Young Marriage

Young Marriage
Young Marriage 16



...Happy Reading🤗...


Aletta perlahan membuka matanya, membiarkan cahaya lampu ruangan yang lembut memasuki penglihatannya yang masih buram. Ruangan itu terasa sepi, dengan aroma alkohol dan antiseptik yang menyengat di udara, menciptakan atmosfer rumah sakit yang khas.


Tubuhnya terasa Lemas, ia merasakan hawa dingin mengelilinginya, lalu menyadari bahwa dirinya tengah terbaring di atas brankar dengan selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya, memberikan kesan hangat. Pikirannya terasa masih kabur, tetapi ingatannya perlahan mulai kembali. Aletta menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati, merasakan sedikit kelemahan yang menyebar dalam dirinya. Dia melihat sekeliling, mencari tanda-tanda kehadiran orang lain, dan mencoba memahami apa yang telah terjadi.


"Ayah, Bunda, kalian dimana?" panggil gadis itu dengan suaranya yang masih lemas, kepalanya terasa berat, tapi tidak ada siapapun yang mendengar ucapannya.


Arvin yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan menyadari gadis kesusahan saat hendak mendudukkan tubuh, segera bergegas menghampirinya.


"Al lo udah sadar. Syukurlah!" cicit Arvin dengan menghembuskan nafas lega. Hampir satu jam ia menunggu tapi tak juga ada tanda-tanda gadis itu membuka matanya.


"Lo mau apa? Makan? Minum? Biar gue cariin sekarang!"


"Gue mau kak Sea, Vin. Lo bisa kan bawa dia kesini." jawab Aletta dengan tatapan yang kembali kosong. Arvin yang kala itu sudah bergerak hendak keluar ruangan terpaksa menghentikan langkahnya dan kembali mendekat.


"Tolong jemput dia Vin, kasih tahu kalau adiknya lagi sakit! Pasti dia nggak bakal bisa nolak buat dateng kesini!"


Ia menatap Aletta dengan senyum nanar, kini ia sudah mengetahui semuanya. laki-laki itu berinisiatif menarik kepala Aletta untuk ia sandarkan pada dadanya, dan benar saja gadis itu tidak mengelak sama sekali.


"Gue tau ini gak mudah, tapi gue yakin lo bisa! Ada gue disini, Gue bakal selalu ada buat lo!" ujarnya penuh keyakinan. Ia menempelkan dagunya pada puncak Aletta, sesekali ia mengecup surai indah itu tanpa izin.


"Kak Sea, bakal kesini kan?" tanya Aletta dengan suaranya yang parau, gadis itu mendongak menatap Arvin penuh harapan.


Mendapat tatapan seperti itu, membuat Arvin merasakan sakit di lubuh hatinya, seperti dihantam bebatuan besar. Ia benci Aletta yang ada di hadapannya. Ia lebih suka Aletta yang suka memaki-makinya didepan umum.


Namun, meski tidak mungkin, Arvin tetap menganggukkan kepala, matanya menatap Aletta lebih dalam dan mencoba menciptakan kehangatan dalam ruangan yang dingin karena Ac itu.


Hingga pintu berwarna putih di pojok ruangan terbuka, menampilkan dua wanita paruh dan seorang wanita muda yang berjalan mendekat ke arah Arvin.


Melihat itu, membuat Arvin dengan segera melepas pelukannya dan berjalan mundur untuk berdiri di samping mamanya, membiarkan Naya dan satu wanita muda itu mendekat ke arah Aletta.


"Hai, Aletta. Masih inget kakak kan?" sapa wanita muda itu dengan senyum yang merekah.


Aletta hanya mengangguk kecil. "Aku nggak butuh kak Ana, aku butuhnya kak Sea!" gumamnya menatap Naya dengan penuh keseriusan.


"Kakak boleh minta waktunya Aletta? Sebentar saja," Wanita yang diketahui bernama Ana itu duduk di samping Aletta, mencoba memahami keadaan dan melakukan pendekatan kepada gadis itu.


Aletta menatap Anna ragu, tetapi gadis itu tetap mengangguk. Ana sendiri adalah seorang psikiater muda yang sejak tiga tahun lalu menangani kasus Aletta. Jadi dia sudah cukup dekat dengan keluarga gadis itu.


Masih dengan senyuman Ana berbalik, menatap ketiga orang lainnya dengan bergantian. " Boleh saya berbicara dengan Aletta, berdua?"


"Tentu, nak Ana. Kami akan keluar sekarang!" jawab Naya meski terasa berat meninggalkan putrinya sendirian.


"Maaf, tapi boleh saya tetap disini, saya ingin menemani Aletta." gumam Arvin mencoba untuk bernegosiasi.


Namun, belum sempat Ana menjawab, Rani sudah dulu menarik lengannya untuk ikut keluar, meski berat ia tetap ikut melangkah.Laki-laki itu terduduk lemas di kursi tunggu, membayangkan betapa sakitnya Aletta selama ini.


"Arvin."


Laki-laki itu menoleh, menatap Naya yang sudah duduk disampingnya, tanpa mengekuarkan kata-kata laki-laki itu langsung memeluk tubuh Naya, berusaha mencari kedamaian disana.


"Kamu, udah tau semuanya?" tanya wanita itu yang masih setia memeluk tubuh Arvin. dapat ia trasakan Arvin mrngangguk hebat.


Naya melepas pelukannya, menatap wajah kusut anaknya. "Udah, sekarang kamu pulang ya!"


"Nggak, biarin Arvin nemenin Aletta, Arvin mau minta maaf sama Aletta. Ini semua salah arvin!"


Naya berdecak malas, dari dulu hingga sekarang anaknya itu tetao keras kepala dan tidak mudah diatur. " Kita gantian, kamu udah seharian disini. Lagian besok kamu sekolah kan?"


"Arvin bisa izin gak masuk! Gampang kan?"


Mendengar itu, Naya langsung berdiri dengan berkacang pinggang, matanya melotot mentap Arvin dengan ganas. " Enak aja mau bolos, mau jadi apa kamu?"


"Jadi suaminya Aletta!"


Naya yang sempat melotot, merasakan bibirnya terus berkedut menahan senyuman dan akhirnya ia tak kuasa menahantawa yang keluar begitu saja. Hingga Wijaya datang dan langsung duduk disamping putranya.


"Udah, pulang aja! Bentar lagi kamu ujian. Aletta biar kami yang urus. lagipula kejadian seperti ini dulu udah biasa terjadi!"


Ucapan pak Wijaya berhasil, membuat Arvin menyerngit bingung. Berarti selama ini, kedua orang tuanya sangat dekat mengenal gadis itu, lantas bagaiaman bisa ia tidak menegenal Aletta sama sekali? Bak cenayang yang mampu membaca jalan pikiran Arvin, pria paruh baya utu menaikan sebelah alisnya.


Arvin tak menjawab, ia masih sibuk mancari jawaban didalam otak mungilnya.


"Hadeh…! Gimana mau kenal, orang setiap diajak keluar bawaannya males mulu. Dari dulu sampai sekarang gak ada perubahan!"


Arvin beralih menatap Naya, sedikit menyesal dengan kelakuannya yang terlalu introvert itu.


"Udah, pulang sana sekarang! Hati-hati dijalan, kalau udah nyampe jangan lupa kabarin mama kamu!" ucap Wijaya mutlak, dan tak bisa diganggu gugat.


Arvin hanya menurut saja, ia segera berpamitan dengan kedua orang tuanya dan juga Bunda Aletta, tetapi ia belum menemukan keberadaan ayah mertuanya, dan ia memutuskan untuk mencari sosok itu, hingga tibalah di lorong menuju parkiran dan ia menemukan Efendi disana. Arvin memutuskan untuk mendekat dan berpamitan.


Saat dirasa sudah cukup berpamitannya, Wijaya mengantarkan Arvin menuju mobilnya dan sebelum Arvin masuk ia kembali menghentiakn langkah menantunya itu, membuat Arvin kembali menatapnya.


"Makasih Arvin," ucap wijaya dengan menampilkan senyuman yang begitu tulus. Arvin pun membalas senyuman itu tak kalah manis.


"Kamu idah berhasil, ngewujudin apa yang Ayah impikan," pria berkacamata itu menpuk pundak Arvin, "Ayah titip Aletta."


...***...


Susana kelas yang ricuh, sama sekali tak menggugah semangat Arvin untuk bergabung diantara mereka. Laki-laki itu duduk diatas meja tepat dipojok kelas, wajahnya terlihat kusut dan rambutnya lebih berantakan dari biasanya. Matanya menghitam karena kurang tisur, sebab saat sampai di rumah, bukannya segera terlelap laki-laki itu justru terjaga hingga saat ini. Pikirannya tak sedikitpun terlepas dari Aletta yang masih terbaring lemas di Rumah sakit.


"Woy, kenapa lo? Kusut amat tuh muka, udah kayak jemuran gak di setrika!" ujar Ardi yang langsung mengambil tempat di depan Arvin.


Arvin berdecak, matanya melirik Ardi dengan malas. "Pergi sana! Lo ganggu gue."


"Buset, galak amat bang! PMS lu?" tanya Ardi lagi dengan nada menggoda.


Namun, tetap saja Arvin tak menggubris perkataannya. Padahal jika di hari-hari biasanya, pasti Ardi akan langsung mendapat balasan dari laki-laki itu dan Zidan sebagai penontonya.


Ardi yang merasa heran, melirik ke arah Zidan, seakan sedang bertanya, ada apa dengan teman nya itu? Zidan yang sepetimya bisa membaca arti lirikan itu Mengangkat bahunya tanda tak mengerti. Kemudian mereka berdua memurtuskan untuk diam, tak berniat menganggu Arvin. Mereka menyadari jika ini bukan saatnya untuk bercanda.


Arvin yang mampu mendeteksi perubahan sikap dari kedua sahabatnya, mengangkat ujung bibirnya untuk terkekeh, seakan hal itu bisa membuat moodnya sedikit membaik, kedua tangannya bergerak menepuk pundak Zidan dan Ardi yang memang posisinya menghimpit dirinya.


"Eh, ngapain diem? Lo berdua gak pantes kayak gitu!"


Reflek Ardi dan Zidan menatap Arvin bersamaan. Tidak sampai hitungan kelima, ketika laki-laki itu tertawa tanpa sebab. Aneh menang tapi itulah mereka.


Namun, itu tak berlangsung lama, Medina yang tiba-tiba datang dan menarik tangan Arvin untuk ia genggam membuat kedua temannya menatap gadis itu tak suka.


"Ngapain sih lo, dateng-dateng langsung nempol. Udah kayak ulet bulu!" protes Ardi tak terima.


Sedanngkan Arvin sendiri, dengan kasar menepis tangan itu, membuat Medina menyerngit heran, tapi ia langsung kembali mengenggam tangan kekar itu.


"Ih, Arvin kok lo gitu sih sama gue?" tanya gadis itu dengan nada ketus. Kakinya sengaja ia hentakkan ke lantai, pertanda ia kesal.


Zidan yang melihat itu segera melengos tak suka. Ia berdecak dengan segala umpatan yang ia tahan. Semenjak kehadiran Medina, Zidan jadi lebih suka diam dengan raut tak bersahabat.


"Minggir sono, Arvin lagi sibuk! Gak boleh dan gak bisa diganggu." ucap laki-laki itu tegas, serta penuh penekanan di akhir kalimat.


Medina berdecak, menatap Ardi tajam. " Siapa lo berani nyuruh-nyuruh gue?"


Ardi hanya tersenyum dengan remeh, dan menatap malas gadis dihadapannya. Sepertinya, laki-laki itu sudah sangat muak dengan sikap Medina selama ini. "Gue temannya Arvin, lo sendiri siapanya?"


"Gue pacarnya! Lo lupa?"jawab Medina dengan tingkah kepedean yang luar biasa, sambil melepaskan genggamannya pada tangan Arvin dan merangkul laki-laki itu dengan penuh keyakinan.


Arvin kembali terdiam, menatap ketibutan yang berlangsung dihadapannya. Pikirannya yang pusing, semakin dibuat pusing oleh mereka, moodnya yang perlahan membaik harus hancur kembali. Tanpa sadar kakinya mendorong meja yang berada tak jauh darinya, menimbulkan suara nyaring dan berhasil merebut atensi satu kelas.


"Kalau kalian mau ribut diluar, jangan disini! Berisik tau nggak?" bentaknya penuh penekanan.


Tak memperdulikan tatapan seisi kelas yang mengarah kearahnya, Arvin segera beranjak keluar ruangan dengan perasaan yang kesal. Medina yang melihat itu segera berlari menyusul, diikuti oleh Ardi dan Zidan di belakang.


"Arvin! Stop!" Teriak Medina, saat merasa kelelahan, Arvin yang mendengar itu segera berhenti seakan ada magnet yang menahan kakinya untuk tidak kembali melangkah.


"Lo bentak gue?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Arvin tak mampu berkutik. Sampai Media berhasil berdiri di hadapannya, gadis itu tersenyum, di wajahnya terlukis penuh kelicikan. Arvin yang melihat itu langsunh mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan emosi, agar tidak semakin memperburuk semuanya.


Gadis itu tertawa kecil, menatap Arvin dengan bersedekap dada. "Lo lupa sama janji lo?"


Bersambung....