
...Happy Readingš¤...
"Nih minum!"
Sella menoleh menatap Zidan yang sudah duduk disampingnya, kemudian mata itu berganti menatap sebotol air putih dingin yang terlihat sangat menyegarkan, tapi dia masih enggan menerimanya.
Bayangkan saja, gadis itu harus berlari mengelilingi lapangan utama yang lebarnya naudzubillah di saat matahari tepat diatas kepala.
Keringatnya bercucuran dari kening hingga leher, membuatnya merasa seperti terbakar di bawah teriknya sinar yang menyengat. Dan saat ini, gadis keturunan sunda campur jawa itu tengah duduk dibawah pohon rindang yang berada di pojok lapangan.
"Ambil! Bukan diliatin!"
Laki-laki itu kembali berucap dengan suara tegas dan agak serak, membuat Sella yang kelelahan semakin jengkel mendengarnya.
Namun, air dingin itu tampak menggoda. Ditambah teriknya matahari yang semakin memancar, membuat rasa dahaga pada dirinya semakin tak tertahankan. Gadis berkulit sawo matang itu merasakan lidahnya semakin kering, bak gurun yang gersang, dan satu-satunya cara untuk menghilangkan itu adalah menerima air pemberian Zidan.
Gadis itu ******* bibirnya, mencoba menghilangkan kekeringan yang saat ini melandanya. Zidan sendiri masih stay menulurkan air yang tak kunjung mendapat balasan dengan menaik turunkan alisnya.
"Oke ⦠diem berarti nggak mau!" putus Zidan, perlahan laki-laki itu menarik tangannya dan membuka tutup botol yang masih tersegel dengan rapat, hendak meminumnya sendiri dan itu semua tak lepas dari tatapan Sella.
Saat botol itu sudah berada di bibir Zidan, Sella bergegas cepat merebut dan meminumnya hingga habis tak tersisa. Setelah selesai, gadis itu menoleh menatap Zidan dengan menunjukan deretan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi, sedangkan Zidan sendiri menatap sella dengan tatapan tak percaya.
Merasa tak mendapatkan balasan dari Zidan, Sella kembali menatap depan, eksresi yang awalnya senyum kini kembali menjadi datar. "Makasih!"
Zidan sendiri mengedikan bahunya tak peduli. Hingga dari kejauhan, Aletta sedikit berlari menghampiri mereka. Sella yang melihatnya segera berdiri.
"Ngapain lari-lari, dikejar dugong lo?"
Tanpa permisi, Aletta langsung mencubit lengan Sella hingga gadis itu memekik karena rasa sakit.
"Sakit, Aletta." decaknya menatap Aletta dengan melotot tajam merasakan sakit di area yang Aletta cubit.
"Lo ngapain berduaan sama si Jidan, lo nggak di apa-apin kan sama dia?"bisiknya dengan menarik tubuh Sella untuk lebih mendekat, berusaha agar Zidan tidak dapat mendengarnya.
"Gue denger, Aletta!" pangkas Zidan yang sejak tadi menatap keduanya.
Tapi hal itu justru mendapat tatapan sinis dari Sella. "Diem, lo nggak diajak!"
Bukannya menurut, Zidan justru membalasnya dengan memainkan mulut tanda mengejek. Tuh kan bener Zidan emang seaneh itu, kadang bisa sedingin kulkas dan juga bisa se ngeselin nyamuk di musim hujan
"Zidaaaan ⦠lo ngeselin banget sih." Tak ingin tinggal diam, Sella kembali mendekat ke arah laki-laki itu, menjambak rambut tebalnya tanpa ampun.
Tak peduli dengan wajah putih Zidan yang berubah menjadi merah merona karena mwnahan sakit.
"Aduh, s-sakit Sell, Lepasin!" erangnya yang turut menunduk mengikuti gerakan tangan Sella, berusaha mengurangi rasa sakit.
Ardi dan Arvin yang juga lewat disana, dan dengan langsung menyaksikan peristiwa itu segera berlari mendekat, berusaha melepaskan jambakan Sella dari rambut sahabatnya.
"Woy, Stop! Udah pada gede juga!" perintahnya yang langsung dituruti Sella, gadis itu menyebikkan mulut, menatap Ardi tidak suka.
Sedangkan Arvin yang saat ini berdiri disamping Aletta sesekali melirik gadis itu, dan langsung mendapat peringatan dari Aletta.
"Pada ngapain sih?" tanya Ardi pada ketiga orang disana.
"Bukan urusan lo!" jawab Aletta, kemudian ia mentap Sella, dan bertanya " Lo mau bareng gue nggak?"
Belum juga gadis itu menjawab, Zidan lebih dulu memegang tangannya, dengan nada penuh intrupsi ia berkata." Nggak! Dia bareng gue, itung-itung buat bayar air gue yang dia habisin!"
"Enak aja, enggak ya. Pemaksaan ini namanya." ujar Sella mencoba protes, tapi nyatanya Zidan tak menghirauakan itu.
"What? Kalo lo pulang sama dia, terus gue sama siapa?"
Saat Ardi mendengar pernyataan itu dari Zidan, ekspresinya berubah menjadi campuran antara kebingungan dan rasa terkejut. Matanya membulat, mencermati Zidan dengan seksama, mencoba memahami maksud dari kata-katanya. Dalam sorot matanya terpancar ketidakpercayaan, seolah-olah dia tidak bisa memahami mengapa Zidan bisa sampai mengusulkan sesuatu yang begitu tak terduga.
"Tuh si Arvin," jawabnya dengan dagu menunjuk Arvin.
Arvin sendiri yang namanya disebut, dengan cepat menggeleng. "Kok jadi gue?"
Arvin kembali bereaksi, ia memutar bola matanya malas, "Gue nggak sendiri, gue bareng sama Aletta"
Jika tadi hanya Ardi yang terkejut, kini Zidan juga turut terkejut, " Lo serius?" tanya keduanya bersamaan
Tanpa ragu Arvin mengangguk, tak peduli dengan tatapan Aletta yang menghunus ke arahnya.
"Tunggu-tunggu⦠kalo Zidan sama Sella, Arvin sama Aletta. Terus nasib gue gimana? Masak iya gue harus bareng Dino."
"Ide bagus!" Kini giliran Arvin dan Zidan yang berucap dengan kompak, semakin membuat Ardi mendecak sebal.
"Terus, dimana tuh cowok cupu sekarang?" seloroh Ardi, matanya meneliti sekeliling mereka berusaha menemukan laki-laki yang ia maksud.
"Dia nggak masuk." celetuk Sella,.yang mampu membaca pikiran laki-laki yang nyatanya lebih menyebalkan itu.
Entah mengapa, tapi untuk saat ini Sella sama sekali tak menemukan raut wajah yang suka membully dari ketiga cowok di hadapannya. Namun, hal itu sama sekali tak membuatnya merubah keputusan untuk membemci mereka.
Mendengar itu membuat kening Ardi berkerut keheranan. " Buset, kenapa dia? Bisa barengan gitu sama Medina."
...*****...
Jam terus berputar, matahari pun turut menghilang dan kehadirannya digantikan oleh bulan purnama yang bersinar terang. Suasana hening menyambut semua mahluk bumi, terutama Arvin dan Aletta. Sepasang remaja yang sudah sah menjadi suami-istri, walau lewat jalur perjodohan, saat ini tengah asik dengan kegiatan masing-masing.
Aletta yang baru saja selesai meminum teh hangat, mendekat ke Arah Arvin yang masih fokus pada game di ponselnya. Walaupun awalnya terpaksa, tetapi saat ini mereka telah terbiasa hidup berdua dengan status baru yang mengikatnya. Meski sulit, mereka telah memutuskan untuk terus menjalani dan menjaga hubungan antar keduanya.
"Minta dong Al." ucap Arvin tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
"Nggak, ambil sendiri!" ketus gadis itu dan kembali menjauh. Arvin yang sadar akan hal itu, langsung mematikan ponsel dan menaruhnya diatas meja.
Laki-laki itu beranjak, untuk duduk dihadapan Aletta, menatap wajah gadis itu dengan lekat. Tak dapat dipungkiri lagi, wajah Aletta yang terlihat natural tanpa polesan make up terlihat lebih segar dan menggemaskan.
"Nggak usah, nglihatin gue. Nih minum!" seru gadis itu, tangannya bergerak mengulurkan secangkir teh hangat sesuai permintaan Arvin.
Meski agak kesal, tapi Aletta tetap melakukanya, sebab Bunda pernah berkata
katanya kalau mau dapat.surga harus berbakti pada suami, jadi itulah alasan Aletta mau menuruti perintah Arvin.
"Oh iya Vin. Zidan tuh orangnya kayak gimana sih?"
Arvin kembali mendongak, mentap Aletta dengan menyipitkan matanya. "Tumben nanyain si Zidan, lo suka sama dia?"
Aletta melebarkan pupil matanya, tidak menyangka bahwa Arvin akan dengan mudah memberinya pertanyaan seperti itu.
"Emang boleh kalau gue beneran suka sama dia?" tanya gadis itu dengan menghela nafas pelan.
"Enggak, enak aja lo cuma harus dan bolehnya suka sama gue. Gue gak mau jadi duda di usia muda."
Mendengar jawaban spontan dari Arvin tanpa sadar membuat Aletta terkekeh, sepertinya ia mulai nyaman dengan hubungan yanga tengah ia jalani.
"Emangnya, lo sendiri udah suka sama gue?" tanyanya disela tawa yang terdengar renyah. Berusaha menggoda laki-laki itu.
"Lo mau jawaban jujur?" bukannya menjawab, laki-laki itu justru kembali melempar pertanyan
Tatapanya yang dalam, berhasil menghanyutkan Aletta, Gadis itu terus menatap mata Arvin, sekaan telah menemukan tempat tersendiri yang enggan ia tinggalkan.
Arvin yang sadar akan hal itu, semakin memanjukan wajahnya, membiarkan kedua hidung itu saling menempel. Aletta yang tak kuasa hanya diam tanpa mau melawan. Gadis itu telah terjebak dalam labirin indah yang Arvin cipatakan, membuatnya terhanyut dan ingin terus berlama-lama disan
na.
"Gue suka sama lo sejak kita bertemu Al."
Bersambung...
Terimakasih yang udah baca:)
Jangan lupa tinggalin jejak kalianš