
...Happy Readingš¤...
Gadis itu berdiri di balkon apartemen miliknya, matahari sudah meredup, berganti dengan malam. Langit yang menghampar di hadapannya, dipenuhi oleh bintang-bintang yang bersinar begitu terang. Angin sepoi-sepoi berdesir lembut, membuat rambutnya bergerak perlahan seperti dansa di malam yang tenang. Dari kejauhan, suara gemuruh kota masih terdengar, tetapi sekarang cahaya dari lampu kota yang memancar membentuk jaringan berkilauan di bawahnya. Gedung-gedung menjulang tinggi, menciptakan siluet yang kontras dengan langit malam yang mendalam. Gadis itu memandang jauh ke bawah, ke jalan raya yang padat dengan lampu lalu lintas yang berkedip-kedip seperti bintang-bintang di atasnya.
Pintu di belakangnya bergerak perlahan, menampilkan bayangan seorang laki-laki gagah yang tersirat di atas lantai, membuat gadis itu menoleh ke arah pintu dan dengan cepat menghampiri dan meraih tubuh itu kedalam pelukannya. Dengan sengaja ia menyembunyikan kepala di dada bidang yang ada disana, merasakan aroma mint yang menyegarkan menyelimuti penciumannya. Aroma itu layaknya sentuhan dingin yang menyejukkan di tengah malam yang hangat.
"Are you okay?" Gumam Arvin, melepas pelukan itu dengan perlahan, tangannya bergerak menangkup pipi tirus gadis dihadapannya
"always feel good when with you." jawab gadis itu, dengan senyum manis yang telah Tuhan anugerahkan kepadanya.
Sebelum gadis itu kembali memeluknya, Arvin sudah lebih dulu mengajak untuk masuk ke dalam apartemen, membuat kebahagiaan terpancar dari wajah Medina. Mereka memilih duduk di sofa dan dengan senyuman lembut, Medina kembali bersandar pada dada bidang Arvin.
"so thank you ⦠karena lo, hidup gue jadi kembali berwarna." ucap gadis itu lembut, sejak tadi tanganya terus bergerak membelai tangan Arvin.
Sedangkan, laki-laki itu hanya terdiam sejak tadi, pikirannya dipenuhi oleh Aletta yang berada di rumah sendirian. Dan sesekali dia hanya tersenyum merespons ucapan Medina.
Dengan perlahan, tangan Medina menyentuh wajah tampan yang melekat pada Arvin. Matanya yang dalam dan menarik, ditemani alis yang terpoles rapi dan memberikan kerangka sempurna untuk matanya. Hidungnya cukup proporsional dengan garis rahang yang tegas, menciptakan kesan maskulin yang kuat.
Gadis itu merasa hatinya berdebar saat tangannya masih lembut menyentuh wajah tampan Arvin. Matanya yang dalam seperti menyatakan keinginan yang tak terucap, dan alis yang terpoles rapi menambah pesona pada tatapannya. Sementara itu, dia merayu dengan senyuman yang lebih memikat, membiarkan bibirnya melengkung dalam godaan yang menggoda. Tatapan matanya yang tak terpecah dari Arvin mengisyaratkan niat yang jelas, dia ingin memikatnya, dan dia tahu persis bagaimana caranya.
Gadis itu berdiri, dengan senyum yang terus mengembang di bibir merahnya, tangannya bergerak melingkar di leher Arvin, Arvin yang nampak risih, menyerngit heran saat tiba-tiba gadis itu menarik tubuhnya dan mendorongnya ke atas ranjang. Karena kurangnya persiapan, dengan mudahnya laki-laki itu ambruk, disusul Medina yang mulai bergerak membuka kancing paling atas miliknya.
Arvin dengan cepat menyadari situasi dan segera menggeser tubuh Medina dari atasnya, membuat gadis itu tersentak dan terjatuh ke lantai yang dingin. Medina merintih, merasa kesakitan. Tetapi, tidak lama kemudian, terdengar tawa keras yang menggema di ruangan itu. Arvin masih diam, matanya terfokus pada perubahan ekspresi Medina.
"Arvin, gue cuma mau milikin lo sepenuhnya!" serunya sambil kembali tertawa, dengan penuh kegembiraan.
Medina bangkit dan mendekati Arvin yang masih terdiam. Membuat laki-laki itu bergerak mundur perlahan, dan tanpa sengaja menggeser botol kaca yang berada di atas nakas yang berada di samping tempat tidur. Botol itu pecah, mengeluarkan bau alkohol yang langsung menusuk indra penciuman Arvin.
Laki-laki itu paham situasinya sekarang. Dia terus memandang Medina yang masih tersenyum licik dan berusaha meraihnya, sebisa mungkin laki-laki itu mengontrol emosinya atau situasinya akan lebih buruk lagi, gadis di hadapannya itu hanya tengah dalam pengaruh minuman alkohol, jadi pantas saja jika ia bisa bertingkah segila ini.
Sebelum Medina kembali berulah, Arvin lebih dulu menarik tubuh kurus gadis itu, mendekapnya dengan kuat, mencoba menahan serangan yang Medina lontarkan.
Gadis itu terdiam, keringat membasahi wajahnya, dan ia menundukkan kepala dalam keheningan sesaat. Kemudian, dengan tiba-tiba, ia mendongak, isakan tersedu-sedu mulai keluar dari bibir kecilnya. Suaranya rapuh dan terpatah-patah, seperti mencerminkan perasaan yang dalam dan luka yang tak terungkapkan di dalam dirinya.
"Bodoh! lo bodoh"
"Gue bakal bikin lo ngerasain apa yang gue rasain selama ini. Lo perebut."
"Lo biadap!"
"Lo brengsek!"
"Lo lebih keji dari iblis sekalipun!"
"Lo milik gue Arvin, gue gak bakal biarin siapapun jadi milik lo, selain gue!"
Kalimat terakhir yang Medina ucapkan, mampu membuat tangan Arvin terlepas, secara perlahan. Ia membiarkan tubuh Medina berdiri dengan tidak seimbang, dengan langkah sempoyongan gadis itu berjalan ke ranjang dan mengambrukkan tubuhnya disana.
Dengan tatapan kosong, ia merasakan kepalanya semakin memberat, matanya perih dan akhirnya semuanya menjadi gelap. Gadis itu kehilangan kesadarannya. Ini memang bukan yang pertama kalinya, tapi baru kali ini Arvin menyaksikan gadis itu bisa semabuk ini. Meskipun masih dibuat terkejut oleh situasi yang baru saja terjadi, laki-laki itu berjalan mendekat, merasa perlu memastikan keadaan gadis itu, karena bagaimanapun ia punya tanggung jawab untuk semua ini.
Dia memeriksa nadi gadis itu dengan cepat dan mendapati bahwa Medina masih bernapas. Sementara itu, bau alkohol yang tajam terus menyengat di udara sekitarnya, membuatnya harus menjauh dan lebih memilih duduk di sofa dengan mata terus mengawasi Medina yang sudah lebih dulu terlelap.
...****...
Jam sudah menunjukan pukul 03.00 dini hari. Tapi Medina masih belum juga bangun dari tidurnya, membuat Arvin terus mengumpat. Ia ingin segera pergi dari tempat ini dan segera pulang kerumah, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian.
Arvin terus berdecak dengan wajahnya yang sangat tidak bersahabat, kerutan terus muncul diatara kedua alisnya ditambah tatapannya yang dingin dan tajam. Semalam suntuk ia berjaga, guna mewanti-wanti keadaan gadis yang masih berbaring tak jauh darinya itu. Dan kini keadaan ruangan layaknya kapal pecah, tidak ada lagi barang yang tertata sesuai pada tempatnya, banyak pecahan kaca yang berhamburan diatas keramik, tapi Arvin tak lagi memperdulikan hak itu, yang jelas saat ini hanya Aletta yang ada dipikirannya.
Semua pertanyaan tentang gadis itu, apakah ia sudah makan? Sebab kemarin saat ia pamit hendak kerumah Ardi, gadis itu masih asik menonton film dari layar ponsel dan enggan menyentuh makanan yang sempat ia belikan. Dan satu lagi, apakah gadis itu tengah menunggu kepulangannya? Tapi tidak, dengan cepat Arvin menggeleng, menepis pertanyaan konyol itu. Yang sudah pati jawabnya adalah tidak.
Tak ingin semakin menambah pertanyaan pada otaknya, laki-laki itu bernajak mencari ponsel Medianya yang entah ada dimana. Hingga ia menemukan benda itu tergeletak tak terurus di meja dekat televisi, senyuman terbesit dalam wajahnya yang lesu saat dengan mudah ia bisa membuka locksreen yang tertera disana, tak ingin berbasa-basi Arvin segera mengetikkan sesuatu di roomchat milik Mediana. Setelah semuanya beres ia kembali mengecek keadaan gadis itu yang ternyata masih sama. Tak ingin ambil pusing, dan menggap semuanya beres. Arvin segera berlari keluar ruangan, menuju tempat dimana motornya terparkir.
Keadaan jalan yang masih sepi, membuat Arvin lebih cepat sampai dirumahnya, laki-laki itu segera masuk kedalam gerbang dan saat hendak membuka kunci lintu utama, ternyata pintu itu tidak terkunci.
"Dasar ceroboh!" cibirnya dengan langkah pelan memasuki ruangan yang memang sudah gelap.
Saat hendak melewati ruang keluarga, televisi yang masih menyala mengambil seluruh titik fokusnya, masih demgan langkah pelan ia berjalan mendekat, dalam gelapnya ruangan dan karena bantuan cahaya yang dikeluarkan televisi, matanya mamlu menagkap Aletta yang tertidur diatas sofa.
arvin segera mendudukkan tubuh, mensejajarkannay dengan wajah Aletta yang tampak lebih manis saat tertidur, tapi ia juga menemukan raut lelah yang tergambar jelas disana.
"Lo nungguin gue Al!" lirih Arvin, sembari menghela nafas berat. Ada perasaan senang sekaligus sedih dalam hatinya.
Senang jika istrinya itu benar-benar menunggunya, dan sedih karena sudah membuat istrinya menunggu hingga ketiduran. Ia tak berniat membangunkan atau memindahkan tubuh Aletta kedalam kamar. Tangannya hanya bergerak menyikirkan rambut yang menggangu penglihatanyaa, senyuman kembali tercipta di bibir Arvin. Tak bisa dipungkiri, ia merasa sangat bahagia saat ini. Perlahan ia mendekatkan
wajahnya, dengan jantung yang semakin berdisko tak karuan, serta dalam waktu yang lama ia mengecup kening Aletta penuh perasaan. Meskipun telat ia tetap berucap.
"Good night, my secret Wife!"
Bersambung...
Terimakasih yang udah baca:)
Jangan lupa tinggalin jejak kalian:)
See You di eps berikutnya:)