Young Marriage

Young Marriage
Young Marriage 20



...Happy ReadingšŸ¤—...


Dengan menggunakan topi dan earphone Aletta berjalan gontai memasuki gerbang sekolahnya, sesekali ia melirik ke belakang, menatap Arvin yang masih terdiam di seberang jalan dengan mata terus memantau oergerakannya, meski seperti itu, Aletta tetap bernafas lega, sebab laki-laki itu berhasil menuruti perintahnya dengan baik.


Setelah dirasa cukup aman, Aletta mengeluarkan ponsel dari saku mengirimkan pesan pada Arvin untuk segera masuk sebelum bel berbunyi.


Saat hendak kembali melangkah Aletta menemukan Ardi dan Zidan tengah bercengkrama di ujung koridor yang sepi. Karena setiap manusia tercipta dengan rasa penasaran yang tinggi, begitu juga dengan Aletta. Gadis itu dengan sengaja menguping pembicaraan dua sejoli sesama gender yang terlihat sangat serius dan sesekali terdengar menyebutkan nama Dino. Bukan apa-apa hanya saja Aletta takut jika mereka berdua akan kembali berulah seperti dulu.


"Yaelah Dan, salah lihat kali mata lo! lagian mana ada pabrik yang nyiptain benda cuma satu." cicit Ardi, laki-laki itu tetap mempertahankan pendapatnya .


"Lo bener, tapi stiker babi yang lo tempel di pojokan kaca bagian belakang cuma ada di satu mobil, dan lo pasti tahu itu mobil milik siapa?"


Ardi berdecak, bingung harus merespon bagaiamana. Tangannya meraup wajah dengan kasar. Ini masih pagi dan Zidan sudah memberinya info yang cukup membingungkan.


"Ya tapi, mereka punya hubungan apa coba? Orang Dino sama Medina aja gak pernah kelihatan baik, apalagi deket."


Ardi benar, Medina sangat hobi membully Dino. Jadi mana mungkin mereka ada hubungan khusus. Tapi apa iya dia salah lihat?


Aletta terus mendengarkan obrolan mereka dengan cermat, semakin penasaran dengan asumsi-asumsi mereka yang mengarah pada Dino dan Medina.


"Lagian lo ketemu mereka dimana sih? Kenapa nggak langsung lo samperin aja. Dari padabuat gue mikir pagi-pagi kayak gini." decak Ardi yang semakin merasa pusing. Jika bukan karena Arvin, ogah sekali mengurusi gadis modelan Medina, walaupun sekarang gadis itu menjadi salah satu temannya.


"Di jalan cempaka, waktu kita pulang nongkrong. Dan gue inget banget kalau tu cowok beneran Dino!"


"Terus lo juga lihat wajah Medina?" tanya Ardi semakin dibuat penasaran. Jika sudah seperti ini ia jadi menyesal, karena lebih memilih kebut-kebutan daripada santai bersama Zidan, "dan lo udah pastiin kalau dia bener-bener Medina?"


Zidan menggeleng pelan, "Nggak, mukanya nggak kelihatan, tapi gue yakin banget kalo itu si Medina.


Mendengar itu membuat Aletta mengerutkan kening, ia memutar otaknya, keterangan yang diberikan Zidan sama persis seperti yang diucapkan Sella saat malam itu. Tanpa sadar gadis itu menyenggol sebuah vas bunga yang terbentuk dari tanah liat dan langsung pecah begitu saja, menimbulkan suara bising akibat kecerobohannya.


Di depan sana Zidan juga Ardi yang masih terlibat


percakapan dengan cepat menoleh ke sumber suara, membuat mata mereka semua bertemu dalam satu titik.


Ardi lebih dulu berlari menghampiri Aletta, dengan tatapannya yang tajam. Suasana pagi yang cerah membuat bayangan-bayangan mereka terpancar di lantai koridor sekolah. "Ngapain lo disini? Nguping kan lo?"


Aletta tertawa kecil, kemudian membalas tatapan itu dengan malas, " kurang kerjaan banget gue, ngupingin kalian." kemudian, dengan kasar ia mendorong tubuh Ardi yang menghalangi jalannya.


"Eh, tunggu! Main kabur-kabur aja lo cewek reog."


Aletta menoleh ke belakang, menatap tajam pergelangan tangannya yang saat ini dipegang oleh Ardi.


"Gak usah pegang-pegang bisa!" tatapan gadis itu naik, berganti menatap wajah Ardi. Melihat itu membuat Ardi dengan cepat melepaskan tangannya dengan terkekeh ringan.


"Sorry … sorry, gitu aja marah! Gue cuma mau ngomong" imbuh Ardi, menatap Aletta datar


"ck! Kalau mau ngomong cepetan, gue mau ke kelas!" ujar gadis itu lagi, tangannya kini bersedekap dada menunggu kaliamta yang akan Ardi ucapkan.


"Lo pacarnya Dino kan?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Aletta melotot tajam, " dia temen gue, bukan pacar gue. Ngerti lo!" tuturnya penuh penekanan.


"Iya itulah pokoknya!" kata Ardi meralat ucapannya.


Aletta mengurungkan niat untuk beranjak, ia kembali menatap Ardi dan Zidan, dengan tangan masih bersedak dada. " Udah, itu doang?"


Ardi melirik Zidan yang tengah menatapnya tanpa ekspresi, sebelum akhirnya memutuskan untuk berucap. "Apa lo tahu, ada hubungan apa Dino sama Medina?"


"Ngapain kalian disini?" Suara berat diiringi hentakan kaki yang berhenti, berhasil membuat ketiga orang itu terlonjak kaget, terutama Aletta.


"Lo juga, Ngapain bareng temen-temen gue? Pergi sana ke kelas lo!" sambungnya menggerutu, dan dudah jelas itu ditujukan oleh Aletta yang berdiri di sampingnya.


Tak ingin meladeni lebih jauh, Gadis itu segera melengos dengan memicingkan mata tanda permusuhan pada suaminya. Tapi Aletta masih bersykur, setidaknya sampao detik ini Arvin masih bisa menyembunyikan semuanya.


...****...


Dalam kelas yang tenang, papan tulis putih tergantung penuh dengan rumus dan tanda-tanda matematika. Cahaya alami menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar, menciptakan garis-garis terang di lantai kramik yang bersih. Pada saat itu, suasana kelas terasa damai. Namun, pikiran Aletta benar-benar dibuat terpecah belah saat ini, bahkan sejak tadi ia sama sekali tak menggubris guru yang tengah memberi materi di depan sana.


Sella yang menyadari itu, dengan gerakan perlahan menoel lengan gadis itu, membuat Aletta menoleh dengan mengangkat alisnya sebelah.


"Lo ngapain bengong terus dari tadi?" bisik gadis itu, tak ingin ada orang lain yang mendengar.


"Nanti aja gue ceritain." balas Aletta tak kalah pelan. Kemudian gadis itu mengangkat kepalanya mengamati seluruh sudut kelas dan benar saja ia tak menemukan Dino dimanapun.


"Dino nggak masuk?" tanya Aletta,


Sella tak langsung menjawab, ia menggelengkan kepalanya penuh ketidakpastian, kemudian gadis itu mengeluarkan ponsel guna memperlihatkan room chatnya dengan Dino.


Aletta membaca chat itu dengan seksama, tapi yang ada chat itu hanya berakhir di Sella tanpa ada balasan dari Dino sejak selesai video call kala itu.


"Kenapa ya si Dino?" gumam Aletta dengan nada khawatir. "Tumben banget dia absen tanpa ngabarin kita."


Sella mengangguk setuju, " Apa jangan-jangan, dia nyembunyiin sesuatu dari kita."


Kedua gadis itu saling berpandangan, merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang terjasi. Tapi untuk kesekian kalinya Aletta lebih dulu menepis rasa itu, ia tidak boleh berburuk sangka pada siapapun, atau semuanya akan menjadi semakin buruk.


Gadis itu hendak mengalihkan topik, ia kembali menatap Sella yang sudah kembali fokus menatap depan.


"Hust!" panggilnya dengan tangan menyikut tubuh Sella, tapi bukannya menoleh, Sella hanya berdecak dan menjauhkan tubuhnya dari Aletta.


Ada satu hal yang mengganjal di hati Aletta sekarang yang harus segera ia tuntaskan. Bagaimana bisa Zidan sama Sella bisa menemukan seseorang dalam waktu bersamaan?


"lo waktu itu, beneran ke cafe sendiri kan?"


Sella mengerutkan kening, membentuk lipatan lipatan yang menumpuk di sana. "Ya sendirilah, emang mau sama siapa?" ketusnya dengan tangan meraih tumbler berisi air dari hadapan Aletta.


Aletta mengangguk mengerti, dengan tatapan menggoda gadis itu kembali menatap wajah Sella yang semakin kebingungan.


"Kenapa?"


Dengan menahan senyum Aletta menggeleng, " Enggak, nggak papa!"


"Idih ngeri bet lu! Senyum-senyum sendiri, kesambet neng?" Sella bergidik ngeri dan langsung meneguk air di tangannya.


"Tapi ... lo beneran sendiri kan? Nggak sama Zidan!"


"Nggak anjir!!!"


Tanpa sadar gadis berambut sebahu itu memekik dengan kencang, disertai tangan yang reflek memukul meja dan berdiri dari duduknya. Melupakan seseorang yang tengah ngoceh di depan sana. Dan membuat orang itu menatap horor ke arahanya.


"Sella! Ngapain kamu? Keluar sekarang, Keliling lapangan 10 kali!"


Aletta menundukkan kepalanya untuk sekedar mengumpat, gadis itu memukul keningnya sendiri, menyadari kebodohan teman sejak dininya itu, Tak lama setelah itu kepalanya kembali terangkat menatap wajah Sella yang masih menganga tak percaya atas hukuman yang ia dapatkan.