduk disini. Lagipula masih banyak bangku yang kosong!" gumam siswi bernama dada sinta itu penuh ketakutan.
Mendengar itu, membuat Siren tertawa renyah, tangannya terulur mengangkat dagu Sinta agar menatapnya.
"Lo murid baru, ya? Pantesan bego!" kata Siren meremehkan. " Lo nggak tau siapa gue disini?"
Dengan kasar, Siren menjitak kepala Sinta. Membuat gadis rambut kepang dua itu merintih karena rasa sakit.
"Kenapa? Mau nangis. Dasar lemah," cibir Siren lagi, diikuti Medina yang turut menunjukan smirk tajamnya.
Gadis itu kembali merasa takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia semakin terpojok sekarang. Tetapi dia tidak ingin menyerah begitu saja, dengan penuh tekad Sinta kembali mengangkat wajahnya, melemparkan tatapan tajam kearah Siren
"Aku mungkin murid baru, tapi bukan berarti aku memberi kakak hak untuk memeprlakukanku dengan kasar!" ucap sinta dengan suaranya yang gemetar.
"Gue, kasar?" tanya Siren menunjuk dirinya sendiri, sebelum akhirnya disambung dengan senyuman meremehkan. "Gue gak kasar, Lo aja yang lemah."
Kegelisahan serta ketegangan semakin terpancar dari wajah Sinta. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan semuanya. Ia tidak ingin menunjukan itu semua lebih dalam kepada Siren, atau dirinya akan semakin diinjak-injak disini
Namun, sial. Mata Siren lebih dulu menangkap ketakutan yang mendominasi wajah lugu di hadapannya. Gadis bermata sipit itu semakin mengeraskan tawanya. Siswa siswi lain yang ada disana pun turut memperhatikan, tidak yakin dengan akhir dari situasi yang tengah terjadi saat ini.
"Woi, kalian semua! Lihat aja murid baru yang sok jagoan ini, dia gak berani bicara lagi. Kalian semua memang sama, Lemah dan bodoh!"
"Siapa yang lo maksud lemah dan bodoh?" suara yang tak asing itu turut menggema. Siapa lagi dia jika bukan Aletta, gadis itu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat.
"Gua tanya sekali lagi! Siapa yang lo bilang lemah dan bodoh?!" bentaknya tepat di hadapan Siren.
Sesaat Siren memalingkan wajah, sebelum kembali menatap tajam Aletta dengan senyum sinis yang terpatri pada bibirnya.
"Lo Aletta, lo yang bodoh dan lemah?" jawab Medina yang turut mendekat dan berdiri di samping Siren. "Kenapa? Nggak terima?"
Mendengar jawaban Medina, berhasil membuat darah Aletta mendidih saat itu juga, ia merubah pandangannya dari Siren ke Medina. Tatapannya tak kalah tajam, menembus mata Medina yang masih bersikap santai. Medina sendiri tampak tidak tergoyahkan, bahkan gadis itu mengangkat alisnya seolah meremehkan Aletta.
Dalam sekejap, suasana kantin semakin menegang, murid-murid lain yang berada di sekitar, mulai fokus menatap kedua gadis itu. Seakan ada magnet kuat dari keduanya, yang berhasil menarik perhatian mereka semua.
Aletta lebih dulu terkekeh, menatap gadis di hadapannya dengan sebelah mata. " Iya lo bener, gue emang bodoh. Tapi kalo gue bodoh, terus lo apa dong?"
Medina mendengus tak suka, Ia merasakan getar kemarahan semakin membeludak dalam dirinya, dengan bersedekap dada ia memasang wajah kesal. Mata tajamnya menatap Aletta dengan penuh kebencian.
"Lo mau tau nggak? Lo itu apa?" Aletta berkata dengan nada penuh ejekan, bibirnya menampilkan senyum sinis yang berhasil menganggu lawannya.
"Lo itu lebih buruk daripada sampah, Medina!" sambungnya penuh penekanan pada setiap kalimat.
Namun, belum sempat kedua kulit itu saling bersentuhan, seorang laki-laki berpostur tinggi dan lebih besar dari keduanya, lebih dulu menggenggam tangan Medina yang masih terangkat di udara. Lalu dengan kasar membuang tangan itu ke samping. Membuat gadis itu merintih merasakan sakit.
"Berani lo sentuh Aletta, Gue pastiin lo bakal keluar dari sekolah ini."
****
"Gila Dino, lo tadi keren banget, sumpah!" seru gadis pemilik gigi kelinci, dengan wajah hebohnya.
Dino sendiri hanya mengangkat bibirnya untuk tersenyum selebar mungkin, "Biasa aja Sel, gue jadi gini kan juga karena lo pada."
"Itu karena lo sendiri Din, bukan karena kita. Iya nggak sel?" sahut Aletta yang turut nimbrung, membuat Sella mengangguk megiyakan.
"Tapi jujur nih ya, sampe sekarang gue gak habis pikir. Perasaan tuh cewek ga ada kapok-kapoknya kena hukum pak Jamal."
Aletta menghela nafasnya jengah, memikirkan masalah Medina memang selalu menguras waktu dan tenaga. "Gimana mau kapok, orang hukuman dia aja, yang ngerjain antek-anteknya."
"what! Seriously!" Sella memekik tepat di teljnga Aletta. membuat gadis itu reflek melirik tajam ke arahnya.
"Kira-kira apa ya yang ada di pikiran mereka, bisa-bisanya gitu lo, rela ngerendahin diri sendiri. Gini ya? Kan orang tua mereka nyekolahin biar mereka berpendidikan, bukan malah cosplay jadi babu kayak sekarang" cicit Sella, dengan tangan memijat pelipisnya yang turut berdenyut karena memikirkan itu semua.
"Si Medina juga tuh, Sok banget jadi bocah! Pakek acara nyuruh-nyuruh segala. Emang dia siapa, Presiden juga bukan! Hii ... semisal gue mah ogah banget disuruh-suruh kayak gitu."
"Ya namanya juga anak orang kaya Sel! Apalagi di zaman sekarang. Money is everyting! Dengan uang semua berjalan lancar"
Sela mengangguk-anggukan kepalanya pertanda setuju. Dino memang benar, uang adalah segalahnya. "Hadehh, Yang kaya bokapnya yang sok-sok an malah anaknya. Mau heran tapi ini warga +62"
Mendengar itu membuat Aletta terkekeh geli, ia menepuk pelan bahu Sella, mencoba meredakan amarah gadis itu. Hingga panggilan yang menyerukan namanya membuat ketiga remaja itu mendongak menatap sumber suara.
"Aletta, Ikut gue!"
Tanpa persetujuan Arvin segera membawa Aletta pergi, Dino yang melihat itu tidak terima. Saat hendak mengejar, Sella justru lebih dulu menahannaya.
"Gak usah dikejar Din!" Ujarnya yang langsung memengang tangan Dino.
"T-tapi Sel, kalau Aletta diapa-apain gimana?" tanyanya dengan raut yang berubah pias menjadi penuh kekhawatiran.
Bukannya panik, Sella justru mengeluarkan tawa yang terdengar renyah. Membuat Dino keheranan sendiri.
"Lo kenal Aletta udah lama kan?" tanya gadis itu, yang langsung diangguki oleh Dino.
"Yudah, harusnya lo percaya dong kalau tu cewek bakalan aman-aman aja. Lagi pula mana ada orang yang bisa nglawan bacotannya temen kita yang satu itu."
Tetapi, Dino tak kunjung menjawab, membuat tangan Sella menepuk pundak laki-laki itu. Netranya menatap Dino itu dengan tulus, mencoba meyakinkan.
"Lo percaya sama gue! Kebaikan gak bakal bisa di tumbangkan, dan Aletta akan baik-baik aja!"