
...Happy Readingš¤...
Di senja yang semakin meredup, rambut blonde dengan poni dora gadis itu berhembus lembut oleh angin sepoi-sepoi. Matanya terpaku pada foto yang tengah ia genggam, memancarkan kemarahan yang mendalam.
"Lo sama kakak lo sama aja anjing, Kalian sama-sama sampah!" umpatnya dengan perasaan marah yang bergejolak hebat. Wajahnya berwarna merah merona, dan suaranya menggema di udara.
"Gue bakal pastiin lo bakal terus hidup menderita, di bawah bayang-bayang kematian kakak lo itu!"
Gadis itu tersenyum culas, merasa sedang dengan dampak ucapannya. " Gue gak akan ngebiarin lo hidup bahagia, dan gue bakal pastiin lo akan menderita, Aletta!"
Hingga deheman dari arah belakang, berhasil merebut atensinya. Ia menoleh dan mendapati seorang laki-laki tengah berjalan ke arahnya.
"Sekali lagi lo berani nyentuh Aletta, gue bisa pastiin lo yang akan pergi dari sini!"
Bukannya merasa terintimidasi, gadis itu justru semakin mengeraskan tawanya. Dan ia mulai melangkahkan kakinya dengan angkuh, berputar mengelilingi laki-laki yang tengah menatapnya dengan tatapan datar.
"Gak usah ikut campur lo! Dasar cupu!"
Mendengat umpatan lawanya, membuat laki-laki itu turut mengembangkan senyum tipis, disertai tatapan tegas dan tak tergoyahkan
"Lo payah! Mana yang katanya bakal naklukin hati Aletta. Mana? Mana buktinya. Lo selalu kalah!"
"Gue gak pernah kalah dari siapapun, termasuk lo!" pertegas laki-laki itu penuh penekanan, tanpa merubah ekspresi datarnya dengan tatapan yang menghunus.
"Disini lo yang seharusnya sadar, Lo terlalu terobsesi sama cowok pecundang kayak Arvin."
"Dan satu lagi, semua ini nggak ada hubungannya sama Aletta ataupun keluarganya, ngerti lo!"
Tak ingin lagi berbasa-basi, laki-laki itu bergerak menjauh, meninggalkan saudarinya dengan amarah yang semakin bergejolak hebat. Tangannya mengepal kuat disamping celana, memandang punggung laki-laki itu dengan tatapan permusuhan.
"Sial, lo udah ngerebut semua yang gue punya, Aletta."
...***...
Sore itu dibelahan bumi yang berbeda, angin yang berhembus dengan normal dan juga suara cuitan burung yang saling bersahutan, mengiringi dua langkah kaki anak manusia yang berbeda gender untuk menyusuri setiap gundukan yang berada sekelilingnya.
Hingga kedua pasang kaki itu berhenti tepat di salah satu gundukan yang menjadi tujuan utama mereka. Tempat itu sangat sepi dan tenang, Aletta lebih dulu berjongkok, di sebelah batu nisan yang bertuliskan.
...QUEENSEA EFENDI...
...BINTI...
...KURNIAWAN EFENDI...
"Kak, Gue kangen sama lo! Gimana kabar lo disana? Lo bahagia banget ya, sampek gak mau balik?"
Tanpa disuruh, air mata gadis itu luruh begitu saja. Membuatnya dengan cepat mengelapnya. Aletta sudah berjanji, tidak akan ada air mata ketika berada di tempat ini.
"lo pasti marah kan, liat gue yang sekarang." Aletta terkekeh hambar, membayangkan ekspresi kesal gadis yang telah tiada itu.
"Sejak lo pergi, hidup gue gak pernah baik-baik aja kak! Gue hancur, lebih hancur daripada yang pernah gue bayangin." lirih Aletta, lantas memeluk gundukan tanah itu, menyembunyikan wajahnya diantara tangan dan tanah yang sudah mengering.
Sejenak ia melupakan janjinya, gadis itu membiarkan tangisnya mengisi udara, tak lagi peduli jika nanti Arvin akan akan menganggapnya lemah dan cengeng. Namun, ia justru merasakan usapan lembut yang laki-laki itu berikan. Tak dapat dipungkiri hal itu berhasil membuat Aletta merasa lebih baik.
"Kak, lo harus tau, kalau gue belajar banyak dari lo. Gue jadi Aletta yang kuat dan gak penakut kayak sekarang, itu karena lo!"
Dia mengambil nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan segala kekuatan dalam dirinya. Meski sulit ia terus mencoba mengangkat kedua sudut bibirnya untuk terangkat membentuk lengkungan yang pas dan manis di wajahnya.
"Lo berhasil jadi inspirasi gue. Gue janji gue bakal jadi apa yang lo harapin, makasih udah mau jadi kakak yang hebat, dan luar biasa buat gue. Gue sayang lo, selalu!"
Gadis itu kembali memperbaiki duduknya. Dengan menghembuskan nafas lega, ia memberikan seikat buket matahari yang indah disana. Disusul dengan Arvin yang menyiramkan sebotol air yang mereka bawa.
"Hai, gue Arvin! kita gak saling kenal, dan sampai sekarang gue ga tau siapa lo!" tutur Arvin yang turur mengambangkan senyumnya. Membuat Aletta menoleh sekilas.
Gadis itu tersenyum ke arah Arvin. " Gue udah nepatin janji gue buat nemuin lo sama kakak gue kan?"
Arvin mengangguk, tapi saat ini pikirannya masih campur aduk, Ia benar-benar belum mengerti situasi ini.
"sekarang, apalagi yang mau lo tau?"
Arvin menatap Aletta dan gundukan itu secara bergantian, tidak yakin untuk mengutarakan pertanyaan yang ia pendam.
"Gue mau tau, gimana dia bisa berakhir seperti ini? Dia sakit?"
Aletta menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menetralkan rasa sesak yang kembali menyerangnya. Membahas soal Sea sama halnya membuka luka lama yang telah ia pendam rapat-rapat.
"Kakak gue nggak sakit, dia kehilangan harapan dan kebahagiaan. Itu yang membawanya pergi dan lebih memilih ninggalin gue."
Arvin merasa tersentak dengan jawaban gadis dihadapannya, meski sebenarnya ia masih belum sepenuhnya mengerti. Dan hal itu berhasil membuatnya ingin tahu lebih banyak lagi, tentang masa lalu Aletta dan gadis malang itu.
"Gue ingin tau lebih banyak tentang kak Sea. Lo mau kan certain dia ke gue!"
...Terimakasih semuanya, Semoga kalian suka ya. Dan jangan lupa tinggalin jejak ya biar aku tambah semangat lagi:)...